
Selena menahan diri agar tak ada sedikit pun suara keluar dari mulutnya. Dia menutup bibir sembari memejamkan mata. Sebisa mungkin dia membungkam mulutnya menggunakan telapak tangan.
Pria itu semakin bergerak agresif. Jemarinya mulai turun hingga bagian intimnya. Dia sudah tak tahan. Des*han demi des*han terdengar keras menggelitik di telinga Eliot. Begitu candu, hingga jemari suaminya berulang kali bermain di bagian bawah kepunyaan Selena.
"Eliot ... seluruh badanku sakit. Bisa tidak malam ini kita tidak perlu ...." Eliot langsung menyumpal mulut Selena dengan bibirnya. Wanita itu tak dapat berkutik, dia bisu menghindari tautan bibir suaminya. Gelora yang tercipta terus memacu suaminya untuk terus melu-mat habis liuk lampai Selena.
"Berhenti! Aku sangat lelah, aku tidak mau!" erangnya sembari mendorong dada bidang suaminya menjauh dari dirinya. "Mungkin lain kali kita bisa lanjutkan," sambungnya menunduk malu.
Wajah Eliot berubah kaku, tampaknya dia tidak senang karena Selena menolak ajakannya. Hasratnya sudah terlanjur meletus, tidak mungkin dapat ditahan. Terlebih dia memiliki napsu buas yang mengerikan.
"Hanya sebentar," bujuknya.
Selena berdiri dari duduknya, beranjak keluar dari bathtub hangat itu. "Kau tidak bisa mengontrol diri, badanku bisa remuk," pungkas Selena. Dia tetap menolak.
Bukannya tidak peduli dengan permintaan sang istri, namun gairah ingin bercinta sudah berada di puncak *******. Eliot tidak bisa mengendalikan dirinya lagi. Dia membutuhkan wanita tempat menyalurkan hasrat birahinya.
Lantas dia berdiri menekan kedua pundak Selena, kemudian dijejalinya buah ranum istrinya tersebut. Dia mengangkat tubuh ringkih Selena ke pinggir wastafel. Eliot memegang kedua paha Selena, lalu ditekuknya hingga terbuka lebar seperti segitiga.
"Ini lah susahnya kalau punya suami hiper," katanya mengeluh dalam benak. Dia tidak bisa menghentikan Eliot. Pria itu sudah menjilati liang senggamanya. "Lakukan dengan pe-pelan," pintanya memohon dengan sangat.
Suhu teramat dingin itu berubah panas. Uap air yang tergenang di bak mandi tampak mengaburkan pandangan Selena. Dia memejamkan matanya, menahan rasa geli dan nyeri yang terus mengguncang tubuhnya. Tidak bisa disangkal, dia pun menikmati malam ini.
...***...
Kicauan burung di pagi hari memberikan semangat bagi kedua pasangan suami-isteri yang baru saja terbangun dari tidur pulasnya. Lagi-lagi Selena mendapati dirinya tanpa busana di atas ranjang hangat itu. Dia menoleh, Eliot sibuk memainkan ponselnya dengan wajah dongkol.
"Pagi-pagi sudah merengut, menghilangkan mood ku saja," gerutu Selena sebagai sapaan.
__ADS_1
Eliot menutup ponselnya lalu meletakkannya jauh dari pandangan Selena. Seolah sedang menutupi sesuatu dari istrinya. "Kau sudah bangun?" Respon bodoh ini yang semakin membuat Selena curiga.
Selena mengerutkan alisnya, dia menoleh dengan tatapan sinis. "Hmm? Kau menyembunyikan sesuatu dariku," pekik Selena mendidih. Dia menjatah ponsel Eliot untuk memeriksa langsung alasan mengapa suaminya seperti menghindari sesuatu.
"Kau tidak perlu tahu. Lagipula tidak ada kaitannya denganmu," jelas Eliot sambil menghentikan tangan Selena yang berusaha menggapai ponselnya. "Hanya urusan kantor," tambahnya lagi untuk mengurangi rasa penasaran istrinya.
Selena terdiam. Dia mengangguk berpura-pura percaya, meski hatinya masih dipenuhi rasa curiga. Kenapa harus ditutupi jika hanya sekedar urusan pekerjaan?
