My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 10


__ADS_3

Bising mendengar ocehan Selena, Eliot akhirnya menepikan motornya ke pinggir jalan. Dia turun dari atas sana sembari membuka helm hitamnya.


"Bisa diam, tidak?" Ucapan yang terlontar dari mulutnya adalah sebuah tanya menyakitkan. Sungguh suara Selena begitu mengusik konsentrasinya. Belum lagi karena wanita itu sempat menarik jaket dan memukul punggungnya setiap kali menambah kecepatan.


"Bisa kalau kau tidak ugal-ugalan!" jawab Selena yang juga sama kesalnya dengan tingkah sembrono Eliot. "Apa kau tidak memikirkan aku? Lihat! Aku sedang pakai apa? Benar ini gaun, sejak tadi aku hanya sibuk menahan bajuku agar tidak terangkat angin yang kencang. Ditambah keranjang ini! Aku hampir mati dibonceng olehmu!" tukas Selena berapi-api.


Eliot berkelit menghindar tatapan Selena. "Tidak usah ikut denganku jika banyak protes," balas Eliot ikut memanas.


"Baik! Aku pergi!" Lantang gema suaranya semakin padam. Wanita itu berjalan cepat dengan hentakan kaki kuat menghantam aspal. Dia meninggalkan Eliot dan memanggil taksi yang kebetulan baru saja melintas. Tanpa sepatah kata pun kekesalannya telah memaksa untuk menjauh dari pria berhati batu itu.


Salahnya Selena karena sempat berpikir bahwa Eliot sudah memiliki rasa kepadanya. Perhatian kecil yang diberikan oleh pria itu ternyata hanya sementara. Berlalu dua puluh menit silam, sifatnya pun kembali. Berkata kasar tanpa memikirkan perasaan Selena.


"Aku cukup bersabar menghadapi dia. Tapi kenapa dia sama sekali tidak pernah melihatku?" tanya Selena pada sopir taksi yang tidak tahu menahu masalah yang dilontarkan Selena. Dia memegang headrest; sandaran kursi mobil, lalu membelokkan wajahnya ke arah sopir.


Sopir itu sampai tersentak melihat wajah Selena sebab terlalu dekat. Dia sampai menjauhkan kepalanya dari sana mengindari tatapan melotot selena. "Sa-Saya tidak tahu, Nona," jawabnya terbata-bata. Sangking terkejutnya, dia sempat banting setir.


"Benar sekali. Tidak ada yang tahu jawabnya. Menurutmu bagaimana? Apa aku sudahi saja hubungan kami ini?" lanjutnya bertanya.


Sopir tersebut tersenyum kaku. Dia sama sekali tidak paham alasan wanita di belakangnya sana bertingkah aneh. Bulunya sampai meremang mengingat betapa mengerikan wanita tersebut. "Saya tidak mengerti. Tapi bisakah jauhkan sedikit wajah Anda. Suara Anda terlalu kencang," pintanya enggan.


Selena meluruskan badannya. Dia kembali duduk tenang di kursi mobil. Meski tidak puas dengan jawaban sopir taksi, setidaknya dia tahu apa yang harus dia lakukan. "Menjauh, yah?" gumamnya seraya mencubit dagunya berulang kali.

__ADS_1


Sesampainya di depan rumah, Selena baru tersadar jika kepalanya masih mengenakan helm putih yang diberikan oleh Eliot. Dia tidak merasakan keberadaan pengamanan kepala itu. "Pantas saja sopir tadi ketakutan melihat ku," celetuknya tersenyum bodoh.


Seperti biasa, tidak ada panggilan atau sekedar pesan yang dikirim oleh Eliot. Pria itu sama sekali tidak mencemaskan Selena. Bersikap tak acuh dan dingin.


Hari ini Selena memutuskan untuk tinggal di kediaman kakek yang selama ini mengasuhnya. Dia kesal sebab itu tidak pulang ke rumahnya.


"Kenapa kau datang ke sini?" tanya Tuan Tomy panik. "Kalian bertengkar?"


"Tidak ... apa aku tidak boleh lagi datang kemari? Dia ada urusan ke luar kota. Aku kesepian, makanya pulang ke sini," bual Selena menutupi kehancuran rumah tangganya. Dia takut jika kakeknya yang bertongkat itu khawatir terhadapnya. "Dah, aku tidur dulu. Selamat malam Kakekku yang tampan," pamitnya beranjak ke kamar.


~Kamar~


"Apa dia benar-benar tidak menginginkan ku? Sudahlah, jika memang sulit, aku akan menyerah." Selena merebahkan tubuhnya yang letih ke atas ranjang empuknya. Dia menutup mata sambil memikirkan cara agar bisa berhenti untuk berusaha membuat Eliot menyelipkan cinta padanya. Sampai akhirnya dia terlelap dalam mimpinya.


