
Selena menunduk, dia merasa geram mendengar panggilan mesra anatara Eliot dan Shania. Mata yang semula basah berubah kering serta perih. Rahangnya mengetat.
"Persetanan denganmu!" umpatnya. Dia berjalan mendekati meja, lalu diambilnya vas keramik untuk kemudian dihempasnya ke lantai. Dia sudah tidak tahan, rasanya gumoh melihat suaminya dan wanita itu. "Berikan kuncinya padaku!" perintahnya.
Eliot syok, spontan tangannya mengakhiri obrolan tak berfaedah bersama Shania. Dipusatkannya perhatian pada Selena. "Aku akan segera menyelesaikan masalah ini. Jadi jangan terlalu dipikirkan."
"DIAM! Aku tidak peduli lagi tentangmu, tentang wanita itu, ataupun tentang anak yang ada di perutnya! Aku tidak peduli. Aku sudah muak. Biarkan aku pergi sekarang atau malam ini akan menjadi hari akhirku!"
Selena memungut serpihan beling keramik yang tercecer di lantai. Diambilnya lalu didekatkannya tepat di tengkuk.
"Selena ... turunkan tanganmu. Jangan nekat melakukan hal gila ini." Eliot merendahkan nada suaranya. Dia berjalan pelan mendekati perpijakan istrinya itu, berusaha menenangkan guncangan di hati Selena.
"Jangan mendekat!" Selena semakin mengencangkan pegangannya. Dia mundur menjauhi derap langkah suaminya yang terus mendekat. "Ku perintahkan jangan mendekat!" Serpihan keramik tajam itu semakin melekat ke kulit Selena, andai saja tangannya bergerak sedikit pun, mungkin sebuah robekan akan menandai tengkuknya.
"Baiklah ...aku akan berikan kuncinya. Tapi letakkan dulu beling itu," tawar Eliot. Dia mengulurkan tangannya berusaha menahan tindakan nekat itu. Dia melemparkan kunci yang tadi di saku celananya ke atas ranjang. Agar Selena mempercayai ucapannya dan meletakkan serpihan keramik tersebut.
"Jangan halangi jalanku!" perintah Selena lagi. Setelah berhasil membuka pintu kamar, dia berlari meninggalkan rumah sembari membuang beling tersebut ke sembarang arah.
Langkah sembrono itu melenggang terburu-buru. Dia sesekali menatap ke belakang sambil berlari, memastikan Eliot tidak sedang mengikuti dirinya.
Meski tidak sempat membawa koper, niat untuk minggat tidak akan padam. Segera dia menelepon sahabatnya untuk dimintai tolong. Dia buntu tidak tahu harus kemana.
__ADS_1
Dia tidak bodoh hingga sampai pergi ke rumah kakeknya, yang ada permasalahan mereka kali ini akan terbongkar. Dia tidak bisa menghancurkan kebahagiaan keluarganya dengan mengadu sambil menangis tentang pertengkarannya. Dia tidak akan membuat kakeknya bersedih.
"Maafkan aku, Kek. Tapi kali ini aku sudah tidak tahan lagi." Selena mengigit kuku jarinya sembari menunggu Bram menjemput dirinya di sebuah tempat tersembunyi. Sebisa mungkin menghilangkan jejak dari suaminya tersebut.
Setelah beberapa menit menanggung ketakutan seorang diri, Bram dengan mobil sport merahnya datang menghampiri. Dia membunyikan klakson mobil mewahnya tersebut untuk mengirimkan sinyal pada Selena. "Woy! Masuk!" teriaknya ketika kaca mobil terbuka lebar.
Selena melompat dan berlari memasuki mobil sahabatnya itu. Dia menghapus seluruh kesedihan dan tangisannya dari Bram. Tidak ingin jika pria itu mengetahui kejadian sebelumnya.
"Terima kasih sudah mau menjemput ku," kata Selena. Suaranya parau dan bergetar. Mudah bagi Bram menebak isi hati sahabat lamanya itu. Sekuat apa pun Selena menutupi, dengan cekatan Bram bisa menerka gundah gulana yang menyelimuti tubuh Selena.
"Ehm," angguknya. Bolak-balik Bram menoleh. Dia tidak berkomentar sama sekali. Mulutnya terkunci rapat tidak ingin mengungkit.
