My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 35


__ADS_3

Jalanan berliku dilewati dengan mudah. Hanya ada satu-dua pengendara di atas aspal hitam dan kering. Begitu sepi dan lempang. Meski perjalanan kali ini terbilang cukup jauh, dalam waktu sebentar Eliot dan Selena tiba di sana tepat ketika matahari masih sejajar dengan sumbu pemandangan.


"Wah, cantik sekali. Eliot, lihat! Ombaknya besar sekali sampai tembok jalanan pun dapat dipanjatnya." Tidak henti-henti Selena berdecak kagum melihat air asin yang terus bergulung ke tepian.


Selena membuka kaca mobil, dia mengeluarkan tangannya sembari menggerai rambut agar hembusan angin dapat menyisir kegundahannya selama ini. "Aku merasa lega setelah menghirup udara pantai, seandainya saja aku bisa tinggal di sini. Mungkin lautan akan kering ku sedot setiap hari," celetuknya mengkhayal.


"Tutup kaca itu, mau masuk angin, ha? Mama bisa mengamuk jika terjadi sesuatu padamu," repet Eliot. Dia menekan tombol power window untuk menutup secara otomatis kaca mobil tersebut. Wanita degil itu sama sekali tidak mendengarkan apa yang dikatakan Eliot.


Selena sudah tidak sabar ingin menginjakkan telapak kakinya di atas pasir. Jiwanya meronta-ronta hendak melompat dari mobil yang masih melaju, rasanya lebih cepat jika nekat keluar ketika mobil masih berjalan.


"Eliot, apa kau tidak menikmati perjalanan kita ini?" tanya Selena bermimik serius. Dia tidak menemukan kebahagiaan di wajah Eliot. Mata suaminya sejak tadi hanya lurus ke depan bersama kaku yang terpahat sempurna di wajah tampannya.


"Eliot!" panggil Selena. Suaminya sama sekali tidak menjawab pertanyaannya. Dia dibuat menunggu mulut suaminya terbuka dan menyahut. "Kau capek? Eliot, Eliot!!" Selena mencubit lengan suaminya tersebut. Seperti patung , Eliot tidak menoleh sama sekali.


"Ada apa dengannya? Punya mulut tidak dipakai, punya telinga tidak bisa mendengar. Anggap saja orang tuli," gerutu Selena acuh tak acuh menanggapi suasana hati suaminya yang sering berubah. Dia menyandarkan badannya di punggung mobil dengan kasar. Dia mendengkus agar suaminya mendengar kekesalan yang bersarang di dada.


Bukannya berhenti di pinggir pantai, Eliot malah memarkirkan mobilnya di sebuah penginapan di pulau ramai pengunjung tersebut. Dia tidak berbicara sejak tadi sampai sekarang ini.


"Kenapa kita ke sini? Bukannya langsung ke pinggir pantai?" Selena mengamuk tidak setuju karena Eliot menunda-nunda waktu. Dia sudah tidak bisa menunggu terlalu lama lagi. "Sebenarnya kau kenapa? Dari tadi tidak bicara?" Selena berdiri di depan Eliot, menghalangi jalan pria berkaki jenjang itu. "Katakan padaku," suruh Selena. Dia berjinjit menyetarakan tinggi badan mereka. Dia menegang kedua sisi wajah suaminya, lalu didekatkannya sampai hidung mereka saling bersentuhan. Matanya melotot tajam membidik manik hitam suaminya tersebut. "Jangan merusak liburan pertama kita," perintahnya dengan gigi geraham terkatup. Kemarahan mencuat keluar dari aura membunuh yang terpancar dari balik ekor matanya.


Lagi-lagi Eliot hanya diam, tidak merespon sama sekali. Dia lanjut berjalan masuk ke dalam penginapanan sekaligus menarik tangan istrinya tersebut.

__ADS_1


"Apa dia marah padaku? Kenapa? Karena apa? Diam-diam begitu seharusnya bicara baik-baik, bukannya malah mengabaikan ku," oceh Selena terus-menerus tanpa henti. Dalam pikirannya berkumpul banyak tanya. "Biarlah, aku tidak ingin ambil pusing."


Setelah seluruh administrasi telah selesai, keduanya langsung masuk ke sebuah ruangan yang terbuat dari kayu. Semua benda-benda yang ada di dalamnya pun terbuat dari kayu. Sungguh sangat nyaman.


