My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 25


__ADS_3

"Bair sopir yang mengantar Anda, Nona," ujarnya sopan. Dia berlari menunduk hendak memanggil sopir pribadi keluarganya. Pelayan setia ini tidak tega membiarkan cucu kesayangan tuan-nya harus bersusah payah mencari kendaraan untuk pulang.


"Tidak perlu, Bibi. Aku pulang sendiri, bye!" Selena melambaikan tangannya dengan santai, lalu beranjak melangkahkan kaki meninggalkan rumah mewah milik kakeknya itu. Tidak ada gunanya berlama-lama di sana, toh kakeknya beberapa hari kedepan akan sibuk dengan bisnisnya di luar negeri. Kakek peyot itu tidak akan kembali dalam sepekan.


Selena lenggak-lenggok seraya bersiul menatap jalanan yang dipenuhi kendaraan lalu-lalang. Dia memutuskan untuk menggunakan jasa taksi online untuk mengantarnya berbelanja ke toko di pusat kota. Hari ini dia berenca memanjakan dirinya. Sudah lama tidak berkunjung ke toko langganan yang sering dia datangi ketika masih perawan dulu.


Setiap langkah, kaki berjalan menyilang, dia bersiul dengan tangan berada di sisi saku celana yang dia kenakan. Setelah sekian lama terbelenggu gaun-gaun yang menyesakkan dada, akhirnya dia bisa memakai pakaian sesuai seleranya.


"Nona Selena?" tanya sopir taksi online yang baru saja datang menyapa.


"Benar, Pak. Antar ke Maliorca, ya," katanya.


Perjalanan mereka awalnya baik-baik saja. Melintas dengan baik tanpa ada gangguan. Namun semua hanya berlaku sementara. Tiba-tiba saja dua motor yang ditunggangi empat orang di atasnya menghentikan perjalanan mereka. Manusia-manusia tak beradab itu menyalip mobil kecil yang ditumpangi Selena, kemudian mereka mengetuk kasar kaca kendaraan tersebut.


"I-Ini kenapa, Pak?" Sontak Selena panik. Dia takut jika terjadi perampokan di jalanan sepi ini. Jarang sekali kendaraan yang lewat, karena kebetulan saja sopir itu mengambil jalan sempit untuk mempersingkat perjalanan mereka.


Ketika sopir tersebut membuka pintu mobil, mendadak mereka membuka helm. Ternyata wanita. Tidak salah lagi, mereka adalah anggota geng motor Eliot, dan wanita yang sudah merusak perjalanannya adalah Shania. Lagi-lagi wanita tak tahu diri itu kembali mengusik Selena.


"Apa dia belum jera?" Selena langsung menghampiri gerombolan wanita berambut pirang itu. Sungguh dia sangat kesal melihat betapa jahil mereka.


"Woy jal*ng busuk!" Kata-kata yang sangat ramah. Dia menyapa seraya mengacungkan kedua jari tengahnya ke arah Shania. Selena menaikkan sedikit dagu berusaha terlihat angkuh di depan musuh lamanya itu. "Belum puas dipermalukan kemarin? Kau ke sini minta dihajar?"


"Sombong sekali dia! Apa dia tidak tahu siapa Shania?" Keroco di sebelah Shania mulai mengumpat.

__ADS_1


Selena menyeringai. Senyum maut mengerikan dari wajahnya merupakan tanda awal kemarahannya. "Kau yang akan pertama kali kuhajar," titahnya kuat. "Satu lagi ... kau juga belum tahu aku, kan? Selena Amaril, istri Eliot Alaric. Tentunya kalian pasti mengenal suamiku, tidak perlu dijelaskan lagi. Jangan main-main denganku!"


"Congkak! Langsung saja!" teriaknya beringas. Mulutnya ternganga lebar memberikan instruksi kepada sekawannya.


Dengan lancang, wanita itu mulai menyerang Selena dengan tinjuan ke arah wajah cantiknya. Dengan gancang, Selena berkelit menghindar pukulan yang hampir menyentuh kulit putihnya. Dia memegang kepalan tangan wanita itu. Digenggamnya erat hingga terdengar suara tulang yang beradu.


Wanita itu mengerih kesakitan. Dia mengibaskan tangannya seraya menghempas sakit yang diderita. Dia bergerak mundur ke belakang, tertatih-tatih menahan sakit.


"Kau baik-baik saja?" tanya Shania cemas. Dia membopong temannya itu ke pinggir ruko kosong, lalu meletakkannya di sana. "Dia kuat sekali," lirih suaranya membisik ke telinga Shania.


