My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 14


__ADS_3

Satu minggu penuh setelah menjalani rawat inap. San Alaric akhirnya dinyatakan pulih dan dapat kembali beraktivitas seperti sediakala. Meski memiliki beberapa pantangan makan juga kegiatan, dia sudah bisa menjalani hari-harinya sebagai seorang pemimpin perusahaan.


Semua orang bahagia termasuk Eliot sendiri. Namun tak bisa dipungkiri, dia juga gelisah. Pasalnya San Alaric resmi mengumumkan bahwa putranya itu akan memasuki dunia bisnis, dan mulai mengelola perusahaan besarnya yang bergerak di bidang pangan juga sandang.


"Kenapa kau jarang mengunjungi markas?" tanya Dion pada sahabatnya yang murung itu. "Anak-anak yang lain menanyakan mu. Terutama, Shania. Dia setiap detik teringat denganmu, dia khawatir."


Eliot memadamkan puntung rokok yang bahkan belum habis setengah. Dia menyenderkan tubuhnya ke punggung sofa kasino. Dia menengadah lalu mengeluarkan secarik kertas, tentu cek berisi nominal uang delapan angka. "Berikan aku wanita tercantik di sini. Malam ini mungkin akan menjadi hari terakhir ku bisa bersenang-senang." Dia langsung menepi dari sofa itu lalu beranjak keluar dari ruang perjudian tersebut.


Dion terdiam. Mengingat status Eliot saat ini adalah suami Selena, dia pun bimbang antara memberikan pelacur untuk sahabatnya atau melarang. Terlebih mengingat terakhir kali Selena mengancamnya jika membiarkan Eliot sampai tidur dengan wanita lain.


Segera Dion memberitahu Selena tentang niatan Eliot. Dia mengirimkan alamat dan nomor kamar yang akan digunakan Eliot meniduri wanita bayaran nantinya.


"Bajingan ini masih belum jera. Ayahnya baru saja keluar rumah sakit dan dia langsung menyewa wanita untuk bersenang-senang. Apa dia tidak menganggap ku ada di dunia ini sampai dia harus membayar pelacur?!" repet Selena terlampiaskan pada Dion. Dia memuaskan kemarahannya memalui panggilan seluler.


"Sebaiknya kau cepat kemari atau dia akan mengamuk padaku," cegat Dion sebelum telinganya berdarah mendengar rutukan dari mulut wanita gila tersebut.


Saat ini kakeknya sedang berada di rumah, untuk bisa keluar dari kandang mewah tentu harus izin terlebih dahulu. Namun jika dilihat jam sekarang, tidak mungkin Tuan Tomy memberikannya restu keluar rumah, terlebih lagi tujuannya adalah bangunan kumpulan manusia durjana.


"Kemana kau?!"


Baru saja kakinya menuruni tangga, Tuan Tomy dengan sengitnya melemparkan tatapan mengerikan penuh curiga. Dia langsung beridiri dari kursi pijatnya lalu mendekati Selena.


Diliriknya dari ujung kaki hingga bilah helai rambut cucunya. Kemudian bidikannya terhenti saat melihat warna lipstik tebal yang merona. Bagai mawar segar, cucunya berhiaskan riasan wajah menor. Dia langsung menjewer telinga Selena dengan geram. "Apa-apan kau ini? Malam begini berpenampilan seperti barongsai."

__ADS_1


Selena mencoba meloloskan dirinya dari jeratan mengerikan sang kakek. Dia melepaskan tangan keriput kakeknya dari telinga lalu merengek kesakitan memohon ampunan dari Tuan Tomy. "Papa sudah keluar rumah sakit, aku ingin menyambutnya dengan riasan ini!" tegasnya membual demi bisa keluar dari rumah. "Sepertinya aku akan pulang ke rumahku, Kakek tidak perlu menunggu ku," pamitnya.


Sayangnya Tuan Tomy mencegat. Diperintahkannya Selena untuk menghapus semua riasan di wajah cucunya, lalu dibiarkannya pergi. Syarat mudah itu tentu langsung dikerjakan Selena. Dia memungut tissue dari meja, lalu diusapnya asal ke muka. Tak sedikit pun riasan yang menempel di sana. "Sekarang sudah, kan? Kakek puas melihat muka pucat ku? Kalau begitu aku pergi." Dia beringsut cepat dari hadapan Tuan Tomy.


Baru saja menyentuh gagang pintu, Selena berbalik menghadap Tuan Tomy yang masih membara amarahnya. Dia tersenyum sambil melambaikan tangan seraya berkata," Aku tidak akan tinggal di sini. Jangan kesepian Kakekku tersayang!" pamitnya lalu memberikan kiss bye terhangat yang dia miliki.


