
Terdengar dentuman tidak harmoni dari jantungnya. Dadanya terasa sesak, napas pun sulit dihembus. Tubuhnya berangsur lemah disertai rasa sakit yang menusuk di bagian kepala.
Selena memeras foto-foto itu hingga kusut. Di lemparnya jauh ke sudut kamar dengan amarah membuncah. Rahangnya mengeras.
"Jernih kan pikiranmu, Selena." Dia berusaha menyeimbangkan kalut yang mulai menutupi akal sehat.
Sebuah surat di dalam amplop itu pun ditemukan. Tertulis lokasi dan juga beberapa untaian kalimat memuakkan di dalamnya.
^^^"Datanglah, aku tahu kau tidak akan peduli. Namun anak yang dikandung membutuhkan ayah saat kelahirannya nanti. Tidak perlu kusebutkan lagi, dia anak Eliot. Aku memohon kepada mu sebagai sesama wanita."^^^
Selena tidak kuasa membendung kekecewaan terhadap suaminya. Meski belum juga mendapat fakta, namun jujur saja dia sudah berburuk sangka.
Sesuai jam temu yang sudah ditetapkan oleh Shania, lantas Selena bergerak seusai janji. Dia meneguhkan hati menemui Shania berharap bahwa semua dugaan dalam kepalanya segera ditepis.
Rasanya tidak berguna berbicara dengan Shania, namun semuanya harus dituntaskan hingga beres. Dia tidak ingin kedepannya ada kesalahpahaman yang terjadi antara dia dan suaminya.
Beberapa saat kemudian. Tibalah Selena di sebuah cafe kecil di pinggir kota. Tempat tenang itu sungguh cocok untuk perbincangan serius bersama orang lain. Tidak ada siapapun disana, sepi tanpa gangguan manusia asing.
__ADS_1
Selena melihat Shania dari ujung pintu masuk cafe tersebut. Rambut pendek berwajah tirus merupakan identitas wanita picik itu. Namun sekarang sesuatu yang berbeda langsung ditemukan Selena. Perutnya besar dengan pipi cabi, dia mengalami kenaikan berat badan.
"Hai, Selena!" sapanya sambil berdiri. Dia sengaja agar Selena dapat mengukur betapa besar perutnya sekarang ini. Tanpa rasa bersalah, dia tersenyum kemudian mengulurkan tangannya menunjuk kursi tempat Selena duduk. "Terima kasih karena sudi datang kemari. Aku tahu kau membenciku karena kejadian terkahir kali, untuk itu aku ingin meminta maaf secara langsung. Aku menyesal, Selena." Dia memulai drama busuk yang telah tercanang di kepalanya.
Mata Selena tidak lepas dari perut gembung wanita itu. Dia menggigit bibir bawahnya, menahan amarah serta tangis yang sedang mengetuk kesabarannya. "Aku ke sini bukan untuk mendengar penyesalan mu. Ceritakan saja kenapa perutmu bisa sebesar ini?" Kaki Selena bergoyang-goyang karena sedang meredam emosi yang hampir meluap. Dia meletakkan tangannya di pangkuan dan tak sadar kalau jarinya mulai mengopek kuku-kukunya.
"Eliot ... dia meniduri ku saat itu. Aku merasa bersalah." Dia menangis. "Padahal aku tahu betul kalau kalian sudah menikah, namun kau tahu ... aku masih mencintainya dan dia pun begitu. Kami terlalu mementingkan kepuasan masing-masing tanpa menghiraukan perasaanmu. Maafkan aku, Selena!" Dia memegang tangan Selena lalu menunduk meminta welas asih. "Kau boleh membenciku, kau bahkan boleh menghinaku, atau jika belum juga puas ... kau bisa menamparku. Namun anak ini ... aku tidak akan menggugurkannya, aku akan merawatnya. Kau juga calon ibu, pasti kau tahu bagaimana perasaan ku sekarang ini." Air matanya mengalir deras. Rautnya begitu terpukul hingga Selena menyelipkan simpati.
"Aku tidak peduli dengan anak yang kau kandung. Aku dan janinmu itu tidak ada hubungan sama sekali." Selena mencoba berpaling dari masalah ini. Dia tidak bisa memahami kiasan yang diceritakan Shania. Antara percaya dan tidak, batinnya pedih saat melihat tangisan Shania. "Lepaskan tanganku!" Selena menarik tangannya dari genggaman Shania.
