My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 18


__ADS_3

Dari ujung rambut basahnya menetes air bekas guyuran hujan. Tatapannya masih saja kosong meski sekarang mereka sudah sampai di dalam rumah. Bibirnya kering, kelopaknya terkulai sayu dengan mata merahnya. Bagai patung, Selena tidak berkutik walau hanya sekedar bersuara.


"Selena," panggil Eliot bersuara pelan. Dia berdiri tepat di depan wanita itu, namun kehadirannya tidak terlihat. Dia menuntun Selena ke dalam kamar, dengan patuh Selena mengikut tanpa memperhatikan jalannya sama sekali. Kepalanya tegak dengan pandangan lurus ke depan. Jiwanya benar-benar jauh terbang tak jelas rimba.


"Kau keringkan dulu kepalamu dan ganti baju basahmu." Eliot langsung beranjak meninggalkan Selena sendirian di dalam kamar. Namun dia mengurungkan niatnya, mengingat tak ada sahutan dari bibir pucat wanita itu, Eliot sedikit khawatir.


"Selena ... apa kau dengar?" tanya Eliot mendekat kembali.


Istrinya itu tak menyahut, bahkan menoleh pun tidak. Bagai kicau yang mengambang, suaranya bahkan tidak didengar oleh Selena.


Sesungguhnya dia tak ingin ambil pusing mengkhawatirkan wanita ini, namun tampang menyedihkan itu sangat menganggu. Sekitar ranjang yang di duduki oleh Selena basah karena pakaian belum juga terganti.


"Apa mengganti pakaian pun harus dibantu juga?" gerutu Eliot.Luarnya saja yang mengumpat, padahal dalam hatinya tulus ingin menenangkan istrinya itu.


Eliot mengambil handuk tebal dari dalam lemari, lalu dikeringkannya pula kepala wanita itu. Dengan lembut Eliot mulai mengusap wajah istrinya, kemudian dibukanya pakaian bekas guyuran hujan tadi.


"Tahan Eliot ... jangan sampai tergoda dengan tubuh istrimu," gumannya menguatkan iman. Eliot terus mengalihkan pandangannya dari liuk Selena, kemudian berusaha memakaikan pakaian kering ke tubuh istrinya dengan mata tertutup. "Tidak bisa dipungkiri, dia sangat menggoda," celetuknya kagum.


Sesaat setelah Eliot berhasil mengganti pakaian Selena, tiba-tiba dari ekor matanya terlihat butiran kecil air mata. Mengalir perlahan sampai akhirnya bertambah deras membasahi wajah mungil istrinya. Dia menangis tanpa mengeluarkan rintihan sedikit pun.


Eliot menunduk mensejajarkan tinggi mereka. Kemudian diusapnya air mata istrinya itu. "Beginikah sambutan mu kepadaku? Ini pertama kalinya bagiku duduk bersamamu di rumah ini, tapi kau malah menangis," sulak Eliot. "Berhenti menangis dan sambut aku dengan baik, Selena." Suaranya benar-benar lembut, terlukis raut kasih yang tercurah dari balik tatapannya.

__ADS_1


Eliot memegang wajah cantik istrinya, diratapinya dalam. Dia membiarkan aliran air mata itu jatuh, lalu dihapusnya dengan cepat. "Bahkan saat menangis kau masih sangat cantik," katanya dalam benak. Eliot mengecup bibir pucat istrinya itu, untuk menarik perhatian wanita itu dari lamunannya.


Langsung Selena tersadar. Harum basah dari tubuh Eliot tercium dekat hingga gelisah yang bergumul di ingatannya pecah. Dia terbelalak melihat wajah suaminya berada tepat di depan matanya. Tidak ada jarak, napas dingin Eliot yang mencekam dapat dirasakannya.


"Ck, sadar juga ternyata. Aku ganti baju dulu," decak Eliot kemudian pergi begitu saja.


Dua puluh tahuh silam, saat usia Selena masih lima tahun. Dia dan orang tuanya berencana pergi mengunjungi rumah sahabat ayah Selena.


Namun kala itu malam tak menyala sama sekali. Bulan dan bintang seakan bersembunyi di balik langit hitam. Mobil yang mereka kendarai seolah berjalan sendiri di aspal tebal. Tidak ada siapa pun kecuali mereka, keluarga kecil Amaril.


Guntur dan hujan deras akhirnya mengkawal perjalanan mereka. Begitu dingin, Selena masih dapat merasakan betapa menusuk cuaca saat itu. Dia duduk di kursi belakang dan sibuk dengan kegiatannya. Di depan terlihat dua pasang suami-istri sedang bersenandung bersama nyanyian kecil dari radio.