"Baiklah." Selena duduk melenggut mencoba sadar dari rasa kantuknya. Dia mengabaikan Eliot yang sejak tadi menciumi bahunya. Dia bergeser menjauh dari suaminya tanpa mementingkan senyum paksaan yang terpancar pahit. "Hari ini aku akan pergi mengunjungi kakek. Sekaligus meminjam kursi pijatnya. Ugh! Badanku sakit semua," rungutnya seraya meregangkan otot-otot.
"Kau menjauhiku?" Pria reseptif ini langsung paham melihat gelagat istrinya. Selena sama sekali tidak meladeni dirinya.
"Ya, aku menjauhi mu. Lagi pula kau sibuk dengan urusan kantormu. Berkemas, sana!" suruhnya cemberut. Dia kesal pada Eliot karena suaminya itu tidak menyambut indah pagi harinya.
"Aku akan mengantarmu ke rumah kakek," tawarnya sekaligus membujuk.
Dengan patuh, Eliot berkesot turun dari ranjang. Dia langsung berlari menuju kamar mandi karena takut jika istrinya mengamuk.
"Kenapa aku harus takut?" tanya Eliot keheranan. Dia merasa terlalu tunduk pada Selena. Dia terus bergumam memikirkan alasan mengapa dia begitu menuruti perintah istrinya. "Aneh," tambahnya.
Tidak berapa lama setelah selesai bersiap, Eliot mendengar suara rusuh dari dapur. Sangat berisik hingga dia terusik ingin mendamaikan sumber suara tersebut.
"Apa yang sedang kau lakukan?" tanya Eliot. Matanya jegil melihat betapa kacau kondisi dapur rumah mereka. Teflon berserak di atas kompor, piring tercecer di atas wastafel, bahkan di lantai keramik itu tergenang air.
"Masak," jawabnya enteng. Fokusnya tetap tertuju pada percikan minyak goreng yang sedari tadi terus menyerangnya. Dia meminggir ke arah kanan dan kiri, mengindari gelembung panas yang meletup-letup.
"Kau sedang perang atau memasak, ha?!" Eliot tunggang-langgang mematikan kompor. Jika tidak dihentikan, bisa-bisa rumah baru mereka kebakaran akibat ulah Selena.
__ADS_1
Api sudah menyembur hampir menghantam wajah mungil Selena. Untungnya Eliot dengan cekatan memadamkan api kompor yang berkobar menjulang ke atas.
"Sepertinya aku tidak mahir, hehe," balasnya cengar-cengir menahan malu. "Padahal aku ingin memasakkan sarapan untukmu." Suaranya tak terdengar. Mulutnya komat-kamit mengerucut seolah enggan membiarkan pria itu Mendengar keluhannya.
"Aku berangkat sekarang," pamitnya seraya menatap jam yang terlingkar di tangannya. "Jangan pernah coba-coba menghidupkan kompor saat aku tidak ada di sini," ucapnya memperingati.
"Apa dia sedang meragukan aku?!" rutuk Selena sesaat setelah suaminya sudah tidak ada dihadapannya. "Wah! Aku jago masak ... walaupun hanya masak mie," sambungnya.
...***...
Menyusul keberangkatan Eliot, Selena pun berangkat pergi ke rumah kakeknya, Tuan Tomy. Sudah lama tidak mengunjungi pria tua yang sudah mengasuhnya sejak dulu. Lagi pula dia ingin mengembalikan mobil kakeknya yang selama ini bersarang di gudang rumahnya.
~Kediaman Keluarga Amaril~
Selena duduk memicingkan matanya menikmati getaran kursi pijat yang terus memanjakan tubuhnya. Dia tersenyum sambil bersenandung kecil menyalurkan ketenangan tiada tara. Seketika pegal di badannya hilang diserap habis kursi ajaib milik kakeknya.
"Wah! Aku jadi ingin membeli kursi pijat ini," celetuknya. Dia merasa menjadi manusia paling bahagia karena berada di titik ternyaman.
"Nona Selena." Seorang wanita mengusik kedamaiannya. Matanya terbeliak mencari pelaku yang sudah merusak saat-saat bahagianya.
"Ada apa?"
"Maaf, Tuan Tomy sepertinya tidak bisa pulang hari ini. Beliau ada urusan bisnis di luar negeri," katanya canggung. Dia adalah pelayan yang sudah bertahun-tahun mengabdi kepada keluarganya.
"Aish ... sudah tua kenapa masih sok sibuk. Aku akan segera pergi kalau begitu. Kunci mobil aku titip ke satpam, tolong sampaikan padanya," katanya.
__ADS_1