
Suasana tegang itu secepatnya ditepis Selena. Dia tidak tahan berada di posisi canggung bersama Eliot di ruang hotel luas yang terus menghimpitnya.
Selena mendekat, dicoleknya tangan Eliot pelan, kemudian dipegangnya. Matanya tak menatap karena gugup. "Bisakah kau pulang bersamaku?" pipinya merona. Bola matanya berbinar-binar setelah untaian kata itu terucap. Meski tahu kalau suaminya tak akan sudi pulang bersamanya, tidak ada salahnya mencoba.
"Dengan senang hati," jawab Eliot. Langsung dia memakai pakaiannya agar secepatnya pulang bersama Selena. "Tapi ada syaratnya," sambungnya setelah pakaian lengkap itu terpasang di tubuh gagahnya. "Masak kan sup untukku," pintanya dengan senyum yang bersembunyi di balik wajah bekunya.
Selena mengangguk setuju. Apa pun syaratnya, dia akan lakukan agar pria itu pernah menginjakkan kaki ke rumah mereka yang sepi.
"Aku pergi dulu sebentar, tunggu aku di sini," suruh Eliot. "Aku hanya punya satu mantel, seharusnya Dion juga membawa mantel," jelasnya.
Selena mengikuti langkah Eliot tanpa sepatah kata. Dia mengekor seolah budak suaminya. Sudah sampai di ujung lorong, dia tetap saja membuntuti Eliot. Sampai-sampai pria itu merasa terbebani. "Kenapa kau tidak bisa diam menunggu di sana?" tanya Eliot seraya menunjuk pintu kamar 302 yang baru saja mereka pakai.
Selena terdiam. Dia kaku seolah lidahnya keluh. "A-Aku takut naik motor terlebih dibonceng manusia serigala sepertimu," tukasnya menerangkan. Dia menampakkan ekspresi yang mengingatkan Eliot akan kejadian terakhir kali dan menyebabkan perang dingin diantara keduanya.
"Aku bawa mobil," ucapnya. "Lagi pula hujan begini lebih aman mengendarai mobil daripada motor," terangnya kemudian.
"Terserah."
...****************...
"Kau yang menyetir atau aku?" tanyanya dengan mimik menyebalkan. "Berandalan bermotor sepertimu sepertinya tidak bisa menyetir mobil," ledek Selena. Pipinya mengembang menghina suaminya itu.
Eliot menatap dengan sangar, dia menyentil dahi Selena tanpa ragu, lalu masuk ke dalam mobil mengambil alih setir.
"Brengsek! Dia keren sekali, rasanya ingin pingsan," celetuk Selena senang. Dia menyetuh bekas jemari Eliot hingga hatinya menari-nari mengingat betapa mempesona perlakuan suaminya itu.
~Mobil~
Selena terus memusatkan perhatiannya pada wajah suaminya. Tidak lepas barang sejenak. Dia tersenyum memandangi ketampanan Eliot.
__ADS_1
"Bisakah kau jauhkan tatapan menjijikkan mu dariku? Mesum sekali," sulak Eliot menggerutu.
"Tidak, tidak bisa. Pemandangan seperti ini tidak boleh dibiarkan terbuang sia-sia," jawabnya tanpa memalingkan pandangannya. Dengan penuh obsesi Selena mendelik lembut.
"Ck, singkirkan matamu dariku atau kau akan ku buang di sungai sana," ancam Eliot bertepatan mereka sedang melintasi jembatan.
"Cih, pelit sekali," rutuk Selena kesal.
Hujan semakin deras, awan yang semula mendung berubah gelap. Peringatan berkali-kali terdengar dari radio yang berputar menemani perjalanan mereka. Cuaca ekstrim terkabar dari sana.
"Kita pelan-pelan saja," kata Selena takut. Dia resah jika sampai terjadi sesuatu yang buruk. Entah mengapa setiap langit menghitam dan hujan menderu, hatinya berubah gelisah. Dia selalu teringat dengan kejadian ketika usianya masih lima tahun- saat ayah ibunya mengalami kecelakaan maut.
"Mau seberapa lambat lagi yang kau inginkan? Ini sudah paling pelan," jawabnya.
Saat berada di tengah ketenangan tiba-tiba Eliot berhenti mendadak. Jalanan sepi tadi berganti padat saat beberapa kendaraan berkumpul di hadapan mereka. Sangat ramai, hingga mereka tidak bisa melewati gerombolan pendengara yang mulai turun dari mobil masing-masing.
"Kenapa mereka berhenti?" tanya Selena. Wajahnya berubah pucat, sekujur tubuhnya menggigil. Perasaannya terombang-ambing tidak siap melihat kenyataan di depannya. Dia takut jika kejadian lampau terusik kembali.
