
"Melihat dandanan absurd mu, aku tebak kau juga masuk geng motor Eliot," duga Selena. Wajahnya kaku, namun senyum bengis masih terpahat sempurna. Dia sekarang sangat ingin marah, hanya saja Selena menahan diri agar tidak terlihat buruk di depan mata musuh bebuyutannya ini. "Tidak kusangka kau melakukannya sejauh ini ... merayu suamiku. Aku ingat kau ini wanita feminim, tapi sekarang tampang mu seperti anak berandalan bermotor. Cih, jujur saja, kau begini hanya demi Eliot, bukan?" Selena berdecak merendahkan. Dia melirik dari ujung kaki Shania hingga bilah helai rambutnya, lalu dia berdecih. "Menyedihkan," tambahnya.
Shania tertegun sejenak. Benar tebakan Selena, dia merubah kepribadian juga kesukaannya hanya demi Eliot. Dia tak suka warna hitam, dia tak suka bermotor, dia juga tak suka jaket hitam berlogo komunitas mereka. Shania membenci semuanya.
"Benar, perjuangan ku sudah sejauh ini. Sebab itu aku tidak akan berhenti mengejarnya," tukas Shania dengan emosi yang membara. "Aku cinta pertamanya dan sampai kapanpun kami akan tetap saling mencintai. Jangan kira karena Eliot sudah tidur bersamamu maka dia sekejap itu berpaling. Ingat berapa banyak wanita yang sudah dia tiduri, tidak mungkin semuanya akan dia cintai. Kau terlalu naif berpikir bahwa Eliot sudah jatuh hati padamu." Dia mengernyitkan dahi. "Bahkan sebelum tinggal bersamamu, aku dan dia berada di ranjang yang sama. Dia lebih memilih aku daripada istrinya sendiri."
Kali ini kesabaran Selena telah habis. Rautnya berubah. Senyum yang sejak awal dia pertahankan mendadak pudar. Selena mengerlingkan mata dengan tajam. Manik matanya mengecil sehingga membuat Shania bergidik menghindari tatapan wanita bak iblis ini.
"Apa sebelumnya kau sudah pernah dipermalukan di depan umum?" Selena menaikkan alisnya sebelah, seolah sedang menantang.
"Cih, kenapa? Kau ingin mempermalukan aku di sini?" balas Shania.
"Sesuai tebakanmu," lanjutnya.
Selena mengambil botol wine di atas meja, lalu dituangkannya ke dalam gelas hingga habis. Minuman beralkohol itu sampai meleber tumpah dan membanjiri dasar perpijakan mereka. Wanita itu kemudian beridiri. Disiramnya Shania menggunakan wine tersebut. Kemudian dia melempar botol kaca kosong itu tepat di kaki kursi Shania agar seluruh mata tertuju pada mereka.
"Perempuan tidak tahu malu, kau merebut suamiku dan menyuruhku untuk menceraikan dia. Aku tidak akan takut dengan ancamanmu, Shania Terey! Meski kau bilang akan membunuhku jika tidak menceraikan suamiku, maka aku akan memilih untuk mati!" Sandiwara yang sempurna. Bahkan seisi ruangan merasa iba melihat Selena. Semua menyalahkan Shania.
"Apa kau gila?" geramnya. Dia tidak pernah mengancam Selena sama sekali, namun wanita licik itu malah mengarang cerita hingga semua orang menatapnya penuh hina.
__ADS_1
Selena menangis. Dia menitikkan air mata penuh kesedihan. Dia terduduk seolah seluruh tubuhnya tak dapat menopang beratnya. "Kau hanya mantan pacarnya, tapi kenapa kau masih mengusiknya?"
Selena tersenyum bengis. "Bagaimana? Sepertinya manajer tempat ini akan segera datang, masih ingin tetap berlanjut?," tanyanya dengan suara membisik pelan.
"Kau sungguh licik!" Sekejap itu pula Shania angkat kaki meninggalkan restoran tersebut. Dia berlari sambil menutup wajahnya karena malu dipandangi banyak mata.
Selena tidak akan takut kepada wanita manapun yang ingin merebut Eliot darinya, karena dia adalah istri sah. Dia memiliki hak penuh atas Eliot. Namun yang dia khawatirkan adalah perasaan suaminya terhadap Selena. Dia menjadi ragu.
