My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 41


__ADS_3

Angin bersiul menghembus lentik bulu matanya. Kelopak bengkak bekas tangisan yang berhenti ketika lelahnya menghisap seluruh kesadaran. Selena meringkuk pulas menikmati dingin yang menusuk belulangnya.


"Syukurlah dia bisa tidur," ucap Bram. Ditutupnya pintu itu kembali setelah memastikan keadaan sahabatnya.


Dia pun menuruni tangga, mencari kedamaian di halaman belakang rumah bernuansa kuno. "Aku akan tanyakan masalahnya besok, ketika pikirannya tenang." Dia menyalakan pemantik, dikeluarkannya sebatang rokok tembakau dari sebuah kotak kecil yang tergeletak di atas meja.


Klik!


Saat jarinya membuka tutup pemantik gas butana tersebut, suara ketukan pintu di tengah malam terdengar halus. Berirama dan berjeda.


"Tidak mungkin secepat itu," ujarnya mengeluh. Bram menutup kembali tutup pemantik rokok di tangannya, lalu bergegas membuka pintu untuk seorang tamu tak diundang.


"Darimana kau tahu alamat rumahku?" Bram tidak sempat menyapa dengan baik, lontaran pertanyaan terujar karena kesal. Dia merasa terganggu karena kegiatan merokoknya harus terkendala akibat kedatangan pria tampan; Eliot Alaric. "Oh, kau pasang pelacak. Aku hampir lupa kalau kau ini pengusaha sukses," jawabnya langsung tanpa menunggu Eliot menyerobot pertanyaannya.


"Aku ingin bertemu dengannya." Eliot berusaha melangkah masuk tanpa seizin Bram. Dia mengayunkan kaki hendak melewati tubuh Bram yang sedang menghalangi pintu.


"Eits ... sabar sabar," tahan Bram. Dia menghadang dada kekar itu menggunakan kedua tangan. "Dia baru saja tidur, jangan ganggu dulu," sambungnya menjelaskan.


Kasihan jika sampai Selena harus terbangun setelah seharian menangis. Bukannya berniat menghalangi pertemuan suami-isteri ini, dia hanya ingin Selena berisitirahat sebentar.


"Baiklah, tapi apa aku boleh melihatnya?" Rasanya ingin sekali memastikan kondisi istrinya sekarang ini. Hatinya tak tenang sebelum melihat secara langsung menggunakan mata kepalanya sendiri. Belum lagi karena khawatir jika pria eksotis ini menyentuh Selena.


"Tentu saja. Asal jangan berisik. Aku akan menuntut mu jika Selena sampai terusik," peringat Bram.


Eliot menelan saliva, bola matanya berputar sebab sebal mendengar aturan gila dari mulut pria asing ini. Dia suami Selena, dia berhak berbuat semaunya terhadap istrinya. "Untung saja ini rumahmu, kalau tidak gigimu sudah patah semuanya," balasnya mengumpat.

__ADS_1


Eliot cepat-cepat menaikkan anak tangga, menggapai ruangan dimana istrinya berada. Saat gagang pintu sudah berhasil digenggam, Eliot membukanya secara perlahan, berusaha menyembunyikan bunyi gesekan pintu kayu agar tidur Selena tidak terganggu.


Hatinya terketuk melihat Selena begitu pulas dalam mimpi. Wajahnya berhiaskan embun air mata yang mengering. Eliot mendekat, menarik selimut berbulu yang terlipat di pinggir ranjang itu. Ditutupnya sekujur tubuh Selena kecuali bagian kepala. "Sekian banyak manusia, kenapa kau malah mendatangi pria berwajah mesum ini?" Sempat-sempatnya Eliot mengoceh karena kesal dengan pilihan istrinya itu. Dia menepikan helai demi helai rambut yang menghalangi mata Selena, dia ingin menatap seluruh pancaran kecantikan istrinya. Dia berniat memberikan kecupan singkat penghantar tidur.


Belum sempat bibirnya mengenai kening Selena, tiba-tiba Bram menarik lengan Eliot. Ditariknya secara paksa untuk keluar dari dalam kamar.


"Lepaskan aku!" bentak Eliot, tangannya langsung menepis genggaman pria tersebut. Dia merasa geli. "Jangan sentuh aku!" tegasnya sekali lagi. Disapunya bekas pegangan Bram dari atas kemeja putihnya. "Menjijikkan," umpatnya.


"Bagaimana kalau dia terbangun dan melihatmu di sini?" Bram mengajak Eliot pergi ke bagian belakang rumah. Menikmati angin malam sambil berbincang berdua.


