My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 19


__ADS_3

Selena tertegak bangun dari tidurnya. Dia tidak sadar dengan yang terjadi sebelumnya. Ingatannya tertinggal di belakang, saat dia dan Eliot sedang dalam perjalanan pulang.


"Apa yang terjadi? Kenapa aku berada di sini? Dan ini ... siapa yang menyelimuti?" Selena menepikan ujung duvet yang terbentang menghangatkan tubuhnya.


Dia melirik jam dengan ragu. Ditemukannya jarum jam menunjuk angka tiga pagi. "Lagi-lagi dia tidak tidur di sini," keluh Selena kecewa. Dia tak menemukan keberadaan suaminya dimana pun. Padahal dia sempat berharap bahwa Eliot akan tinggal bersamanya.


Dia berjalan menuju dapur mengambil air putih, kemudian duduk di salah satu kursi yang tersusun mengelilingi meja persegi, sekaligus mengingat kejadian sebelumnya. Sungguh dia benar-benar tidak mengingat apa pun.


"Aish ... kepalaku pusing!" teriaknya seraya mengacak-acak rambut yang tergerai. Jam sudah menunjuk dini hari, sekarang rasa mengantuknya hilang.


Untuk menghilangkan suntuk akibat ingatan yang terlilit, wanita itu memutuskan untuk menyibukkan diri agar terlupa. Dia mengenakan celemek lalu mengambil peralatan kebersihan. Selena pontang-panting keluar masuk toilet menyikati lantai dan seisi kamar mandi. Kemudian menyapu, mengepel, hingga mencuci seluruh pakaian yang kotor.


"Wah! Ternyata melelahkan juga," katanya sambil membaringkan tubuhnya di lantai.


Fajar hampir terbit, dia pun tersenyum dengan tubuh masih terlentang di atas lantai. Karena semua lampu telah padam, tak sadar matanya mulai terlelap bersama penat.


Krek!


Suara pintu yang terbuka terdengar samar-samar. Seseorang masuk ke dalam rumah. Dia tak terganggu dengan suara itu, bahkan langkah kaki yang terus mendekat ke arah telinganya tidak terdengar sama sekali. Tidurnya terlalu pulas, ditambah jarak dari pintu ke tempat Selena tergeletak terbilang jauh.


Seisi rumah dalam kondisi sangat gelap, tak ada lampu yang menerangi, bahkan tirai masih tertutup menghalangi cahaya matahari yang ingin masuk.


Bruk!


Eliot tergelincir hampir jatuh akibat tersandung benda besar. Dia tak memperhatikan langkahnya hingga tak sadar ada manusia setengah hidup terbaring di lantai berlapis karpet berbulu.

__ADS_1


"Astaga!" Langsung dia menghidupkan saklar lampu sesaat setelah mendengar rintihan wanita dari bawah sana. "Apa yang kau lakukan, ha?!" Jantungnya setengah berdetak melihat istrinya berada di lantai dengan celemek yang masih terpasang di badannya. "Mengagetkan saja," gerutunya.


"Ih, sakit! Kau menginjak jariku!" Selena bangkit dari tidurnya. Dia bergeser menjauh dari Eliot. Matanya sampai berair menahan sakit dari hasil pijakan kaki besar Eliot. "Tanggung jawab, cepat! Kau harus meniupnya," rengek Selena lalu menyodorkan tangannya ke arah Eliot.


Dengan patuh suaminya itu berjongkok menyetarakan tatapan mereka. Dia meraih jemari kurus Selena, lalu ditutupnya pelan. Lirikannya begitu lembut saat membelai pelan jemari Selena.


Dia terpesona, pipinya memerah. Langsung Selena menyembunyikan tangan dan meletakkannya ke belakang punggung. Dia tak ingin berlebihan terbawa suasana romantis yang ditunjukkan Eliot padanya. "Ck, sudahlah." Dia berdiri dengan cepat seraya memalingkan wajah.


"Apa masih sakit?" tanya Eliot.


Selena sengaja diam, dia tak kuasa menahan gejolak hatinya yang terus menari-nari saat melihat Eliot. "Ti-Tidak," jawabnya terbata-bata. "Untuk apa kau kemari?" tanyanya mengalihkan pembicaraan.


"Ini rumahku, kenapa bertanya? Aku tersinggung mendengarnya," oceh Eliot cerewet. "Apa kau sudah buatkan sup yang kuminta?"


Selena terpaku, dia lupa dengan perjanjian itu. "Aku kira kau tidak pulang, jadi aku tidak masak sup," jawabnya. "Lagipula kenapa kau tiba-tiba pulang setelah sekian lama menggembel dengan geng motormu," celetuknya menyalahkan.


