
Rasanya sia-sia berbicara dengan Selena. Tidak ada gunanya. Malas memperpanjang percakapan, Eliot lantas menjauh, bergerak berjalan menuju balkon kamarnya.
Dia menyalakan pemantik lalu membakar rokok untuk menghilangkan gundah dalam hatinya. Meski terlihat tenang, sejujurnya Eliot begitu terpukul karena terus menentang ayahnya. Ingin rasanya berhenti, tapi Eliot sama sekali belum puas sebelum San benar-benar menyesal telah mengabaikan dirinya.
"Malam ini kita tidak perlu menginap," kata Selena mengikuti langkah Eliot. "Mama mengizinkan kau dan aku pulang ke rumah, apa kau keberatan?"
Bintang begitu terang berserakan di langit gelap. Bulan bahkan tersenyum menonton kedua pasangan ini dari atas. Untuk pertama kalinya bagi Selena dapat menikmati dinginnya angin malam bersama suaminya . "Aku juga tidak ingin menikah denganmu, mengenai Tuan San ... aku rasa aku tidak bisa mengandung anakmu. Aku tidak sudi menerima benih dari bajingan sepertimu, " kata Selena sambil menatap wajah Eliot yang beku. "Tapi jika kau meminta sambil menunjukkan perut sixpack mu, akan aku pikirkan," celetuknya bercanda.
"Bukan urusanku. Lagi pula aku sudah vasektomi. Cucu? Ck, yang benar saja, dia tidak pantas dipanggil kakek," rungut Eliot berdecak kesal. Dalam hatinya penuh dendam, beribu ungkapan bahkan tidak dapat menyembuhkan luka yang terukir pahitnya masa lalu.
"Apa kau serius? Tidak mungkin, artinya kau mandul. Seharusnya kau katakan lebih awal, agar aku bisa menolak perjodohan kita."
"Pernikahan ini tidak ada gunanya. Aku tidak tertarik denganmu ataupun bisnis keluarga Alaric. Sebaiknya kau berhenti mengharapkan cinta dariku, kau tidak akan mendapatkannya." Eliot menoleh, irisan bola matanya layu bersama kehampaan. "Dan lagi ... berhenti berbicara santai denganku. Sikap mu yang liar sungguh menyebalkan, sebaiknya kau tetap berpura-pura menjadi wanita lugu seperti biasanya."
Terpaan angin malam yang deras, menyisir rambut Eliot yang pekat. Bulu matanya begitu lentik memanjang, memalingkan Selena dari kesadaran. Bibir merah merona miliknya sungguh cantik sampai jari Selena ingin menggapai.
Selena memegang kedua bahu bidang Eliot. Dia membalikkan badan pria itu dengan pelan. Dia mulai menatap mata pria tersebut dengan intens. Sangat dalam, sampai Eliot tidak bisa memahami arti tatapan tersebut.
"Sudah tiga bulan, kau terlambat memperingati ku. Aku terlanjur masuk ke dalam hidupmu. Dan sekarang aku mulai jatuh cinta padamu. Melarangku tidak ada gunanya, karena apa yang kuinginkan harus segera kudapatkan" jawab Selena. Dia menatap manik Eliot dengan lembut. Diratapinya dalam, hingga sebuah getaran terasa bergejolak di dadanya. Wanita itu memandang Eliot penuh obsesi. Sampai Eliot terperangah menanggapi Selena. "Satu hal lagi." Selena mendekat ke sebelah Eliot, hingga tidak ada jarak diantara mereka. Kemudian dia membisik. "Aku tidak percaya kau melakukan vasektomi, sebelum aku memeriksanya secara langsung." Dia berumrum memikat Eliot.
Tidak berapa lama, Selena dengan lancang melingkarkan tangannya ke pundak pria bertubuh kekar itu, lalu menengadah memandang langit. Dia tersenyum sambil menikmati alunan dedaunan yang berdesir. "Bukankah seperti ini lebih baik?" tanyanya. "Aku tahu kau kesepian selama ini. Untuk itu aku datang untuk menemanimu," katanya tersenyum tulus. "Aku bersumpah akan terus bersamamu bahkan disaat kau benar-benar muak melihat ku."
Kemudian Selena memusatkan bidikannya ke arah bibir Eliot. Dia tergugah. Dengan yakin Selena memberanikan diri mengecup bibir ranum Eliot.
__ADS_1
"Aku berjanji," ucapnya di sela tarikan napas kencangnya.
Eliot Alaric kala itu tengah gundah hatinya. Mendengar seseorang bermulut manis berjanji akan menemaninya, tentu dapat menenangkan sepinya. Tubuhnya seakan dengan sendirinya bergerak membalas kecupan indah itu. Dia mencium bibir ranum Selena dengan beringas, lalu mulai menjajaki setiap sudut bibir Selena sambil berayun bersama gelora darah yang menggebu. Napas mereka beradu kuat, mereka saling menyesap menikmati lembik bibir masing-masing.
