
Bola mata Selena membulat sempurna. Pasalnya Eliot memberhentikan mobilnya tepat di depan rumah sakit yang tak jauh dari kantor polisi itu berada. "Jangan bilang mau jenguk Shania," rutuknya kesal dalam benak. Wajahnya berubah kusut. Dia mengerucutkan bibirnya dengan nanap memandangi suaminya.
Selena diam tak bergerak melihat suaminya sudah turun dari dalam mobil tersebut tanpa menghiraukan ekspresi masamnya. Lirikannya berjalan mengikuti langkah suaminya. Dia menepi mendekati pintu mobil yang tertutup hingga kepalanya dapat bersender. Mengintip Eliot dari balik kaca. "Dia mengabaikanku," gumam Selena.
Trak!
Pintu mobil tersebut terbuka. Eliot berdiri dengan mimik datar, dia menarik tangan Selena tanpa mengucapkan sepatah kata pun. "Tidak mau!" tolak Selena. Dia menghempas genggaman Eliot. Merengut karena kesal kepada suaminya. Dia memalingkan wajah tak ingin saling tatap. Hatinya masih terasa sakit mengingat amukan Eliot saat membela Shania dibanding dirinya.
"Aku tidak mau menemui Shania," katanya menegaskan.
Masih terdengar sesunggukan bekas tangisannya, tampak urat lehernya kembang kempis menahan air mata yang terus menyeruak keluar.
"Keluar atau ku seret paksa dari situ," katanya tajam.
Selena tetap saja berdiam diri di kursi sambil menjauhkan muka dari suaminya itu. Dia melipat kedua tangannya di atas dada, pertanda bahwa suasana hatinya sedang terguncang. Dia marah.
"Minta digendong?"
Telinganya tegak berdiri. Langsung kakinya terkulai turun dari kursi mobil. Secepat mungkin keluar dari dalam sana. Dia takut jika pria kasar di depannya ini bertindak bodoh dan menggendongnya. "Memalukan," decak Selena.
Dia berjalan lebih dulu membelakangi suaminya. Langkahnya memanjang meninggalkan Eliot.
"Ada yang bisa saya bantu, Nona?" Seorang satpam penjaga pintu utama rumah sakit menyapa.
"Tolong pukul kepala suamiku sana, dia sangat menjengkelkan," katanya sambil menunjuk ke arah belakang, dia tetap terus berjalan masuk.
Selagi menunggu Eliot berbincang dengan seorang dokter di ruang sana, Selena duduk di sebuah kursi panjang yang berjejer di tengah bangunan tersebut. Dia sibuk memainkan ponselnya untuk menghilangkan dongkol yang bersarang di benak.
__ADS_1
"Aku akan membunuhmu, bajingan! Lihat saja nanti!" gerutu Selena dengan suara pelan. Giginya terkatup geram mengumpati suaminya sendiri.
Tidak berapa lama seorang wanita berseragam serba putih menghampiri Selena, menuntunnya menuju instalasi radiologi. "Kenapa aku diajak ke sini?" tanya Selena bingung.
"Tentu untuk rontgen, kau bodoh atau kolot," sembur Eliot menghina, tiba-tiba saja dia sudah berdiri tepat di belakang Selena. "Tolong pastikan setiap inci badannya," pintanya.
Sudut bibir Selena bergerak naik karena senang. Kalang kabut yang mengambang di hatinya sirna seketika. Dia mengira bahwa kunjungan ke rumah sakit ini adalah untuk menjenguk Shania, tidak disangka ternyata untuk memeriksa keadaan dirinya. Dia tak dapat menyembunyikan perasaan geli yang terus menggelitik, akhirnya dia tersenyum senang seraya melempar kedipan mautnya kepada Eliot.
"Secepat itu suasana hatinya berubah," ledek Eliot mesem menikmati tingkah lucu istrinya tersebut.
Tidak berapa lama setelah melewati serangkaian pemeriksaan lengkap sekujur tubuh, Selena dinyatakan baik-baik saja. Tak ada kerusakan sama sekali.
"Aku ini kuat, pukulan cecunguk itu tak beda jauh seperti gigitan nyamuk," ungkapnya sombong membanggakan diri.
"Jangan banyak bicara!" tukas Eliot ketus, jarinya gemas bergerak menjetik dahi Selena.
"Ah, sakit!" rengisnya menahan detukan di dahi. Dia mengusap-usap bekas jetikan jari suaminya, lalu kemudian berlari mengejar langkah Eliot yang hampir sampai ke mobil.
...***...
