
Selena bersengaja menahan langkahnya agar tidak buru-buru sampai ke depan pagar rumah. Kakinya berayun pelan menunggu Eliot menghampiri perpijakannya yang terus berpindah.
"Kenapa kau mengikuti ku?" tanya Selena langsung berbalik karena tidak tahan menunggu pria itu. Terlalu lama, kesabarannya sampai habis hanya untuk mendengar teriakan dari Eliot.
"Aku ada urusan," jawabnya asal. "Kemana kau tiga hari ini?" sambungnya.
Selena menyipitkan matanya sembari melengkungkan mulutnya sehingga terbentuk senyum sempurna. Terlihat jelas bahwa dia sedang meledek tunangannya itu. "Mengaku saja kau rindu padaku, kan? Jujur saja," ungkap Selena sambil memainkan kelima jarinya ke arah Eliot.
Tatapan menjengkelkan itu membuat Eliot menyesal sudah menanyakan hal demikian. Dia memutar bola matanya dan juga memalingkan wajah, sungguh dia kesal melihat ekspresi Selena.
"Aku berniat menjauh darimu, lebih baik menjaga jarak." Sejenak Selena diam mengehentikan kalimatnya." Baru tiga hari kau sudah langsung datang menemui ku. Bagiamana kalau seminggu? Mungkin kau akan menangis darah sambil memohon agar aku kembali," celetuk Selena bangga. "Saran sopir taksi itu memang sangat manjur," gumamnya dalam hati.
"Aku sudah berhasil membuatmu mencari ku, selanjutnya aku akan membuatmu jatuh cinta padaku," jelas Selena dengan muka liciknya. "Dalam satu bulan, aku bersumpah akan membuatmu bertekuk lutut di hadapan ku."
Setelah kalimat itu terucap, Eliot tahu akan seperti apa selanjutnya. Itu artinya kegilaan lainnya akan segera dimainkan oleh wanita mengerikan ini. Tekadnya begitu kuat, dengan kegigihannya dia akan mendapatkan semua yang diinginkan.
"Aku menantikan harapan bodohmu itu," salak Eliot meremehkan.
Mereka bersirobok dalam jangka waktu lama dengan tatapan membunuh satu sama lain. Sampai akhirnya Tuan Tomy keluar dari dalam rumahnya. Tak sengaja menatap jauh ke arah mereka. Mata tuanya mencoba menerawang kegiatan kedua manusia yang tampak saling membenci itu. Lantas dia berteriak memanggil keduanya," Eliot! Selena!" Tongkatnya terangkat memanggil sejoli itu.
Mereka kedua menengok secara bersamaan. Spontan Selena memegang tangan Eliot dan menarik paksa pria itu untuk masuk menemui kakeknya.
__ADS_1
"Lepaskan aku!" gerutu Eliot dengan suara pelan. Dia menahan kakinya agar wanita itu tak dapat menarik tubuhnya yang kekar. Baginya bertemu dengan Tuan Tomy adalah sebuah petaka. Kakek cerewet itu pernah mempersulit hidupnya sehingga dia trauma apabila bertemu dengan pengusaha itu.
"Cepat atau aku mencium mu di sini!" ancam Selena dengan mata melotot lebar. Dia bahkan sampai menggigit bibirnya sambil memukul bokong Eliot dengan keras. "Tersenyum, sialan!" suruh Selena ketika sudah sampai di depan kakeknya.
Melihat keduanya begitu romantis, Tuan Tomy sampai tidak sadar pertikaian diantaranya pasangan baru ini. Dia tersenyum menyambut suami cucunya. Kemudian dia menyentuh bahu suami cucunya tersebut. "Eliot, untung kau datang hari ini. Mari temani Kakek memancing layaknya pria jantan. Jangan katakan kau pria tangguh jika tidak berhasil mendapat banyak ikan." Tuan Tomy tertawa kuat selepas untaian kata itu disebutnya. Napas beratnya terdengar keras sangking banyaknya energi yang terbuang saat tertawa.
"Maaf, aku tidak ...."
Belum sempat Eliot selesai dengan kalimat penolakan itu, Selena langsung menggamit lengan Eliot. Dia menginjak kaki pria itu cepat lalu membekap mulut tunangannya dengan tega. "Hahaha ... dia memang sangat suka memancing. Eliot bahkan disebut maniak pancing oleh teman-temannya. Kalian pergi lah sana," timpal Selena memotong Eliot.
"Apa yang kau katakan? Bahkan aku tidak pernah menyentuh pancing," bisik Eliot geram.
"Jangan kecewakan kakekku, Sayang. Semoga kau cepat akrab dengannya." Selena sama sekali tidak peduli dengan alasan Eliot. Dia acuh tak acuh menanggapi Eliot yang sedang panik karena tidak bisa memancing. "Aku ambilkan jaket dan syal dulu," pamit Selena sambil berlari ke arah kamar.
