My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 37


__ADS_3

Kepulangan Selena dan Eliot dihiasi suka cita senandung katak. Dedaunan basah saling meneteskan air sisa hujan kemarin malam. Rumah yang terletak jauh dari hembusan asap kendaraan lalu lalang, dikuasai pepohonan hijau yang tinggi berakar besar.


Sudah dua hari semenjak liburan di pulau indah itu, akhirnya Eliot harus kembali lagi sibuk mengurusi pekerjaan kantor yang tidak kunjung selesai. Ingin rasanya tetap bersama sang istri, namun lembaran kertas yang menumpuk sudah berteriak memanggil namanya.


"Aku buatkan bekal siangmu, yah." Selena hendak melangkahkan kaki mengisi kotak nasi yang baru saja dia ambil dari lemari gantung. Sejak awal dia sudah sibuk menemani pelayan baru yang dikirim oleh mertuanya.


"Tidak perlu, kau makan saja. Jangan urus apa pun selain perutmu," jawab Eliot menolak. Meski terdengar kasar, jujur saja, dia hanya tak ingin istrinya malah repot karenanya.


"Aku ingin buatkan! Nanti aku akan antarkan ke kantormu," tegas Selena membangkang. Dia bersikeras dan tetap mempertahankan keinginannya.


"Harus dengan bahasa apa aku mengatakannya. Kau hanya perlu mengurus perutmu, tidak perlu mengurus urusan orang lain. Paham?" imbuh Eliot menjelaskan. Dia berdiri dari kursinya sekaligus berpamitan pada Selena. "Jangan keluar dari rumah ini," perintahnya sebelum berangkat dari rumah mereka.


Selena menampilkan wajah masam. Dia masuk ke dalam kamar dan membanting pintu dengan keras, hingga Eliot yang baru sampai di pucuk pintu utama langsung berhenti. Dia berbalik mundur menghampiri istrinya tersebut.


"Kau baik-baik saja?" Rautnya penuh ketakutan. Dia mengira telah terjadi sesuatu yang buruk pada istrinya.


"Tidak! Aku tidak baik-baik saja!" Mata Selena memerah karena air mata baru saja menetes dari pinggir matanya. Wajah damai itu berubah menyedihkan. Dagunya berkerut menahan tangis yang terus menderu merembes keluar.


Pria itu tidak mengerti apa yang membuat Selena menangis pagi-pagi begini. Tidak ada angin tidak ada hujan, istrinya menangis setelah membanting pintu kamar dengan keras?


"Katakan, kenapa kau menangis?" Eliot mengusap pipi Selena lalu meniup pucuk kepala istrinya tersebut berulang. Dia merendahkan suaranya agar wanita yang sedang mengalami mood swing itu terbujuk dan berhenti menangis.


Dia menepis tangan Eliot, lalu merebahkan tubuhnya sembari menjauhkan wajah dari Eliot. "Aku hanya ingin melihat bagaimana bentuk perusahaanmu? Bagaimana ruang kerjamu? Hanya itu. Tapi kau ... kau tidak mengizinkan aku datang ke sana," jelasnya. Masalah sederhana itu dibuat heboh. Hanya karena alasan sepele itu, Eliot harus menunda keberangkatannya.


Eliot menepuk dahinya sekali, lalu menghela napas panjang. Dia melihat jam yang terlingkar di pergelangannya sembari menarik dasi polos yang dikenakannya, dia merasa tercekik. "Hari ini aku ada rapat ke luar kota. Lain kali aku akan membawamu berkeliling," bujuk Eliot meyakinkan Selena dengan janji manis. Dia sangat sibuk, pekerjanya bertumpuk hari ini karena telah cuti selama empat hari.

__ADS_1


Bukannya terayu, tangisan Selena semakin kuat. Dia meraung dengan mulut ternganga lebar. Suaranya terdengar keras hingga pelayan baru yang sedang mengurusi dapur tiba-tiba berlari memeriksa. Memastikan kalau wanita hamil itu baik-baik saja.


"Permisi, Nona Selena ... bagaimana keadaan Anda, Nona?" Dia mengetuk pintu dengan lembut, takut menganggu.


"Ekhem, ya!" jawab Eliot. Dia bersengaja mendeham agar pelayan itu tahu bahwa dia masih berada di dalam.


