
Di sisi lain, Dion sebagai wakil geng motor yang bertanggung jawab, pergi menjenguk Shania. Meski sudah siuman, sebisa mungkin dia menyempatkan waktu padatnya menemui wanita itu.
"Kondisi pasien sudah membaik, hanya saja kandungannya sedikit mengalami trauma. Itu biasa terjadi sebagai bentuk respon ketika induknya mengalami cemas berlebih," jelas dokter.
Dion tersentak kaget. Kandungan? Dia tidak tahu bahwa Shania tengah mengandung. "Kalau boleh tahu, berapa usia kehamilannya?" tanya Dion. Meski tak menyangka, dia harus mengusut tuntas mengenai Shania dan bayi yang dikandung.
"Menurut perkiraan, sekarang jalan tiga belas minggu," terangnya. Dion hanya bisa mengangguk paham. Sebisa mungkin tidak menunjukkan bentuk terkejutnya di hadapan dokter.
Dia tergesa-gesa menemui Shania ke ruang inap, hendak membahas tentang kehamilan wanita tersebut. Hatinya tak tenang, pasalnya Shania tidak memiliki hubungan dengan pria mana pun selama ini. Tentu menjadi suatu tanya besar baginya kenapa wanita itu bisa hamil dengan usia kandungan yang masih terbilang baru.
"Dia bukan anak Eliot," sulak Dion dengan sesak di dada. Napasnya terdengar memburu, sungguh dia resah.
"Kau sudah tahu?" Shania tampak santai berbaring sambil memetik buah anggur dari tangkai. "Haruskah aku memberitahumu siapa ayah dari anak yang sedang ku kandung ini?" Shania turun dari ranjang tersebut mendekati Dion dengan lenggok angkuh.
"Sebaiknya kau gugurkan janinmu," suruh Dion. Dia ketar-ketir melihat betapa mengerikan wajah Shania, penuh dengan kebusukan.
"Tidak disangka, pria lembut sepertimu tega menyuruh ku membunuh manusia tak berdosa," ungkapnya. Alisnya naik sebelah, kepala Shania berisi muslihat mengerikan. "Ingat, dia adalah anak Eliot! Kau hanya perlu meyakinkan istrinya bahwa ayah bayi ini adalah Eliot. Jika kau tidak melakukannya, cih, lihat saja nanti. Aku tidak akan segan-segan menyebarkan aib kotormu. Aku tidak bisa bayangkan bagaimana reaksi ayahmu jika melihat betapa mengerikan perangai putranya yang berbakti ini," ancamnya.
"Dia sudah menikah, kenapa masih mengusik mereka? Apa kau sudah gila?!" Dion tak bisa membendung rasa jijik terhadap wanita di depannya.
"Akan ku gunakan bayi ini untuk merampasnya dari Selena. Bayi ini adalah kartu as ku untuk bisa kembali lagi dengan Eliot." Dia tersenyum sambil mengelus perutnya.
Shania benar-benar terobsesi pada Eliot. Apa pun caranya, meski harus menempuh jalan setan, dia akan tetap harus mendapatkan Eliot kembali. Dia teramat mencintai pria itu.
Perjalanan cinta mereka tidaklah mudah. Perjuangannya dimulai saat usianya masih sepuluh tahun. Dia berhasil meluluhkan hati pria itu meski membutuhkan waktu yang lama. Mereka resmi berpacaran ketika menginjak usia dua puluh tahun. Walau harus mengemis mengharap belas kasih pria itu, dia akhirnya mendapat pengakuan dari Eliot.
Hubungan mereka berjalan baik selama sepuluh tahun, hingga seorang wanita tak diundang datang merusak kehidupan cinta mereka. Kisah mereka harus kandas ditengah jalan karena perjodohan Eliot dengan Selena.
__ADS_1
"Wanita itu seharusnya tidak datang ke kehidupan kami dan merebut Eliot dariku!" seru Shania berteriak keras.
"Cukup, Shania! Dia temanku, kau pun sama. Tidak sepantasnya kau merusak rumah tangga Eliot! Meski kau mencintai dia, kau harus merelakannya!" Dion pun terpancing. Emosinya menggebu-gebu ingin membungkam mulut Shania.
"Diam! Kau tidak tahu rasanya, sebab itu dengan mudah menyuruhku untuk berhenti mencintai Eliot!"
"Tidak ada kau di dalam hatinya, sekarang Eliot mencintai istrinya. Dia sendiri yang mengatakan padaku. Jangan buta Shania, kau juga lihat bagaimana perubahan Eliot, semua dilakukannya demi Selena," jelas Dion dengan emosi yang meluap-luap. Dia tidak tahu lagi bagaimana harus menyadarkan Shania dari kedunguan. Dia terlalu buta akan Eliot, hingga lupa bahwa yang dilakukannya malah membuat Eliot semakin membenci dirinya sendiri.
