
Sekeras apa pun Eliot menghentikan, Selena tidak peduli. Dia terus melangkah pergi keluar rumah serta membawa koper tempat pakaiannya.
"Bisakah kau menjelaskan padaku?" Eliot memeluk Selena dari belakang. Dia menahan agar wanita itu tidak bisa pergi dari hadapannya.
Selena memberontak. Dia mencoba melepaskan dekapan suaminya. Dia memukul tangan Eliot yang melingkar di pinggangnya. Dia meronta-ronta tidak ingin bersentuhan dengan suaminya.
"Selena! Aku tidak akan melepaskan mu!" tegas Eliot. Suaranya meninggi membentak istrinya.
Pusing mendengar teriakan Selena, akhirnya pria itu berinisiatif menggendong istrinya masuk ke dalam kamar. Meski dengan cara paksa terbilang kasar, dia membagul Selena di atas pundaknya. Dia mendudukkan Selena ke atas ranjang, lalu memegang kedua tangan istrinya tersebut. Dia duduk di tepian ranjang bersebalahan dengan Selena.
"Kita bisa bicara baik-baik," ujarnya melembut.
Selena sama sekali tidak menatap suaminya. Hatinya panas seolah terjerumus ke dalam lubang api. Dadanya terasa sempit, bahkan untuk bernapas pun sulit.
"Apa kau mendengar ku?" Eliot memegang wajah istrinya, diputarnya kepala Selena ke arahnya, agar mata mereka bertemu.
Sontak tangis wanita itu pecah. Tangannya bergetar saat Eliot menggenggam jemarinya. Entah sudah berapa lama dia menahan tangis hingga setiap tetesan yang jatuh terlihat menyakitkan.
"Aku hanya ingin sendiri," jawabnya mengakhiri obrolan. Dia menghempas tangan Eliot, lalu beranjak pergi dengan kaki enteng mengabaikan suaminya.
"Aku maklum tingkahmu terasa aneh karena sedang hamil. Tapi kalau kau pergi tiba-tiba begini tanpa alasan, aku juga khawatir!" Berusaha menghentikan Selena.
Tidak mempan hanya menuturkan kata-kata yang rumpang terdengar Selena, lantas Eliot mengunci pintu agar istrinya tersebut tidak dapat keluar dari dalam. Dia mengantongi kunci kamar mereka agar Selena tidak dapat mengambil.
__ADS_1
"Bisakah mulutmu berbicara?!" Amukannya tersebar. Kesabarannya sudah habis. Pulang kerja badannya hampir remuk, bukannya disambut hangat oleh sang istri, justru sebuah pertengkaran yang dia dapatkan.
"Kau tidak perlu membentak aku seperti itu!" Selena mendorong tubuh kekar suaminya, membangun jarak diantara keduanya. "Kau ingin tahu kesalahanmu? Cih." Selena berdecih merendahkan. Kemudian tangannya merogoh tas yang disandangnya, lalu meletakkannya tepat di telapak Eliot. "Pikirkan saja sendiri."
"Kau bertemu dengannya? Bukannya sudah kukatakan berulang kali untuk tidak keluar dari rumah ini, kenapa masih membangkang?"
"Tsk, pantas saja selama ini kau melarang ku keluar rumah, tidak tahunya karena takut kalau bayi yang dikandung wanita itu ketahuan."
Eliot melonggarkan kerahnya, dia merasa gerah di ruang dingin yang ber-AC. Rahangnya mengeras ketika Selena tidak mendengarkan perkataannya. "Dengarkan aku, aku tidak pernah meniduri Shania setelah kita menikah."
Selena langsung memotong. "Siapa yang percaya? Kau melalang buana entah kemana selama tiga bulan diawal pernikahan kita. Siang malam kau bersama dengan wanita itu. Bahkan kau sering tidur seranjang dengannya. Aku tahu semuanya, kau tidak perlu berbohong." Urat lehernya membengkak. Dia sangat marah saat ini. Rasanya ingin sekali menampar pipi suaminya, namun dia tidak sanggup.
"Dia sedang memprovokasi hendak merusak hubungan kita, percaya lah padaku, Selena. Aku berani bersumpah bukab aku yang menghamili Shania." Eliot menatap mata Selena dengan intens, berharap agar wanita itu mempercayai yang dia katakan.
