
Setelah tiga hari penuh menjalani rawat inap, Selena akhirnya dipulangkan karena status kesehatan dalam kondisi prima. Anehnya Eliot malah meminta agar Selena tetap dirawat di rumah sakit, apabila terjadi sesuatu yang tidak terduga dokter dapat menangani dengan cepat. Hanya saja pihak rumah sakit tidak menyarankan, takut jika psikologi Selena terganggu karena jenuh terlalu lama menetap di ruang inap.
"Eliot hampir ingin membeli rumah sakit itu," kata Dernia kepada menantunya. "Mama maklum, tapi bukankah terdengar berlebihan, hahaha." Sepanjang hari Dernia selalu berada di sisi Selena. Menjaga dan memantau kondisi Selena serta jabang bayi yang dikandung.
Satu keluarga begitu protektif terhadap Selena. Mereka tidak membiarkan wanita itu bergerak dengan bebas. Dua puluh empat jam dipantau tanpa menyisakan waktu sendiri untuk Selena. Belum lagi para pelayan yang terus mengikuti kemana pun dia berada. Sungguh, dia tidak nyaman.
"Mama ... sebenarnya ada yang ingin aku katakan," ucapnya ragu. Selena menunduk sembari melemparkan senyum terpaksa. Ingin rasanya mengusir mertuanya dari kamar, tetapi dia merasa segan. Terlebih mengingat betapa perhatian Dernia kepada dirinya. "Apa aku sudah boleh pulang? Lagi pula sekarang ini aku sudah baik-baik saja. Aku berjanji akan menjaga kesehatan!" Selena meraih telapak tangan Dernia, lalu di genggamnya erat. Matanya mengedip cepat meminta agar mertuanya itu mengizinkan.
"Loh, kenapa? Ada yang membuatmu tidak nyaman? Ada apa, Selena? Katakan saja apa yang salah?" Bukannya mengijinkan, dia malah semakin protektif terhadap Selena.
"Bu-Bukan begitu, Ma. Hanya saja aku merasa sudah merepotkan Mama dan papa." Lidah manisnya mulai membual. Kalau boleh jujur, ingin rasanya minggat dari mansion tersebut. Menjauh dari manusia-manusia yang sudah membelenggunya. "Aku tersiksa, tidakkah kau sadar?" celetuknya mengumpat dalam benak.
"Tunggu hingga Eliot selesai launching new product. Siapa yang akan mengurusmu di rumah nantinya? Mama tidak akan biarkan kau hidup sendiri." Ketegasannya mulai muncul. Dia tidak sudi membiarkan Selena melangkah dari tempat ini. "Saat pulang nanti, Mama suruh satu pelayan di sini untuk memantau mu, tidak apa-apa, kan?"
Tentu saja Selena hanya bisa mengangguk, meski hatinya berat untuk menyetujui. Namun karena dia adalah menantu penurut, mau tidak mau harus mengiyakan setiap perkataan Dernia.
Dia muak berada di mansion mewah itu. Tidak ada kekurangan, semua fasilitas lengkap. Namun yang menjadi masalah adalah ketika Selena tidak boleh turun dari ranjang kecuali hendak ke kamar mandi. Dia seperti tawanan Keluarga Alaric. Semua anggotanya benar-benar gila.
"Aku sudah tidak tahan lagi," keluah Selena di dalam kamar mandi. Hanya tempat ini lah satu-satunya tempat berlindung. Dia bisa menghirup udara dengan bebas, tanpa ada mata yang mengawasi. "Aku bisa depresi jika terus begini," tambahnya lagi.
__ADS_1
Selena semakin frustasi pula karena Eliot dalam sebulan ini akan disibukan dengan urusan kantor. Pria itu jarang pulang sehingga hari-harinya dilewati dengan suram. Biasanya segala jenis suntuk di kepala akan sirna seketika jika menatap wajah tampan sang suami, namun sudah dua hari, Eliot belum juga pulang dari kantor.
"Selena, makan, Sayang!" panggil Dernia. Tangan mungilnya membawakan nampan berisi berbagai jenis buah-buahan yang telah dipotong. Senyum melekat itu begitu menakutkan bagi Selena. Sungguh dia sudah lelah dengan perhatian Dernia yang sangat mengerikan. "Cukup semua ini, tolong hentikan," batinnya merengek-rengek.
...***...
