My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 33


__ADS_3

Detik jam terdengar rusuh di telinga Selena, tetesan air keran di kamar mandi sukses mengusik ketenangannya. Dia tidak bisa tidur dengan nyenyak entah apa sebabnya. Bolak-balik Selena mencari posisi tidur ternyaman.


Semakin Selena memaksa matanya untuk terlelap, sebuah nyeri di perutnya terasa hebat menyayat. Dia tidak bisa menahan sakit itu. Lantas dia terperanjat bangun sambil meremas perut datarnya. Berulang kali telapaknya bergerak seolah memeras. Dia merintih pelan sembari menggigit bibirnya.


"Ehm ... mungkin karena terlalu banyak minum susu kaleng itu jadinya perutku sakit begini," tebak Selena. Dia mencoba merangkak turun dari ranjang berjalan ke kamar mandi.


Betapa terkejut Selena melihat ada bercak darah yang keluar dari bagian intimnya. "Ternyata aku sedang datang bulan, tapi kenapa perutku sakit sekali," katanya mengeluh. Lantas dengan santainya dia kembali ke atas ranjang, berusaha keras agar dapat tertidur.


Beberapa jam kemudian, sekujur tubuhnya terasa nyeri disertai keringat membasahi wajahnya. Dia pun terbangun, kali ini sakitnya tidak tertahankan. Rintihannya sampai mengganggu tidur suaminya.


"Ada apa? Kau tidak enak badan?" tanya Eliot resah. Wajah istrinya terlihat pucat dan basah. Matanya terlihat cekung, sudah barang tentu ada sesuatu yang tidak beres.


"Perutku sakit, sedang datang bulan." Selena mencoba menenangkan Eliot. "Tidak perlu khawatir, ini memang sering terjadi," lanjutnya.


Belum pernah ditemuinya wanita pucat dan berkeringat ketika menstruasi. Merasa ada yang janggal, Eliot melarikan Selena ke rumah sakit untuk segera diperiksa kondisinya. Dia takut jika istrinya itu mengalami penyakit atau semacamnya.


~Rumah Sakit~


"Aku sudah sering mengalami kram haid, tidak perlu cemas begitu," ujar Selena menenangkan suaminya. Dari tadi Eliot belum juga duduk menunggu dokter selesai memeriksa keadaannya.


Dia berdiri di samping Selena seraya memegang tangan istrinya dengan erat. Dia takut jika terjadi apa-apa pada Selena. Terlihat dari raut paniknya, sebuah khawatir tersirat.


"Untuk sekarang Nona selena tidak diperkenankan bergerak terlalu banyak, kalau bisa lebih mengatur pola makan." Dokter memberikan sebuah surat dan juga beberapa lembar foto hitam putih pada Eliot.


"Aku khawatir ada kista di rahimnya," sulak Eliot berkonsultasi. "Katanya perutnya sakit karena menstruasi, tapi dia sampai keringat dingin begitu. Tentu saya resah," celetuk Eliot beraut kaku.


Dokter tersebut terdiam dungu. Dia keheranan mengapa Eliot membahas tentang menstruasi. "Mohon maaf, Nona Selena sedang hamil, tidak mungkin mengalami menstruasi," jawab Dokter bingung. "Mungkin maksud Tuan Eliot itu bercak. Tidak perlu cemas, memang di kehamilan bulan pertama sering terjadi, apalagi Nona Selena berstatus primigravida, jangan terlalu dipikirkan."

__ADS_1


Selena ternganga lebar, matanya nanap memandangi Eliot. Dia tidak bisa berkata-kata, seolah lehernya tercekik kenyataan kabar yang disampaikan dokter. "Hamil?! Jangan bercanda Dok. Suami saya vasektomi, bagaimana mungkin saya bisa hamil?" Selena menyolot tidak ingin mempercayai diagnosa dokter tersebut.


Berbeda dengan Selena, Eliot malah berucap syukur sembari mengecup kening istrinya. Dia tersenyum lebar tanpa menyembunyikan kesenangan yang terus menggelembung di hatinya.


"Ada apa denganmu? Kau menipuku, ha?!"


Eliot tertawa sambil mengusap perut Selena. Diratapinya lama sambil bergumam tidak jelas. Dia tidak menghiraukan ocehan Selena, dia fokus tentang kehamilan istrinya tersebut.


"Eliot!" senggak Selena. Dia bangkit dari tempat tidur rumah sakit itu, lalu didekatinya dokter tersebut. "Apa saya benar-benar hamil?" tanyanya memperjelas.


Dokter itu hanya mengangguk mengiyakan. Dia sekarang sedang bingung melihat kedua pasangan suami-isteri ini sibuk dengan kegiatan masing-masing.