...***...
Dua hari berlalu sudah tanpa ada masalah. Selena dan Eliot tampak baik-baik saja, malah beberapa hari ini hubungan mereka semakin erat. Meski terjadi perdebatan kecil di sela-sela kesibukan mereka. Misalnya saja sekarang ini.
"Kau tidak minum susu yang diberikan mama?" Eliot membuka lemari pendingin dan melihat tak satu pun botol yang disentuh oleh istrinya. "Kau tidak bisa menghargai pemberinya," amuk Eliot jengkel.
Selena sibuk dengan ponselnya hanya mendeham merespon kecerewetan suaminya. Dia tak menghiraukan Eliot dan terus mengutak-atik layar ponsel genggamannya.
"Selena!" senggak Eliot murka. Dia menarik benda canggih itu dari genggaman Selena. "Apa yang sedang kau lihat ini?" Betapa terkejut Eliot saat sadar bahwa istrinya tengah sibuk menjelajahi akun seorang pria. "Ohhh ... kau sudah berani sekarang?" Muka Eliot berubah masam. Pasalnya Selena telah mengabaikan dirinya dan malah asik memandangi pria lain. "Ternyata selama aku pergi bekerja, kau di sini sibuk memanjakan matamu dengan pria-pria lain, sementara suamimu pergi pagi pulang malam mencari sesuap nasi?"
"Iseng katamu? Mulai besok kau tidak boleh menyentuh handphone lagi!" tegas Eliot.
Dia berniat merampas ponsel istrinya, namun Selena dengan cekatan menarik benda itu. Terjadilah peristiwa saling rebut-merebut antara sepasang suami-isteri tersebut.
Trak!
Ponselnya terjatuh ke lantai. Layar yang terbuat dari kaca itu lantas pecah. Serpihannya menyebar di sekitar.
"Tuh kan jatuh!"
__ADS_1
"Baguslah, semoga saja rusak," balas Eliot tidak peduli. Dia mengambil sapu dan serokan. Dengan lancang tangannya menuangkan ponsel istrinya ke dalam tong pembakaran sampah tanpa berpikir panjang.
"Eliot! Kurang ajar! Kemari kau, sialan!" umpat Selena menghentikan suaminya. Namun sayang geraknya kalah cepat jika dibandingkan dengan Eliot. Ponselnya telah terbuang ke tempat pembakaran sampah.
"Sudah rusak, lebih baik dibuang saja," jawabnya ringan. Dia tersenyum puas setelah melihat raut cemberut istrinya itu. "Itu akibat berani melirik pria lain," katanya menggoda Selena. "
"Argh! Kau harus belikan aku handphone baru!"
Begitulah keduanya menghabiskan hari-hari mereka sebelum beristirahat di malam hari. Pertengkaran seperti ini sudah biasa terjadi.
Tidak berapa lama setelah pertengkaran tersebut, Selena menarik ujung baju Eliot dengan mata sayu. Bibir bawahnya mendower disertai alis yang mengerut.
"Aku minta maaf," katanya.
Ekspresi wajahnya sungguh menggemaskan. Eliot sampai tak tahan melihat raut comel yang dilemparkan istrinya tersebut.
"Temanku mengatakan kalau suaminya lebih tampan darimu, sebab itu aku melihat foto-fotonya," jelas Selena tanpa menatap mata Eliot.
"Lalu?"
"Suaminya jelek, sangat jelek!" pungkas Selena berapi-api. Dia terlihat geram ketika mengungkapkan pendapat. "Bahkan bulu kakinya pun tidak bisa dibandingkan dengamu," tambah Selena.
Eliot tersipu malu, senyumnya tiba-tiba muncul menanggapi istrinya tersebut. "Kenapa tidak katakan dari awal? Mungkin handphone- mu tidak akan jatuh dan rusak," ungkit Eliot menyayangkan. Padahal dia benar-benar tidak menyesali kejadian tragis yang baru saja terjadi. Sebenarnya dia senang karena berhasil menjahili Selena.
"Besok akan aku belikan gantinya," kata Eliot menenangkan. Dia memegang wajah Selena lalu merunduk sedikit untuk menyetarakan tinggi badan mereka. Lalu dikecupnya kening istrinya sembari melemparkan senyum indah dari bibirnya.
Wajah Selena memerah. Dia tidak kuat melihat pesona suaminya yang tampannya berkali lipat daripada pria lain. "Ba-Baik," angguknya tegang.
__ADS_1
🖤 Selagi menunggu update cerita ini, buruan baca rekomendasi novel seru dan menarik. Yuk, kepoin kisahnya!🖤