Eliot tidak pernah membayangkan bahwa hari yang ditakutinya akan terjadi. Dia selalu menghindari pertemuan dengan Tuan Tomy, tak disangka hari ini akan menjadi momen panjang bersama mereka.
Setelah hampir dua jam perjalanan, tibalah mereka ke sebuah danau yang sering dijadikan orang sebagai tempat memancing. Di tempat ini tak jarang didirikannya tenda bermalam oleh pengunjung lainnya. Meski hanya terlihat empat-lima orang saja di sana, namun suasana ramai masih terasa akibat kayu api unggun yang masih panas.
"Kemari!" panggil Tuan Tomy mengajak Eliot duduk di sebelahnya. Setelah dibentangkannya dua buah kursi lipat, langsung dia menyodorkan pancing juga umpan pada Eliot. "Kau tahu cara pasang umpan, kan?" tanya Tuan Tomy dengan ramah. Sejak tadi pemuda di sebelahnya tampak linglung meratapi mata pancingan.
Eliot tersenyum pahit. Dia menggelengkan kepalanya dengan mulut tertutup rapat. Lalu diberikannya pancingan itu kepada Tuan Tomy. "Aku tidak pernah memancing sebelumnya," ungkapnya mengakui.
__ADS_1
Tuan Tomy pun tertawa membalas kejujuran itu. "Selena memang seperti itu, jahil. Sekarang kau pun sudah terjebak olehnya, hahaha. Kau harus memahami cucuku yang kurang ajar." Tuan Tomy melemparkan tali pancingan itu lalu diberikannya lagi pada Eliot. Disuguhinya pula secangkir kopi panas seraya menunggu umpan mereka dimakan ikan di danau.
"Ibu dan ayahnya meninggal akibat kecelakaan maut saat dia masih berusia lima tahun. Sejak saat itu pula dia berhenti merasakan kasih sayang dari sosok orang tua. Wajar jika perangainya tidak bisa diatur, itu karena dia merasa kesepian. Dia tidak pernah menangis, atau mengeluh tentang takdirnya. Cucuku malangku itu malah tertawa menutupi kesedihannya."
Eliot tidak tahu sama sekali mengenai kelam hidup Selena sebelumnya. Dia mengira bahwa keceriaan wanita itu berasal dari keharmonisan keluarga, tidak disangka dibalik itu semua tersimpan duka gelap yang tak terucap.
"Aku tahu kalau kau tidak menerima perjodohan ini, berbeda dengannya. Selena senang dan langsung menyetujui perjodohan kalian, karena dia mencintai mu. Meski demikian bukan berarti kau dapat membuangnya begitu saja, jangan pernah sakiti Selena. Hanya dia satu-satunya hartaku yang berharga. Semoga kalian tidak menyakiti satu sama lain," katanya berharap.
Ketika perbincangan mereka semakin dalam, tiba-tiba tongkat pancing Eliot bergerak hebat. Jelas bahwa umpannya berhasil mendapat ikan danau tersebut. Sontak kakek Selena itu memukul keras punggung Eliot karena girang. "Ayo, tarik!" teriaknya heboh.
Dengan penuh ketakutan dan perhitungan, Eliot menggulung senar pancing. Kehati-hatiannya ternyata mengundang perhatian Tuan Tomy.
"Kau mau memancing atau tarik-tarikan dengan ikan!"
Sebuah tamparan panas melayang ke punggung Eliot lagi. Pria tua itu membuat Eliot tidak bisa bergerak sesaat, menahan perih. Eliot sampai terbelalak matanya menahan sakit tamparan di punggung.
"Tarik!" teriak Tuan Tomy semangat.
Dia memegang tangan Eliot lembut, memberikan instruksi langsung pada Eliot bagaimana memutar reel pancing yang benar. Suara serak Tuan Tomy ternyata berhasil memadamkan panik Eliot ketika melawan rusuh ikan yang berenang tak tentu arah itu.
"Yosh!" sorak girang Eliot karena berhasil menangkap satu ikan besar. Dia tersenyum bahagia dan melepas gelak tawanya. Dia begitu puas melihat kibasan ekor ikan hasil pancingannya . "Aku berhasil!" lanjutnya.
__ADS_1
Spontan tangannya yang gemetar terjulur memeluk kakek tua itu. Tak sadar jika beku hatinya telah mencair meski sedikit. Akhirnya, tawa Eliot yang terkunci kembali terbuka setelah sekian lama tertahan di balik wajah dinginnya.
"Kau hebat, Nak." Tuan Tomy pun menepuk punggung Eliot berulang.