
Lama tidak mengunjungi markas geng motornya, Eliot merasa asing dengan tempat perkumpulan manusia berandalan itu. Meski kedatangannya disambut hangat, namun tidak merubah suasana yang ada di hatinya. Teman-temannya bersorak kegirangan melihat Eliot akhirnya kembali lagi.
"Wah ... kau tampan sekali pakai kemeja ini. Terlihat lebih berwibawa, aku tidak menyangka kau akan sesukses ini," kata salah seorang teman. Dia menepuk pundak Eliot sembari melemparkan tatapan bangga.
Eliot tidak merespon. Wajah kakunya tetap datar. Semua orang di markasnya sudah terbiasa dengan raut beku pria ini. Sedih dan bahagia tetap bermimik yang sama, tanpa eskpresi sama sekali.
"Apa Shania pernah kemari?" tanya Eliot.
Kedatangannya kali ini bukan untuk membuang-buang waktu sibuknya menyapa teman-teman bertato di markas ini, melainkan ingin menyelesaikan semua permasalahan dengan Shania. Tempat pertama yang terlintas di benaknya adalah markas geng motor. Wanita itu sering berada di sini.
"Ho ho, apa kau merindukannya? Ingat istrimu, Eliot." Pria itu terus mengoceh. Padahal Eliot tidak menghiraukan candaannya.
"Tidak perlu mengajariku. Cukup katakan dimana wanita itu," jawab Eliot yang sudah muak mendengar senda gurauan temannya.
Pria itu terdiam. Diliriknya teman-teman yang lain dengan wajah gelagap. Dia takut karena Eliot tampaknya sedang dalam suasana hati yang tidak stabil. Jika terus mengoceh, mungkin lidahnya bisa dipotong oleh Eliot yang kejam.
"Dia sudah lama tidak kemari. Dia sibuk mengurus anak yang dikandungnya. Mungkin dia ada di rumahnya. Tapi sebaiknya hubungi saja dia," saran seseorang yang lain.
Tidak perlu menanyakan kepada Shania, Eliot pun sudah tahu dimana wanita itu sekarang. Dia menghapal tempat-tempat yang sering dijadikan Shania sebagai persinggahan.
Sekarang waktu istirahat jam makan siang, dia menggunakan waktu sempitnya untuk mencari keberadaan Shania, mantan pacarnya yang sedikit tidak waras. Selain di markas, tentu wanita itu sedang berada di kasino.
Tidak ingin membuang waktu, Eliot pun melaju kencang menuju kasino. Jaraknya terbilang dekat, hanya butuh waktu lima menit, dia pun tiba di tempat ramai dimana manusia kotor sering mengunjungi.
"Yo, Bung! Untuk apa kau kemari? Bukannya sedang sibuk mengurus perusahaan?" Sapa Dion. Dia mengambil segelas koktail dari nampan yang dibawa bartender. Diberikannya pada Eliot. "Sudah lama tidak minum bersama," suguhnya sambil mengangkat alis, pertanda ingin mengajak bersulang.
__ADS_1
Eliot menelan minuman bersoda itu dalam sekali teguk. Dadanya seakan terbakar, gas minuman tersebut terlalu banyak. Dia sampai memejamkan mata menahan kobaran gas yang berjalan menyelusuri lambungnya.
"Pelan-pelan! Ada masalah apa?" Dion sudah tahu, jika sudah beraut begitu, Eliot pasti sedang dalam kegaduhan. "Kali ini karena ayahmu atau Selena? Atau pekerjaanmu?" tebaknya menerka-nerka.
Eliot mengerling, melihat ke arah kanan dan kiri. "Aku mencari Shania, wanita itu semakin menjadi-jadi. Selena kabur dari rumah saat tahu soal kehamilan Shania."
Sudah tertebak. Masalahnya kali ini adalah Selena. "Benarkah? Aku tidak tahu akan separah itu. Lalu bagaimana?"
"Kau tahu sendiri Selena keras kepala. Dia bahkan tidak mendengar penjelasan ku," keluh Eliot.
"Mau segelas lagi?" tanyanya. Dia tahu suasana hati Eliot sedang tidak baik. Entah dengan cara apa dia menghibur, hanya bisa menawarkan minunan yang memabukkan ini.
"Tidak, aku masih harus kembali ke kantor."
