
Dion menunduk, ingin sekali berkata sejujurnya kepada sahabatnya, namun dia takut dengan ancaman Shania. Jika sampai tipuan wanita itu terbongkar, maka seluruh keluarga Dion akan mengetahui bahwa selama ini diam-diam masuk ke sebuah geng motor. Keluarganya sama sekali tidak mengetahui tentang komunitas berandalan yang dimasuki Dion. Belum lagi posisinya di dalam komunitas itu adalah wakil ketua geng. Dia rutin mengalokasikan dana kasino keluarganya untuk membiayai keperluan komunitasnya.
"Setelah menikah dengan Selena, aku tidak pernah menyentuh Shania. Namun usia kehamilannya baru tiga belas minggu. Dia lucu sekali menuduhku sebagai bajingan yang sudah menidurinya?" Eliot menyeringai mengingat pengakuan Shania waktu itu. Dia tergelitik.
"Benar, aku juga tidak percaya jika kau ayah dari janin yang dikandungnya."
Eliot menoleh menatap Dion, tidak sadar kalau wajahnya sekarang ini begitu resah. Dia tidak peduli dengan gosip beredar di luar sana, yang dia takutnya hanyalah Selena. Jika istrinya sampai mendengar kabar angin itu, mungkin kehancuran akan menyertai rumah tangga mereka.
"Aku melarangnya keluar rumah agar Shania tidak memiliki celah untuk menemuinya. Aku yakin wanita itu sedang memikirkan beribu cara agar bisa menghancurkan keyakinan Selena padaku." Eliot meneguk habis kopi panas itu. Lidahnya bahkan tidak terbakar karena gundah di kepalanya lebih dominan daripada kopi panas itu. "Dia tidak boleh mengetahui tentang kehamilan Shania. Melarangnya menyimpan kontak orang lain juga caraku untuk mengantisipasi seseorang memberitahunya. Aku juga sudah memblokir semua akun media sosialnya." Eliot sudah memikirkan semuanya secara cermat dan matang. Tidak akan dibiarkannya siapapun merusak hubungannya dengan Selena.
Ingin sekali menghancurkan Shania, namun dia masih berbelas kasih mengingat betapa berpengaruh Shania dalam kehidupan lamanya, terlebih karena wanita picik itu adalah anggota geng motornya.
Dion tersenyum lebar, ditepuknya pundak Eliot. "Ternyata kau benar-benar sudah jatuh cinta padanya. Aku tidak menyangka, padahal dulu kau sangat jahat."
Eliot menepis tangan Dion, ditunjukkannya tampang tidak suka. "Jangan ungkit!" decaknya kesal. Dia terlihat murka karena sahabatnya sudah lancang membuka lembaran lamanya. Dia merasa berdosa jika mengingat bagaimana perlakuannya kepada Selena dikala dulu.
"Maafkan aku, Eliot." Tiba-tiba saja Dion menunduk.
Tentu menimbulkan sebuah tanya bagi Eliot. Dia mengernyitkan dahi karena bingung. Disepaknya mata kaki Dion dengan kuat sampai sahabatnya itu berjingkrak menahan sakit. Dielusnya seraya melompat mengurangi rasa nyeri hingga ulu hati. "Kau gila?! Bercandamu tidak asik sama sekali!" senggak Dion.
"Bagaimana dengan kasino, aku sudah lama tidak mengunjungi tempat haram itu," timpal Eliot mengabaikan amukan Dion.
__ADS_1
"Tentu saja semakin jaya. Semenjak kau tidak datang, tamu lama yang bermasalah denganmu berdatangan seperti kerbau masuk kandang," jawabnya masih kesal.
Dua sahabat lama itu bersenda gurau setelah lama tidak bercakap-cakap. Dion paham tentang situasi Eliot, pasti Tuan Muda Alaric ini sibuk mengurusi perusahaan. Wajar bils belakangan ini tidak pernah mengunjungi markas mereka.
...***...
Sepulangnya Eliot ke rumah, jam sudah menunjuk jam dua dini hari. Dia berpikir istrinya pasti sudah tidur sekarang ini. Dia berusaha membuka pintu sepelan mungkin agar tidak menganggu tidur Selena.
"Kau belum tidur juga?!" Amukan Eliot menjadi sapaan pertama. Pasalnya istrinya itu belum juga berada di ranjang. Dia melihat Selena duduk membuka laptop di atas meja ruang menonton. Di depannya terlihat berserak botol kaleng minuman yang diberikan ibunya pada Selena. Sangat banyak jumlahnya, mungkin satu kardus habis diminum oleh istrinya tersebut.
