
Tubuh pria itu seolah kebal terhadap pukulan keras tangan juga kaki Selena. Eliot tidak bereaksi kesakitan atau hanya sekedar menghindari deraan Selena. Langkahnya terus saja berjalan meski gadis itu dengan rusuh memberontak.
"Eliot! Turunkan aku!" lanjutnya tak henti berteriak. Namun pria itu sama sekali bungkam dan tuli. Dia tidak mengacuhkan Selena sama sekali.
Kesal tidak dihiraukan, Selena dengan cerdiknya menggigit punggung Eliot yang kekar sekencang mungkin. Dia tidak berhenti menambah tekanan rahangnya sampai Eliot merengus kesakitan. "Ah!" lirihnya menahan sakit. Sontak dia melepaskan Selena secepatnya, atau kulitnya bisa sobek dicabik oleh istri sendiri.
"Apa kau gila?" pekik Eliot sambil mengusap punggung bekas gigitan wanita bak binatang buas di depannya.
"Aku tidak akan pergi dari sini!" tegasnya teguh. Takut jika pria itu terus mendesaknya keluar kamar penginapan berlatar merah cerah, Selena akhirnya menjauh dari Eliot, dan bersembunyi di balik selimut tebal yang terbentang di ranjang.
Dia menutup seluruh tubuhnya hingga tak setitik pun yang terlihat. "Jangan berbicara denganku jika kau masih menyuruhku pergi!" ocehnya dari balik selimut. Suaranya seakan padam tertahan kedap selimut tersebut.
Memang sudah sepatutnya Eliot menyerah kalau menghadapi wanita keras kepala ini. Sejujurnya Eliot kewalahan menangkal perangai degilnya.
"Dalam hitungan ke tiga, jika belum merangkak pergi, kau akan menyesal," ancam Eliot tangkas.
Dia pun mulai menghitung dengan nada rendah nan serak berat. "Satu ... dua ... tiga."
Dalam keraan yang ketiga, Selena keluar dari balik selimut itu. Dia takut jika pria itu berbuat hal konyol karena kesal terhadapnya. Meski tahu tempramen Eliot tidak stabil, dengan nekatnya Selena terus mengungkung pria itu dalam permainannya.
__ADS_1
"Eliot ... harus berapa lama lagi aku menunggumu? Mengapa hanya aku yang terus berusaha mendapatkan mu? Bukankah kita sama-sama korban perjodohan di sini? Lalu kenapa ... kenapa hanya aku yang haus akan perhatian mu?" Runtutan tanya itu disambut air mata sebening embun. Keluhnya tersalur setelah sekian lama memendam perasaan sesak, akhirnya Selena membebaskan belenggu dalam hatinya.
Dia melungguh bersama raut lenguh sendu. Kakinya tertekuk menyedihkan seolah menunggu dekapan dari seseorang di depannya.
"Aku tahu kau tidak peduli, namun setidaknya kau berpura-pura mencintai ku agara aku bisa berhenti mengganggu mu. Aku juga lelah," sauk Selena menahan kelah.
"Aku tidak pernah memintamu melakukannya," jawab Eliot datar tak berperasaan.
Mendengar sahutan tak bermoral itu, Selena lantas meraung keras bersama tangisan. Begitu menusuk telinga, sampai Eliot harus bergerak ke dekat Selena sambil menutup mulut wanita yang terbengang lebar. "Shttt!" seru Eliot menenangkan Selena, meski caranya sedikit kasar, tapi dia berhasil membuat raung tangis Selena berhenti.
"Anak bayi bahkan kalah dengan suara rengekan mu," tutur Eliot dongkol.
Dengan lancangnya, Selena menarik handuk kecil yang menutupi bagian intim Eliot, lalu didekapnya keras seraya mendorong tubuh kekar pria itu ke atas ranjang. Mereka saling menatap kini.
"Kau tidak tahu perjuangan ku agar bisa ke tempat kotor ini, jadi jangan biarkan aku menyia-nyiakan perjuangan lepas dari kakekku, sialan!" umpat Selena sambil menatap wajah pria itu yang sekarang tepat berada di bawah dekapannya.
"Aku sudah bersumpah akan membuatmu lumpuh malam ini. Ck," decaknya menyeringai. Mata yang semula sendu berubah liar.
