
Shania kelabakan tidak tahu harus berbuat apa. Dia ingin sekali menyembunyikan wajahnya. Dia ingin sekali berlari dari hadapan Eliot karena tidak ingin menanggung malu. "Eliot, aku melakukannya demi mu, agar kita bisa bersama seperti dulu lagi." Shania menangis sekencang-kencangnya, berusaha membujuk Eliot. Dia terlalu bodoh dan naif, mengira Eliot akan menyumbang iba padanya.
"Demi aku? Ck, kau lakukan demi dirimu sendiri. Lucu sekali kau ini. Cukup sudah bermain-main denganku, kau hanya buang-buang tenaga." Eliot menyeringai memandang Shania. Raut mengerikan itu berhasil mencekam suasana tegang tersebut.
"Aku mohon, maafkan aku. Eliot! Aku masih mencintaimu, tolong kembalilah. Aku akan melakukan apa pun asal kau kembali padaku. Jika kau meminta menggugurkan anak ini maka aku siap melakukannya," rengeknya histeris. Dia sampai menarik-narik tangan Eliot mengemis sebuah maaf dari mulut pria itu.
Shania tidak sanggup hidup tanpa Eliot. Dia segalanya untuk Shania. Jika disuruh untuk hidup terpisah dari pria itu, maka dia memilih untuk mati. Dia benar-benar enggan membayangkan hari dimana Eliot membenci dirinya.
"Aku akan memaafkan mu jika kau menjelaskan semua pada Selena. Jangan tambah dan jangan kurangi satu pun cerita tentang awal mula kehamilanmu."
Kejam sekali, wanita mana yang tidak sakit hati diperlakukan seperti ini? Namun wanita dungu ini terlalu cinta, hingga perasaannya itu malah menjerumuskan dia ke jalan yang salah.
Tentu dia mengangguk setuju untuk menjelaskan pada Selena. Yang terpenting baginya adalah bisa mendapatkan maaf dari Eliot. Dia hanya membutuhkan itu.
"Jam istirahat sudah selesai. Aku pergi dulu." Eliot melihat jam yang terlingkar di pergelangannya. Waktu mengusut kasus Shania sepertinya sudah tuntas diselesaikan, tinggal menunggu Selena pulih dari syok berat yang dia alami baru kemudian mempertemukannya dengan Shania.
"Eliot!" panggil Shania menghentikan langkah pria yang semakin jauh dari pandangannya. "Aku tidak akan melepas mu," soraknya dari jauh.
Wanita ini tidak tahu diri dan tidak punya malu. Sudah terciduk kebohongannya, bukan menyesal malah semakin bersikukuh untuk mendapatkan Eliot.
__ADS_1
Dia mengira kalau diam Eliot semata karena memafkan perbuatannya, namun kenyataannya karena muak berhadapan dengan dirinya.
"Dengar itu, hahaha ... dia tidak ada jeranya." Dion tertawa merasa terhibur mendengar ambisi Shania yang gila itu. "Mengesalkan sekali jadi manusia," lanjutnya mencemooh.
Eliot menatap tajam Dion sembari menaikkan sudut bibirnya satu ke atas. "Kau juga berkaca sana. Jujur saja, aku tidak sudi berteman dengan pembelot sepertimu. Teganya bersekutu dengan Shania. Pengkhianat! " Eliot meminggir agar menyisihkan jarak dari Dion. Dia mengangkat dagu, menghilangkan pandangan dari sahabatnya tersebut.
Hardikan itu pun langsung dibalas Dion. Dia menghantam punggung Eliot, lalu menjepit leher Eliot menggunakan otot lengannya. "Rasakan ini."
"Apa kau tidak mengerti? Aku terpaksa melakukannya." Sungguh Dion tidak bisa menerima hinaan dari mulut Eliot, seolah jiwa pertemanannya diragukan. "Aku sudah menyuruh dia untuk menggugurkan saat kandungannya masih muda. Tapi dia tidak mendengar, lihatlah akibat kedegilan Shania. Dia malah masuk ke jebakan sendiri."
"Kau menyuruh dia untuk aborsi?" Eliot tercengang. Langkahnya bahkan berhenti sebab terkejut mendengar pengakuan sadis itu. Bisa-bisanya Dion yang memiliki sifat lembut dengan tega menyarankan seorang wanita untuk membunuh anak sendiri. "Kau bercanda?"