"Akun sosial media ku terblokir, aku tidak tahu kenapa. Saat membukanya sebuah peringatan muncul," adunya dengan raut panik.
Eliot berkacak pinggang sambil menghela napas panjang. Sungguh dia angkat tangan menghadapi istrinya. "Gara-gara itu kau begadang?" tanya Eliot, dia menjegilkan matanya lalu bergerak menutup layar laptop tersebut. "Tidur sekarang!" bentak Eliot mengamuk. Tangannya bahkan sampai ikut menunjuk karena kesal.
"Jangan banyak alasan, pergi tidur sebelum aku benar-benar kehabisan akal," kata Eliot memperingati, dia duduk dengan kasar di atas sofa, lalu mencubit-cubit dahinya. "Bisa-bisanya kau meminum minuman sebanyak ini," rutuk Eliot tidak henti-henti. Meski kepalanya terasa pening, mulutnya sama sekali tidak absen memarahi istrinya.
Selena terpaku memandangi wajah lelah suaminya. Dia merangkak naik ke atas sofa, lalu duduk di sebelah Eliot. Digapainya kepala Eliot, kemudian disandarkannya di bahu. "Rasanya ingin ke pantai, apa kita bisa pergi bersama?"
"Akan aku usahakan, jika ada waktu luang," jawabnya. Beberapa hari ke depan, Eliot akan disibukan dengan berbagai kegiatan dan rapat karena sedang mengadakan sebuah seminar besar mengenai produk yang akan segera dia luncurkan. Untuk saat ini, dia belum bisa berjanji akan membawa Selena pergi ke pantai.
Mendengar penolakan itu, Selena langsung menarik rambut Eliot tanpa perasaan. Pria itu sampai tersentak menjauh dari istrinya. "Kenapa lagi?"
__ADS_1
"Harusnya kau luangkan waktumu, bukan menunggu kapan ada waktu luang. Orang sibuk sepertimu tidak mungkin pernah senggang," jelasnya kesal.
"Baiklah, besok. Aku berjanji." Meski jadwalnya padat, dia terpaksa mengosongkan dan menggantin ke hari esoknya.
Eliot begitu lelah malam ini. Sungguh dia sudah tidak sanggup lagi menahan kantuk. Bahkan untuk mengganti pakaian saja dia tak sempat. Dia langsung membaringkan tubuh gagahnya di atas ranjang. Tidur tengkurap seraya menunggu sang istri berbaring di sampingnya. Dia menempuk ranjang menyuruh Selena berada di sana- tepat di sebelahnya.
"Aku sangat lelah," keluh Eliot mengadu. Dia memeluk Selena erat, dan di letakkannya kaki panjangnya di atas tubuh ramping Selena, hingga istrinya tersebut tidak bisa bergerak sama sekali. "Pantas saja papa memiliki emosi yang tidak stabil, ternyata selama ini dia sedang menanggung beban yang berat. Dia tidak pernah memiliki waktu untukku, bukan karena tidak mau menemani, tapi sibuk mencari uang demiku. Dia telah diperbudak pekerjaan hingga waktu beristirahat pun dia tak punya. Dan aku sedang mengalaminya sekarang."
Selena merapatkan jarak mereka. Dia mendongak menatap wajah rupawan suaminya, sembari mengusap-usap pipi Eliot. "Akhirnya kau sadar juga" cerocos Selena meledek.
Eliot mencubit pipi istrinya, lalu digigitnya bibir lancang Selena. Sangat keras, sampai Selena spontan mendorong tubuh Eliot.
"Bajingan!" Selena menepi hingga pinggir ranjang. Dia berbalik membelakangi tubuh suaminya, lalu menutup wajahnya dengan bantal.
Bukannya berhenti mengusili, Eliot justru semakin menjadi-jadi. Diikutinya gaya tidur Selena, lalu dirangkulnya dari belakang. Tangan nakalnya lanjut meraba-raba perut Selena hingga hampir mengenai gundukan moleknya.
Untungnya Selena berhasil menghentikan kegiatan usil suaminya. Ditepuknya punggung tangan Eliot hingga Eliot jera.
"Tadi kau memarahiku karena begadang, sekarang malah menganggu tidurku," sindir Selena tanpa membalikkan tubuhnya.
Tidak ada jawaban, lantas Selena berniat memeriksa. Tenyata pria itu sudah pulas tidurnya. Raut penat yang terukir jelas meyakinkan Selena bahwa suaminya begitu kelelahan. "Cepat sekali tidurnya," oceh Selena bingung.
__ADS_1
🖤 Selagi menunggu update cerita ini, kalian bisa membaca novel rekomendasi di atas. Kisah menarik yang dapat menemani waktu luang, terima kasih🖤