"Dia istriku, terserah padaku." Eliot menjegil tidak suka. "Kenapa kau melarangku, ck." Dia benar-benar kesal.


Bram tertawa pelan. Sudut bibirnya menaik sebelah memandangi Eliot. Seperti sedang menghina. "Sebenarnya aku heran dengan Selena. Bisa-bisanya dia menyukai pria sepertimu." Bram melirik Eliot dari ujung kaki hingga pucuk kepala. "Tidak ada yang spesial darimu."


"Percaya dirimu sangat tebal, aku bahkan sampai merinding mendengarmu. Hentikan, aku ingin muntah."


Bram kembali mengeluarkan dua batang rokok dari kotak kecil, berniat menawarkan pada Eliot. "Rokok?" suguhnya sambil menyodorkan batang irisan tembakau itu.


Eliot membuang muka, mengabaikan kebaikan pria berkulit indah itu. "Aku tidak merokok," jawabnya menolak.


Bram mengangkat bahu sekejap, paham dengan penolakan itu. "Karena workout?" tanya Bram penasaran.


Pria mana yang tidak suka dengan asap segar ini? Setiap tarikan dan bunyi puntung rokok begitu nyaman, terutama saat gumpalan awan putih itu bergumul di dalam mulut. Begitu nikmat.


"Selena melarangku," jawabnya. Eliot menunduk malu. "Aish ... sialan, aku merasa sedang mempermalukan diri sendiri."

__ADS_1


Bram lagi-lagi tertawa. Dia tersenyum manis melihat Eliot sedang salah tingkah. "Aku menyukai Selena sejak lama," kata Bram dengan serius. Matanya fokus memandangi rahang Eliot yang mulai mengeras. "Sejak dulu ataupun sekarang."


"Lantas? Bukan urusanku." Acuh tak acuh Eliot mengambil ponselnya. Merasa bosan dengan topik Bram. Dia tidak tertarik sama sekali mendengar curahan hati pria yang cintanya tidak terbalaskan. "Toh dia hanya mencintaiku," balasnya angkuh. Pupil matanya membesar menatap layar ponsel.


"Arogan sekali. Aku tahu Selena menyukaimu, sebab itu tidak pernah berniat mengungkapkan perasaanku padanya. Saat pertama kali melihatnya setelah sekian lama berpisah, aku mendengar kabar pernikahannya denganmu. Aku sedih sekaligus senang." Bram menghembuskan asap rokoknya ke arah Eliot. Bersengaja agar pria itu mendengarkan ceritanya. "Akhirnya dia mendapatkan apa yang dia inginkan. Begitu pikirku."


"Bisa jauhkan asap-asap ini dariku?" Wajah Eliot berubah masam, ditebasnya asap rokok yang mengambang mendekatinya.


Bram tidak mengindahkan perkataan Eliot. Tak jera, dia terus meniupkan awan putih itu tepat ke wajah Eliot. "Sepanjang hari dia selalu menceritakanmu, tidak pernah bosan membanggakan tentang Eliot Alaric padaku. Aku cemburu, tapi aku sadar, Selena hanya menyukaimu." Bram menyeringai mengingat betapa pedih kisah cintanya di masa lalu. "Seberapa keras pun aku berusaha, dia hanya menganggapku sebatas sahabat, tidak lebih."


"Kau tahu diri juga," simpul Eliot mengejek.


"Hei hei! Meskipun demikian ciuman pertama Selena aku yang ambil."


Eliot mendelik tajam. Muka masamnya berubah murka. "Bajingan, kau tidak perlu memberitahu ku juga." Dia terpancing.


Bram terpingkal-pingkal menahan tawa. Dia memadamkan rokoknya lalu berdiri dari kursi kayu itu. "Bukankah seharusnya kau pulang? Aku mengantuk," sindirnya mengusir Eliot secara halus.


"Aku akan tinggal di sini, berjaga-jaga agar kau tidak menyentuh Selena," tangkisnya menebalkan muka.


"Jangan gila, kalau aku memang sebejat itu, dari dulu Selena sudah ku perk0sa," sangkal Bram kesal. "Biarkan dia menenangkan diri, saat waktunya sudah pas, aku akan mengabarimu. Tinggalkan kartu namamu!"


Masuk akal juga. Jika bangun-bangun melihat keberadaan Eliot, yang ada Selena akan semakin syok. Lebih rumit jadinya jika sampai Selena pergi ke tempat lain. Takut seluruh keluarganya sampai tahu tentang pertengkaran mereka.


Lebih baik mempercayai Bram untuk menjaga Selena beberapa saat, sampai istrinya tenang dan dapat menerima penjelasan tentang situasi keruh ini.

__ADS_1


__ADS_2