
...Flashback On...
...----------------...
Entah kapan kejadiannya, mungkin hampir setengah tahun yang lalu. Ketika Shania masih menyandang status sebagai seorang gadis cantik tanpa buntalan besar di bagian perutnya. Tepat sebelum Shania merencanakan sebuah siasat licik. Awal dimana kehamilannya terjadi.
"Eliot, kenapa kau sekarang tidak pernah mengacuhkan aku. Kau terus bersama Selena. Apa kau sudah melupakan aku? Apa karena aku bukan istri sah mu, sebab itu mengabaikan aku?"
Wanita cerewet ini adalah Shania. Saat masih menjadi pacar Eliot. Sikapnya manja dan selalu cemburu. Wajar saja, dia tidak mendapatkan pengakuan dari keluarga Alaric, sebab itu membutuhkan validasi dari Eliot, kekasihnya.
"Aku bertengkar dengan papa," jawab Eliot. Mukanya masam sebab beberapa jam sebelumnya sempat berdebat dengan San Alaric. Meluapkan emosinya, dia pun mengunjungi kasino, untuk bermain-main sebentar dengan wanita malam di sana, sambil meneguk minuman-minuman memabukkan.
Shania melendot mencengkram lengan Eliot dengan erat. Mereka tidak berjarak sama sekali. Bahkan napas wanita itu terasa di kulit tangan Eliot. Panas dan mengganggu.
"Kau duduk yang benar," suruh Eliot. Dia menjauhkan kepala Shania dari tangannya menggunakan telunjuk. Tentu saja dia merasa risih. Kepalanya sedang suntuk, hatinya gundah memikirkan perkataan sang ayah, belum lagi karena Selena terus muncul di hari-harinya. Dia pusing, bagai kepala sedang diinjak beribu gajah. "Menjauhlah sedikit," pinta Eliot dongkol.
Perasaan kesal pun timbul. Sudah tiga bulan Eliot tidak pernah menyentuh tubuhnya. Mereka tidak pernah tidur berdua, apalagi bercumbu mesra. Setelah pernikahan itu, Eliot pun berubah drastis.
Dia pun berinisiatif menjerat kekasihnya itu masuk ke dalam perangkapnya. Dengan beribu muslihat, Shania memasukkan obat perangs*ng pada botol minum Eliot, tanpa sepengetahuan pria itu tentunya. Diam-diam Shania menaburkan benda itu ketika Eliot keluar bersama Dion. Disitulah rencananya dimulai.
Ketika kedua pria itu kembali, Shania menuangkan air beralkohol itu ke gelas Eliot. "Minunlah, Sayang." Wajah liciknya pun muncul.
Diluar rencana, Dion dengan bodohnya malah meneguk habis minuman memabukkan itu langsung dari botolnya. Dia juga sama suntuknya dengan Eliot. Dia baru saja diamuki ayahnya sebab ketahuan meniduri wanita.
__ADS_1
"Kenapa kau minun itu?!" Shania menyenggak. Dirampasnya botol minuman itu dari tangan Dion lalu sesaat itu pergi dari tempat tersebut.
Rencananya benar-benar hancur karena Dion. Dia kesal sekaligus panik. Dia sudah meneguk air minum yang sama, sehingga sekarang tubuhnya terasa panas dan menggeliat. Perasaan yang tidak terdefinisikan pun mencuat. Gairahnya terpancing.
Sama halnya dengan Dion, dia pun merasakan kondisi yang tidak asing. Dia sering merasakan perasaan menggeliat seperti ini. Dia memang sering mengkonsumsi obat-obatan tersebut ketika berhubungan dengan wanita penghibur.
"Eliot, aku pergi dulu. Kau tunggu aku di sini." Dion pun merangkak keluar menuju ruang keamanan CCTV. Sebelum pergi, tak lupa juga dia bersengaja menyenggol minuman yang dituangkan Shania ke gelas Eliot. Dia curiga terhadap wanita itu.
Benar saja dugaannya, wanita itu sudah memasukkan obat perangs*ng ke dalam minuman tersebut. Pantas saja saat Dion meneguk habis minuman tersebut, Shania murka dan langsung pergi. "Ck, kau bahkan lebih rendah dari seekor ular," amuknya mengepal tangan.