"Hanya saja mood brengsek sana merusak nuansa indah tempat ini," sindir Selena tepat setelah Eliot membuka kancing baju dan merebah di atas kasur putih yang empuk. Selena merasa tidak diacuhkan. "Cuek sekali," umpat Selena.


Selang beberapa menit setelahnya, Eliot bangkit dari posisi berbaring. Dia kocar-kacir melangkah ke kamar mandi. Wajahnya pucat dan kaku.


Huuwek!


Terdengar suara menjijikkan itu. Pria bertubuh kekar itu sedang kesusahan dengan perut yang melilit, dia menahan ketidaknyamanan itu sejak tadi. Pantas saja mulutnya tidak terbuka, tidak tahunya karena sedang menahan muntah.


"Dia muntah!" Bukannya mengurusi suaminya, Selena malah asik menertawai Eliot dan meledek suaminya tersebut. "Hahaha ... badan besar begitu tapi mabuk perjalanan. Astaga, adoeh perutku sakit."


Pria bermuka pucat itu melemparkan mata elangnya kepada Selena. Dia menggenggam wastafel sambil menahan malu karena istrinya sudah lancang melukai harga dirinya. "Aku akan membalas mu!" seru Eliot murka. Jika saja kondisinya baik, mungkin dia sudah membungkam mulut pengang istrinya itu. "Aku akan menjahit bibirmu, lihat saja nanti." Ancaman tersebut sama sekali tidak membuat Selena takut, semakin Eliot memarahinya, semakin geli pula perutnya. Dia tertawa terbahak-bahak selepas mata Eliot menjegil ke arahnya.


"Urus saja muntahmu baru jahit bibirku," balasnya meledek.


Eliot menarik tubuh Selena masuk ke dalam kamar mandi, lalu didorongnya hingga tubuh Selena terhentak pelan ke dinding kayu tersebut. Eliot memukul dinding tanpa tenaga untuk menakuti istrinya itu. Mata mereka bertemu, saling menatap satu sama lain.


Selena pun terdiam, seketika tawanya berhenti setelah bersitegang dengan mata Eliot. Dia diam tidak berkutik sama sekali. Tubuh pria itu sukses menutupi pandangannya dari sekitar. Hanya tubuh jangkung itu saja yang dapat dilihatnya.

__ADS_1


Selena memalingkan wajahnya menjauhi tatapan Eliot. "Maafkan aku," ucapnya. Dia secepatnya memadamkan api yang hampir berkobar di hati Eliot, dia takut. Walaupun sebenarnya dia tidak bersungguh-sungguh menyesali perbuatannya. Ucapan maaf itu hanya sebatas ungkapan tak tulus dan terpaksa.


"Cih, sudah begini baru tahu posisimu," kata Eliot.


Baru saja hendak mencekam istrinya, tiba-tiba mual mengetuk kerongkongannya. Dia buru-buru menunduk di depan wastafel untuk mengeluarkan pelangi yang mencemari lambungnya.


Huweek!


Sekali lagi suara itu terdengar keras di telinga keduanya.


"Ututu ... sini Mama urut," katanya memperlakukan Eliot seperti anak kecil. Diambilnya minyak kayu putih di dalam tas, lalu digunakannya saat tangan mulai bergerak memijat pundak suaminya.


Setelah semua isi perutnya keluar tanpa tersisa, tubuh Eliot berubah lemas. Dia pusing dan pandangannya kabur. Berjalan pun tidak kuat, hingga Selena harus memapahnya untuk berbaring ke atas kasur.


"Seharusnya kau bilang padaku kalau tidak tahan mencium bau laut," jelas Selena seraya mengusapkan sekujur tubuh suaminya dengan minyak kayu putih.


Mata Eliot terpejam menahan mual yang masih terasa. Dia tidak sanggup menyahuti ocehan istrinya tersebut, tenaganya benar-benar terkuras bersama pelangi yang berasal dari lambungnya.


"Kepalaku pusing," keluh Eliot meringis. Dia merengek seperti bocah kurang umur mengadu pada Selena. Dia duduk dari tidurnya, lalu memeluk Selena dengan erat. Ditenggelamkannya wajah rupawan itu ke dada Selena. Dia memejamkan matanya kemudian. "Pusing sekali," ungkapnya mengeluh.


__ADS_1


🖤 Selagi menunggu update cerita ini, kalian bisa membaca novel rekomendasi di atas. Kisah menarik yang dapat menemani waktu luang, terima kasih🖤


__ADS_2