My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 21


__ADS_3

💕Jangan lupa like, subscribe, yah! Biar author tahu ceritanya dibaca atau tidak 💕


Matahari kian terik, dari balik tirai tebal berwarna abu-abu tampak jelas cahaya yang terus mengetuk ingin menyapa mata Selena. Wanita itu terpejam sepanjang malam tanpa busana, hasil dari kegiatannya dan Eliot.


Dia membuka matanya dengan enggan, lalu berusaha bangkit dari tidurnya. Sangat menyakitkan. Tubuhnya seakan remuk akibat ulah Eliot. Semalam Eliot berbuat tanpa memberi Selena kesempatan untuk bernapas barang sejenak.


"Aku benar-benar lumpuh sekarang," keluh Selena yang masih merayap menjatah pinggir ranjang. Kakinya bahkan tak bisa dirapatkan padahal sudah susah payah dijepit olehnya. "Bajingan itu punya dendam pribadi," gerutu Selena.


"Eliot!" teriak Selena memanggil. "Aku tidak bisa berjalan!" tambahnya lagi. Sungguh dia tak dapat bergerak cepat, langkahnya bagai siput dalam cangkang. Selena menggapai duvet miliknya, lalu dililitnya menutupi tubuh yang tak berpenutup itu.


"Apa dia sudah pergi?"


Selena berjalan pelan-pelan untuk memastikan keberadaan Eliot di setiap ruangan rumahnya. Dia berjalan dari pinggir seraya memegang dinding agar tetap seimbang langkahnya. Sesaat kemudian, seperti dugaan pembaca, Selena terjengkang jatuh ke lantai yang dingin.


Bruk!


"Auch ... huhu, sakit," rengeknya sambil menggosok lutut yang pertama kali menghantam dataran keramik. Dia meringis memahan sembilu.


"Apa yang kau lakukan? Apa kasur ranjang itu kurang empuk makanya kau berbaring di sini?" Eliot berkacak pinggang melihat Selena. Dia bercangkung mencoba menyamakan tatapan mereka. "Meski kau bodoh, tidak seharusnya tidur di lantai," ledek Eliot mengejek. Dia menyetuh pipi Selena berulang kali menggunakan telunjuknya, seolah sedang mencolek.


Selena tidak dapat berdebat saat ini. Dengan pasrah dia membiarkan pria itu menjahilinya lalu kemudian menyembunyikan mukanya dengan menunduk mencium lantai. "Aku tidak bisa berjalan," keluhnya. Suaranya tak jelas terdengar.


"Mengesot saja kalau tidak sanggup jalan," jawabnya apatis. Eliot langsung meninggalkan Selena dan kembali ke dapur. Pria tampan berjuta bakat itu sedang memasak layaknya suami berbakti kepada istri. Entah mengapa hari ini suasana hatinya sedang baik, sehingga sudi memasakkan lauk untuk Selena.


"Dia tega sekali ... brengsek!" celotehnya jengkel.


Bagai ulat berbulu, Selena bergeser perlahan kembali ke kamarnya. Tidak ada gunanya menunggu belas kasihan dari Eliot, toh ujungnya dia sendiri tak akan mendapatkan. Dia sudah salah mengira bahwa pria itu akan membantunya berdiri atau sekedar berekspresi duka saat melihat dia dalam kondisi mengenaskan.

__ADS_1


"Hiak!" Sekujur tubuhnya berbunyi setelah Selena meregangkan persendiannya.


~Dapur~


Selena duduk sambil tersenyum menunggu Eliot selesai menghidangkan makanan buatannya. Dia mengayunkan kakinya seraya bersenandung kecil menikmati pemandangan yang elok dipandang mata. Wajah beku suaminya terlihat hangat saat sedang berdiri sambil mengiris sayuran itu. "Tidak sia-sia aku menunggu brengsek ini sampai lima belas tahun, pria tampan sepertinya hanya ada satu di dunia," celetuk Selena. Dia bertopang dagu tak melakukan apa pun seraya menanti Eliot selesai memasak.


Uap dari wadah masakan itu berkobar karena masih panas. Tak ada satu pun hidangan yang gagal di atas meja ini. Semua terlihat seperti buatan koki profesional. Belum lagi karena harum masakan yang terus memanggil Selena untuk segera mencicipi.


"Kau memasak semua ini karena mencintaiku, bukan?" kata Selena di sela-sela waktunya saat mengunyah. Dengan muka tebal dia melemparkan senyum cengo.


"Habiskan sebelum dingin. Hari ini aku akan pergi ke kantor, jangan berulah!" tegas Eliot kaku. Lagi-lagi sifat kasarnya kembali.


Baru saja beberapa hari merasakan manis perlakuan Eliot, tidak disangka secepat itu pula berubah. Dia kembali seperti sediakala, kasar dan canggung.


"Ehm," angguk Selena lesu. Dia melahap makanan yang tersaji dengan muka pahitnya. Wajahnya masam menelan setiap kunyahan makanan tersebut.


