
Meski harus melewati pertengkaran terlebih dahulu, Selena berhasil juga membujuk Eliot untuk pulang bersamanya. Dimana ayah dan ibu Eliot sudah menunggu kehadiran mereka di sebuah ruang berisikan kursi mengelilingi meja bundar beralaskan kain putih.
"Kenapa kalian lama sekali?" Pertanyaan pertama yang terlontar dari mulut San Alaric ketika pengantin baru itu menarik tempat duduk, lidah tajamnya langsung mencari celah untuk menyindir putranya. Sapaan? Dia tidak suka berbasa-basi.
"Bagaimana caramu menyeret anak ini hingga sudi menginjakkan kakinya ke mansion?" lanjut San menatap menantunya.
Selena tersenyum pahit, dia mati buku tidak bisa menjawab. Jika dia memberitahu bahwa Eliot berada di kasino, akan panjang masalahnya.
"Cih, bahkan menyambut menantu mu pun kau tidak bisa," kecam Eliot.
"Berhenti bermain-main denganku, atau kau akan semakin hancur. Bukan hanya meratakan tempat kumuh itu, memenjarakan seluruh anggota geng motor mu bukan hal yang sulit bagiku," tegas San Alaric bergidik rancap.
Hubungan anak dan ayah ini sangat rumit. Mereka bagai musuh dalam kandang, saling menyakiti satu sama lain. Tidak pernah akur dan damai, semakin sering bertemu semakin regang pula hubungan keduanya.
Trang!
Eliot bersengaja menjatuhkan garpu dan pisau dari genggamannya. Dia menentang mata ayahnya lalu mengencangkan rahang. "Apa aku tidak boleh makan dengan tenang?"
"Sayang ... kita bahas itu setelah selesai makan malam. Mari kita nikmati hidangan ini dulu," ujar Dernia, ibu Eliot. Dia langsung menengahi, takut jika perbincangan antara suami dan putranya semakin memanas.
Wajah tuan rumah ini begitu kaku, persis seperti anaknya. Dia memiliki tatapan yang mematikan, bahkan saat memandang saja kaki langsung bergetar.
"Selena," panggil San dengan nada lembutnya.
Sekeras apa pun San menutupi kekejamannya, Selena masih saja gemetar saat menatap wajahnya. "Bagaimana rencana kalian selanjutnya? Papa menantikan seorang cucu dari kalian, begitu juga istriku," katanya.
__ADS_1
Selena tertegun mendengarnya. Bagaimana bisa hamil? Bahkan tidur seranjang pun dia belum pernah melakukannya dengan Eliot. "Aku dan Eliot sedang berusaha, Pa," jawabnya singkat menutup topik menjengkelkan yang diberikan mertuanya.
"Mengenai pembahasan kemarin akan tetap Papa lanjutkan." Semua mata kini tertuju pada San Alaric. Tampaknya anak dan istrinya paham betul apa yang akan dibahasnya. "Secepatnya perusahaan akan kuserahkan pada Eliot. Siap tidak siap, kau harus menerimanya. Untuk itu ...."
"Aku kenyang," timpal Eliot memotong kalimat ayahnya. Sebelum San menyelesaikan pidato panjangnya, Eliot beringsut pergi meninggalkan makan malam.
"Eliot! Aku sedang berbicara!" teriak San dengan urat kepala yang kian mengeras.
"Apa Papa belum juga paham? Aku tidak ingin sama seperti kau. Sibuk dan hanya mementingkan pekerjaan. Ck, atau anakku akan merasakan hal yang sama sepertiku dahulu. Tidak mendapat kasih sayang dari ayah sendiri," sindirnya berdecak hina.
"Aku melakukan semua demi kau! Semua yang kau nikmati sampai detik ini atas usahaku. Semenjak kau berbaur dengan anak-anak bermasalah itu, kau menjadi pembangkang !" San Alaric benar-benar murka. Urat lehernya membengkak mengamuki putranya yang pembangkang itu.
Tidak peduli semarah apa San sekarang ini, Eliot dengan bengal tetap berjalan meninggalkan ruang makan itu. Dia sama sekali tak menghiraukan ayahnya.
Tidak bisa dipungkiri, hidupnya selalu dipenuhi materi berlimpah, namun bukan hanya itu yang dia butuhkan. Kehadiran San dan Dernia begitu dia nantikan. Siang dan malam merengis memohon perhatian, tapi sayangnya mereka begitu sibuk mengurus bisnis dibanding mengasuh Eliot.