Waktu berlalu cepat. Eliot dan Selena akhirnya tiba juga ke rumah mereka saat malam sudah menghitam. Mereka menatap dengan seksama seseorang yang duduk di kursi depan teras rumah. Selena memicing memperjelas penglihatannya. "Siapa itu? Setan?" ocehnya asal bicara. "Sepertinya tak asing," lanjutnya lagi.
Saat kendaraan mereka semakin mendekat, barulah Selena tersadar. Seseorang yang duduk sana tak lain adalah mertuanya sendiri, Dernia. Sedang apa dia di sana?
"Mama!" teriak Selena menyapa seraya melambaikan tangan.
Dengan heboh pertemuan mereka berlangsung lama. Menantu dan mertua itu terus berbincang panjang lebar tanpa mengacuhkan Eliot. "Untuk apa Mama datang?" tanya Eliot tanpa berbasa-basi.
__ADS_1
"Mama baru pulang arisan, sekalian mampir ke sini," jelasnya tidak tersinggung. Dia sudah biasa menghadapi ketidaksopanan putranya itu. Dari dulu tak bisa bertutur kata yang baik. "Mama bawakan susu kaleng, bagus untuk program hamil." Dia menunjuk dua dus kardus besar yang tergeletak di depan pintu rumah mereka. Dernia tersenyum ramah kepada Selena. Sepertinya sedang mengirimkan sinyal pada menantunya itu.
Pipi Selena memanas. Terlalu tabu baginya membahas soal kehamilan di depan suaminya. "Te-,Terima masih, Ma. Tapi aku dan Eliot be-belum ada rencana ...."
Eliot langsung memotong kalimat istrinya, dia tak akan membiarkan Selena menyelesaikan kalimat yang bisa membuat ibunya syok berat. "Baiklah, dia akan menghabiskannya. Mama sudah bisa pulang sekarang, agar kami bisa menjalankan program hamil yang Mama bicarakan," katanya mengusir secara halus. Eliot memegang dua bahu ibunya, lalu menuntunnya menuju mobil. "Hati-hati, Ma!" Dia melambaikan tangannya secepat mungkin sesaat setelah berhasil membuat ibunya pulang dalam sekejap.
~Kamar~
"Apa yang kau lakukan?" tanya Selena heran. Dia melihat suaminya berdiri di depannya tanpa mengenakan busana. Tak sehelai benang menempel di tubuh gagahnya. "Eliot!" senggak Selena menyadarkan suaminya yang tampak sedang kerasukan hantu bisu.
"Menjalankan program yang dikatakan mama," jawabnya ambigu. Dia duduk di sebelah Selena dan mulai menyelak kaos longgar yang dikenakan Selena.
Selena mendorong tubuh suaminya, lalu dilemparnya selimut tebal tepat ke bagian intim suaminya. "Aku masih kesal denganmu, bisa-bisanya berpikir untuk menyetubuhi ku. Pakai bajumu!" teriak Selena mengamuk. Dia kemudian tengkurap seraya memejamkan mata. Dia bersumpah tidak akan meladeni suaminya tersebut.
"Ck, kasar sekali," decaknya sebal. Dia beringsut mundur ke kamar mandi untuk menyegarkan kepalanya yang hampir meledak karena ditolak. "Suasana hatinya terus berubah," katanya bergumam.
Di balik matanya yang terpejam, sebenarnya Selena sedang memikirkan kelanjutan kisahnya dengan suaminya. Mertuanya sekarang semakin sering menyinggung tentang kehamilan. Meski terlihat tenang, sesungguhnya Selena memusingkan hal itu. Dia merasa seperti sedang didesak.
"Bagaimana caranya hamil kalau suamiku mandul," ucapnya mengeluh. Dia menarik duvet lalu menutup sekujur tubuhnya.
Jika benar Eliot sudah melakukan operasi agar tidak bisa membuahi, maka impian mertuanya harus dikubur dalam-dalam. "Aku bisa apa kalau begini jadinya." Dia tak bisa terlelap. Matanya masih saja segar karena kepala yang terus terngiang dengan kata-kata mertuanya. Bahkan diawal San sudah membicarakan pasal dirinya menginginkan cucu. "Argh! Ini semua karena bedebah itu!" Dia bangkit dari posisi tidurnya. "Kenapa kau harus melakukan vasektomi!" Dia mengacak-acak rambutnya hingga kusut tak beraturan.
Jeritannya terdengar sampai ke telinga Eliot. Pria itu kemudian keluar sambil menunjukkan tampang bingungnya melihat istrinya seperti orang gila. "Ini sudah malam, pelankan suaramu. Kau ingin satu komplek mendengar suaramu yang persis sama seperti lengkingan kuntilanak," cemooh Eliot.
🖤Selagi menunggu cerita ini update, baca novel rekomendasi di atas. Buruan baca kisah menariknya! Terima kasih.🖤
__ADS_1