"Kau akan menyesal," ucapnya demi menghentikan wanita itu. Dia tidak bisa merenggut kesucian wanita itu karena tidak ingin bertanggung jawab kemudian hari. Wanita ini tidak sepantasnya diperlakukan layaknya pelacur haus uang. Dia terlalu elok untuk dijadikan mainan.
__ADS_1
Dia tahu Selena tidak pernah tidur bersama pria lain, dia pun tahu bahwa Selena tidak pernah berkencan dengan pria lain. Sebab itu dia takut. Pria hina sepertinya tidak pantas mendapatkan wanita seindah Selena. Dia terlampau kotor untuk wanita polos dan lugu ini. "Mengapa kau terus memaksa diri padahal ragu untuk menggodaku?" Eliot memutar balik posisi mereka. Kini wanita ringkih itu tercekam dalam himpitan Eliot.
Dia tidak bisa bergerak mengingat betapa gagah tubuh pria itu. Napasnya tersendat-sendat menahan takut, dia tidak tahu berada di situasi panas ini ternyata mendebarkan. "A-Aku tidak akan menyesal," ujarnya gugup. Selena menunduk dengan gentar, dia melirik tubuh pria itu tanpa terlilit sehelai benang. Dilihatnya benda asing tersebut kian menegang. "Hih!" jeritnya ketakutan. Belum pernah Selena melihat secara langsung pusaka pejantan, apalagi yang satu ini begitu menggetarkan jantung Selena. Dia mengkeluk kakinya lalu memalingkan wajahnya dari pemandangan menggairahkan itu. "Tidak mungkin bisa masuk ke lubang kecil punyaku," gumamnya ngeri membayangkan. Selena menutup matanya ketat, lalu digigitnya kuku jari tangan karena cemas yang semakin membunuh.
Eliot pringah-pringih melihat Selena, dia tahu wanita itu terkejut melihat tubuh bagasnya. "Cih, masih perawan berani-beraninya menggoda laki-laki hiper seperti ku," decak Eliot meledek. "Bagaimana? Apa masih bersikeras melanjutkannya? Sepertinya aku sudah tidak tahan lagi," sambung Eliot menakuti. Dia mengendus wajah Selena lalu dibelainya rambut panjang wanita itu.
Selena tidak sanggup membuka matanya, dia terus mengerjap seraya menghindari hembusan napas Eliot yang terus mendekat. Dia tidak bisa bergerak sama sekali, kaki Eliot menjulang, mantap menindih tubuh Selena.
"Kenapa diam saja? Takut? Terlambat." Eliot dengan beringas mencucup tengkuk Selena dan meninggalkan bekas merah di sana, tidak ada ampun bagi Selena, dia enggan mengontrol diri.
Selena menggeliat, tubuhnya seolah menginginkan tapi jiwanya ketakutan. Selena mengerang menikmati setiap buai yang diberikan Eliot. Sekujur tubuhnya terasa dingin, jantungnya berdegup kencang. Terdengar dari dalam benaknya suara," Aku belum siap!"
Sontak Selena mendorong tubuh Eliot dari atas sana. Mengehentikan kegiatan cumbu pria itu. Dia duduk dari posisi terkapar, kemudian dilindungi bagian dadanya menggunakan tangan yang tersilang. Selena beringsut mundur sampai belakangnya menabrak sandaran ranjang.
"Aku sedang tidak bermain-main. Ini hukuman karena telah memancing nafsu ku," katanya gerecok. Eliot dengan cepat menarik tubuh Selena ke ke pangkuannya, lalu dilucutinya pula pakaian wanita itu. Sampai tidak ada hambatan yang menghalangi matanya untuk menikmati lekuk tubuh Selena.
Eliot tergugah. Gundukan ranum itu terpampang jelas meneriaki gairahnya. Amat mempesona, bahkan Eliot tidak dapat menahan diri lebih lama lagi. Ditambah wajah ketakutan itu, membuat adrenalinnya berdesir kencang. "Sudah kukatakan kau akan menyesal,"bisiknya seraya menghembus bulu mata lentik milik Selena.
Eliot dengan lantang menyentuh gundukan molek itu, lalu diremasnya perlahan. Begitu lembut dan kecang, dia tercandu-candu untuk melakukannya berulang kali.
__ADS_1
"Ah ... cu-kup! desahnya sambil mengg*git bibir bawah. Selena kini berada di puncak kenikmatan. Liang sempit itu bahkan terasa basah dan licin akibat mulut Eliot yang terus melu-mat buah ranumnya.