"Apa yang kau lakukan?" tanya Selena resah. Dia berlari mengejar Eliot berniat untuk menghalangi kegiatan suaminya itu. "Apa kau serius? Jauhkan tanganmu dari kompor ku, harganya sangat mahal. Jangan sentuh teflon ku, nanti lecet." Secara beruntun mulut licinya mulai menghambat gerak Eliot.


"Menyingkir, kau duduk di situ saja!" suruhnya menunjuk bangku di belakang mini bar dapur rumah mereka.


Selena duduk termangu menonton suaminya. Awalnya dia ragu dengan Eliot, sampai akhirnya pria itu menunjukkan keahliannya dalam memasak. Dia mengiris, menggoreng dan merebus dengan lihai. Gerakan tangannya begitu cepat, bahkan Selena kalah bila dibandingkan Eliot.


"Wah ... ternyata kau jago juga," puji Selena kagum. Mulut dan matanya serentak menganga memandangi Eliot. "Aku pikir kau tidak bisa melakukannya," pujinya sebelum merendahkan.


Eliot tersenyum. Tidak ada satu pun yang tidak bisa dia lakukan. Sejak kecil dia sudah mengikuti berbagai jenis kursus pelatihan. Mulai dari memasak, bermain musik, olah raga, bahkan menari pun dia pernah selami. Tuntutan ayahnya selalu memaksa Eliot menjadi anak berjuta bakat.

__ADS_1


"Aku ingat! Kau juga sering bermain biola!" ungkap Selena girang.


Tak!


Hentakan tangan Eliot berhenti mengiris daun bawang. Dia menatap Selena dengan mata sinisnya. "Bagaimana kau bisa tahu?" Tampaknya dia tak senang membahas tentang masa lalu.


"Ti-Tidak ... aku hanya asal bicara," dalihnya. Padahal saat kecil dulu, Selena terus saja menguntit Eliot, tanpa sepengetahuan anak laki-laki itu. Dia selalu berusaha bersembunyi dan mengintip kegiatan Eliot.


Tiba-tiba suasana menjadi canggung. Selena merasa sudah salah kicau hingga atmosfer di ruangan ini kurang nyaman. Dia menunduk menunggu agar pria itu memulai percakapan terlebih dahulu.


"Cicipi ini," suruhnya sambil memberikan mangkuk kecil berisi sup buatan Eliot. "Bagaimana?" tanyanya mencoba menagih pendapat.


Selena dengan ragu mulai mencicipi. Betapa terkejut jiwanya saat sup masakan suaminya masuk ke dalam mulutnya. Sangat lezat, seperti masakan rumahan. "ENAK!" sanjung Selena. Dia menyulangkan sup itu lagi dan lagi hingga habis dalam tiga tegukan. "Aku mau lagi," katanya.


Eliot tersenyum tipis melihat reaksi Selena yang berlebihan. Dia senang karena akhirnya seseorang memuji hasil masakannya.


Eliot duduk di sebelah Selena, bersama-sama menikmati sup buatan tangannya. "Sudah kenyang?" tanya Eliot tersenyum kecut. Ekspresi Eliot memiliki arti terdalam. "Kenapa kau tahu dulu aku bermain biola?" tanya Eliot serius. Dia bahkan sampai mengatupkan gerahamnya menunggu jawaban Selena.


"Ti-Tidak, aku hanya mengasal," jawabnya berbohong.


Segera dia mengalihkan perbicangan kaku itu. Eliot sama sekali tidak mengetahui bahwa Selena dulunya adalah ahli penguntit cilik. "Kau tidak mau ini kan? Kalau begitu buatku saja," kata Selena merampas mangkuk sup Eliot. Dia menelannya seketika lalu meletakkannya kuat hingga terdengar suara hentakan. "Wuah ... enak sekali. Besok kau masakkan lagi. Sekarang aku mandi dulu," pamit Selena terburu-buru. Gelagatnya begitu jelas sedang menghindari Eliot.


"Hampir saja ketahuan," guman Selena ketakutan sambil beranjak dari dapur itu.


Sesaat kemudian, ponsel Eliot berderit. Kenalan lama pria itu lagi-lagi mengusik dirinya, sudah beberapa kali Eliot menolak namun masih saja terus mengganggu. "Ada apa?" sahut Eliot melalui ponselnya.

__ADS_1


Selena menghentikan langkahnya, mendengar suara yang tak asing dari ponsel Eliot.


"Ck, wanita itu!" geram Selena mengencangkan rahangnya. Dia membidik Eliot dengan jengkel, lalu mengepalkan tangannya. "Siapa yang menghubungi mu, Sayang?" Dia bersengaja mengeraskan suara manjanya agar terdengar hingga ke si penelepon.


__ADS_2