Eliot mendekatkan telinganya, pupilnya melebar sebab penasaran. "Siapa?" balasnya bertanya. Wibawa Eliot seketika sirna. Tidak disangka pria beku itu ternyata suka bergosip.
"Mr. Gorhen," bisiknya sambil menutup sudut bibirnya agar Eliot jelas mendengar suara pelannya. Dia memiringkan kepala cepat lalu mengangguk sekali. "Aku berani bersumpah!" katanya memperjelas.
"Benarkah? Aku tahu sedikit tentangnya. Konglomerat yang kekayaannya tidak akan pernah habis sampai tujuh turunan. Aku pernah dengar dari kakek Selena." Eliot menutup mulutnya karena sadar betapa hebat pria yang sudah meninggalkan benih di rahim Shania.
Dion menepuk-nepuk bahu Eliot dengan keras sembari terkekeh. "Kau juga mendengarnya? Gosip itu memang benar. Asal kau tahu saja, dia pelanggan tetap di sini, kalau saja skandal tentang kehamilan Shania dan Mr. Gorhen terbongkar, habislah sudah nasib kasino ku. Dia pasti akan berhenti memesan pelacur di sini, dan pemasukanku akan berkurang." Bisa-bisanya dia memikirkan pendapatan kasino kesayangannya. "Dia sering memberi tip dua kali lipat padaku, bahkan lebih besar nominalnya dibanding harga wanita dan sewa penginapan."
__ADS_1
"Aku tidak bisa menyangkal kalau dia sekaya itu. Tapi tega sekali kau menyuru Shania menggugurkan janinnya!" Eliot menyipitkan mata seraya mendelik tajam. Memastikan sahabatnya merasa berdosa atas perbuatan kejamnya. "Kau lah iblis sesungguhnya," cemooh Eliot. Gurauan mereka belum juga berhenti.
Beberapa saat setelah Eliot tersadar akan satu hal, membuatnya terpaksa untuk berbalik menanyakan"Jadi kau menyuruh Shania aborsi karena ingin menutup skandal Mr. Gorhen?" Muka Eliot kembali pahit. Dia kesal karena tujuan Dion bukan untuk menyelamatkan hubungannya dengan Selena. Melainkan mengubur jejak skandal tamu VIP kasino miliknya.
"Ibarat sekali dayung dua pulau terlampai. Begitulah kira-kira." Dia pun tertawa.
...***...
Di sisi lain, saat Selena tengah berusaha menyembunyikan kesedihan dari Bram, tiba-tiba pria itu malah membuka pembahasan mengenai pertengkaran antara dia dan Eliot.
"Tadi malam dia datang ke sini. Jam tiga pagi baru pulang setelah ku usir," ungkap Bram. Tangannya mulai menyulang bubur panas ke dalam mulutnya.
Sontak tangan Selena berhenti berayun setelah mendengar nama suaminya disebut. Jantungnya berdebar hebat sampai sebuah getaran terasa bergemuruh di tubuhnya. Dia berhenti menelan bubur tersebut, dia mendorong mangkok makanannya lalu minum dengan cepat. "Dia ternyata melacak ku." Wajah Selena tampak muram. Dia meletakkan dagunya di atas meja sembari menekan kepalanya menggunakan jemari. "Aku tidak ingin bertemu dengannya." Hanya itu yang dia katakan. Dia pun menurunkan pandangannya dari Dion, sungguh dia tidak ingin membahas apa pun tentang Eliot.
"Sebaiknya kau bicara baik-baik dengannya. Sepertinya dia khawatir dan sedikit stress." Dia tersenyum tepis. "Jujur aku bahagia saat melihat tampang putus asanya, hahahaha." Dia tertawa terbahak-bahak sembari memukul meja sehingga terpaksa Selena mengangkat kepalanya yang melendeh di meja.
"Rusuh sekali kau! Tutup mulutmu kalau tidak ingin seisi rumahmu hancur." Selena mengangkat jari telunjuknya menghardik Bram. "Siapa yang peduli tentang dia? Aku tegaskan kembali! Jangan bicara padaku kalau ingin membahas dia. Aku tidak ingin mendengar apa pun."
__ADS_1
🪁 Selagi menunggu update cerita ini, kalian bisa baca karya novel di atas. Kisah luar biasa dan menarik🪁