My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 31


__ADS_3

Tak ada sahutan dari Eliot. Tampak matanya terpejam menikmati belaian tangan Selena. Dalam sekejap itu pula, dia terlelap dipangkuan istrinya.


Malam begitu hangat, lelah yang terus menguras tenaganya seakan lenyap bersama langit hitam yang bergulir berubah menjadi biru. Pagi-pagi sekali, kedua pasangan itu kembali ke rumah setelah selesai sarapan pagi bersama Tuan Tomy. Karena ada meeting penting yang hendak dihadiri Eliot, dia pun berangkat selepas mengantarkan istrinya kembali ke tempat tinggal mereka.


"Jangan pergi dari rumah ini walau hanya satu langkah!" perintah Eliot memperingati sebelum benar-benar beranjak dari hadapan sang istri.


"Iya, hati-hati di jalan!" lambainya mengangguk paham.


Lantas Selena mengindahkan kata-kata suaminya, takut kualat jika berani membangkang. Terlebih karena saat ini Eliot tampaknya sedang memikirkan sesuatu yang sama sekali tidak diberitahu padanya.


Kehidupan yang membosankan kembali lagi membayangi hari-harinya. Seperti biasa, dia hanya duduk sambil menonton dan menikmati camilan cepat saji. Karena stok minuman kaleng di kulkasnya sudah habis, mau tak mau Selena harus meminum kaleng susu pemberian mertuanya. "Progam hamil? Ck, siapa yang akan menghamili aku?" celetuknya saat membaca merk dagang minuman tersebut.


Saat kantuk sudah merajalela melahap matanya, tiba-tiba suara bel rumahnya terdengar. Baru kali ini dia mendengar seseorang menekan tombol bel tersebut. Sudah lama tidak kedatangan tamu.


"Dion?" Sahabat suaminya datang membawa sebuah tote bag dan menyodorkan pada Selena. "Apa ini?" Selena lantas merogoh dan membuka karena penasaran. Ternyata sebuah ponsel. "Eliot yang berikan?" Sontak Selena tersenyum lebar karena kegirangan.


"Benar, dia tidak sempat memberikannya sebab itu menyuruhku, dia takut jika kau bosan dan berpikir untuk keluar dari rumah. Nomor kontaknya sudah ada di sana, dia berpesan tidak boleh menyimpan kontak siapapun selain dirinya," terang Dion yang juga turut senang melihat Selena. Dia terdiam sebentar, dicernanya setiap penggalan kata yang baru saja terucap. "Artinya aku juga tidak boleh saling kontak denganmu," keluhnya kecewa.


Selena tertawa terpingkal-pingkal mendengar lelucon Dion. "Berikan nomor handphone mu," pinta Selena.


"Tidak mau, Eliot bisa membunuhku jika tahu istrinya menyimpan nomorku," tolaknya. Namun karena Selena kukuh meminta dengan paksa, akhirnya mereka pun bertukar kontak.


"Ayo, masuk dulu. Singgah sebentar, kau belum pernah kusuguhi teh sebelumnya. Bagaimanapun kau sekarang temanku, karena kau adalah sahabat Eliot. Asal tahu saja, dia pernah bercerita bahwa kau sudah seperti saudara baginya," kata Selena.


Dion terdiam, hatinya bagai tertusuk anak panah. Pasalnya kedatangannya kali ini bukan hanya sekedar mengantarkan titipan Eliot pada Selena, melainkan menyampaikan kabar kehamilan Shania. Namun setelah tahu betapa bersih hati Selena, dia ragu.

__ADS_1


"Sebenarnya ada yang ingin ku sampaikan padamu," sulak Dion. Dia duduk tidak tenang meski jas hitamnya berhasil mengelabui. "Sebenarnya ...." Dia berhenti berbicara. Ditatapnya Selena sangat lama.


"Apa kau tahu kenapa Eliot beberapa hari ini tampak murung? Aku rasa dia memiliki masalah, hanya saja tidak menceritakannya padaku," tanya Selena, sambil menuangkan teh hijau ke gelas Dion.


"Mungkin Eliot sudah tahu," gumannya seraya meneguk teh. "Aku tidak tahu, dia tidak akan menceritakan masalahnya kepada siapapun. Tapi yakin saja, dia pasti bisa mengatasinya dengan cepat," hibur Dion.


Percakapan itu menjadi pembasahan terakhir, Dion mengurungkan niatnya untuk menyampaikan perihal kehamilan Shania. Takut jika wanita itu terguncang dengan berita heboh tersebut. "Semoga saja mereka bisa mengatasinya," batinnya.


