My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 13


__ADS_3

Kepulangan Sang Kakek, membuat Selena harus berlari terbirit-birit menghampiri mobil hitam mengkilap tanpa sebutir debu menempel. Dengan mata berbinar-binar, dia melirik ke dalam mobil dari kaca hitam yang pekat. Selena menempelkan kepalanya ke kaca datar hitam itu, lalu ditutupnya sisi kanan dan kiri pinggir matanya.


"Kakek, dimana dia?" tanya Selena terkejut tidak mendapati Eliot di dalam mobil itu. "Apa kau buang dia ke danau, ha?!" Emosi Selena langsung membuncah sebab kesal karena Eliot tidak ada di salah satu kursi.


Tongkat ukir Tuan Tomy ringan mendetuk kepala cucunya. Dia kemudian menggigit bibir karena kesal mendengar candaan Selena yang tidak menghibur sama sekali. "Dia sudah ku antar ke rumah sakit," jawab Tuan Tomy.


Selena langsung berdiri di depan kakeknya. Wajahnya panik selepas mendengar Tuan Tomy berkata demikian. "Apa yang terjadi? Apa dia tenggelam di danau?" tanya Selena cemas.


Sekali lagi tongkatnya terangkat memukul pelan kepala Selena. Otak kecil cucunya itu terlalu sempit jika berpikir bahwa Eliot yang gagah tidak bisa berenang. "Tuan San masuk rumah sakit."


"Astaga! Papa mertuaku! Aku harus menjenguknya sekarang!" Selena berlari masuk ke dalam kamar untuk mengambil tas juga mengganti pakaiannya dengan baju yang lebih sopan. Dia tidak bisa buang-buang waktu menunggu hari esok untuk menemui Nona Dernia. Dia tahu bahwa wanita mungil berusia 45 tahun itu sedih sendirian. Dia tidak bisa membayangkan bagaimana masa bodo Eliot dalam menenangkan ibunya ketika menangis nanti.


"Kau pergi besok saja," pintar Tuan Tomy saat Selena huru-hara mengisi tasnya.


"Kenapa?" Tiba-tiba dia menghentikan geraknya. Dia penasaran mengapa kakeknya melarang dirinya untuk menjenguk Tuan San.


"Eliot terlihat murung tadi. Beri dia waktu sendiri untuk menenangkan dirinya. Dia seperti ingin menangis saat melihat Tuan San tidak sadarkan diri," sulak Tuan Tomy menumpahkan alasannya melarang Selena.


Bukannya mengurung niatnya, Selena semakin ingin pergi ke rumah sakit menemui Eliot. Dia tersenyum licik dengan mata menatap dalam wajahnya di cermin. "Aku ingin melihat dia menangis," ungkapnya bermimik bak penyihir jahat.


"Anak kurang ajar! Apa tujuanmu pergi ke sana?"

__ADS_1


"Tentu menjenguk Tuan San, Kakek. Lalu mengganggu Eliot, tentunya."


Selena berlari kencang dari kakeknya menuju garasi untuk mengambil mobil, alih-alih menunggu sopir pribadi yang diperintahkan kakeknya untuk mengantarkan Selena ke rumah sakit.


"Aku bawa mobil sendiri!"


"Anak kurang ajar, jangan!" senggak Tuan Tomy melarang. Kekhawatirannya masih sangat besar membiarkan cucunya mengendarai mobil, mengingat anak dan menantunya dalam kecelakaan maut waktu itu.


"Bye, Kakek. Aku mencintaimu. Tolong pinggirkan motor Eliot ini. Dia bisa membunuh ku jika motor mahal ini lecet sedikit saja!" teriak Selena dengan wajah serampangan. Dia berbuat semau-maunya tanpa memikirkan cemas di benak Tuan Tomy. Dia bahkan dengan dugal menekan klakson mobilnya berulang kali sebagai tanda pamitnya pada sang kakek yang terus mengamuk mengejar mobilnya dengan langkah tertatih-tatih.


****************


Sesampainya di rumah sakit, Selena dengan rusuh melangkahkan kakinya cepat. Dia mencoba menghubungi Eliot namun sejak tadi tidak kunjung mendapat jawaban. Mungkin pria itu sedang sibuk menahan diri agar tetap tegar.


