
Dua hari sudah berlalu, wanita itu masih tetap pada keputusannya untuk tinggal di rumah Bram. Dia sama sekali tidak menghiraukan kerisauan hati suaminya. Berulang kali Eliot datang membujuk, namun hasilnya nihil, Selena dengan tega menutup diri dan tidak mendengarkan penjelasan Eliot.
"Cih, mau sampai kapan kau tinggal di sini?" Bukannya Bram tidak suka atau keberatan saat Selena berada di rumahnya. Hanya saja dia tidak suka melihat Eliot bolak-balik mendatangi kediamannya mengemis belas kasih dari Selena. Dia merasa terganggu mendengar suara ketukan pintu yang setiap jam terdengar mengusik ketenangannya.
"Sampai aku melahirkan," jawabnya ringan. Dia mengambil susu bubuk dari kaleng yang terletak di atas meja makan, lalu dituangkannya air hangat ke dalam. "Apa kau mau menikah denganku? Aku membutuhkan seorang pria untuk membesarkan anak ini," celetuk Selena datar. Matanya tetap fokus pada air yang berputar di dalam gelas, dia meratapinya hingga air berwarna coklat itu berubah tenang.
"Jangan gila! Tidak masalah, takutnya suamimu membunuh ku jika tahu," jawabnya bergurau. "Sepertinya aku harus turun tangan menyelesaikan masalah kalian."
Mulut Selena tidak benar-benar mencerminkan isi hatinya. Dia sedih sekaligus tersiksa. Ingin sekali memberikan kesempatan pada Eliot, hanya saja cemburu sekaligus kecewa terus mengungkung pikirannya. Tentu dia menangis, tentu dia dilema, namun semua segera ditelan bersama pahit kehidupan rumah tangganya.
Bram pun sekejap itu meninggalkan Selena, angkat kaki dari rumah nuansa kuno itu untuk menemui Eliot. Mulutnya gatal ingin memaki suami sahabatnya itu karena terlalu lama bergerak menyelesaikan masalah.
"Aku pergi!" Kalimat terakhir penutup percakapan mereka.
***
Glek!
Selena meneguk susu coklat manis itu. Rutinitas paginya terselesaikan dengan baik. Saat Selena hendak kembali ke kamarnya untuk beristirahat, tiba-tiba dering ponsel terdengar. Seorang pemanggil tak dikenal menghubungi Selena di jam serba sibuk ini. Berulang kali, sepertinya ingin mengabarkan hal genting.
__ADS_1
"Dari mana kau tahu nomor ku?" tanya Selena tanpa basa-basi sesaat setelah mendengar suara tak asing dari ponsel. "Jika ingin membahas soal Eliot, sebaiknya urungkan saja."
"Tunggu! Mungkin ini terdengar tidak masuk akal, namun ada sesuatu yang ingin aku sampaikan padamu."
"Kau tidak mengerti bahasa manusia? Aku tidak peduli. Berhenti menghubungi aku." Selena mengakhiri panggilan suara tersebut. Dia tidak kuasa mendengar suara wanita itu. Hatinya perih bagai teriris belati tajam.
Tidak berhenti dan menyerah. Shania mengirimkan sebuah pesan pada Selena. Meminta agar mereka bertemu di sebuah cafe, tempat pertemuan terakhir mereka sebelum permasalahan terlahir.
Terbesit di pikirannya untuk mengabaikan pesan tersebut, namun entah mengapa dari dalam hati kecilnya terdengar sebuah amanat. "Haruskah aku pergi?"
Kemudian dia melangkah pergi menemui Shania. Tidak perlu ada alasan mengapa kali ini hati kerasnya luluh dan memberikan kesempatan untuk menjelaskan semua padanya, dia hanya perlu meyakini naluri yang terus memaksanya memberikan iba pada manusia-manusia yang sudah mengkhianati dirinya, baik itu Shania atau pun suaminya.
"Jangan buang-buang waktu, langsung saja ke intinya. Kau juga pasti paham seberapa muak aku melihat kau." Selena duduk di kursi kayu tersebut dan langsung menyilangkan kakinya. Dia meletakkan tas lengannya di tepi meja seraya melemparkan tatapan mengerikan pada Shania,
Wanita berperut besar itu menarik napas panjang, dia berdiri lalu tunduk sambil memejamkan mata. Shania begitu malu melakukan tingkah rendahan ini. Namun demi mendapatkan maaf dari Eliot, dia harus tunduk dan menjelaskan semua pada Selena.
"Aku ingin jujur padamu. Sebenarnya anak ini bukanlah anak Eliot," katanya dengan mata masih terpejam. Dia tidak mengangkat kepalanya sampai Selena memberikan respon padanya.
