My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 36


__ADS_3

Meski desakan suara ombak terdengar memanggil Selena dari balik penginapan, dia mengubur niatan untuk hari ini. Melihat kondisi Eliot, dia terpaksa harus berdiam diri mendekap suaminya hingga tertidur pulas. Ingin sekali menatap senja, sayangnya kesempatan itu harus terbuang sia-sia.


Dia menoleh ke arah jendela, berharap agar fenomena detik-detik tenggelamnya matahari tertangkap matanya. Dia begitu menantikan jingga berubah hitam.


"Tidur yang nyenyak," bisiknya pelan seraya meletakkan kepala Eliot ke atas bantal. Dia mencoba melepas dekapan suaminya untuk mendekati jendela.


"Jangan pergi," pinta Eliot. Suaranya pelan dengan mata masih terpejam. Ditariknya ujung baju Selena, lalu kelopak sayunya mulai terbuka. "Tetap di sini," rintihnya menahan sang istri agar tidak menjauh dari sisinya.


Terpaksa Selena kembali duduk. Dia membaringkan tubuhnya menyebelahi Eliot. Belaian demi belaian terkirim menemani suaminya. Dengan telaten, Selena memijat pelipis Eliot agar pusing yang diderita suaminya dapat mereda. Kesabarannya yang tipis benar-benar diuji.


Pikirannya melayang-layang membayangkan seberapa cantik senja hari ini. Namun kepalanya berubah kusut, sebab Eliot begitu kencang mencangkum tubuhnya.


...***...


Malam mereka lewati di sebuah ruang kayu yang hangat. Wangi ulin yang terus menyerbak begitu tenang saat dihirup. Begitu syahdu, hingga tak sadar mentari sudah menyingsing. Namun mereka masih pulas dalam tidur. Sukar terbangun akibat terlalu nyaman dalam pelukan satu sama lain di atas kasur empuk berwana putih.


Eliot terperanjat bangun, kesadarannya pulih setelah semalam hampir mati lemas menahan mual. Tubuhnya kembali bugar setelah beristirahat cukup, ditambah dekapan sang istri berhasil mengisi daya raganya.


"Tidur menganga tetap saja masih cantik," pujinya di pagi yang cerah. Dia merunduk memandangi Selena. Jarak mereka sangat dekat, bahkan napas wanita itu berhembus tepat di mulutnya.


Eliot menyetuh wajah mungil wanita tersebut, diratapinya dalam sambil tersenyum tipis. Dia senyam-senyum memandangi mulut Selena yang terbuka, hatinya tergelitik melihat tampang Selena yang amburadul.

__ADS_1


"Selena ... Selena," panggilnya sambil menyolek pipi istrinya. Berulang kali menjahili namun wanita itu sama sekali tidak terusik. Dia tetap terpejam menikmati angin pagi. "Ngomong-ngomong kenapa kami tidak pernah melakukan panggilan sayang satu sama lain seperti pasangan lainnya?" celetuk Eliot. Dia masih saja mencolek pipi Selena tanpa henti, sampai wanita itu terganggu dan kemudian terbangun.


"Ayo, bangun, Sayang! Sampai kapan kau akan tidur, membiarkan suamimu berbicara sendiri," suruhnya dengan suara pelan dan berat.


Seperti berkat di pagi cerah ini, wajah pria yang selama ini didambakannya tepat berada di depan mata. Pertama kalinya membuka mata mengantuk itu, Selena disambut hangat senyum indah suaminya.


"Selamat pagi, Sayang." Eliot mencium bibir Selena lembut, hingga degup jantung wanita berdebar tidak beraturan. "Apa tidurmu nyenyak?" tanya Eliot lagi. Dia menopang dagunya sembari meratapi wajah Selena. Dia menyibak rambut Selena ke pinggir, menjauhkan helaian hitam itu dari wajah cantik istrinya.


Pipi Selena memerah, dia tidak kuasa membendung suka cita mendengar suara manis dari mulut Eliot. Kalimat romantis itu berhasil membuat hatinya melompat kegirangan. Dia menutup mukanya dengan selimut, menghindari tatapan Eliot. "Aku tidak kuat! Kau terlalu manis," katanya tersipu malu.


"Seandainya kita bisa honeymoon di sini, pasti menyenangkan," ungkap Eliot spontan. Ingin rasanya menjadikan Selena sebagai sarapan, namun dia tidak bisa menyentuh istrinya itu. "Belum juga lahir, anak itu sudah menghalangi kesenanganku denganmu. Bagaimana kalau sudah lahir nanti? Dia pasti akan mengacaukan kemesraan kita ," celetuk Eliot cemburu membayangkan masa depan.


