My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 26


__ADS_3

Selena berakhir di kantor polisi, sementara empat wanita tak sadarkan diri itu dilarikan ke rumah sakit. "Lucu sekali, aku korban di sini!" tegas Selena menerangkan. Dia meronta-ronta meminta keadilan dari Kepala Penyidik di ruangan khusus oknum-oknum terkasus.


"Ini pertemuan ke-dua kita," ungkap Kepala Penyidik sambil menatap datar wajah Selena. Ingatannya masih jelas mengenal wanita tak asing ini, belum berlalu satu bulan mereka dipertemukan kembali setelah pertemuan mereka beberapa minggu yang lalu. Meski kali ini tampaknya dia hanya sendiri, tanpa suami. (kelengkapan di eps.2)


"Tolong kalian usut kembali, aku hanya korban!" terangnya berulang kali meyakinkan para petugas keamanan tersebut. Tidak ada satu pun yang menghiraukan dia, semua menatap Selena dengan penuh keraguan.


Tentu saja tidak ada yang percaya bahwa dia menjadi korban pada kasus ini. Jelas-jelas empat wanita harus dilarikan ke rumah sakit karena mengalami luka di beberapa bagian tubuh, terlebih karena semua pingsan di tempat.


"Aku bersumpah! Sopir ini saksinya, juga ada kamera dashboard di mobilnya. Tolong kalian pertimbangkan," bujuknya berusaha meloloskan diri.


Sopir taksi online itu hanya mengangguk membela Selena. Dia pun merasa bersalah karena tidak menyelamatkan penumpangnya itu. Dia mati-matian meyakinkan para polisi bahwa Selena tidak bersalah.


"Tuh! Dengarkan Bapak ini berbicara. Dia saksi hidupnya."


Kepala Penyidik itu mulai kesal mendengar suara pengang yang terus mengganggu pendengarannya. Dia menatap Selena dengan wajah datarnya, lalu mendengus panjang. "Iya iya, kita tunggu saja pengacara mu." Dia berdiri mengambil beberapa tumpukan kertas dari sebelah mejanya. "Berisik sekali," umpatnya kesal dengan suara pelan, tak ada yang mendengar kecuali telinganya sendiri.


Tak!


Tumpukan kertas itu terjatuh. Saat badannya kembali berbalik untuk meletakkan lembaran-lembaran putih itu ke mejanya, tiba-tiba matanya tertuju pada sosok pria gagah di ujung pintu. Pria tulen sepertinya pun sampai terpanah kaget melihat pesona yang dipancarkan oleh laki-laki karismatik di ujung sana.


"Eliot!" Selena tegak menyambut kedatangan sang suami. Dia menampakkan raut menyedihkan untuk mengundang iba dari Eliot.


Dengan muka cengo, Kepala Penyidik tersebut bergantian melihat Selena kemudian kembali lagi memperhatikan Eliot. "Ha? Dia bocah tengik waktu itu?" tanyanya terkejut. Dia nyaris tak mengenal cecunguk nakal yang hobi keluar masuk kantor polisi. Sangat tampan, dia bahkan tersentak kaget. "Wah! Dia berwibawa sekali, tidak menyangka perubahannya terjadi secepat ini. Kau ahli juga memberikan motivasi padanya," celetuk kagum Kepala Penyidik pada Selena. Dia sampai melupakan tugasnya mewawancarai Selena karena terpaku memandangi pria bertubuh kekar sana.


"Dia merundung wanita hingga tak sadarkan diri."

__ADS_1


"Perundungan apanya? Tidak mungkin aku merundung empat orang!" sulak Selena tidak setuju saat Polisi menjelaskan titik masalah kepada Eliot.


"Benar juga," angguk Kepala Penyidik setuju. Setelah melihat rekaman video hasil tangkapan kamera dashboard mobil taksi tersebut, dia semakin paham. Terlihat empat wanita rusuh itu mencegat mobil yang ditumpangi Selena. Jelas bahwa merekalah yang lebih dulu menyerang.


"Bagian mana yang terluka?" Eliot menyelusuri sekujur tubuh istrinya dengan panik. Hatinya gundah selama perjalanan menuju kantor polisi ini, takut jika terjadi sesuatu yang buruk pada Selena.


Dia berpikir bahwa Shania bersama gengnya telah menghabisi Selena, terbersit membayangkan bahwa sekarang istrinya itu mendapat luka atau memar akibat pengeroyokan yang dilakukan mantan pacarnya tersebut.


"Aku baik-baik saja," jawabnya menepis kecemasan Eliot. "Mereka bukan ancaman bagiku," sambungnya menyombongkan diri.