Pagi hari pun tiba. Tidak ada mentari yang menyinari cakrawala. Langit begitu mendung walau tak ada hujan yang turun membasahi bumi. Sangat sejuk, sampai Selena enggan keluar dari balutan selimut tebal yang menghangatkan tubuhnya. Dia meringkuk sambil menikmati suhu yang sempurna untuk kembali tidur.


"Lagi pula hari ini aku sudah memutuskan untuk tidak menemui atau menghubungi pria kutub itu. Aku sudah lelah," pungkas Selena dengan mata masih terpenjam. Wanita malas itu kembali tertidur karena merasa tidak memiliki tujuan ataupun kegiatan.


Sayangnya kenikmatan itu langsung buyar, Kakeknya yang cerewet menggedor-gedor pintu seraya berteriak. "Selena!"


"Jangan sekarang! Aku masih mengantuk," balasnya dari dalam. "Aku ingin tidur, jangan ganggu, Kek!"

__ADS_1


Tuan Tomy pun murka, cucunya yang pemalas itu tak seharusnya berkata demikian. Dia harus mendidik cucunya agar menjadi orang yang disiplin, takut jika Selena tidak becus mengurus rumah tangga dengan Eliot. "Bangun, Selena! Jangan seperti b*bi yang selalu bangun kesiangan!" repet Tuan Tomy.


Selena merangkak turun dari ranjang. Dia meletakkan kaki tanpa alas itu ke atas karpet berbulu. Dia meraba sekitar untuk mencari jalan menuju pintu. Pandangannya masih gelap, matanya begitu sulit terbuka karena hawa tidur masih memenuhi hasratnya.


"Ada apa, Kek?" tanya Selena dengan muka mengantuk. Dia membuka sedikit pintu, sehingga kakeknya hanya bisa melihat kekacauan penampilannya dari celah pintu.


"Cucu durhaka, kau menjijikkan sekali. Pergi mandi! Lihat sekarang sudah jam sepuluh dan kau masih tidur? Laki-laki mana yang tidak depresi melihat wanita sejorok dirimu? Pergi cepat berbenah, atau Eliot akan menyesal sudah menikahimu!" Tuan Tomy pun tidak henti mengumpati cucunya tersebut. Dalam satu tarikan napas, dia bisa meneriaki Selena. Tidak akan ada yang tahan mendengar repetan pria tua ini selain daripada Selena seorang.


Mendengar nama itu disebut, Selena langsung terbelalak. Jiwanya yang sempat tertinggal di atas ranjang seketika kembali. Matanya kembali segar dan bersemangat. "Eliot? Dimana? Apa dia datang ke sini?" tanyanya beruntun. Selena planga-plongo melirik kanan kiri.


"Tidak, tapi kau harus ke rumahnya mengantarkan pancake kesukaan Nona Dernia. Bukankah kau bilang Eliot ke luar kota, kenapa masih berharap dia datang menjemputmu?"


Patah batu hati Selena selepas mendengar penjelasan sang kakek. Dia berharap bahwa pria itu lah yang datang mengunjungi rumah mereka walau hanya sekedar menyapa saja. Nyatanya, tidak. Eliot benar-benar seakan buta terhadap masalah kemarin.


"Aku kira dia sudah pulang. Soal pencake itu, Kakek suruh yang lain saja. Aku lelah," tolak Selena tidak bergairah.


Tuan Tomy mendelik tajam, kemudian tongkat ukir berwarna coklat miliknya digunakan untuk mengetuk pelan kepala Selena. "Antar sana! Dia mertuamu, bukan mertua orang lain. Sana ganti pakaian atau tongkat ku akan patah hari ini juga," ancam Tuan Tomy sambil menggigit bibir karena kesal dibantah oleh Selena.


Wanita itu pun merengus kesakitan. Dia langsung mengusap kepala untuk meredakan sakit akibat ketukan dari tongkat sang kakek. "Iya, agh! Pemaksa sekali. Dasar kakek peyot!" ledeknya geram pada Tuan Tomy. Secepat mungkin Selena masuk ke kamar dan menguncinya rapat-rapat agar Tuan Tomy tidak dapat menghukumnya lagi. Pria tua itu sangat sensitif di usia lanjut begini.


"Bergerak yang cepat atau kamarmu ku hancurkan!" teriak Tuan Tomy dari luar kamar dengan suara kerasnya. Meski sudah serak, seakan dia memiliki tenaga untuk mengamuki cucunya tersebut.

__ADS_1


"Iya, pergi minum obat agar besok Kakek ada energi untuk memarahi aku!" jawabnya tidak henti-henti memancing emosi sang kakek.


__ADS_2