Sejak awal dia sudah menduga reaksi seperti ini akan ditampilkan Selena jika mengetahui tentang kehamilan Shania. Terlebih karena wanita picik itu menambahi bumbu-bumbu kebohongan di dalam ceritanya. "Seharusnya kau mendengarkan penjelasan dariku, jangan menghakimi aku seolah seperti pria bejat," lempar Eliot meminta kesempatan agar diberikan waktu meluruskan permasalahan yang semakin pelik.
"Lalu sekarang kau memiliki anak dari wanita lain. Apa kau tidak memikirkan perasaanku? Setidaknya kau bisa mengirim wanita itu jauh hingga aku tidak melihat perselingkuhan kalian."
"Cukup, Selena!" Eliot memegang bahu istrinya. "Aku tidak selingkuh. Ku akui kalau aku memang salah. Aku pria kotor yang tidak pantas memiliki mu. Tapi demi kau ... aku rela merubah diri. Aku mencintaimu, kau hanya perlu meyakini itu." Eliot berusaha menggapai wajah basah istrinya tersebut. Hendak menyeka bulir-bulir air bening yang terus menderas.
Segera Selena menepis. "Simpan saja cintamu itu untuk anak dari wanita itu! Lebih baik urus saja kehamilannya."
"Argh!" Eliot menutup mukanya dengan telapak tangan. Kepalanya terasa berat, dadanya terbakar. Dia berbalik dan bergerak melampiaskan kemarahannya pada dinding dingin kamar itu.
__ADS_1
Bruk!
Kepalan tangannya meluncur tepat mengenai dataran tembok yang kokoh. Buku-buku jarinya memerah berangsur darah tipis-tipis terlihat. "Apa susahnya mendengarkan aku terlebih dahulu?!" Dia menetralkan emosi yang menggebu-gebu. Tempramen pria itu mulai terganggu dan sewaktu-waktu dapat merubahnya menjadi sosok manusia gelap berperangai iblis.
"Aku tidak mau! Aku tidak mau!" tegas Selena membangkang. Dia menutup telinganya sekaligus menggeleng kepala. Dia mundur menjauh dari suaminya. Jantungnya hampir berhenti berdetak melihat raut menyeramkan dari suaminya. Bagai elang yang sedang haus darah.
"Pengganggu seperti Shania sepertinya harus segera disingkirkan," decak Eliot mengepalkan tangan. Dia mengambil ponselnya untuk segera menghubungi wanita yang telah berhasil meluruhkan cinta Selena darinya.
Baru beberapa detik berdering, wanita kurang kasih sayang itu langsung menjawab panggilan suara Eliot.
^^^"Sayang! Akhirnya kau menghubungi ku juga. Aku merindukanmu, tidakkah kau tahu itu."^^^
Kalimat pertama yang diucapkan wanita itu. Sangat mesra, bagaimana mungkin Selena tidak memanas. Dia selaku istri sah Eliot Alaric tidak pernah mengatakan untaian manis seperti yang dikatakan Shania.
^^^"Hentikan kekacauan yang kau lakukan. Jangan pernah bermain-main denganku!"^^^
Ancaman itu tidak memengaruhi Shania. Dia malah semakin menggila, bersengaja agar istri mantan pacarnya itu semakin sengsara.
^^^"Maafkan aku, tapi anak ini sebentar lagi akan lahir ke dunia. Terpaksa aku harus memberitahu Selena, agar dia bisa mengerti dengan hubungan kita. Bagaimanapun anakku membutuhkan sosok ayah, sama seperti anak yang dikandung Selena. Aku hanya berusaha menjelaskan padanya bahwa kami harus berbagi pria yang sama."^^^
Diam menyimak percakapan mereka, Selena bergeming sebentar. Mencoba mencari secercah harapan yang dapat mengembalikan kehancuran ini ke keadaan semula, sebelum adanya kekacauan yang mengakibatkan kerenggangan di rumah tangganya dan Eliot.
"Cih, menjijikkan." Sudut bibirnya naik sebelah menampakkan betapa muak mendengar kedua manusia itu berbicara.
__ADS_1
🖤 Selagi masih menunggu update cerita ini, kalian sebaiknya membaca novel rekomendasi. Luar biasa dan menarik. Terima kasih.🖤