Selena diam terpaku. Pandangannya kosong diam-diam melirik segerombolan manusia dari balik kaca mobil mereka. Seketika kepalanya terasa sakit seolah ditusuk berubu belati. Mata Keringnya berubah basah. Bukan air mata.
"Tidak ... tidak ... tidak!!!"
Selena meraung-raung tanpa alasan. Dia membuka sabuk pengamannya lalu berlari mendekati lautan manusia sana. Langkahnya tertatih.
"Selena!" panggil Eliot menghentikan istrinya.
Hujan deras itu mengguyur baju Selena. Tidak peduli petir yang menyambar, Selena tetap berjalan mendekati korban kecelakaan tersebut. Kini tangisnya merembes keluar bersama rintik hujan yang membasahi pipinya. Semakin kencang angin berhembus, semakin kuat hatinya ingin memastikan kecelakaan tersebut.
"Papa ... mama ... Selena akan menolong kalian, jangan pergi, Selena sudah datang!" rintihan kecil itu berhasil menarik perhatian para manusia di tempat kejadian.
__ADS_1
Dia menerobos masuk dengan mendorong dan menepis orang-orang yang menghalangi langkahnya. Tidak peduli tanggapan mereka, baginya yang terpenting sekarang ini adalah menggapai korban yang tergeletak bersimbah darah itu.
Seorang wanita terpelanting jatuh dari mobil karena tidak sengaja menabrak pagar pembatas jembatan. Terlihat beberapa bagian tubuhnya berserak tidak tentu arah akibat benturan keras yang terjadi.
"Mama!" teriak Selena. Dia berlari sekencang-kencangnya dan mendekap wanita yang terkapar tak sadarkan diri. "Tolong ... tolong selamatkan mama, aku mohon siapapun tolong mama!" ucapnya terisak-isak.
Eliot kala itu tidak bisa memahami jalan pikiran Selena. Dia tertegun penuh iba melihat raut menyedihkan dari wajah sang istri. Seolah kakinya tidak dapat bergerak mengehentikan Selena.
"Eliot ... selamatkan mama, aku mohon!" pintanya.
Eliot tak sanggup mendekat, rasanya mual ketika melihat bagian tubuh yang terpisah. Langkahnya beringsut mundur, tak tahan melihat darah yang terus mengalir bersama derasnya hujan. Bau amis itu terus mengejar perpijakan Eliot, sungguh dia benar-benar tidak kuat lagi.
Namun wanita itu sepertinya membutuhkan pertolongan. Tangisan itu terdengar menyakitkan. Trauma Selena akhirnya terbuka kembali, setelah sekian lama dia berusaha mengubur kenangan kelam itu.
Eliot kembali berbalik, ditariknya Selena dengan pelan, lalu dipeluknya erat. Dia mengusap air mata Selena, kemudian dia menepuk punggung Selena berulang kali. "Tenangkan dirimu, semua akan baik-baik saja." Eliot menutup mata Selena, dibawanya perlahan menjauh dari tempat mengerikan itu.
"Mama membutuhkan ku, Eliot." Tak sadar tangannya memeras baju pria itu karena gelisah. Tak henti-hentinya dia memohon, sampai Eliot harus membungkam mulut istrinya dengan paksa.
Eliot mencium bibir Selena agar tak bisa bersuara. Dia terpukul mendengar rintihan Selena.
"Berhenti menangis aku sudah tidak kuat lagi. Jangan pernah tunjukkan ekspresi menyedihkan seperti ini di hadapanku, atau aku akan luluh."
Selena merangkul suaminya dengan erat, tangannya terus mencengkram sampai Eliot dapat merasakan tubuhnya yang bergetar.
"Aku tidak tahu sekejam apa masa lalumu, tapi setidaknya sekarang aku ada di sini. Menangis lah sepuasnya, aku akan terus menghapus air mata mu, Selena," sambungnya menenangkan isak istrinya.
Kicauan ambulance terngiang keras di kepala Selena. Semakin dekat, hingga traumanya terputar jelas bagai rekaman di hari yang sama. "Aku takut," katanya seraya mengencangkan dekapannya.
Setelah berhasil menenangkan Selena. Eliot menggendong istrinya itu masuk ke dalam mobil. Diinjaknya pedal gasnya, meninggalkan tempat itu secepat mungkin. Disaat semua orang heboh berkerumun, dia tanpa rasa bersalah menekan klakson tanpa henti. Manusia-manusia yang menutupi jalan langsung menepi mempersilahkan mobil yang dikendarainya lewat.
__ADS_1
"Menjengkelkan sekali," rutuknya kesal.