"Aku tebak ini bukan pertama kalinya kau bercumbu dengan pria," duga Eliot di sela-sela pergulatan mereka. Wanita itu sangat lihai, belum pernah ditemuinya wanita yang dapat menyetarakan alunan napasnya yang memburu seperti Selena.
Selena tersenyum nakal. "Aku senang karena kau puas, aku anggap pujian. Namun sayang, ini pertama kalinya bagiku bercumbu dengan pria," jawabnya menangkis tuduhan suaminya tersebut.
Tidak berhenti sampai di situ saja. Selena yang masih menyimpan segudang cara meluluhkan Eliot akhirnya mengeluarkan jurus berikutnya. Dia melepaskan dekapannya dari pundak pria itu, lalu menyentuh dada bidang Eliot. Perlahan jemarinya yang lentik membuka setiap kancing yang menutupi tubuh proporsional Eliot.
Selena dengan berani menjulurkan lidahnya ke lekuk tulang selangka Eliot yang kokoh. Dia membelai wajah Eliot, lalu menggigit pelan telinga pria itu.
Dia tersenyum licik sebab berhasil menjebak pria itu ke dalam pesona yang tak tertahankan. "Cih, masih perawan," ledek Eliot tergelitik. "Katamu tidak ingin mengandung anakku, tapi malah lancang merayuku," sindirnya.
Eliot memandang tajam bibir Selena yang tidak beradab. Pria normal itu terlanjur terpancing Selena yang menggoda. Tidak ingin berhenti, Eliot lantas mengangkat tubuh Selena yang lampai ke atas tepi balkon. Kemudian membiarkan wanita itu terduduk di sana.
Eliot memegang pinggul indah Selena yang bergairah."Kau akan mati jika tidak bisa membuatku puas malam ini," suruhnya mengancam.
"Kau menantang ku?" tanya Selena merasa diremehkan. "Akan kubuat malam mu berkesan hari ini."
Selena kembali meletakkan bibir ranumnya di atas bibir Eliot. Dia menjulurkan lidahnya seraya menggumuli bagian tersebut. Dia menggeliat seakan meminta belaian lebih dari pria dingin yang hampir mencair itu.
Tok-Tok-Tok!
__ADS_1
Suara ketukan pintu pelan mengusik kedua manusia yang hampir terbuai suasana.
"Akan kita lanjut nanti," kata Selena. Dia mendorong tubuh Eliot, lalu melompat turun ke lantai balkon.
Eliot pun membukakan pintu kamarnya untuk seseorang yang sudah merusak gairahnya. Dengan cepat tangannya memasang kembali kemeja yang terlepas dari tubuhnya sebelum seisi mansion mengetahui kegiatan panas mereka.
"Mama?"
"Sayang ... Mama bawakan pakaian ganti untuk Selena. Takutnya menantu kesayangan Mama tidak nyaman saat tidur nanti," ucapnya. Sadar bahwa wajah putranya itu memerah, Dernia langsung melirik seisi kamar, mencoba menangkap kegiatan apa yang sedang dilakukan anak dan juga menantunya.
"Ma!" sapa Selena dari balkon yang jaraknya jauh dari pintu kamar Eliot. Dia melambaikan tangan dengan seringai simpul sempurna. "Terima kasih, tapi malam ini sepertinya kami akan pulang ke rumah, mungkin lain kali kami akan berkunjung lagi," tolak Selena.
Dia takut jika berlama-lama di mansion akan membuat San dan Eliot semakin sering berdebat. Membayangkannya saja Selena sampai bergidik ngeri. Sebaiknya ayah dan anak itu dijauhkan beberapa hari ini, lalu dipertemukan ketika pertikaian telah padam.
Dernia mengangguk paham, meski sebenarnya dia masih ingin tinggal bersama dengan putra dan menantu barunya itu. Membiarkan Selena dan Eliot meninggalkan mansion sebelum malam semakin larut.
"Bye, Mama!" pamit Selena melambaikan tangan perpisahan pada mertuanya tersebut. Dia berucap syukur karena akhirnya dapat terbebas dari penjara berkedok mansion itu.
Sesampainya di depan rumah, bukannya masuk bersama Selena ke dalam rumah, Eliot malah pergi selepas mengantarkan istrinya. Seperti biasa, dia tidur di markas geng motornya.
"Aku dan janda tidak ada bedanya, sama-sama ditinggal suami," keluh Selena menabahkan hatinya yang layu.
Tampaknya memenangkan hati pria itu sangat sulit. Bahkan ciuman panas tadi tidak mempan membakar dingin dalam hatinya. Tetap saja Selena dibiarkan sendiri tinggal di rumah mewah hadiah mertuanya tersebut.
__ADS_1