Selena keluar dari balik selimut. Dijitaknya kepala Eliot dengan raut kesal di wajah. "Sembarangan!" senggak Selena.


Keduanya bercengkrama sangat lama dan melewati sarapan pagi karena asik bermesraan. Ketika sore sudah menyapa, matahari hampir terbenam, kedua pasangan yang tengah kasmaran itu berjalan-jalan di tepi pantai menikmati hembusan angin.


Kaki telanjang Selena menapak merasakan halusnya pasir putih di tepian. Dia menjinjing sendalnya sembari memegang topi jerami berhiaskan bunga-bunga kecil berwarna cerah. Dia berlari mengejar ombak yang surut, lalu berlari mundur ketika air asin tersebut mulai menyentuh jemari kakinya. "Eliot, ada bintang laut!" teriaknya memanggil suaminya yang tepat berdiri di belakang. "Lucu sekali, tapi kasihan, ibunya pasti kesusahan mencarinya," katanya iba. Dia mengambil bintang laut kecil itu lalu didekatkannya ke wajah Eliot. "Apa aku boleh mengadopsinya? Aku akan mengasuhnya mulai sekarang," tambahnya.


Eliot memijat pelipisnya sembari menatap Selena, dia tidak memahami pola pikir istrinya ini. "Kembalikan dia ke laut," suruh Eliot tidak meladeni kedunguan Selena. Sebenarnya dia tidak nyaman berada di dekat laut, aroma pasir juga asinnya laut membuat perutnya terasa terguncang. Dia terpaksa memakai masker untuk meminimalisir uap yang berhembus kencang ke hidungnya. "Ini yang terakhir, aku tidak akan pernah menginjakkan kaki ke pantai ini lagi," gumam Eliot menahan mual.


Demi Selena, dia harus menahan diri beberapa waktu lagi. Bersemangat menemani sang istri berjalan menelusuri pinggir pantai. Melihat betapa bahagia Selena, membuat perjuangannya memahan mual terbayar impas. Dia bisa menikmati senyum dan tawa Selena saat ini sudah cukup baginya.

__ADS_1


Ketika matahari mulai redup, langit biru berganti orange, Selena dan Eliot duduk di pasir beralaskan kain tipis yang baru saja mereka sewa. Selena melendot sambil menyedot air kelapa yang tersaji di depan mereka. Wanita itu terlihat manja bersama suaminya.


"Aku tidak menyangka kalau kau akan jatuh cinta padaku. Sekian lama membuntuti mu, akhirnya kau membalas perasaanku," terang Selena. Matanya memusat pada senja yang mulai menghilang. Kaca mata hitam yang dikenakannya pun tembus tak kuasa menghadang sinar cerah yang terpancar dari matahari. "Terima kasih," ucapnya.


Ingin sekali mengecup bibir istrinya, namun masker yang menempel di wajahnya sangat menganggu. Tapi jika dibuka, maka mual akan terus menyiksa. "Terima kasih kembali karena sudah berjuang selama itu. Jika saja dulu kau menyerah, mungkin sekarang aku tidak akan tahu bagaimana rasanya berjuang menahan mual di pantai ini," jawabnya.


Selena tertawa terbahak-bahak mendengar keluhan Eliot. Dia mengacak-acak rambut Eliot, lalu dikecupnya pula kening suaminya itu. "Bertahanlah, Eliot! Sebentar lagi senja akan berakhir."


Selena mengeluarkan ponselnya untuk menangkap momen romantis ini agar dapat diabadikan. "Mendekat!" Selena menarik telinga Eliot, lalu dia bergaya selucu mungkin. "Imut sekali," pujinya ketika hasil jepretan foto yang diambilnya muncul di layar.


"Bisa bergaya dengan benar, tidak?!" ledek Selena. Suaminya itu sangat kaku, bahkan di dalam gambar seperti manusia antisosial yang tidak suka bergaul, kikuk sekali.


Kesal karena sedari tadi mendapat hujatan, Eliot lantas menarik ponsel Selena, mengambil alih penekanan tombol kamera tersebut. Dibukanya masker yang dikenakannya, lalu diciumnya bibir Selena.


Cekrek!


Foto panas itu tertangkap dan jelas terlihat. "Puas?"


Selena terpaku menikmati kelembutan bibir suaminya. Dia tersenyum sembari memegang bekas ciuman tadi. "Aku puas," jawabnya sambil mengangguk.


__ADS_1


🖤 Selagi menunggu update cerita ini, kalian bisa membaca novel rekomendasi di atas. Kisah menarik yang dapat menemani waktu luang, terima kasih🖤


__ADS_2