
Eliot melenggakkan kaki jenjangnya mendekati Selena. Dia duduk dengan gerak pelan tepat di sebelah istrinya. Tangannya ragu menggapai kepala wanita itu, digesernya perlahan ke atas bahunya. "Kau ingin mendengar musik?" tanya Eliot berbasa-basi. Keadaan berubah drastis, hubungan yang semula dekat berganti jauh karena tragedi kesalahpahaman itu.
Eliot tampak mengatur setiap gerak-geriknya, bahkan cara bicaranya pun terdengar asing. Tidak seperti Tuan Muda Alaric yang angkuh.
Selena menolak, dia menggelengkan kepala seraya menegakkan kepala. Dia menatap mata Eliot sembari mendekatkan pertemuan wajah mereka. "Aku ingin menikmati suaramu. Bisa ceritakan padaku sedikit tentang pekerjaanmu? Atau apa pun itu. Aku merindukan suaramu." Selena menyentuh pipi pria itu. Dia menatap dengan intens dan penuh kehausan.
"Tidak ada yang menarik. Aku sedang gugup sekarang ini, entah mengapa jantungku berdebar sangat hebat. Aku tidak bisa mengendalikannya." Eliot mengenggam tangan Selena, meletakkan telapak dingin wanita itu di atas dadanya. Membiarkan istrinya merasakan gemuruh yang mengobrak-abrik ketenangannya. "Duniaku tampak suram saat kau memutuskan untuk meninggalkan rumah ini. Aku tidak bisa memikirkan apa pun selain kau." Eliot menampakkan senyuman, dia merasa menjadi orang bodoh ketika mengingat betapa hancur kehidupannya setelah ditinggal oleh istrinya. "Aku tidak pernah merasa takut, namun kali ini aku merasakannya. Jangan pernah lakukan itu lagi!" tegas Eliot.
"Yah, aku janji. Apa kau sedang senggang? Tidak pergi kerja?" tanya Selena bingung.
"Perlu ku jawab?"
Selena terdiam menelan pertanyaannya sendiri. "Aku rasa tidak perlu." Dia naik ke atas paha Eliot, lalu merebahkan dirinya di perbelahan dua kaki suaminya. "Tetap di sini bersamaku. Jangan tinggalkan aku walau hanya satu senti!" perintah Selena. Dia pun memejamkan matanya. Menikmati harum celana yang terus menyeruak menghibur hidungnya. Dia merasa tenang sekaligus senang. Seakan suhu tubuh pria itu bersenandung menidurkan mata segarnya. Dia pun mulai terbuai. Pelan-pelan matanya tertutup.
"Bisa-bisanya dia tidur di celah kakiku," ledek Eliot. Dia menurunkan kepalanya, memandangi wajah sang istri dari atas sana. Begitu puas hingga teraba di dalam perutnya kupu-kupu yang berterbangan.
...***...
Awan bergulir diseret angin kencang. Hari ini cuaca begitu buruk. Langit berwarna abu-abu disertai rintik-rintik hujan yang tipis. Tidak ada kicau burung atau ayam berkokok. Semua penghuni bumi seakan bersembunyi di dalam rumah masing-masing.
__ADS_1
"Selena ... ayo bangun! Kau harus makan," kata Eliot sambil mencolek pipi istrinya. Berkali-kali dia membangunkan Selena, namun mata wanita itu masih terpejam tanpa merasa terganggu. "Dia tidur seperti b*bi. Persis seperti yang Tuan Tomy katakan," gumamnya bersuara pelan.
"Aku masih mengantuk, bangunkan aku dua puluh menit lagi," ungkapnya kompromi. Dia begitu enggan keluar dari duvet hangat itu.
"Bayiku mungkin sudah kelaparan di dalam perutmu. Ayo!" paksa Eliot. Dia menyibak duvet itu dari atas Selena, hingga hembusan dingin ruangan menyiksa kaki putihnya. Dia merinding menanggapi cuaca suram ini.
"Sudah kukatakan dua puluh menit lagi," rengeknya menggosok-gosok kakinya di atas kasur. Dia kesal, dahinya sampai berkerut tidak senang. "Aku masih ingin tidur!" jelasnya mempertegas. Dia bangkit dari posisi tidurnya sambil melemparkan lirik kebencian pada Eliot. "Sebentar lagi, aku mohon!" pintanya sembari bersujud. Sedetik kemudian, Selena merebahkan tubuhnya lagi tepat di atas persujudannya.
"Wanita nakal ini," decak Eliot. Dia menggeser kedua kaki istrinya ke tepian, hingga telapaknya berpijak pada karpet berbulu.