"Baiklah, kalau begitu aku antarkan ke kamar Shania. Sudah dua bulan dia tinggal di sini. Aku hampir muak melihat wanita itu." Dion menumpahkan kesah yang sejak awal sudah kesal menampung Shania. Dia ingin sekali mengusir pergi wanita itu, namun ancaman gila yang diberikan Shania terus membelenggunya. "Kalau bisa mengusirnya akan lebih bagus," tambahnya.
"Shania!" teriak Eliot. Dia menggedor-gedor pintu tersebut dengan kasar. Tidak ada kelembutan sama sekali.
"Pelan sedikit, harga pintu itu sangat mahal," repet Dion menghentikan Eliot. Dia takut pintu kamar penginapan itu rusak, akan sulit direnovasi jika sampai rusak.
"Cih, perhitungan sekali."
Meski mulutnya menggerutu, namun dia melembutkan sentuhannya. "Shania!" Suaranya tetap keras.
Akhirnya wanita itu keluar setelah sekian lama berteriak. "Eliot!" Dia tersenyum dengan bibir dipenuhi warna lipstik yang memikat. Begitu merah. Dion saja sampai melongo melihat menor riasan wajah wanita itu. "Kenapa ada dia?" Langsung Shania memperbaiki pakaian terbukanya. Tangannya bergerak menutupi dadanya yang menonjol.
__ADS_1
Dia lama membuka pintu karena sibuk memakai make-up. Bukan hanya itu, sempat-sempatnya Shania mengganti pakaiannya dengan lingerie. Dia berpikir untuk merayu Eliot menggunakan tubuhnya.
"Pagi-pagi memakai pakaian haram ini? Apa tujuanmu?" Alisnya mengerut melihat wanita aneh di depannya.
"Lupakan. Kau kemari hanya untuk mengamuki aku, bukan?" tebaknya. Wajahnya berangsur kecut. "Aku tidak akan meladeni mu jika membahas tentang Selena."
Dion menggeleng-gelengkan kepalanya mendengar suara Shania, rasanya ingin mencabik-cabik mulut wanita itu.
"Siapa ayah dari anak yang kau kandung?" tanya Eliot.
Shania diam tak menyahut. Dia menutup bibirnya rapat-rapat, tidak akan memberitahu kepada Eliot. Namun diam-diam matanya melirik Dion.
Eliot langsung menyadari. Gerak wanita itu terlalu jelas. "Dion?"
Pria itu tersontak kaget karena namanya disebut. Dia menegang seketika, wajahnya pun berubah mengap-mengap sedang menutupi sesuatu. "A-Apa maksudmu?" tanyanya. Gugup suaranya semakin meyakinkan Eliot bahwa Dion sedang menyembunyikan sesuatu.
"Kau tahu, kan?" Kalimat singkat itu langsung mengguncang Dion.
Matanya berubah fokus ke arah Shania. Dia menatap tajam sembari mengeraskan rahangnya. Dion tersenyum bengis, lalu kembali mengalihkan pandangannya. "Tentu saja," jawabnya. Senyumannya sukses mengintimidasi Shania. "Kau ingat saat aku meminta maaf padamu? Aku benar-benar menyesal kala itu karena tidak segera memberi tahu padamu, Eliot."
Shania nanar menatap Dion, dia memberikan isyarat agar tidak mengucapkan sepatah kata pun pada Eliot. Dia ketakutan. Bagaimana jika pria yang dia cintai tahu tentang kehamilannya? Seperti apa tanggapan Eliot jika tahu kalau dirinya pernah tidur dengan pria lain? Semua kepanikan berebut memasuki kepalanya.
"Jelas bukan kau ayahnya," kata Dion masih memanasi Shania. Dia bersengaja agar wanita itu semakin terancam.
"Dion! Kau tidak takut, ha?" Shania kembali menakuti Dion dengan ancaman basi. "Aku tidak akan segan-segan ...."
__ADS_1
Belum sempat menyelesaikan kalimat murahan tersebut, Dion mendecih. "Lakukan semaumu! Aku sudah lelah diperalat oleh wanita kotor sepertimu. Kau menjijikkan, tidak pernah berkaca? Cih, naif sekali berpikir bahwa Eliot pantas untukmu. Kau terlalu picik untuk temanku, mengerti?"
Beribu panah tertancap dan melukai hati Shania. Kata-kata menyakitkan itu begitu menusuk. Terasa perih, bahkan air matanya tidak dapat menggambarkan betapa sadis ucapan Dion padanya.