
Selena melotot menatap Eliot, tak lepas pandangannya barang sejenak. Setiap Eliot mengeluarkan suara saat berbincang dengan wanita itu melaui panggilan suara, matanya bertambah bulat. "Kenapa dia masih mengganggu?" umpat Selena kesal. Dia melipat tangannya di atas dada menahan amarah yang hampir membuncah. "Minta dihajar," tambahnya terus-menerus. Dia tak tahan mendengar wanita genit itu menggoda suaminya.
Setelah Eliot selesai, langsung Selena berbalik pergi.
"Sepertinya aku akan pergi," kata Eliot.
Selena pura-pura tidak mendengar, dan mengabaikan Eliot. Langkahnya tak henti berjalan menuju kamar untuk berbenah diri. Meski jengkel dengan Eliot, sebisa mungkin Selena menutupi perasaannya.
Siapa yang tidak cemburu jika melihat suami berbincang dengan masa lalunya? Bahkan ingin bertemu. Sungguh Selena murka melihat wanita itu.
Sejak dulu sampai sekarang tidak henti-hentinya menggoda Eliot. Dia Shania Terey, cinta pertama Eliot.
"Aku akan memotong kakinya jika berani keluar dari rumah ini," gerutu Selena.
~Dua jam kemudian ~
Selena keluar dari kamar setelah sekian lama bersembunyi di dalam sana. Dia bersengaja mengunci pintu kamarnya agar tidak perlu melihat Eliot pergi dari rumah.
"Kenapa belum pergi?" tanya Selena.
Bukannya pergi, Eliot malah asik menonton drama televisi dengan pakaian yang belum berganti. Dia duduk mengemil makanan yang diletakkan di pangkuannya. "Siapa? Aku?" tanyanya balik. Mukanya terlihat kebingungan saat istrinya bertanya dengan muka cemberut.
"Bukannya Shania mengajakmu bertemu. Kenapa belum pergi juga?"
__ADS_1
"Kau mengenalnya?" Sontak Eliot terkejut. Padahal dia sama sekali tidak pernah menceritakan apa pun kepada Selena. Lalu darimana wanita ini bisa tahu?
"Tentu saja. Aku kenal betul siapa wanita itu!"
"Mengerikan ... kau mengerikan," ucapnya bergidik ngeri. "Apa kau mencari tahu tentang hidupku?" tebak Eliot.
Selena duduk ke sebelah Eliot, lalu dirampasnya camilan di tangan suaminya. Selena mengunyah renyah cemilan itu dan dihancurkannya dengan bengis. Eliot sampai tidak fokus menikmati drama yang berlaga di depannya karena wanita itu terlalu berisik.
"Aku sudah mengikutimu sejak masih kecil. Jangankan Shania, bahkan tahi lalat di bokong kirimu pun aku tahu," katanya dengan mata masih fokus menikmati drama.
Eliot bergeser dengan pelan menjauh dari Selena. Dia melirik ke arah belakangnya kemudian menutupnya kemudian. Dia ternganga kagum melihat betapa teliti Selena. "Aku bahkan tidak tahu ada tahi lalat di sana," balas Eliot terkejut. "Apa kau mengintip ku saat mandi?" duganya curiga.
"Cih, lupakan saja. Sebaiknya kau jangan bertemu dengannya jika masih ingin wanita itu berjalan menggunakan dua kaki," katanya mengancam bersama raut datarnya.
"Bukan urusanmu. Jika aku ingin tidur bersamanya kau tidak berhak melarangku," balasnya angkuh.
"Ada apa denganmu?" Eliot terdiam, dia memeluk Selena dan mendekapnya erat. "Kenapa raut wajahmu begitu jelek," ledek Eliot bercanda.
Selena melepas cengkraman tangannya dari kerah baju Eliot, lalu dengan pasrah menerima dekapan hangat suaminya itu. Mimiknya berubah sendu. "Aku iri padanya," kata Selena tiba-tiba. Kelopak matanya terkulai sayu dengan bibir mengendur ke bawah.
Shania merupakan teman kecil Eliot sejak berusia sepuluh tahun, saat itu Selena masih menginjak usia lima tahun. Keduanya begitu dekat, hingga Selena tidak dapat menggantikan posisi Shania di hati Eliot.