Kedua kaki Selena pun terpaksa bergerak turun dari atas ranjang. Dia menggeletis menahan langkahnya agar Eliot berhenti menarik tangannya. "Kenapa kau pemaksa sekali? Bukankah sudah kukatakan tunggu beberapa menit lagi?" Nada suaranya membentak. Matanya melotot seraya menghentakkan telapak kaki.
Eliot melepas genggamannya, dia mendelik memandangi sang istri. Wajahnya berubah kaku dan datar. Begitu dingin, sampai Selena diam tak berkutik. "Sepertinya tidak ada lagi kecanggungan diantara kita. Kau sudah menyentakku padahal kemarin perlakuanmu bagai budak cinta," sindir Eliot. Dia berjalan ke arah dapur meninggalkan Selena dan mengabaikan sentakan menjengkelkan itu.
Selena merenung sebentar. Diremanginya sikap buruk yang baru ditampilkan pada suaminya. "Aish ... aku lupa kalau kami baru berbaikan." Selena lantas mengejar Eliot, digandengnya tangan suaminya lalu menyamakan langkah mereka. "Apa kau merasa terluka? Jangan masukan ke dalam hati, aku hanya bercanda. Ayolah, jangan cemberut begitu, aku tidak akan mengulanginya." Pagi-pagi begini keduanya sudah bertengkar karena masalah sederhana. Selena berakhir membujuk suaminya agar menyingkirkan raut masam yang terpampang nyata di wajahnya. "Ehm, susah sekali membujuk bayi besar ini." Selena memegang kedua sisi bahu pria itu, lalu ditahannya beberapa saat agar mata mereka segera bertemu. "Kau serius mogok bicara denganku?" tanya Selena memastikan.
Eliot mematung, bersengaja agar wanita itu intropeksi diri dengan perangai buruknya. Jujur Eliot merasa dirundung saat Selena menyenggak dirinya. Seketika mental bajanya berubah ciut mendengar gelegar suara sang istri.
"Tidak masalah. Aku akan terus berbicara sampai kau menyahut!" tekadnya penuh ambisi.
__ADS_1
Dia segera duduk tegak di atas kursi, menunggu Eliot membuatkan dia susu dan juga sarapan pagi. "Wah, hariku terberkati karena ketampanan suamiku," puji Selena berdecak kagum. Pupilnya melebar menonton kegiatan memasak sang suami. Sudut bibirnya terus terangkat karena senang memandang Eliot.
Tangan besar dan berurat, kulit putih dengan jemari yang lentik. Sangat indah, sampai Selena harus menelan ludah sendiri menahan pesona ketampanan Eliot. Dia menggigit bibir bawahnya, merasa terpanggil ketika Eliot mulai menggerakkan tangannya mengaduk susu di gelas.
"Sekarang aku cemburu dengan gelas itu." Selena menghela napas. "Eliot!" panggilnya. Dia mulai merasa bosan karena suaminya tidak menyahut sapaannya.
Trak!
Eliot meletakkan gelas kaca itu di atas meja. Tidak mengatakan apa pun, hanya memberikan isyrat agar istrinya itu segera menghabiskan susu yang baru saja dibuatkan olehnya.
"Aku tidak mau meminumnya!"
Selena mengangkat gelas yang baru saja diletakkan di atas meja. "Kecuali kau yang memberikannya langsung padaku." Dia memutar badan Eliot hingga mereka saling menatap. Dicengkramnya dagu pria itu dengan kasar, lalu Selena mencekoki pria itu dengan susu tersebut. Sebelum Eliot menelannya, Selena mendaratkan bibirnya ke benda lunak milik suaminya. Dia mencium pria itu. Ditariknya kepala Eliot hingga menunduk dan susu itu tumpah tepat ke dalam mulutnya.
"Uhuk-uhuk!" Eliot sampai tersedak susu yang tak sengaja tertelannya. Dia memukul dada bidangnya agar tidak terjadi penyumbatan di saluran pernapasannya.
"Ah! Segar sekali!" ucapnya lega sambil menyapu bibir basahnya dengan punggung tangan. Dia tersenyum bengis dengan kepuasan di hatinya. "Aku mau sekali lagi," katanya dengan mata bernapsu. Dia mendekati Eliot, kemudian dipegangnya pergelangan pria itu.
Eliot terintimidasi, langkahnya mundur menghindari kebuasan istrinya tersebut.
__ADS_1
🍑Hai hai, selagi menunggu update cerita ini, yuk baca novel rekomendasi di atas. Saya pribadi sangat suka dengan alurnya, penuh konflik menarik. Terima kasih🍑