"Ck, dia yang menyuruh kau begini? Menyedihkan." Selena tersenyum keji seraya memalingkan muka. Dia merasa jijik melihat kemunafikan dari wajah tirus Shania. "Persetanan dengan anakmu. Ternyata menemuimu tidak ada guananya. Aku terlalu positif menganggap pertemuan ini dapat menyelesaikan semua, ternyata tidak." Selena menarik tasnya kembali, bersiap-siap untuk bangkit dari kursi kokoh itu.
__ADS_1
"Aku mohon dengarkan sebentar!" Shania menarik tangan Selena, menahan langkah istri dari pria yang dicintainya tersebut."Aku serius mengatakannya. Kau boleh saja tidak mempercayai yang kukatakan, namun setidaknya dengarkan penjelasan ku." Shania berhasil menahan kepergian Selena.
"Aku beri dua menit untuk menjelaskan semua." Selena mengeluarkan ponselnya dan langsung menyetel pewaktu. "Dimulai dari sekarang." Selena menyandarkan badannya tepat di punggung kursi kayu itu, menyimak setiap penggalan kata yang disampaikan Shania, wanita licik berhati busuk ini.
"Aku sengaja melakukannya agar rumah tangga kalian hancur, dan ... dan aku bisa kembali rujuk dengan Eliot." Shania mengakui semua. Mulai dari awal rencananya memberikan obat perangsang pada Eliot, hingga memberitahu siapa ayah dari anak yang dikandung olehnya.
"Lalu apa keuntunganmu menjelaskan ini padaku? Bukankah ini yang kau inginkan. Aku dan Eliot bertengkar hebat, bahkan aku sampai minggat dari rumah hanya karena fitnah yang kau sebarkan." Selena menyipitkan mata untuk mencerna alasan Shania. Sudah sewajarnya Selena menaruh curiga pada Shania. "Atau kali ini juga termasuk tipu muslihat yang sedang kau mainkan," tuduh Selena.
"Aku tidak bisa hidup jika Eliot membenci ku. Saat itu, untuk pertama kalinya aku melihat Eliot memandangku penuh hina. Aku takut sekaligus khawatir. Bagaimana jika Eliot meninggalkan dan tidak ingin menemui aku lagi? Itu yang ku pikirkan." Bibirnya terlihat bergetar, Shania benar-benar menyalurkan isi hatinya pada Selena. Dari sekian banyak kebusukan yang tersaji di mimiknya, namun kali ini dia jujur. "Aku hanya mengharap maaf darinya," lanjutnya menjelaskan.
Selena tahu betul perasaan Shania, dia pun tengah mengalaminya. Dia takut hubungan mereka berakhir, dia pun cemas jika Eliot bosan dan menyerah dalam membujuk dirinya. Tapi dia tetap diam, menunggu waktu memulihkan keretakan pernikahan mereka. "Terima kasih karena sudah mengatakannya padaku." Selena pun pergi sekejap itu juga dari cafe. Berlari ke pinggir jalan untuk memanggil taksi yang berlalu lalang di depannya.
"Taksi!" teriaknya sambil melambaikan tangan. Dia tergesa-gesa sampai lupa memikirkan perutnya yang mulai terlihat besar. "Kau ada dimana, Eliot?" Selena mencoba menghubungi suaminya, namun tidak kunjung terhubung. Dia semakin resah, gundah gulana pun bersemayam di pikirannya, dan merubah dunianya menjadi hitam. "Tolong angkat," pintanya lirih. Dia sampai gigit jari menatap layar ponselnya, panggilan suara yang dilakukannya terabaikan tanpa satu pun terjawab.
Kepalanya buntu, dia tidak tahu harus menemui Eliot dimana lagi. Dia sudah memeriksa Eliot di kantor, kasino, markas geng motornya, bahkan di rumah Bram, namun tidak kunjung ditemui. "Kemana kau sebenarnya?" tanyanya dengan alis berkerut menanggung cemas.
Saat dia telah kehilangan arah, tiba-tiba pangilan masuk berdering.Bram menelpon Selena dengan suara yang terdengar kacau dan terburu-buru. Pria itu mengirimkan sebuah perasaan panik pada wanita itu. "Cepat kemari! Eliot ... Eliot ... dia ingin mengakhiri hidupnya!" jelasnya singkat. Napasnya tersenggal-senggal.
"Kau bercanda! Kau tahu ini tidak lucu sama sekali, Bram! Kau sedang mempermainkan ku, 'kan?"
__ADS_1