
Panggilan itu mati selang sedetik. Bram mengirimkan lokasi keberadaan Eliot dan juga dirinya.
"Bunuh diri? Akalnya tidak sependek itu, tidak mungkin Eliot akan melakukannya," teguhnya dalam hati.
Tidak lama kemudian, tibalah Selena di sebuah gedung mewah pencakar langit di pinggir kota. Masih sangat sepi, hanya beberapa kendara saja yang melewati aspal hitam itu. Jelas tempat itu masih dalam tahap pemekaran.
Selena mendongak mengukur tinggi bangunan itu, ditatapnya sekilas untuk menghitung jendela yang tergantung. "Jasadnya bisa hancur kalau tingginya seperti ini." Selena sudah membayangkan bagaimana kedepannya jika sampai Elliot nekat menjatuhkan diri ke dasar jalanan.
Dia berlari seraya menghubungi Bram, berharap agar sahabatnya dapat mengulur waktu.
"Ck, sialan!" Selena memukul pintu lift berwarna emas itu karena tidak bisa digunakan, masih dalam tahap perbaikan. Terpaksa dia harus menggunakan tangga darurat untuk mencapai lantai atas bangunan besar ini.
Tenggorokannya kerontang menaiki ratusan anak tangga menuju atap. Kakinya tidak sanggup melangkah lagi, terlalu sulit menggerakkan tubuhnya. Jantungnya berpacu kencang bersama hati yang resah.
Hanya ada satu nama di kepalanya, dan terus berteriak memanggil dirinya. Seolah sedang memicu semangat di atas penat penderitanya. Dia tidak peduli dengan perutnya yang mengigit kesakitan. Dia kewalahan dan janin yang dikandungnya pun merasa terancam.
Brak!
Selena menggebrak pintu atap bangunan tersebut secara kasar, sampai suara benturan dinding pun terdengar kuat. Menarik perhatian Bram juga Eliot. Kedua pria itu serentak mencari asal bunyi yang berisik itu.
"Eliot!"
Benar saja yang dikatakan Bram, suaminya tengah berdiri dengan linglung di atas pembatas tembok yang tingginya hampir sepinggang. Selena berlari hendak menarik Eliot dari keputusan itu.
Dia ragu sekaligus kehilangan harapan saat mata mereka saling bersiborok satu sama lain. Guyuran keringat membasahi wajahnya seketika padam bersama air mata yang mengalir deras. Dia gemetar membayangkan keputusan dangkal Eliot.
"Bagaimana kau bisa tahu tempat ini?" Eliot lantas turun dengan wajah bingung dari atas tembok tersebut. Dia plonga-plongo menatap Selena. "Kau menaiki tangga saat menuju ke sini?" Eliot bertanya dengan mata lurus memandangi setiap inci tubuh istrinya.
__ADS_1
Selena bergeming membiarkan linang mata menyampaikan perasannya. Sesal juga cemas. "Kau ingin meninggalkan aku!" Didekapnya erat saat Eliot masih bingung menyambut keberadaannya.
"Aku pergi!" pamit Bram mengangkat tangannya. Dia menaikkan bahu sebentar, lalu mendengus panjang seraya menganggukkan kepala ke arah Eliot. Mengirim sinyal bahwa semua adalah rencana yang dia lakukan.
Semua perhatiannya terpusat pada Eliot. Bahkan dia tidak menyadari kepergian Bram dari atas atap bangunan tersebut. Dia masih sibuk memeluk tubuh kekar suaminya.
"Se-Selena ...." panggil Eliot ragu. Dia mengelus rambut hitam sang istri seraya membalaskan dekapan hangat yang sudah lama dia rindukan.
"Biarkan tetap seperti ini. Aku merindukanmu, Eliot. Aku hanya ingin memelukmu," ungkapnya berurai air mata. Jantungnya berpacu kencang tanpa irama, dia tersedu-sedu mengeluarkan air mata. "Jangan tinggalkan aku," imbuhnya memohon. Suara lirih itu terdengar sendu. Eliot sampai tersentuh mendengar permohonan indah itu.
"Aku tidak akan meninggalkan mu." Eliot menunduk memberikan kecupan singkat di kening sang istri. Dia kembali menepuk punggung Selena dalam dekapan erat. "Kau yang meninggalkan aku kemarin. Kenapa sekarang malah memutar balik fakta?" gumam Eliot dalam benak. Dia sedikit tidak setuju dengan Selena, hingga hatinya ingin sekali memprotes.