"Selena!" Dia menitikkan air matanya yang terus dia tahan sejak tadi. Sosok pendamping ternyata begitu dibutuhkan olehnya untuk mencurahkan isi hatinya yang sebat. "Dia tak sadarkan diri meski sudah kupunggil berulang kali. Dia mengacuhkan Mama, Selena." Pecah sudah deruh tangisnya. Pakaian birunya bahkan sampai tak kuasa menutupi air mata yang terus membasahi.


"Jangan khawatir, Ma. Papa sangat kuat, dia pasti bisa melewati masa kritisnya." Selena dengan bijak mulai merangkul Dernia yang tengah sesunggukan menahan tangis. Selana menggenggam tangan dingin Dernia, kemudian menyeka air yang terus bercucuran dari matanya. "Papa pasti akan membaik. Mama tenang lah."


Ketulusan hati Selena dalam berucap ternyata berhasil menenangkan cemas Dernia. Dia tersenyum meski sakit, lalu kemudian mencoba menatap wajah suaminya. Meski berat walau hanya untuk melirik, dia berusaha sebisa mungkin. "Sayang, lihat! Menantu pilihanmu sudah datang menjenguk. Ayo, sapa!" suruh Dernia mencoba berbicara dengan tegar. Dia menyisir surai hitam bercampur putih itu. Dia terlihat menahan tangis agar terlihat kuat oleh sang suami.


"Pa, aku bawakan buah untukmu, makanlah ketika sudah membaik besok." Selena menujuk parsel buah yang dia bawa.

__ADS_1


Tidak berapa lama Dernia teringat akan sesuatu yang sejak tadi seharusnya menjanggal di pikirannya. "Eliot pamit pergi kepada Mama tadi. Katanya ingin mencari angin di rooftop sebentar. Dia terlihat sedih, Mama khawatir dengannya. Apa kau bisa menemui dia?"


Selena terdiam. Bahkan yang paling membutuhkan penguat adalah Dernia. Bagaimana dia bisa meninggalkan Dernia yang rapuh? "Ta-Tapi Ma ...."


"Mama baik-baik saja," timpal Dernia.


Selena pun dengan langkah berat pergi meninggalkan Dernia dan San Alaric yang terbaring itu. Menemui Eliot sesuai permintaan Dernia.


~Rooftop RS~


Hembusan angin begitu kencang malam ini. Sangat deras mengibaskan rambut Selena yang terurai. Dia berjalan melawan desir angin yang menahan langkahnya.


Di titik matanya memandangi, Eliot tengah berdiri dengan kaki tegak. Dia terlihat sepi saat dilihat dari kejauhan. Punggung yang kokoh itu bahkan tidak bisa menutupi kelam yang terus menelan raganya.


Selena berjalan pelan lalu berdiri tepat di sisi kanan Eliot. Dia menoleh meratapi wajah beku suaminya itu. Tak terlukis apa pun di sana. Hanya ada kehampaan yang dalam dan gelap.


"Tuan Muda Alaric, tampaknya kau akan menangis," ucap Selena sambil menyentuh tipis wajah Eliot yang dingin. "Kau boleh bersandar di bahuku saat merasa lelah. Meski kau belum menyukaiku, setidaknya pundakku masih bisa kau gunakan." Selena menarik tatapan Eliot yang sejak awal tidak melihat keberadaannya. Dia memegang wajah pria itu menggunakan kedua tangan, lalu di dekatkannya ke depan mukanya. "Sepertinya kau membutuhkan pelukan ku sekarang," duganya sambil menatap manik hitam Eliot sangat dalam.


Dia memeluk Eliot, lalu diusapnya berulang rambut hitam pekat Eliot. Pria itu menunduk, menyenderkan kepalanya ke bahu Selena yang jelas lebih rendah dari jangkung tubuhnya. Dia mulai mendengkus panjang, berusaha menyampaikan betapa penat jiwanya.


"Dia seharusnya tetap hidup. Aku tidak akan sudi mengambil alih perusahaannya jika dia mati," kata Eliot dengan nada menyedihkan. "Dia tidak boleh mati ... aku belum puas membangkang perintahnya," sambungnya lagi.

__ADS_1


"Eliot ... berjanjilah untuk berhenti membenci papa. Kau tidak perlu menjadi anak patuh, kau hanya perlu mengakui dan menganggapnya sebagai ayahmu," pinta Selena seraya mengeratkan dekapannya. "Kau adalah hadiah terindah yang pernah dia miliki, Eliot. Kau hanya perlu menyadari itu."


__ADS_2