Wanita itu terus saja berada di dekat Eliot, dari mulai sekolah dasar hingga kelulusan perguruan tinggi. Sekali Selena pernah tak sengaja melihat keduanya berciuman ketika berada di ruang biola mansion milik Keluarga Alaric.
__ADS_1
Semenjak melihat Eliot dan Shania begitu dekat, akhirnya Selena kecil mati-matian belajar bermain biola agar dapat berdiri di samping Eliot. Mulai saat itu pula dia begitu terobsesi meniru gaya dan pola hidup Shania. Dia tak suka rambut panjang, namun melihat betapa anggun dan cantik wanita itu, Selena pun memanjangkan rambutnya.
"Aku cemburu saat kau dan dia duduk berdua sambil bermain biola," kata Selena dengan suara pelan.
Eliot tersentak. Dia duduk dari posisi tidurnya ingin menanyakan banyak hal pada Selena.
"Siapa kau sebenarnya?" tanya Eliot bingung.
Dia tak sadar bahwa selama ini Selena telah mengikuti jalan hidupnya. Berada dekat dengannya tanpa sepengetahuan dirinya.
Pipi Selena memerah. Dia menunduk sambil menutupi raut malu yang terselip di wajahnya. "Aku mencintaimu, Eliot, mulai dari dulu sampai sekarang," katanya. Matanya berbinar-binar. "Aku terus berjalan di belakangmu, menonton punggungmu secara sembunyi-sembunyi dan diam-diam menikmati senyummu," ungkap Selena tanpa menoleh. "Bukankah menjijikkan? Ck, aku tidak peduli, aku sudah muak menutupinya selama ini," decaknya kesal pada diri sendiri. "Makanya ... kau harus membalas perasanku!" perintah Selena memaksa.
"Polos? Semua orang sudah tertipu," tutur Eliot menyindir.
Dia tak menyangka istri lugu dan pendiam itu ternyata adalah seorang yang mengerikan. Terobsesi dengan dirinya. "Apa kau punya penyakit mental?" tuding Eliot.
Selena terkekeh geli mendengar dugaan Eliot. Dia duduk tepat di pangkuan Eliot, kemudian menarik lembut tangan suaminya agar terlingkar di pinggangnya. Dia menyenderkan kepalanya dengan senyum licik. Wanita yang ofensif.
"Orang-orang biasanya menyebutku gila," katanya. "Aku tidak akan membiarkan siapapun mengambil mu dariku. Kau milikku," bisiknya.
Sontak Eliot terpaku membisu mendengar suara kecil Selena yang berumrum memikatnya. "Aku baru tahu kau tidak punya malu sedikit pun," balasnya sambil mengendus tengkuk leher istrinya itu. Dia mulai mengetatkan dekapannya seraya membelai rambut Selena dengan lembut. "Bisakah kita melakukannya di sofa?" tanya Eliot jahil.
Selena bangun dari pelukan Eliot dengan cepat, lalu menutup matanya menggunakan telapak tangan. "Tinggimu saja tidak muat setengahnya, malah memaksa bermain di sana. Kau bodoh atau tidak tahan lagi?" katanya mengejek. "Bagaimana kalau di atas ranjang?" tawar Selena sambil menunjuk kamar yang tertutup rapat.
__ADS_1
Eliot memijat pelipisnya, wajahnya yang beku tiba-tiba senyum sumringah melihat betapa liar istrinya itu. Langsung Eliot menggendong tubuh ringkih Selena lalu diletakkannya lembut di atas ranjang. Satu per satu dilucutinya pakaian wanita itu, hingga tak ada sehelai benang pun tertinggal di sana. "Jangan salahkan aku jika nanti tidak bisa berjalan dengan baik," kata Eliot memperingati. Dia menunduk hendak memangsa bibir tak terpoles milik Selena.
Selena menutup bibir Eliot. Kemudian dia berpaling mengindari tatapan Eliot. Tampak wajahnya sedang sesak menahan tekanan tubuh Eliot yang gagah. "Pe-Pelan saja," pinta Selena lirih. Mukanya berubah merah padam seperti kepiting rebus. Selena akan kewalahan jika pria itu sampai mengguncang tubuhnya dengan kencang. Dia masih mengingat seberapa brutal Eliot kemarin malam. "Aku bisa lumpuh kalau dia mengeluarkan tenaganya," gumam Selena dalam hati. Dia menutup matanya sambil menahan nafas menunggu Eliot memulai aksinya.