Dion pun tahu bahwa ayah dari anak yang dikandung Shania bukanlah Eliot. Dia tahu betul siapa yang sudah meninggalkan benih di rahim Shania. Cukup berdosa jika dia menyebarkan isu palsu yang dapat memecah belah kerukunan Selena dan Eliot. Dia tidak bisa menjadi seorang pengkhianat.


Saat Dion telah pergi dari rumah, Selena berpikir untuk menghubungi suaminya. Meski tahu kalau Eliot sedang ada meeting penting hari ini, dengan bengal Selena tetap akan mengusik kesibukan suaminya itu.


"Wah, dia mengabaikan panggilan ku." Berkali-kali dia menelepon suaminya, tak satu pun diangkat. Parahnya setiap panggilan yang dilakukannya, bersih ditolak. "Aku tidak akan menyerah!" Tekadnya membulat sempurna. Dia menggunakan fitur video call, berharap agar suaminya mengangkat.


Di sisi lain, Eliot yang tengah sibuk mendengar laporan dari para karyawan di perusahaannya hanya bisa pijat pelipis menghadapi kelakuan istrinya. "Sepertinya aku harus menyerah." Dia terpaksa menerima panggilan Selena.


Eliot langsung meletakkan jari telunjuknya di bibir, memberikan pertanda kepada istrinya agar segera diam. Suara pengang Selena hampir mengacaukan konsentrasi para karyawan di ruangan rapat ini.


Spontan Selena mengacung jari jempolnya karena paham. Dia mengangguk sambil tertawa tanpa mengeluarkan suara.


Selena tidak kehabisan akal agar tetap bisa berkomunikasi dengan suaminya. Dia dengan cerdik mengirim sebuah pesan kepada Eliot, tanpa mematikan panggilan vidio yang sedang berlangsung.


^^^"Kau tampan sekali."^^^


Eliot tersenyum membaca pesan tersebut. Fokusnya teralihkan. Dia tidak mendengar para karyawan yang sedang berkoar-koar melaporkan tentang kenaikan harga pasar dan rancangan produk baru yang akan segera diluncurkan.

__ADS_1


"Bagaimana kelanjutannya, Tuan Eliot?" tanya seorang karyawan saat berada di penghujung presentasi yang dilakukannya.


Eliot nanap memandangi asal bunyi kicauan itu. Bagai kata-kata rumpang tidak bermakna, begitulah pendengarannya. Dia terlalu sibuk meladeni istrinya yang kurang kerjaan, hingga lupa bahwa dia sedang berada di ruang rapat.


"Ekhem," dehamnya menstabilkan ketidaktahuan. "Letakkan proposal berapa dana yang diperlukan di mejaku, aku menyetujui rancangan ini," katanya menutup rapat.


Semua orang terdiam mendengarnya. Tidak ada yang menyangka bahwa seorang Tuan Muda Alaric dengan ringan lidah menyetujui. Sudah berkali-kali para karyawan melakukan revisi rancangan produk, namun baru hari ini mendapatkan persetujuan. Mereka semua lega dan berucap syukur karena akhirnya terbebas dari belenggu lembur yang terus memenjarakan mereka di dalam kantor.


"Sepertinya suasa hati Tuan Eliot sedang bagus." Bisikan pendapat membludak dari mulut ke mulut sesaat setelah Eliot meninggalkan rapat tersebut. Seisi ruangan saling berargumen membahas kelapangan dada CEO baru itu. "Aku lihat sendiri kalau Tuan Eliot melakukan panggilan vidio dengan istrinya. Dia juga tersenyum saat itu, aku berani bersumpah," imbuh yang lain.


"Benarkah? Dia adalah dewi kita. Lain kali aku akan memintanya untuk menelepon Tuan Eliot agar kita dipermudah saat rapat nanti," celetuk seorang wanita.


Ketika Eliot hendak menaiki lift, dari belakang terdengar seseorang sedang memanggil namanya. Sangat tidak sopan. Tidak ada yang berani berlaku lancang padanya di tempat ini kecuali, Dion.


"Bagaimana kalau kita minun kopi?" ajak Dion.


...***...


Dion membawa dua botol kopi hangat siap santap untuk mereka teguk di atas rooftop kantor besar yang berdiri di pusat kota. Keduanya duduk di sebuah kursi panjang sambil berbincang.


"Apa kau sudah tahu?"


Eliot mengangguk paham. Dia sudah tahu maksud pertanyaan Dion mengarah ke Shania. "Bukankah terdengar seperti kebohongan?" tambah Eliot.


__ADS_1


🖤 Selagi menunggu update cerita ini, kalian bisa membaca novel rekomendasi di atas. Kisah menarik yang dapat menemani waktu luang, terima kasih🖤


__ADS_2