My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 9


__ADS_3

Langkah sembrono dari balik pintu kaca transparan menyadarkan Eliot akan kedatangan Selena. Wanita itu berlari grasak-grusuk mendekati Eliot . Di sebelah tangannya tampak kantong plastik berisikan alat dan bahan P3K. Dia membeli semua sehingga menjadi kesatuan yang sempurna. Kemudian di tangan satunya tergenggam botol minum segar untuk dahaga Eliot.


"Minum dulu," suruh Selena dengan wajah lesunya.


Meski Eliot menyadari betapa letih istrinya itu, dia tetap bertindak seolah tidak tahu. Dia enggan mempedulikan Selena, meski hatinya sedikit terusik melihat raut penat yang terukir di wajah cantik Selena.


Eliot bersikap masa bodoh dan tetap meneguk habis botol minuman yang dibawakan Selena padanya. Dia sama sekali tak acuh dengan wanita tersebut.


"Dekatkan wajahmu, biar aku bersihkan dulu lukanya," perintah Selena bernada lemah. Dia berdiri di depan Eliot dengan mata fokus ke arah luka suaminya tersebut. Dengan penuh kehati-hatian, dia mulai menyapukan kapas alkohol ke pipi bekas pukulan tangan Dion.


Selena begitu berperasaan saat menyeka bahkan mengoles salep tersebut. Dia tidak membiarkan pria kekurangan kasih sayang ini merengus kesakitan.


Eliot terkecoh. Matanya dengan sendirinya mulai menyelusuri paras cantik Selena. Diam-diam Eliot berdecak kagum menikmati mata, hidung, bahkan hingga bibir wanita tersebut. Dia mulai menerka isi hati Selena, seperti apa dia? Bagaimana dia bisa sekuat itu menghadapi perangainya yang sulit dimengerti? Semua tanya ada di kepalanya kini.


"Kenapa tanganmu dingin?" tanya Eliot ketika telapak tangan Selena masih sibuk menempelkan plester ke wajahnya.


Selena tidak menyahut, bibirnya ternganga sedikit karena terlalu berkonsentrasi pada kegiatannya. Setelah plester tersebut berhasil menempel, barulah dia menjawab. "Itu karena aku sedang cemas," jawabnya seraya merapikan rambut Eliot yang berantakan. "Apa boleh kupakai kan ludah untuk merapikan rambutmu?" tanya Selena dengan telapak tangan sudah berada di depan mulutnya.


Eliot terdiam kaku, hanya matanya saja yang menjelaskan bagaimana perasaan kesalnya mendengar pertanyaan Selena. "Kenapa kau tidak beli minun untukmu juga, bodoh?" umpat Eliot. Dia beringsut cepat dari kursinya menuju supermarket untuk membelikan wanita dungu sana minuman elektrolit.


Sudah berusaha mengalihkan perhatian, ternyata hatinya tetap menyuruh dirinya untuk membelikan minun pada Selena. Butiran keringat yang tercurah dari pinggir rambutnya memaksa Eliot untuk bergerak.


"Kau harusnya beli dua," tukas Eliot sambil memberikan Selena botol minuman.

__ADS_1


Selena terkekeh, dia tidak terpikir untuk membelikan minunan untuknya sendiri. Seolah tiba-tiba saja dahaganya hilang saat mencemaskan Eliot. Jangankan rasa haus itu, bahkan penat kaki juga kesemutan terhempas sembuh seketika. "Iya juga, tapi tadi aku terlalu panik dan tidak bisa memikirkan hal lain," jawabnya merasa malu. Bahkan ekspresi lugunya lagi-lagi mengabarkan Eliot bahwa wanita di depannya sangatlah polos.


Membayangkan seberapa panik Selena terhadap dirinya, membuat Eliot tersipu. Tidak bisa dikendalikan, darahnya berdesir deras dan mengalir kencang hingga kepala. Pipinya berangsur merah ketika melihat betapa tulus wanita itu mengkhawatirkan dirinya.


Dia pun memalingkan wajah. Menyembunyikan rona merah itu dari Selena. Wanita itu tidak boleh sampai melihat mukanya yang sedang tersipu.


"Ekhem," deham Eliot menstabilkan diri. "Lain kali kau tidak perlu datang kemari. Apa kau tidak tahu bahaya, ha?!" amuk Eliot.