Hati bengal juga kepala yang keras berhasil membuat Tuan Tomy terkesiap dan tak berkutik. Bukan hanya izin yang dia peroleh, kunci mobil pun berhasil didapatkannya.


"Aku akan mencambuknya kalau bertemu nanti," umpat Tuan Tomy naik darah. "Cucu durhaka hati-hati berkendara!" Pundaknya sampai mengeras melihat cucunya yang sulit diatur. Dengan langkah kaki yang lambat, dia berjalan ke kursi pijatnya sambil menahan marah.


Di sisi lain, Selena yang tidak mengindahkan nasehat kakeknya malah menginjak pedal gas dengan laju kencang. Dia sampai diamuki pengendara lain karena tidak beraturan dalam berkendara. Selena dengan badung menyerobot pengendara lain tanpa menghiraukan rambu lalulintas.


"Maaf, aku sedang buru-buru!" teriaknya setelah menurunkan kaca mobil.


"Selamat bertemu di kamar 302 Eliot. Malam ini kau akan kubuat lumpuh, sampai berjalan pun harus menggelesot."


Dia membuka pintu kamar mewah itu dengan sebuah kartu pemberian Dion sebelumnya. Kemudian setelah itu, diinjakkannya telapak kaki beralas sendal jepit itu dengan kencang.


"Eliot!!!" Suara Selena melengking keras. Ruangan itu bahkan sampai dipenuhi oleh gaung teriakannya.


"Kau! Pengkhianat itu pasti yang mengadu padanya," sangka Eliot. Siapa lagi kalau bukan Dion?


Tubuh Eliot sama sekali jauh dari yang namanya pakaian. Dia bertelanjang dada tanpa celana. Hanya handuk sebatas pinggang hingga paha yang menutup bagian intimnya. Dia begitu terbuka, Selena sampai mengelus dada melihat betapa mengerikan suaminya itu.

__ADS_1


Mata Selena memerah. Dia menahan diri untuk tetap tidak terpancing amarah yang hampir meledak. Seluruh tubuhnya bergetar ketika wajah Eliot sama sekali tidak berekspresi saat Selena memergokinya. Lagi-lagi wajah datar itu menyambut Selena, tidak ada emosi yang tersalur.


Selena melangkah memarani perpijakan Eliot. Mereka bersirobok satu sama lain. Tak ada satu kata pun yang terucap diantara keduanya, seolah sibuk dengan perasaan masing-masing.


Plak!


Satu kali tangannya menampar Eliot dengan seluruh tenaganya. Selena menumpahkan kekesalannya pada Eliot. "Tidak sepantasnya kau berbuat sebejat ini!" senggaknya penuh benci. Dia menatap Eliot dengan hina, matanya kian basah menahan pilu yang hampir merembes keluar.


Plak!


Tamparan kedua langsung menyambar selepas senggakan Selena terucap. Dia benar-benar murka sekarang ini, tampak dari tangannya yang bergemuruh hebat. "Kenapa kau tidak pernah melihatku?! Apa kau lupa bahwa Selena Amaril adalah istrimu, Eliot! Tapi kau ... kau malah menyewa pelacur untuk bersenang-senang. Apa aku semenjijikkan itu hingga kau tidak pernah mengajakku bercengkrama denganmu?!"


Eliot tersentak mendengar Selena berkata demikian. Bukan karena jijik atau tidak sudi. Wanita itu sangat menggugah hasratnya yang beringas, hanya saja Eliot tidak ingin memperdalam hubungannya dengan Selena, hingga akhirnya dia memutuskan untuk tidak pernah menyentuh wanita itu barang hanya satu malam.


"Pergi keluar dari sini, sebelum aku berlaku kasar padamu," suruh Eliot memalingkan wajahnya dari tatapan Selena. Dia tak sanggup memandang wajah Selena yang kuyup.


"Cih, coba saja. Aku akan tetap di sini!" bantah Selena tidak bisa diancam.


"Kau pikir aku takut untuk menyakiti mu?"


Mengingat betapa pembangkang wanita itu, akhirnya Eliot memutuskan untuk mengusir Selena dengan paksa. Dia memikul Selena di atas bahunya, lalu kemudian dibawanya berjalan ke arah luar.


Selena tentu tidak tinggal diam membiarkan pria itu lancang mengeluarkannya dari kamar penginapan mewah beraroma segar itu. Dia memberontak mendera punggung Eliot, lalu digunakannya kaki yang tergantung untuk menggasak Eliot. "Aku tidak mau! Turunkan aku!" rungut Selena berontak.

__ADS_1


__ADS_2