Memang benar beberapa hari terakhir Eliot memperlakukan Selena tidak seperti biasanya. Dia menjadi pria lembut dan penuh kasih. Rumah tangga mereka semakin lama semakin membaik. Hanya saja terbersit di benaknya sebuah keraguan. Apakah benar yang dikatakan Shania? Eliot tidak mencintainya.
Selena mengambil pisau yang terletak di atas meja, lalu dibawanya keluar dari restoran tersebut. Dia berjalan kaki dari lokasi awalnya menuju rumahnya. Jaraknya cukup jauh jika tidak menggunakan kendaraan. Namun begitulah cara Selena untuk menghilangkan pikiran buruknya tentang perasaan Eliot terhadapnya. "Karena wanita itu aku jadi overthinking," gumam Selena.
Tidak peduli pendapat orang lain, Selena tetap berjalan dengan jiwa yang terpukul. Dia takut jika yang dikatakan benar. "Apakah Eliot masih mencintai wanita itu?" tanya Selena. Matanya tak berkedip walau hanya sekali. Terus saja langkahnya bergerak tanpa memperhatikan pejalan kaki lainnya. Dia bahkan tak sadar bahwa lengannya telah menyenggol beberapa pejalan kaki lainnya.
Malam mulai menyentuh. Senja telah menyembunyikan cahayanya dari permukaan bumi.
"Dimana wanita ini?" decak Eliot bingung. Saat masuk ke dalam rumah, tak ada siapapun di sana. Waktu sudah malam, namun wanita itu masih belum juga kembali.
Tidak bisa dipungkiri, Eliot sedikit resah. Tidak biasanya wanita itu pergi tanpa mengabarinya. Ketika dia ingin menghubungi Selena, barulah dia sadar bahwa ponselnya tertinggal.
__ADS_1
Sontak kepanikannya mencuat. Pasalnya, laman ponselnya terbuka dan menampakkan pesan dari Shania. Tidak salah lagi, istrinya pasti sedang pergi menemui mantan pacarnya itu. Langsung Eliot menghubungi Selena berulang kali, meski tak sekali pun diangkat. Dia tak berhenti, Eliot terus-menerus memanggil Selena melalui ponsel genggamannya, sampai akhirnya istrinya menjawab.
"Kau dimana?" tanya Eliot cemas. Suaranya bergetar, napasnya tersendat-sendat. Dia benar-benar panik.
"Aku di depan rumah," jawab Selena dengan lesu.
Eliot berlari menghampiri istrinya tersebut. Perasannya tidak enak ketika mendengar sahutan tak bergairah dari bibir istrinya.
Terlihat dari ujung pagar rumahnya, Selena berdiri dengan wajah tegang dan tatapan membunuh. Auranya sungguh berbeda, bagai jiwanya setengah melayang dan sebelahnya terisi iblis mengerikan. Belum lagi karena sebuah pisau tergenggam di tangannya, membuat Eliot takut jika sampai Selena melakukan hal gila.
"Apa kau masih mencintai Shania?" tanya Selena dengan api berkobar di belakangnya. Tatapan matanya seperti elang, langkahnya lurus tak berpaling dari Eliot.
"Letakkan pisaumu," bujuk Eliot seraya meraih pisau yang tergenggam di tangan istrinya.
"Menjauh! Kau hanya perlu menjawab pertanyaan ku!" senggak Selena. Dia menodongkan pisau tepat di depan dada Eliot. "Apa kau masih menyukai dia?!" teriak Selena. Suaranya begitu melengking.
Tidak ada jawaban dari Eliot, seolah pria itu tidak ingin meladeni kegilaan Selena. Dia menahan napasnya untuk menyebarkan aura positif pada istrinya yang sedang kehilangan akal ini.
"Ck, ternyata kau masih mencintai dia." Selena menjatah rambutnya yang terikat, kemudian sebelah tangannya bergerak hendak menyayat rambut panjangnya yang mengkilap. "Kau menyukai wanita berambut pendek, kan? Maka malam ini aku akan memotong rambutku, agar kau menyukaiku juga. Tidak masalah bagiku, karena dulu aku juga selalu meniru gaya Shania. Aku belajar bermain biola padahal aku tidak suka, aku terus menggunakan gaun yang persis sama dengan milik wanita itu meski aku tidak nyaman memakainya." Matanya berubah basah. Tak ada air mata yang terjatuh, namun mata amber-nya berkaca-kaca menahan tangisnya.
__ADS_1