Mengingat betapa elok paras istrinya, banyak para pria yang tergugah akan cantiknya. Bahkan teman satu geng nya pun berani dengan lantang meminta hal senonoh di depan Eliot, apalagi orang lain?


"Siapa suruh tidak angkat telepon ku?" sambung Selena menyalahkan. "Lagian kau tidak perlu takut jika aku terkena bahaya. Aku pandai silat," ucapnya bangga sambil mengepalkan tangan.


Eliot tersenyum tipis. Sudah tiga bulan mereka berinteraksi, baru kali ini dia melihat senyum mempesona dari sudut bibir Eliot. Kejadian langka tersebut tentu berhasil ditangkap oleh mata Selena. Dia melihatnya!


Eliot langsung balik badan. Dia tidak kuasa melihat tingkah menggemaskan wanita itu. Entah mengapa setiap gerak Selena sangat menggelitik. "Apa ini efek tinjuan Dion?" guman Eliot seraya mengusap bekas pukulan sahabatnya itu.


Seketika suasana menjadi canggung. Mereka duduk melamun saling buang muka. Tidak ada saling pandang atau bahkan hanya sekedar lirik-melirik.


"Eliot, aku pulang dulu. Sepertinya hari ini sangat melelahkan. Aku juga lapar." Selena beranjak dari tempat menuju gang markas Eliot - untuk mengambil keranjang piknik yang tertinggal di sana.


Kalimat sederhana itu pun mengakhiri perjumpaan mereka. Selana berjalan kaki menuju halte bus yang tidak jauh dari lokasi persinggahan geng motor Eliot. Meski tidak jadi makan siang bersama Eliot, setidaknya dia sudah berhasil melihat senyum mempesona tunangannya tersebut.


Bus berikutnya ternyata masih butuh antrian yang lama. Dia terlambat mendapatkan bus sebelumnya.

__ADS_1


Terpaksa Selena harus menunggu. Ingin rasanya memanggil sopir pribadi keluarganya, namun takut jika kakeknya tahu bahwa Eliot membiarkan dirinya pulang sendiri.


"Bahkan taksi jarang lewat dari sini! Kenapa tempat ini sangat kolot?!" umpat Selena kesal karena harus menunggu lebih lama lagi di halte.


Tidak berapa lama, Eliot muncul bersama dengan motornya yang mahal. Suara knalpot yang mendengung keras mencuri perhatian Selena dari lamunannya.


"Naik!" suruh Eliot dengan tatapan lurus ke jalan. Dia tampaknya berat saat mengajak wanita itu.


"Benarkah?" Antusiasnya gembira. Wajah cemberut sebelumnya dalam sekejap berubah segar sumringah saat mendengar ajakan Eliot. Dia berlari sambil menjinjing keranjang kayunya yang mungil.


Sebelum Eliot melaju, dia memberikan helm putih pada gadis itu. "Pakai dulu."


Bagai badai menghampiri gurun pasir, seperti itu lah kini perasaan Selena. "Ajaib!" pungkasnya dalam hati. Dia menatap helm manis itu dengan senyum simpul. Dia meratapi helm tersebut dan memasangnya dengan gerak lambat. Momen langka ini harus dinikmati, sebab besok dan seterusnya belum tentu akan terulang kembali.


"Kau ingin makan apa?" tanya Eliot kaku. Dia bahkan tidak bisa bertanya dengan lembut, kebiasaan kasarnya telah menggerogoti tubuhnya.


"Ini!" Selena menunjukkan keranjang tersebut.


"Ya sudah makan di atas motor saja," suruhnya tidak paham. Eliot tidak mengerti makna dibalik kata Selena.


Selena menghela panjang. Dia memukul pundak pria itu lalu menyudutkan sebelah bibirnya ke atas. "Kolot!" hinanya kesal. "Kita ke sungai yang ada di Central Park."


Wajar jika pria itu tidak paham tentang piknik atau semacamnya. Dia belum pernah melakukan hal itu sebelumnya. "Mau makan saja harus repot. Dasar wanita," gerutu Eliot kesal. Dia tanpa banyak bicara langsung menuju tempat yang ditujukan oleh Selana padanya.

__ADS_1


"Bisa pelan tidak, keranjang ku bisa jatuh!" senggak Selena menahan keseimbangan tubuh. Sangking kencangnya Eliot dalam mengendarai motor, raga Selena hampir melayang bersama tikungan dan belokan suaminya tersebut.


__ADS_2