"Punya tenaga segitu berani-beraninya mengajakku bertarung," soraknya meremehkan. Dia tertawa cekikikan melihat wanita itu merintih dengan wajah pucat ketakutan. Sudah begini baru menyadari kalau Selena bukanlah wanita lemah yang dapat mereka tindas.


"Perlu kalian tahu, aku ini ahli bela diri. Setiap tahun menjuarai banyak penghargaan," terangnya membanggakan diri. Dia juara bertahan liga di bidang bela diri saat bersekolah di luar negeri saat itu. Wajar jika tidak ada yang tahu tentang keahliannya tersebut. "Apa Eliot tidak memberitahu kalian?" Dia tersenyum mengejek.


Tidak lama kedua keroco pendamping Shania yang tersisa secara bersamaan melayangkan tinjunya. Yang satu memegang tangan Selena, lalu satunya lagi memukul perut istri Tuan Muda Alaric itu. Tidak ada ampun, mereka terus memukul Selena tanpa rasa kasihan.


Takut terkena kasus dengan wanita berandalan itu, akhirnya sopir tersebut hanya bisa berdiam diri menunggu hingga polisi sampai di tempat kejadian.


"Ahli bela diri? Kau hanya wanita lemah yang pura-pura kuat," hina Shania. Dia menyentuh dagu Selena dengan tatapan mencemooh. "Ini akibat karena kemarin sudah mempermalukan aku," sambungnya lagi. Dia mencengkram dagu Selena dengan keras, kemudian ditariknya rambut wanita itu ke arah belakang. Hingga Selena terdongak menatap langit berwarna jingga.


"Cuih!" Selena meludahi wajah Shania. Dia tersenyum sebelah dengan ekor mata berubah merah. "Jauhkan tangan kotormu dariku!" teriaknya tidak terima.


Selena kemudian mendepak tangan yang sudah berani menyentuh dagunya. Berangsur kedua wanita yang memegang lengannya, dia menunjang kepala keroco-keroco yang lancang memukulnya.

__ADS_1


Kedua wanita itu terhempas dan jatuh tergeletak. Kesadaran mereka tampaknya mulai menghilang karena Selena sempat membuat keduanya syok berat.


"Selanjutnya kau. Tenang saja, aku akan memukulimu dengan pelan, agar kau bisa merasakan sakit secara perlahan, hehehe." Dia membunyikan ke-sepuluh jarinya sekaligus, lalu kemudian menarik rambut pendek Shania. Dia menyepak betis saingannya itu, hingga Shania tertekuk menghantam lantai batako tersebut.


Selena mulai mengangkat tangannya.


Plak!


Berkali-kali suara tamparan keras terdengar. Dia tak henti melayangkan hantaman telapak tangannya ke pipi tirus Shania. Memerah sudah warna kulitnya.


"Kau harus mengingat setiap tamparan yang kuberikan!"


Plak!


"Jangan pernah lupakan hari ini, Shania. Kau harus mengenang momen mendebarkan ini selamanya!" pekiknya.


Shania terkapar lemah, dia tak bisa menahan rasa sakit yang terus melahap kesadarannya. Pandangannya berubah gelap, ingin sekali meminta pertolongan namun tak ada siapa pun di sana.


Dia malu mengakui kekalahan ini. Dengan sekuat tenaga dia berusaha berdiri, bangkit dari posisi tersungkurnya. Dia mencoba memegang tangan Selena, meski samar-samar matanya yang kabur dapat menjatah pergelangan wanita itu.


"Ka-Kau ...." Sudah tidak mampu berkutik masih saja memaksakan pita suaranya bekerja. Sungguh wanita tidak tahu diri, hampir mati dibuat Selena, dia masih sempat-sempatnya ingin memberontak.


Kaki Selena lurus hendak menyepak telinga Shania. Namun tiba-tiba kakinya terhenti, setelah seorang petugas keamanan yang baru datang menyentak perbuatannya. "Berhenti!" sorak Polisi menyudahi.

__ADS_1


Tubuh Shania tumbang sebelum telapak kaki Selena mengenainya. Dia merasa aman setelah polisi datang mengamankan mereka. Bagaimanapun pasti yang akan disalahkan adalah Selena, karena di depan mata kepala polisi itu terlihat Selena lah yang menyerang gerombolan wanita bermotor itu. Shania dan kelompoknya malah berbalik berubah menjadi korban.



__ADS_2