Penasaran dengan kelanjutan Shania, lantas Dion menggunakan CCTV untuk memantau gerak-gerik wanita itu. Dipantaunya terus menerus sampai di layar besar hasil rekaman terlihat Shania masuk ke salah satu kamar pengunjung sambil melepaskan pakaiannya satu per satu.
"Wah ... akan seru jadinya jika seperti ini. Tapi bagaimana dengan Eliot? Aku khawatir dia malah mencemaskan pacar busuknya ini. Kalau bukan karena Eliot, mungkin wanita itu sudah lama kuusir dari kasino," umpatnya kesal.
Saat itu Dion tidak mengadukan pada Eliot tentang kebusukan Shania. Dia takut jika terjadi pertikaian diantara Eliot dan Shania, dimana posisinya sepasang kekasih itu sama-sama anggota komunitas geng motor. Dengan adanya pertikaian kemungkinan besar berakibat terjadinya perpecahan. Shania telah memegang peranan penting dalam komunitas, sehingga apabila wanita itu dikeluarkan dari gengnya, maka sebagian yang berpihak pada Shania akan ikut keluar juga.
"Lagian Eliot sedang suntuk sekarang ini, lebih baik jangan diganggu dulu. Aku akan katakan ketika masalahnya sudah beres."
Yah, begitulah kira-kira ceritanya. Ketika beberapa hari setelah itu, Dion lupa akan kejadian malam itu. Dia terbaui masalah lain sehingga pikirannya teralihkan. Belum lagi saat itu dia dikurung di rumahnya karena ketahuan meniduri wanita lain untuk sekian kalinya. Keluarganya begitu beradat, tentu hukuman kuno seperti itu masih dijalankan.
Usia kehamilan Shania pun bertambah, perutnya membesar dan Dion mengetahui tentang bayi tersebut. Segera Dion hendak menyampaikan pada Eliot, namun sayang wanita itu malah mengancam Dion dengan membawa-bawa nama keluarganya. Terpaksa dia diam menyimpan rahasia tersebut.
Jika sampai keluarganya tahu bahwa dia pelopor komunitas geng motor itu, tamat riwayatnya, bisa-bisa Dion akan dipancung rajam atau sebagainya. "Aku takut dengan hukuman legenda itu. Penggal kepala." Dion menelan ludah membayangkan betapa sadis hukuman keluarganya.
__ADS_1
...Flashback Off...
...----------------...
"Maafkan aku, Eliot!" Dion menyatukan kedua tangannya merasa bersalah pada sahabat karibnya. Dia tidak bisa berbuat apa-apa saat Shania mengancam dirinya. Itulah alasan mengapa dia terus membungkam mulutnya. Dia bahkan diperalat oleh Shania.
"Lemah sekali kau, potong saja batangmu kalau masih takut dengan ancaman wanita," ledek Eliot disela-sela ketegangan situasi.
Dari telinga Dion keluar kabut hitam pertanda kemarahan. "Jangan banyak omong, kau sama saja denganku. Bukankah kau gemetaran saat Selena membentakmu, jangan menghinaku begitu." Dion tidak terima ketika Eliot memperolok-oloknya. Harga dirinya terinjak-injak, apalagi jika membahas kejantanannya. Dia tidak suka.
"Apa katamu? Darimana kau tahu, ha? Jangan sembarang kalau bicara!"
Bukannya menyelesaikan masalah, kedua manusia tampan ini malah sibuk mengokohkan harga diri masing-masing. Mereka bertengkar karena hal sepele.
"Stop! Sebaiknya kau urusi dulu mantan pacarmu ini. Aku sungguh muak dengannya. Lagi pula bukannya kau akan ke kantor lagi, jangan buang-buang waktu. Selesaikan sekarang juga." Untung saja Dion sedikit berakal, kalau tidak mungkin perdebatan mereka akan terus berlangsung.
"Menunjukkan video rekaman CCTV tidak akan mengubah pandangan Selena terhadapku. Dia tidak akan percaya jika aku tidak pernah menyentuh Shania setelah menikah dengannya." Eliot berpikir keras cara untuk meyakinkan Selena.
"Kalau dia belum juga percaya, itu artinya dia sudah tidak mencintaimu lagi. Relakan saja." Seenak jidat mulut Dion menyerocos tanpa berpikir panjang.
"Kujahit mulutmu kalau terus bicara." Eliot pun terpancing.
__ADS_1
Selagi menunggu update cerita ini, yuk baca novel rekomendasi di atas. Kisah luar biasa dan menarik. Terima kasih.