
Derap langkah teratur dan pelan semakin mendekati pinggir dapur. Wanita itu semakin beringas menatap mata Eliot. Pandangannya lurus tanpa teralihkan. Senyum itu ... senyum mengerikan itu memacu jantung Eliot bergelora dan sesak. Seolah ruangan besar ini terasa sempit akibat tekanan penindasan dari wajah Selena.
Bruk!
Kepalanya terhentak keras pada sebuah lemari gantung yang tingginya tidak seberapa dibandingkan tubuh idealnya. Kakinya tidak dapat mengelak, Selena berhasil mengunci geraknya.
"Kau sedang memancing ku?" tanya Eliot. Dia meletakkan kedua tangannya di atas dada, menghadang setiap tindakan yang akan dilancarkan Selena. "Aku ingatkan sekarang, jangan nekat. Jika kesabaranku habis, kau akan kulahap." Dia memperingati istrinya yang jahil.
Selena tertawa terpingkal-pingkal, hingga badannya membungkuk menahan geli yang terus menggelitik perutnya. Suaminya terlalu tegang menanggapi kekonyolannya. "Akhirnya kau bicara juga. Ternyata kau harus diintimidasi terlebih dahulu," ujar Selena seraya menepuk lengan Eliot berulang kali. Seolah mereka adalah teman sejawat. Dia bertingkah santai menganggap hubungan mereka berada di bawah garis merah. Padahal Eliot saat ini sangat murka padanya.
"Apa menurutmu ini lucu?" Eliot membusungkan dada. Dirabanya kaki lembut Selena perlahan. Gerakannya berirama, dari ujung paha hingga terhenti di gumpalan daging itu; bokong istrinya. "Kau salah besar. Sekarang aku sedang tidak tertarik untuk bercanda denganmu, mengerti?" Dia melepaskan cengkaram tangannya dari belakang Selena, lalu beranjak pergi meninggalkan istrinya di dapur untuk menelaah perbuatannya.
"Sialan, dia terlalu mendominasi. Padahal aku yang mencekam situasi terlebih dahulu," kata Selena bergumul. Dia mengejar Eliot, berniat mengusik suaminya yang tengah berada di suasana hati buruk. "Eliot! Apa kau akan terus begini padaku? Mengabaikan istri cantikmu hanya karena masalah sepele."
Eliot berhenti, matanya terbelalak mendengar mulut Selena yang tidak kunjung berhenti. Terus mengoceh hingga telinganya hampir tegang dan berdarah. Suara melengking wanita itu sungguh menganggu.
"Sepele katamu? Sepele?" Eliot menjegil seraya menggigit bibir bawahnya, menampakkan muka sangar agar istrinya berhenti berbicara barang sepatah kata.
Selena terdiam, lagi-lagi mulut licinnya salah kata. Menutupi kesalahannya, lantas dia tersenyum pahit. "Kita baru saja berbaikan, jangan rusak suasana harmoni ini."
"Siapa yang merusaknya? Aku?"
Selena langsung menggelengkan kepalanya. Menepis kesalahpahaman yang terbersit di pikiran Eliot. Dia tidak boleh menyalahkan suaminya yang sensitif, atau permasalahan akan semakin panjang dan rumit. "Aku yang salah, kau tidak pernah salah. Sekalipun kau membuat kesalahan, aku lah penyebabnya. Jangan pikirkan, kau manusia sempurna, baik hati dan tidak sombong." Selena memuja suaminya, melebih-lebihkan sanjungan demi menyenangkan hati Eliot.
__ADS_1
"Cih, berisik," umpat Eliot. Di balik muka judes itu terselip senyum tipis menanggapi pujian istrinya. Tiba-tiba saja hatinya diguyur bunga-bunga harum karena girang.
"Eliot!" panggil Selena sekali lagi.
"Ada apa lagi?" sahutnya ketus. Dari tadi wanita itu terus menganggu dirinya. Tidak bisa tenang meski sudah diperingati. "Apa, huh?" Selena mematung tidak menjawab. Entah karena sakit hati mendengar respon Eliot. "Kenapa malah diam?" Dia panik melihat sang istri tak berkutik. Benaknya bertanya-tanya," Apa dia sakit hati?"
"Aku hanya penasaran ... kau tidak seperti biasanya. Terlihat lebih tenang dan dingin. Yah walaupun sebenarnya kau orang yang cuek, hanya saja ada sedikit perubahan. Yang jelas kau seakan sulit untuk ku gapai," jelasnya menuangkan pendapat.