"Mungkin kau tidak akan percaya, hanya saja sekarang aku belum bisa membuktikan bahwa anak ini benar benih Eliot. Setelah dia lahir aku akan melakukan tes DNA dan memberikan hasilnya padamu," jelasnya tidak berhenti meyakinkan Selena. Dia mencuci pikiran wanita itu dengan berusaha menarik iba.
Dia sudah tidak tahan lagi melihat Shania. Bagai api yang terus merkobar melahap ketenangannya. Bukannya tidak yakin dengan cerita Shania, hanya saja dia tidak ingin percaya satu kisah pun yang terucap dari bibir Shania.
"Lalu bagaimana dengan aku?" Tak bisa disangkal, dia syok berat. Kemungkinan besar Shania tidak sedang mengarang.
Dia kembali pulang ke rumah dengan kesadaran telah melayang sebagian. Tatapan kosong itu lagi-lagi tercetak sempurna di wajahnya. Dia lurus berjalan tanpa ada satu pun yang dapat menghalangi langkah tak bertujuan itu.
__ADS_1
Sesampainya di rumah hadiah pernikahan mereka, Selena menyuruh pelayanan untuk meninggalkan rumah. "Sus Nana bisa kembali seminggu lagi. Besok aku dan Eliot akan pergi," bualnya berbohong. Dia hanya ingin sendirian di rumah ini, tanpa ada orang lain. Dia takut jika pelayanan itu mengadu pada mertuanya tentang permasalahan ini. Siapapun tidak boleh tahu, termasuk keluarganya sendiri.
Setelah pelayan itu pergi, Selena langsung mengurung diri di kamar. Dia mengambil foto-foto kusut yang membola di sudut ruangan itu lalu membukanya. Diratapinya seksama, sampai sebuah bisikan ujaran kebencian lahir dari hati gelapnya.
"Eliot akan meninggalkan aku ... Eliot akan meninggalkan aku!" Dia seperti manusia kehilangan akal. Mulutnya komat-kamit mengucapkan hal yang sama. Dia berdiri dari posisi jongkoknya saat mengambil foto tadi. Kemudian dia berkaca, melihat betapa hancur tampannya kini. Dia mendekat hingga embun uap dari napasnya menempel di cermin hias.
"Sejak awal aku tahu bahwa dia meniduri banyak wanita di luaran sana. Namun sedikit pun aku tidak pernah membayangkan jika dia sampai meninggalkan benih." Selena menitikkan air mata. Ditontonnya bagaimana kehancuran perasannya itu di depan cermin itu.
"Ahh!" teriaknya histeris. Hatinya berubah tawar karena patah hati.
Kemarahannya tidak tertutupi lagi. Tangannya dengan ringan mulai mengambil seluruh pakaian dalam lemari, lalu dikemasnya menggunakan koper. Dia tidak ingin melihat wajah Eliot, dia tidak bisa mendengar kebenaran jika sampai bertemu dengan suaminya itu. Dia resah jika mulut Eliot sampai membenarkan kasus kehamilan Shania.
"Kenapa semua baru terjadi sekarang? Kenapa dia harus hamil?! Aku hanya ingin hidup bahagia, tapi ... tapi kenapa Shania selalu datang merusak semuanya?!" Selena berkutat, dia menunduk dan menyembunyikan wajahnya dengan tangan yang terlipat. Dia menangis sejadi-jadinya hingga sesunggukan. "Aku harus bagaimana, Eliot?!" teriaknya keras.
Beberapa saat kemudian suara mesin mobil Eliot terdengar. Pria yang ingin dia hindari sialnya kembali juga.
Selena mengancing koper yang membuntal menampung baju-bajunya, lalu tergesa-gesa hendak keluar dari rumah tersebut.
__ADS_1
"Untuk apa koper itu?" tanya Eliot saat melihat istrinya menyerat tas besar beroda itu. Dia memegang tangan Selena, menghentikan langkah istrinya. "Ada apa? Mau berulah lagi?" Eliot belum sadar bahwa Selena sudah mengetahui tentang kehamilan Shania. Dia murni berpikir bahwa sekarang istrinya ini sedang bertingkah aneh karena efek hamil.
"Jangan sentuh aku!" amuknya. Matanya tidak menatap Eliot sama sekali. Sungguh dia sakit hati bila melihat Eliot. Dia merasa dikhianati. Seakan bayangan kenangan Eliot dan Shania terputar di kepalanya.