Tidak ada percakapan diantara keduanya, hingga canggung tercipta menyelimuti suasana pilu itu. Kaki pria itu sudah lama berdiri, tangannya berkali-kali mengelus surai hitam Selena, namun istrinya itu belum juga melepaskan dekapan kerinduan tersebut.
"Selena, mari bicara. Ada yang ingin aku katakan padamu," ajak Eliot. Kakinya sudah kebas menahan tubuh Selena. Meski tidak seberapa penat, namun atmosfer berganti kikuk, dia tidak sanggup bergerak walau hanya sekedar mengedipkan mata.
Tidak ada reaksi sama sekali. Wanita itu tetap berdiam diri tanpa menghiraukan Eliot.
Tak disangka, tubuh Selena ikut merosot jatuh. Untungnya Eliot dengan cepat menangkap ringkih gemulai tubuh istrinya. "Selena!" panggil Eliot. Mukanya panik menemukan mata Selena terpejam dengan bibir kering dan pucat. Wanita itu terlihat lesu, bahkan mata sayu itu berhasil mencetak kekhawatiran pada Eliot.
Pria itu langsung mengangkat Selena dan tergesa-gesa membawa istrinya menuju rumah sakit. Selena tak sadarkan diri. Suami mana yang tidak terguncang?
...***...
"Nona Selena mengalami dehidrasi, tidak perlu terlalu cemas. Sepertinya kondisi jiwanya sedang tidak baik, bisa jadi dikarenakan stress. Dimohon untuk tidak terlalu menekannya." Dokter pun memberikan beberapa nasehat pada Eliot. Begitu panjang dan berbelit, sampai kepanikan di kepalanya menangkap kesimpulan yang salah.
"Apa istri saya akan baik-baik saja? Dia menaiki ratusan anak tangga," jelas Eliot yang masih belum tenang. Dia gelisah menimbang keadaan kesadaran Selena yang belum juga membaik. "Bagaimana dengan bayinya?"
__ADS_1
Raut dokter itu berubah kelam. Seperti mengisyaratkan sebuah duka. "Sebenarnya janin Nona Selena berkembang lambat. Namun biasa terjadi di trimester pertama. Sebaiknya makan dan nutrisi istri Anda diperhatikan. Ah, satu lagi ... jangan biarkan mentalnya terganggu."
"Terima kasih. Apa istri saya bisa dirawat seperti waktu itu? Perpanjangan masa inapnya."
Dokter itu tersenyum tipis mendengar Eliot. "Tidak perlu." Dia menepuk pundak Eliot untuk menegarkan. "Dia bisa stress di kurung di sini. Sebaiknya bawa pulang saja."
"Bagaimana kalau terjadi sesuatu padanya?" tanya Eliot lagi. Sungguh dia benar-benar gelisah.
Wajar saja dia bereaksi berlebihan. Dia takut jika sampai wanita dan anaknya mengalami hal sulit dan menyakitkan. Dia tidak akan membiarkan hal itu terjadi.
"Tidak akan terjadi apa-apa padanya. Setelah sadarkan diri dan cairannya habis, Nona Selena sudah bisa pulang."
Benar saja yang dikatakan oleh dokter tersebut. Saat Selena terbangun dari pingsan, langsung saja mereka kembali. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Dia bisa berdiri dan berjalan dengan kokoh.
...***...
Selena tidur terlentang dengan duvet tebal menyelimuti tubuh dinginnya. Dia tidak bisa tertidur meski Eliot sudah berulang kali menyuruhnya untuk segera memejamkan mata.
"Aku tidak bisa tertidur," katanya menyampaikan kesukaran tersebut. Dia tidak tersenyum, wajahnya kaku. Bahkan menatap sang suami pun tak sanggup. Suasana ruangan ini begitu tegang, dia belum bisa memperbaiki canggung diantara mereka.
"Apa perlu ku panggil dokter?"
Selena menggelengkan kepalanya. Dia duduk dari posisi tidurnya memanggil Eliot untuk duduk di sebelahnya. Suaminya begitu jauh berdiri di ujung ranjang. "Kenapa kau berniat untuk mengakhiri hidupmu?" tanya Selena tanpa melirik mata hitam suaminya.
Eliot tersenyum tipis, dia merasa tergelitik mendengar pernyataan gila itu. "Siapa yang memberitahu karangan itu padamu? Bram? Tidak mungkin pikiranku sesempit itu."
"Dia membohongiku!" Dia mendongak selepas mengetahui kejahilan sahabatnya tersebut. "Dia menggunakan trik yang salah," decak Selena kesal.
__ADS_1
🍷Selagi menunggu update cerita selanjutnya, kalian bisa baca novel rekomendasi di atas. Cerita luar biasa dan menarik. Terima kasihkasih🍷