My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 8


__ADS_3

~Tujuh hari kemudian ~


Terik matahari begitu terang dan panas. Kulit putih Selena sampai memerah akibat paparan sinar ultraviolet yang membakar. Sudah dua jam sejak mentari masih layu Selena beridiri disebuah gang sempit dan gelap.


"Lama sekali," decaknya kesal. Dia melirik jam yang terlingkar di tangannya. Menunggu Eliot sejak mendung hari hingga terik begini. Sudah seminggu sejak terakhir kali bertemu, suaminya belum juga pulang ke rumah.


Tidak lama suara decitan ban motor yang melaju menyapa telinga Selena. Auman knalpot yang hebat berhasil menyembuhkan penat penantiannya. Sekian lama dia menunggu, akhirnya para pria bermotor itu sampai juga di persinggahan.


"Eliot!" sapa Selena sambil melambai. Dia tersenyum dan melompat kecil kegirangan menyambut Eliot juga sekawanannya.


"Hei, Bung! Apa dia istrimu itu? Ternyata cantik sekali," puji pria di sebalah Eliot.


Eliot tak menghiraukan. Dia memberikan isyarat kepada temannya untuk lebih dulu masuk ke dalam persinggahan mereka. Dia tidak ingin jika sampai teman-temannya melihat dirinya dengan wanita sana berdekatan.


"Sampai kapan kau akan mengganggu ku?" Eliot bahkan tidak mematikan mesin motornya ketika berbicara. Dia hanya membuka kaca helm untuk menampakkan muka masam pada Selena.


"Aku datang membawa bekal," tunjuk Selena sambil menyodorkan keranjang kayu yang lucu ke depan Eliot. Dia tersenyum hangat lalu membenahi gaun berwarna pink miliknya. "Aku dan kau akan piknik hari ini," ujarnya lagi dengan antusias.


Eliot mengernyitkan dahinya. Dia berdecak sebal melihat tingkah gadis yang sama sekali bukan tipenya. "Singkirkan itu dariku. Aku tidak sempat meladeni wanita kurang kerjaan," jawabnya lalu menepiskan tangan Selena yang terjulur.


Seketika raut wajah Selena berubah, dia kecewa dengan respon Eliot. Meski dari awal sudah tahu akan seperti apa reaksi pria ini, sedikit hatinya tergores. Pada akhirnya tetap saja Selena kecewa. "Aku menunggumu dua jam sampai tubuhku terbakar. Apa kau tidak memiliki simpati?!" Selena melotot memandang Eliot. "Apa kau masih tidak ingin piknik denganku?" tanya Selena.


Eliot acuh tak acuh menutup kembali kaca helmnya. Dia sama sekali tidak tertarik dengan ajakan wanita bergaun suci bak manusia polos yang lugu. "Pergi sana!" usir Eliot sebelum benar-benar memutar gas motornya.


Tidak tahu harus bagaimana selanjutnya, lantas Selena tetap berdiri di simpang gang kecil itu berharap suaminya datang kembali untuk menjemput. Meski mustahil, dia akan menunggu. Tekadnya tidak akan padam sebelum keinginannya terwujud.

__ADS_1


Keringat bercucuran dari kening melukis penatnya. Sangat panas dan juga letih. Kakinya kebas karena terlalu lama berjongkok menunggu suaminya. Eliot begitu tega membiarkan Selena berdiri di sini sendirian.


Berulang kali Selena menghubungi Eliot, namun satu pun panggilan darinya tidak diangkat. Pria itu pura-pura tidak mendengar walau beberapa kali telah terusik.


"Kenapa kau tidak angkat?" tanya Dion. Dia merasa kasihan melihat Selena berdiri di ujung gang sambil menjinjing keranjang kayu.


"Tidak penting," jawab Eliot ringan. Dia tetap fokus pada bola dan juga tongkat billiar. Dia membidik dengan fokus, lalu mendorong tongkatnya.


Masuk!


Dia memasukkan bola sebanyak tiga sekaligus. Keahliannya tidak perlu diragukan lagi. Seolah semua bidang telah dia kuasai. Pria genius sepertinya Eliot sesungguhnya tidak pantas menyia-nyiakan keahlian hanya untuk bersenang-senang seperti ini. Dion menyadari hal itu. Beberapa kali dia menasehati, tapi tidak ada satu kata pun yang berhasil merobohkan hati kerasnya.