Sejak saat itu pula Eliot berhenti mengharapkan perhatian orang tuanya. Ambisinya berubah benci, hingga akhirnya dendam kepada ayahnya.
Melihat Eliot angkat kaki dari ruangan itu, Selena pun berniat demikian. Dia berdiri dari kursinya hendak mengejar suami pembangkang itu.
"Duduklah! Tidak perlu hiraukan suamimu yang pembangkang itu. Sudah dewasa tapi masih saja labil seperti remaja," suruh San mengehentikan Selena.
Perilaku Eliot dalam menanggapi ayahnya bukan semata karena keinginannya. Dia pun lelah terus bertengkar dengan San, tapi benci yang bersarang di hatinya terlalu besar. Dia bertindak demikian akibat kekecewaan terhadap ayahnya yang tidak pernah mengerti perasaannya. Hidupnya selalu diatur, bahkan pernikahan pun ditentukan oleh San. Sungguh Eliot sudah muak. Lahir di keluarga ternama adalah kutukan baginya. Dia tidak bebas seperti anak lainnya.
"Selena ... maaf karena membuat mu tidak nyaman. Kalian sudah boleh pulang. Papa dan Eliot kalau dipertemukan pasti sering bertengkar," kata Dernia seraya melemparkan senyum ramahnya. Begitu sejuk bila memandang wanita mungil ini. Melihat ekspresi wajahnya, sepertinya dia sudah terbiasa menonton pertandingan adu mulut antara suami dan putranya.
__ADS_1
"Aku tanyakan Eliot dulu, Ma," jawabnya tersenyum kecut.
Kesempatan baginya untuk meninggalkan ruang makan yang tegang itu. Dadanya sesak berada di ruang yang sama dengan mertuanya yang ketus. Segera Selena pergi mengejar Eliot berpura-pura ingin menyampaikan apa yang dikatakan Dernia.
Susah payah mencari keberadaan suaminya, akhirnya Selena menemukannya juga. Seorang pelayan paruh baya datang menghampiri Selena yang tengah pontang-panting keluar masuk mansion untuk menemukan Eliot. Tidak tahunya pria itu sedang berada di kamar sedang merenung.
"Eliot!" panggil Selena sambil mengetuk pintu dengan suara pelan. Meski berulang kali tak disahut, wanita itu pantang menyerah. Dia terus memanggil nama suaminya berharap akan dibukakan pintu untuknya.
"Berisik!" sahut Eliot dari balik pintu.
Setelah pintu itu terbuka, Selena menyerobot masuk ke dalam tanpa menunggu Eliot mengizinkan. "Wah! Ternyata kau bisa murung juga," ledek Selena seraya mendongak menatap wajah kusut suaminya. Dia berjalan mendekati ranjang lalu duduk di tepian. "Sepertinya kau butuh hiburan." Selena menepuk-nepuk kasur empuk itu dengan girang, dia melompat di atas ranjang sambil tertawa. "Seru sekali! Kau harus mencobanya!" ajak Selena. Seakan dia tidak dapat membaca keadaan Eliot yang tengah kalut.
"Kenapa kau mencariku?" tanya Eliot tidak suka. Keningnya pun berkerut sebab tidak terima atas kelancangan Selena mengejek dirinya.
"Aku merindukanmu," jawabnya ringan sambil tersenyum cengo.
"Turun!!" repet Eliot. Dia merasa terganggu melihat tingkah menyebalkan Selena. "Kau ini masih bocah, ha? Kekanak-kanakan," ledeknya bernada tegang.
Selena pun berhenti, dia duduk dengan tenang lalu menatap Eliot seksama. "Kau juga kekanak-kanakan," balasnya.
"Bukan urusanmu," ucap Eliot dingin.
"Orang di luar sana mati-matian berjuang agar bisa jadi CEO di perusahaan, tapi kau dengan bodohnya menyia-nyiakan kesempatan. Kalau memang benci ayahmu, seharusnya hancurkan perusahannya, bukan malah membangkang seperti tadi." Mulut Selena bagai tidak bersantun. Wajahnya yang datar terlihat serius ketika berbicara. Lidahnya ringan memberikan Eliot solusi yang terdengar gila.
"Cih, kau tidak mengerti apa pun," sulaknya meremehkan.
__ADS_1