"Istri saya meminum susu program hamil satu dus. Apa itu penyebab bercak darah yang dialaminya?" tanya Eliot. "Dia juga begadang, dan petakilan tidak bisa diam," sulak Eliot membongkar tabiat istri sendiri.


"Selama ini ... kau ... kau menipuku, hiks." Selena menitikkan air matanya. Padahal harapannya telah pupus saat pertama kali mendengar Eliot mengaku kalau dirinya telah vasektomi, ternyata dia hanya bercanda. "Kenapa kau berbohong?" Tangisannya semakin deras. Pasalnya hatinya sedang terguncang. Anatara senang dan terkejut.


Kebahagiaan itu tidak terbendung. Eliot dengan bangga hati mengabarkan kehamilan Selena kepada ayah dan ibunya. Sungguh dia sangat senang sekarang ini.


"Nona Selena sudah bisa berisitirahat di rumah, Tuan," kata Dokter mengirim berita gembira. Lagi pula kondisi kandungannya tidak terlalu gawat, hingga hanya perlu perawatan terapi obat dan anjuran pola hidup.


Bukannya senang, Eliot malah meminta dokter agar Selena dirawat secara intensif di rumah sakit. Dia tidak bisa membiarkan Selena mengalami kejadian yang sama. Dia harus memastikan bahwa Selena dan anak yang dikandung istrinya baik-baik saja. Belum lagi karena pemahamannya tentang kehamilan terbilang kurang, agar lebih optimal dalam merawat, Eliot mengajukan perpanjangan rawat inap.


~Ruang Perawatan ~


Asap beraroma segar itu berhembus menenangkan tidur Selena. Pasalnya semalaman dia tidak tidur sama sekali. Setelah dipindahkan ke ruang Super VVIP kelas atas dengan kelengkapan fasilitas di atas rata-rata.


"Bagaimana kondisi Selena?"

__ADS_1


Seorang wanita mungil tanpa keriput datang menghampiri Eliot yang masih duduk termenung memandangi wajah Selena. Dia Dernia, ibu Eliot.


"Dia baik-baik saja, kan?" tanyanya yang ikut berdiri di sebelah menantunya. Dia tidak sabaran melihat kondisi menantu kesayangannya tersebut, hingga suaminya pun tertinggal di belakang.


"Iya, Ma. Hanya saja menantu bodohmu ini meneguk habis susu kaleng yanga Mama berikan," katanya.


Dernia mengelus rambut menantunya yang tertidur pulas karena pengaruh bius. Dia mengecup pipi Selena, lalu diusapnya perut menantunya tersebut. "Bisa-bisanya dia tak sadar kalau dirinya sedang mengandung," celetuk Dernia tersenyum. Dia begitu senang hingga senyum saja tidak cukup menunjukkan perasannya. "Dia terlalu polos."


Sesaat setelah perbicangan tak berarah itu berakhir, Dernia melirik putranya. Dia melihat mata Eliot begitu berbinar-binar.


"Apa kau tidak pergi ke kantor?" tanya Dernia. "Biar Mama saja yang menjaga Selena di sini. Kau boleh pergi," suruhnya peduli.


"Benar juga, tapi hari ini aku berniat menjaganya. Aku akan menemaninya hari ini, Ma."


"Mama akan menjaga dia, bukankah kau sedang sibuk mengurus produk baru kalian? Pergilah, saat dia siuman, Mama akan menghubungimu," kata Dernia. Dia tidak ingin Eliot sampai kesusahan mengurus istri dan perusahannya. Sebisa mungkin Dernia ingin mengurangi beban putranya tersebut.


"Tidak perlu, kau boleh tetap di sini. Biar Papa yang urus soal proposal produk barumu. Kau boleh menjaganya hari ini," timpal Tuan San menengahi perbincangan anatara istri dan putranya.


Eliot terpaku mendengar penawaran ayahnya. "Kenapa dia tiba-tiba peduli begini? Biasanya Papa terus memaksaku untuk mengurus perusahaan secara langsung," gumamnya dalam benak. "Terima kasih, Pa," sahutnya senang. Meski terdengar canggung, mulut kakunya berusaha bertutur lembut terhadap Tuan San.


"Aku juga akan menemaninya di sini. Apa boleh?" tanya Dernia seraya menampakkan mata memelas pada sang putra.


"Te-Tentu," angguknya menyetujui.



🖤 Selagi menunggu update cerita ini, kalian bisa membaca novel rekomendasi di atas. Kisah menarik yang dapat menemani waktu luang, terima kasih🖤

__ADS_1


__ADS_2