Selena terpaku. Dia menunduk karena beberapa kali sudah menangkap basah Bram ketika meliriknya. "Aku tidak ingin menangis lagi, aku sudah lelah." Selena meremas kaos longgar menutupi pahanya. Dia mengatup bibirnya ke dalam, hingga giginya berhasil mengunyah benda empuk itu. "Aku benar-benar sudah lelah," katanya mengakhiri kata-kata.
Selang berapa lama, keduanya pun tiba di sebuah rumah mewah berukuran sedang bertemakan bangunan American Classic. Tampang asri tentu berhasil menenangkan sebutir duka di benak Selena. Dia turun, menginjakkan kakinya di rerumputan hijau tertanam erat. "Aku akan tinggal di sini," kata Selena ragu. Dia sama sekali tidak berani mengangkat kepala, takut jika Bram melihat mata bengkaknya. Dia terus menunduk sepanjang perjalanan. Berharap agar Bram berpura-pura tidak menyadari tangisannya.
Bram mencubit dagunya. Bibirnya menyungging sedang berpikir. "Ehm ... bagaimana, yah? Bukannya tidak boleh, hanya saja kau ini perempuan. Pria normal sepertiku tidak mungkin bisa ditempatkan bersama denganmu."
Selena mendongak menatap langit gelap tanpa bintang. Dia mengipasi matanya agar tangisannya kering dihembus angin. Dia meniup napas dilanjutkan dengan mengedip mata. "Kalau begitu carikan aku rumah yang bisa kutempati," jawabanya. Sekarang ini dia tidak ada tenaga meladeni kebodohan sahabatnya ini. "Aku kecapean, demi apa pun."
Bram merangkul pundak Selena. Digeretnya langkah Selena agar bergerak masuk ke dalam rumah tersebut. Dia bersikap seolah mengabaikan wajah sembab wanita itu.
__ADS_1
"Baiklah, kau bisa tidur di kamar ku, dan aku tidur di ruang tv saja. Tidak ada ranjang lain, hanya ada satu. Selama ini tempat tua ini terbengkalai, jadi hanya ada satu ranjang saja."
Selena mengerjap-ngerjapkan matanya. Pelupuknya mengendur menutupi setengah pupilnya. "Aku cari tempat lain saja." Dia berbalik badan hendak pergi dari kamar tersebut.
"Eits! Atau kau ingin tidur berdua denganku di ruang tv. Kita bisa menonton drama kesukaanmu sepanjang malam," katanya mencoba menggoda sahabatnya tersebut.
Deplak!
Selena memukul jidat Bram dengan keras. Dengan gelap mata dia mengeluarkan seluruh energi yang tersisa untuk membungkam mulut licin pria itu.
"Sembarangan! Tapi boleh juga. Sekarang aku sangat mengantuk, mungkin besok saja. Aku tidur dulu." Selena langsung masuk ke dalam kamar Bram, mengunci pintu rapat-rapat agar sahabatnya itu tidak bisa masuk menjahilinya ketika tidur nanti.
"Ini rumahku, kenapa malah menguasainya!" Bram menggedor-gedor pintu kayu itu berkali-kali. "Buka! Aku butuh selimut juga bantal!"
Selena pun memberikan kain tebal yang hangat juga bantal empuk dan wangi kepada Bram. "Jangan begadang!" ucapan perpisahan terakhir yang dilambaikan Selena sebelum benar-benar senyap berdiam diri di dalam kamar.
Meski terlihat lancang, Selena tidak terlalu memikirkannya. Sebab Bram adalah sahabatnya di masa lalu, maupun masa kini. Dia dengan tenang membaringkan tubuhnya di atas ranjang sembari berusaha melupakan permasalahan rumah tangganya.
"Aku tidak boleh sedih begini. Takut jika anakku ikut menangis di dalam perutku," katanya sembari mengusap-usap perutnya yang terus menggigit.
Dia memejamkan matanya. Meski tidak ada rasa kantuk, Selena tetap memaksa agar terbuai lelah hingga mengirimnya sebuah mimpi yang indah.
__ADS_1
"Jika harus berakhir, maka akan aku akhiri. Aku tidak bisa menjadi wanita egois dan membiarkan Shania melahirkan anak tanpa seorang ayah. Bukankah dia juga manusia lemah sepertiku? Huft ... mengapa ujian pernikahan ku seberat ini? Aku merasa kurang mampu melewatinya," keluah Selena disaat matanya mulai panas menahan bulir-bulir bening yang hampir jatuh di pipinya.