Pelayan tersebut tidak tahu jika Tuan Muda Alaric itu belum juga berangkat bekerja. Padahal tadi dia melihat bahwa pria tampan itu sudah berpamitan. Langsung dia pergi menjauh dari sana agar tidak mendengar apa pun.


"Lihatlah, dia sampai mendengar suaramu, padahal tadi dia berada di dapur," tunjuk Eliot. "Apalagi yang salah menurutmu?" Dia mulai kewalahan menghadapi tingkah istrinya. Entah ulah apalagi yang sedang dia ciptakan, sungguh diluar nalar, Eliot tidak mengerti awal mula pertengkaran mereka kali ini.


"Kau berbohong, bilang saja kau terganggu jika aku datang ke sana," ucapnya. Selena memeras seprei harum ranjangnya, lalu menggosok-gosok muka basahnya di sana.


Eliot membuka jas hitamnya diikuti memelintir kancing kemejanya. "Sepertinya aku belum bisa meninggalkanmu. Aku tidak pergi ke kantor." Eliot melepas semua aksesoris yang dikenakan sembari mengacak-acak sisiran rambutnya.


"Aku tidak tenang jika kau terus menangis."


Selena menghapus air matanya dengan kaos longgar yang dikenakannya. Hingga seluruh perutnya terekspos. "Entah kenapa aku merasa sedih. Rasanya ingin menangis terus menerus," katanya.


Eliot berpikir. Mungkin karena dipengaruhi hormon. Suasana hatinya berubah dan menjadi seseorang yang sensitif. "Semoga saja dia tidak mengidam sesuatu yang lebih aneh nantinya," gumam Eliot dalam benak. "Sepertinya kita perlu konsultasi dengan dokter."


Selena menggeleng-gelengkan kepalanya berusaha menyangkal pendapat suaminya. "Tidak perlu, aku sudah membaik. Tapi kau harus berjanji membawaku ke kantormu," lirihnya mengacungkan jari kelingking.


"Aku berjanji." Balasnya dengan mengigit jari kurus putih istrinya tersebut. "Aku pergi dulu, ingat ... jangan keluar dari rumah."


"Hmm," angguknya paham.

__ADS_1


Setelah itu tangisnya belum juga mengering. Tidak tahu apa penyebabnya, dia merasa harinya mendung penuh duka. "Tenangkan dirimu, Selena. Eliot pasti sangat sibuk hingga tidak bisa mengajakmu pergi ke sana. Pikiran negatif, pergilah!" Selena menarik napas lalu menghembuskan perlahan. Dia melakukannya terus-menerus hingga tangisnya berhenti mengalir. "Tenangkan dirimu."


Suasana hatinya berubah guyub, tiba-tiba pelayan baru itu memanggil Selena dari luar. Dia memberikan sebuah amplop coklat lumayan besar kepada Selena.


"Satpam memberikan ini pada saya. Kurir mengantar surat untuk Nona Selena." Diserahkannya amplop itu, kemudian langsung undur diri.


"Jaman sudah canggih, kenapa masih kirim surat begini?" Pikirnya surat itu berasal dari seorang teman lama. "Tapi kenapa dia tahu alamatku? Mungkinkah Bram yang mengirim ini?"


Selena membuka tali penutup amplop tersebut, kemudian dikeluarkannya seluruh isian amplop itu. "Apa ini?"


Beberapa lembar foto hasil USG dia dapatkan dari kertas pembungkus berwana coklat itu. Dia bingung kenapa foto-foto itu dikirim untuknya. Usia kehamilannya terbilang masih muda untuk diameter lingkaran kepala juga panjang tubuh janin di dalam foto. "Ini bukan hasil USG kehamilanku," duganya.


Dia semakin memfokuskan perhatian pada tulisan-tulisan kecil di dalam gambar tersebut. Dia memicingkan mata agar lebih jelas memahami setiap penggalan kata yang tertera di sana. "Apa salah alamat?"


Selena membolak-balik kertas tersebut sembari membaca lembaran foto lainnya.


Deg!


Tangannya bergetar tidak mampu menggenggam secarik foto tidak jelas pengirimannya itu. Dia tersentak melihat sebuah nama tertulis di belakang foto tersebut. Shania!


"Tidak mungkin ... ini pasti hanya lelucon."



🖤 Selagi menunggu update cerita ini, kalian bisa membaca novel rekomendasi di atas. Kisah menarik yang dapat menemani waktu luang, terima kasih🖤

__ADS_1


__ADS_2