"Selena tidak sabar bertemu dengan Eliot, lihatlah dia sibuk membungkus mainan untuk anak Tuan Alaric," kata Ibunya.


"Mama ... apa aku dan Eliot bisa berteman? Aku dengar dia nakal," kata Selena kecil. Dia memandangi lembaran foto Eliot yang dia curi dari album milik Tuan Alaric.


"Tentu saja, Selena anak paling cantik, siapapun pasti menyukai putri Mama ini," puji Ibunya seraya mencubit pelan pipi Selena.


Dia kegirangan hingga tak sabar menunjukkan foto-foto hasil curiannya kepada sang ayah. Selena menarik lengan baju ayahnya lalu ditunjukkannya lembaran itu satu persatu.


Kala itu ayahnya fokus menyetir, hingga tak sempat untuk menanggapi permintaan putri kecilnya. Matanya bergantian menoleh ke arah jalanan yang basah, lalu memperhatikan foto yang ditunjukkan oleh Selena.

__ADS_1


"Papa lihat ini!" rengek Selena memaksa. Dia ingin ayahnya memusatkan perhatian hanya untuknya.


"Iya iya," angguk Ayahnya lembut. Meski dia enggan untuk mengalihkan pandangannya dari jalanan. "Biar Papa lihat. Wah! Ternyata ini jagoan yang sudah mencuri hati putriku. Saat bertemu nanti Papa akan menjewer telinganya karena berani merebut Selena," katanya bercanda.


"Ih! Papa tidak boleh menyakiti Eliot! Aku akan menikah dengannya setelah besar, jadi Papa harus akur dengannya," balas Selena cemberut.


Saat ayahnya benar-benar teralihkan dari fokusnya, tiba-tiba sebuh truk besar melaju dengan kencang. Truk tersebut terombang-ambing tak jelas arahnya, bahkan kendaraan besar itu sampai melewati pembatas jalanan dan oleng menabrak mobil keluarga Amaril.


Bruk!


Kecelakaan tidak dapat dihindari. Truk besar itu menghantam pangkal hingga badan mobil yang dikendarai keluarganya. Kepalanya terbentur keras, meski kesadarannya tetap utuh, namun pandangannya gelap. Samar-samar dia melihat ayah dan ibunya bergantung terbalik. Darah menetes perlahan dari atas sana. Begitu mengenaskan.


"Se-Selena ... putriku, kau akan tumbuh menjadi gadis cantik. Meski tanpa Mama dan Papa, kau harus tetap bahagia. Jangan khawatir, Eliot pasti menyukai Selena." Suaranya hilang timbul dan lemah. Sekuat tenaga dia mencoba menyentuh wajah ketakutan putrinya itu untuk yang terakhir kali. Namun tak tergapai, tidak ingin jika putrinya semakin ketakutan, ibunya lantas tersenyum seolah kuat.


Dia bahagia karena masih sempat melihat wajah putrinya sebelum benar-benar pergi dari dunia. "Mama mencintaimu, Sayang. Kami sangat menyayangimu. Semoga secepatnya kau bisa melupakan kami." Air mata terkahir menetes dan jatuh membasahi atap mobil.


"Mama ... Papa!" Ruangannya tak terdengar sama sekali. Dia tidak mengerti. Darimana cairan merah ini berasal? Mengapa ibunya menangis? Mengapa keduanya memejamkan mata? Selena tidak tahu. Yang dia sadari hanya takut dalam diri. Meski beribu tanya di dalam pikirannya, air matanya mengalir dengan sendiri. Dia merasa sepi, entah apa penyebabnya.


Dia pun memejamkan matanya, sambil memanggil orang tuanya. Dia sendirian, menunggu seseorang datang membangunkan ayah dan ibunya. Sudah beribu kali dia memanggil keduanya, namun tidak menyahut sama sekali.


Malam itu berlalu sangat lama, dia diam sambil menahan dingin yang terus menyayat. Sampai akhirnya sebuah sirene mendekat, begitu keras berteriak. Seolah memaksa Selena untuk membuka matanya.

__ADS_1


"Ada anak kecil, dia masih hidup!" Pelan terdengar bersama rintikan hujan yang belum juga padam.


"Bangunkan mama ... dan papaku," pinta Selena dengan suara bergetarnya. Selepas kalimat itu terucap, penglihatannya perlahan kabur dan berubah gelap. Dia pun pingsan tepat setelah seseorang membuka pintu mobilnya dengan paksa.


__ADS_2