Waktu demi waktu, hari demi hari, Selena melewati kehidupan kelamnya dengan mengeraskan hati dan pikiran. Meski bendera putih hendak berkibar tanda menyerah, namun usaha menahan tali yang mengikatnya di mansion berakhir juga.
Eliot resmi menyelesaikan pekerjaannya. Setelah hampir sebulan penuh terjerat tuntutan mertuanya yang penyayang. "Akhirnya aku bebas!" sorak riang Selena seraya mengangkat tangannya. Dia terlalu gembira hingga lupa kalau perutnya sekarang sudah mulai membesar, walaupun belum terlalu terlihat jelas.
"Kau senang?" Eliot pun turut tersenyum melihat istrinya itu. Dia tahu betul bagaimana tersiksanya Selena selama tinggal dengan orang tuanya. Kehidupan yang dulu bebas, tiba-tiba terkunci rapat dalam kamar yang luas.
Eliot terdiam. Dia merenung sebentar dan mulai menelaah setiap baris kata yang keluar dari mulut sang istri. "Ehm, ada benarnya juga. Sebaiknya aku berhenti saja mengurus bisnis. Takut jika anak dan istriku hidup tanpa kasih sayang dariku," simpulnya. Dia tidak ingin jika pengalaman yang selama ini dia jalani akan terjadi serupa kepada Selena dan anaknya kelak. Jika memang harus berhenti, dia rela melakukannya.
"Bukan itu yang ku maksud, jangan salah paham. Aku hanya kesal kenapa kau lama sekali membebaskan aku dari mama."
Eliot merangkul tubuh ramping istrinya tersebut. Meski tidak sekurus yang dulu, namun tangan besarnya dengan mudah melingkar di pinggang Selena. "Bukankah sudah lama kita tidak tidur sambil bercengkerama?" Eliot mulai menyingkap baju Selena dari bawah. Ditariknya ke atas hingga badan Selena terekspos sempurna. "Aku merindukan harum tubuhmu, rambutmu, juga bibirmu." Eliot menghirup wangi dari setiap detail tengkuk leher Selena. Dia mengelus bokong Selena, lalu ditepuknya sekali dengan pelan. Tampak dia hanya ingin mengusili Selena.
"Ih, dokter menganjurkan untuk tidak berhubungan badan. Jangan main-main!" senggak Selena. Dia mendorong tubuh Eliot hingga sukses menjauhkan jarak mereka.
__ADS_1
Pria itu kemudian tertawa meski sebentar. "Baiklah, aku juga bercanda."
"Oh yah, apa kita sudah bisa pergi ke pantai? Aku sangat ingin pergi ke sana," rengek Selena meminta.
"Minta izin mama dulu, takutnya dia tidak memperbolehkan kita pergi dari sini."
Selena merengut masam. Mukanya benar-benar pahit bila dipandang mata. "Aku tidak mau tahu, sekarang juga kita harus pergi ke pantai!" rutuknya memerintah.
Ujung cerita, pasangan sejoli itu pun bergegas mempersiapkan diri untuk menikmati desiran ombak. Permintaan wanita itu harus dituruti jika masih ingin kedamaian di dunia ini. Kepergian mereka sekaligus perpisahan antara mertua dan Selena. Setelah sekian lama akhirnya dia dapat pergi dari genggaman mertuanya.
Meski Dernia berat untuk melepas Selena, atas seribu bujuk rayu yang dimilikinya berhasil meluluhkan hati Dernia.
"Kalian hati-hati di jalan. Eliot, jangan kencang-kencang bawa mobilnya. Jaket juga tidak boleh ketinggalan, baju Selena terlalu tipis, takutnya masuk angin." Sangat cerewet. Jelas terlihat bahwa dia enggan membiarkan Selena hidup tanpa pengawasan dirinya.
"Baik, Ma. Kalau begitu kita pulang dulu, yah!"
Ekor mata wanita hampir setengah abad itu pun berair. Dia menahan tangisnya saat melihat mobil yang dikendarai putranya menghilang dari pandangan. Dia tidak rela melepaskan Selana, Dernia begitu mencemaskan kondisi menantunya tersebut. Dia pun merasa sepi tanpa kehadiran Selena di mansion besar ini lagi. Dernia sudah terbiasa berbincang panjang lebar dengan menantunya, hingga saat Selena tidak ada, seketika dunianya terasa berbeda.
__ADS_1
🖤 Selagi menunggu update cerita ini, kalian bisa membaca novel rekomendasi di atas. Kisah menarik yang dapat menemani waktu luang, terima kasih🖤