Konsentrasi Kepala Penyidik dan Eliot tertuju pada layar monitor, mereka mengangguk kemudian menggelengkan kepala secara serentak ketika menyimak setiap detik pada rekaman itu. Mereka ikut geram setelah menonton bukti rekaman tersebut.


"Bagaimana?" Selena tersenyum bangga karena akhirnya Kepala Penyidik percaya juga dengan pernyataannya setelah beberapa kali membela diri.


Selena tersenyum. "Tentu saja," jawabnya.


"Namun mereka memar, kau harus tetap dihukum juga. Terlebih karena kau ini seorang pesilat, tentu saja akan ditindak pidana," jelas Kepala Penyidik menyayangkan.


Eliot melipat tangannya di atas dada. Dengan tenang berusahalah mencari jalan tengah bagaimana cara membebaskan istrinya dari jeratan polisi.


Tidak bisa dipungkiri sekarang kepalanya begitu pusing melihat tabiat Selena. Dia sampai menarik napas seraya memijat pelipisnya karena tidak mengerti lagi harus bagaimana menanggapi ulah istrinya.


"Biarkan pengacara ku yang membereskan ini semua," katanya dengan wajah kelesah akibat kelelahan.


"Ayo, pulang! Sepertinya kau harus diberikan pelajaran," rutuk Eliot sembari menarik tangan istrinya tersebut keluar dari ruangan.

__ADS_1


Kepala Penyidik itu lagi-lagi hanya bisa duduk diam menonton kepergian dua sejoli itu terbebas dari jeratan hukum. Susah payah mendapat kasus, ujungnya dilepas juga. "Anak dan ayah sama saja," rutuknya menggeleng-gelengkan kepala.


...***...


"Bukankah kau bilang pergi mengunjungi kakekmu? Kenapa masih berkeliaran?!" Suara Eliot meninggi. Emosinya memuncak karena khawatir dengan keadaan Selena.


Selena terpegun menel*n amukan dari suaminya. Matanya berubah basah. Dia sangat kecewa karena Eliot melimpahkan masalah kali ini seolah kerena perbuatannya. Dagunya berkedut menahan tangis yang hampir pecah. "Aku tidak berkeliaran! Aku baru saja pulang dari sana, dan tiba-tiba ... mereka datang menyerang ku!" jelasnya dengan suara lirih menyanggah air mata agar tidak menetes.


"Lalu kenapa kau malah pergi ke arah kota? Bukankah rumahmu ada di pinggir persimpangan?!" Dia benar-benar tidak bisa menahan amarahnya. Ingin sekali memeluk tubuh istrinya tersebut, namun dia harus bersikap tegas agar Selena kedepannya lebih berhati-hati lagi.


"Aku hanya ingin berbelanja, apa itu salah menurutmu?! Lagi pula aku tidak tahu kalau mantan pacarmu itu akan mengganggu. Seharusnya kau salahkan dia, kenapa malah mengamuki aku?" Dari ujung mata indahnya, terurai air mata sebening kristal. Dia tidak dapat membendung tangis yang sejak awal ditahan olehnya.


"Tidak seharusnya kau memukuli mereka. Bukankah kau punya dua kaki untuk berlari? Kau punya mulut untuk meminta tolong, kenapa harus melawan mereka?" Bukannya berhenti menyalahkan, Eliot semakin mengeraskan suaranya. Dia membentak Selena.


"Kau masih menyalahkan aku?" Selena menatap manik Eliot dengan penuh kekesalan. "Terus bela wanita itu! Pergi sana temui dia! Kenapa kau malah menyempatkan waktumu membebaskan aku, biarkan saja aku mendekam dipenjara. Kau bisa bermesraan dengan Shania sesukamu!" Selena mengepal tangan, kemudian memukuli dada Eliot berkali-kali. Dia meluapkan kekesalan pada suaminya bersama tangisan yang terus membasahi pipi.


Eliot bergeming membiarkan istrinya menghajar habis dada bidang itu. Dia tetap diam menunggu hingga wanita itu mengehentikan pukulan tangan dari atas dadanya. "Aku khawatir padamu," kata Eliot. Suaranya merendah dan serak.


"Kau bohong! Jujur saja, kau takut 'kan jika aku membunuh Shania? Katakan! Jawab aku!" Dia meraung-raung tak henti berprasangka buruk terhadap suaminya.


"Ya ... aku takut," sahutnya. "Aku tak ingin kau dijebloskan ke dalam penjara."


🖤Jangan lupa like, subscribe dan vote yah🖤


__ADS_1


__ADS_2