Hari-hari Selena berlalu membosankan. Dia tak memiliki kegiatan apa pun setelah Eliot tidak berulah. Seandainya saja suaminya itu tidak pergi ke kantor, mungkin dia bisa menguntit menganggu Eliot.


"Sialan, aku sudah terbiasa menghabiskan waktu bersenang-senang dengan Eliot, sampai lupa bagaimana cara menikmati waktu sendirian," keluhnya.


Ketika kepalanya benar-benar buntu mencari kesibukan, tiba-tiba ponsel Eliot yang tertinggal berdering. Sebuah pesan singkat masuk ke ponsel suaminya. Ternyata Shania. Wanita itu mengirimkan sebuah alamat yang sepertinya merupakan tempat pertemuan mereka.


"Wah, jal*ng ini belum juga jera," gerutu Selena sambil menggigit bibir bawahnya karena geram.


Dia langsung mengganti pakaian dan merias diri secantik mungkin untuk bertemu dengan saingannya di masa kecil dulu. "Tidak masalah kalau dulu aku kalah darimu, tapi sekarang tidak Shania ... Eliot hanya milikku," tekadnya penuh ambisi.


Dengan menggunakan jasa taksi online, akhirnya Selena tiba juga di sebuah restoran di tengah kota. Tidak terlalu besar, namun tempat itu sepertinya sering dikunjungi oleh Shania dan Eliot.

__ADS_1


"Apa dia sedang memancing Eliot bernostalgia dengannya? Ck, ular berbisa itu sangat kolot," hina Selena.


Dia berjalan dengan anggun. Kakinya melangkah menyilang dan menapak dengan pelan. Rambutnya terikat ketat model ponytail. Wajahnya termakan kacamata yang hampir menutupi seperempat wajahnya.


"Tetap tersenyum Selena, jangan biarkan harga dirimu terinjak-injak oleh ular berbisa itu," gumam Selena berulang kali sebelum sampai di kursi yang sudah ditentukan oleh Shania.


Tak!


Langkah kakinya berhenti tepat di sebuah meja dekat dengan jendela kaca yang besar. Terlihat tiga batang lilin berdiri di sebuah candle holder desain lawas. "Hai!" sapa Selena seraya tersenyum selebar-lebarnya. Meski hatinya tidak sabar ingin menjambak wanita bertubuh lebih pendek darinya, lalu menunjangnya cepat dari jendela kaca di sebalah mereka.


"Selena Alaric, istri Eliot," katanya memperkenalkan diri. Langsung dia duduk dengan ayu, kemudian membuka kaca mata hitam dari wajahnya. Dia berdecak bangga sesaat setelah menyebutkan nama dengan menyandingkan nama keluarga Eliot di belakangnya.


Shania tertegun lama memandangi wanita cantik itu mendekat ke arahnya. Sangat berkelas, hingga dia tak sadar bahwa raut wajahnya melukiskan iri. "Bagaimana kau bisa sampai ke sini?" tanyanya.


"Eliot sedang sibuk, jadi tidak sempat kemari. Tidak sengaja aku melihat pesanmu dengannya" jelas Selena berusahalah menutupi raut masamnya. Terus saja ujung bibirnya menaik, senyumnya tak pudar. "Tidak perlu berbasa-basi, sebenarnya apa tujuanmu mengusik suamiku?" tanya Selena. Dia menyentuh bibir gelas wine yang berdiri tepat di depannya, lalu meneguknya sedikit. "Aku tidak bisa minum wine terlalu banyak, jadi jangan terlalu menyita waktuku di sini, Kakak Shania," sambungnya. Lidah tajamnya mulai merobohkan keberanian Shania.


"Aku hanya khawatir padanya," jawabnya singkat.


Selena menyeringai hina. "Lucu sekali. Dia sudah punya istri tapi kau masih mengganggunya. Bukankah terdengar konyol jika mengajak suami orang makan di tempat romantis ini, hanya karena khawatir? Tidak masuk akal," jelas Selena menolak pernyataan Shania.


Wanita berambut pendek itu terdiam. Dia memalingkan wajahnya sambil mendengkus panjang. "Aku tahu bagaimana hubunganmu dengan Eliot. Dia sama sekali tidak mencintaimu. Tidak perlu berlagak berkuasa atas Eliot. Pernikahan kalian hanya sebatas keuntungan bisnis. Jangan bermimpi lebih bisa memilliki Eliot," pungkas wanita itu.


Tidak ada satu pun yang salah diucapkan oleh Shania. Semua yang dikatakan wanita berwajah tirus itu benar.


Namun karena itu pula Selena terluka. Tangannya terkepal menahan amarah. Sungguh ingin rasanya menghajar mulut menyebalkan Shania, tetapi dengan tegar Selena membalas dengan senyum palsunya.


"Urusan rumah tangga kami tidak ada hubungannya denganmu. Sebaiknya kau simpan energi mu untuk mencari calon suami. Usiamu sudah tidak muda, takutnya tak segar lagi saat menikah nanti," balasnya tak ingin kalah.

__ADS_1


__ADS_2