"Eliot, apa kau tidak ingin menemani istrimu itu?" tanya seseorang padanya.


Eliot tetap tidak menghiraukan. Tangannya masih sibuk bermain dengan tongkat billiar. Seolah tak mendengar, Eliot bahkan tidak menatap temannya tersebut.


Eliot mendelik tajam ke arah mata pria tersebut, lalu bergerak menghampiri. Eliot mendengkus panjang dan membuang permen karet yang sudah lama dia kunyah tepat mengenai wajah temannya tersebut. "Siapa yang mengizinkanmu berbicara seperti itu?!" Amarah Eliot membuncah. Pria bertemperamen buruk itu langsung melayangkan tinju ke anak mata teman yang sudah lancang berbicara senonoh mengenai Selena.


Eliot tidak berhenti hanya sekali tinjuan, dia melanjutkan serangan lagi dan lagi, sampai hatinya yang panas merasa cukup untuk menyudahi.


Semua anggota geng motornya sudah berusaha menenangkan Eliot, tapi tidak ada gunanya. Dia terus menggila sampai orang itu terjatuh lemah hingga muntah darah.


Tidak ingin Eliot sampai berbuat terlampau jauh, akhirnya Dion mencoba membantu anggota lain menyudahi perkelahian. Dia memukul wajah tampan sahabatnya hingga meninggalkan lebam juga luka kecil.


"Eliot, apa kau ingin jadi pembunuh?!" teriak Dion sambil menarik sahabatnya dari pertengkaran hebat. Jika tidak dihentikan, Eliot dapat membunuh manusia yang sudah tergeletak tak berdaya sana. "Apa yang kau lakukan? Berhenti!"

__ADS_1


Suara Dion ternyata berhasil menenangkan murka Eliot. Dia langsung menarik Eliot keluar dari persinggahan dan memberikannya pada Selena.


"Pergi temui dia!" dorong Dion memaksa Eliot.


Selena langsung berbalik sesaat setelah mendengar suara Dion yang keras. "Eliot?"


Eliot tampak menyedihkan. Wajahnya lesu dipenuhi amarah di dada dengan kekacauan terpampang jelas. Bahkan rambut klimis Tuan Muda Alaric itu tampak urak-urakan. Belum lagi karena lebam juga luka di wajah itu, membuat Selena khawatir tentang kondisi Eliot.


Selena terburu-buru memeriksa keadaan Eliot yang sudah tentu baru saja selesai berkelahi. Dia sudah hapal bagaimana perangai suaminya tersebut. "Siapa yang melakukan ini padamu? Tunjukan padaku orangnya! Berani sekali menyentuh mu!" Selena menggerutu tidak terima melihat luka yang di dapatkan oleh Eliot.


"Shhht! Jangan sok jadi jagoan. Kemari!" panggil Eliot menahan langkah Selena saat berjalan ke arah markas geng motornya.


"Bagaimana dengan lukamu? Biar kuperiksa!" Selena menarik kepala Eliot dengan kasar untuk mensejajarkan tubuh pria itu dengan tinggi badannya.


"Ah, sakit!" rengis Eliot kesakitan.


"Tidak terlalu parah, tapi takutnya berbekas. Apa tidak ada apotek di sekitar sini?" Selena melirik ke segala arah untuk mencari toko obat di dekat gang itu.


"Di sana," tunjuk Eliot ke arah supermarket seberang jalan.


"Apa kakimu bisa berjalan sampai ke sana?" tanya Selena dengan mimik cengonya.


Eliot mengangguk ringan menjawab pertanyaan wanita itu. "Aku tidak lumpuh," tambah Eliot.


Mendengar jawaban Eliot, Selena lantas menarik tangan Eliot cepat. Mereka berlarian menyeberangi jalan yang sepi untuk membeli plester juga salep kulit untuk meringankan luka Eliot.

__ADS_1


"Kau duduk di sini, biar aku masuk ke dalam!" suruh Selena sambil menunjuk kursi yang disediakan pihak supermarket. Dia tidak ingin jika pria itu kelelahan akibat terlalu lama berdiri. Walau sebetulnya dia lah yang paling membutuhkan kursi untuk duduk sekarang ini.


__ADS_2