Meski dulunya Eliot adalah pria angkuh nan dingin, namun sosok yang sekarang terasa berbeda. Mungkin lebih dewasa?
...***...
Ketika mereka tengah asik duduk berdua menikmati drama televisi, tiba-tiba saja sebuah panggilan langsung dari San Alaric masuk. Menyuruh putra dan menantunya untuk menghindari acara keluarga besar Alaric. Dimana perkumpulan kali ini akan dihari oleh tetua juga keturunan dari Keluarga Alaric.
"Aish ... aku tidak tahu harus pakai apa. Lagi pula papa mengundang pas di hari-H. Seharusnya kabari jauh-jauh hari agar aku bisa bersiap. Lihat sekarang, aku tidak tahu harus pakai yang mana!" Mulut cerewetnya mulai berulang. Kumat sudah penyakit gilanya.
Pakian juga beberapa aksesoris berserakan di atas ranjang. Wanita itu terus melempar dan mencoba setiap helai baju yang di ambilnya dari dalam sana.
"Cukup! Kau cantik memakai apa pun." Eliot merampas hanger yang baru saja ditarik Selena dari gantungan lemari. Dia merasa kewalahan melihat istrinya bolak-balik bercermin lalu berlari mengambil pakaian selanjutnya. "Biar aku yang pilihkan untukmu."
"Benarkah? Apa aku secantik itu? Ehm ... aku malu," ungkapnya tersipu. Dia memegang pipi yang merona seraya mengedip mata.
"Ya, kau sudah puas? Kalau begitu pergi mandi sekarang!" suruhnya seraya mendorong punggung Selena menuju kamar mandi.
__ADS_1
...***...
Liuk lampai Selena terbalut kain panjang berwarna putih berhiaskan manik-manik berkilau mengelilingi pinggang dan bagian lehernya. Jalannya terlihat gemulai karena cetakan pas pada bagian pinggul. Telapak kurus berbalut sepatu berhak tinggi, menambah karisma penampilan Selena. Dia harus menjadi pusat perhatian di acara besar ini.
"Kau ...." Eliot terpanah sesaat, namun matanya mengembang saat melihat bagian bawah istrinya itu. Tumit tinggi dan tipis.
"Kenapa menatapku begitu? Ada apa? Aku tahu... kau pasti terpesona dengan kecantikanku," ucapnya bangga tanpa merasa malu sedikit pun. Terkadang percaya dirinya terlalu berlebihan.
"Ganti sepatu itu. Lupa kalau kau sedang hamil?" suruh Eliot.
"Aku masih bisa menjaga keseimbangan. Lagian ini pertama kalinya bagiku menghadiri jamuan keluarga besar suamiku. Aku ingin terlihat anggun," jawabnya beralasan.
Eliot benar-benar bungkam. Dia tidak bisa berkata kata. Dia langsung mengambil sendal jepit dan memasangkannya langsung ke kaki Selena. "Bukankah sudah ku katakan kalau kau cantik dengan segala versi."
Selena sontak tutup mulut. Pipinya lagi lagi memerah mendengar pujian dari lidah tajam suaminya. Dalam sehari bisa dikatakan Eliot terus menyanjung dirinya. Sungguh Selena berdebar.
"Bagaimana pendapat mereka nantinya jika melihat kakiku memakai sendal jepit?" Dia pun menundukkan kepala merenungi penampilannya. Meski sekujur tubuhnya menawan, namun bagian bawahnya terbilang sederhana. "Aku takut mereka menilaiku ...."
Eliot menimpali, memotong pembicaraan tidak penting itu. "Hust ... ada baiknya kau tidak memikirkan hal yang tidak perlu. Cepatkan langkah mu!" senggaknya memerintah istrinya untuk mengejar langkah pendek tersebut.
"Siap!" serunya seraya memperpanjang gajak kakinya.
~Mobil~
__ADS_1
"Eliot, kenapa tiba-tiba mereka mengadakan jamuan. Aku tidak pernah tahu kalau kalian memiliki tradisi seperti ini." Selena mencari pembahasan. Sejak tadi hanya senyap mengelilingi suasana mobil.
"Bukan urusanmu. Kau hanya perlu mendatanginya," jawabnya apatis. Matanya tetap lurus memandang jalanan tanpa menoleh.