
Erangan nikmat dari bibir pucat nan elok itu terngiang di telinga Eliot. Begitu syahdu, hingga gejolak dalam dirinya semakin menderu. Keinginannya untuk menyicipi liuk lampai Selena meningkat. Tangannya merayap turun ke bagian harta bersegel yang belum pernah dijamah oleh pria mana pun. Dia yang pertama. Betapa beruntung dirinya bisa menjadi kunci untuk membuka peti hangat itu.
"Bi-Bisakah kau sudahi ini? Aku berjanji tidak akan pernah menjahili mu lagi, sampai ... sampai kapanpun." pinta Selena memohon.
"Aku menolak. Kau lebih menggiurkan daripada tawaran konyol itu," balasnya yang terlanjur hanyut dalam gairah harum tubuh Selena. Dia membentangkan dua kaki Selena, sehingga wajah istrinya tersipu-sipu menahan malu.
Pipinya terasa panas, bahkan api tidak pernah membakar kulit tipisnya, dia hampir hangus. Sekeras apa pun dia mengatupkan tirai penghalang pandangan kotor Eliot dari kesuciannya, pria itu membuka paksa himpitan kaki Selena yang tertekuk. "Ka-Kau ... berhenti menatap ke bawah!" suruh Selena. Telapak tangannya bergetar berusaha menghitamkan penglihatan Eliot.
Pria itu mulai menyentuh, merasakan, lalu menikmatinya. Dia puas, hingga kepalanya berkobar-kobar hendak menyelami rona merah di wajah istrinya. "Terus mengerang, Selena, kalau bisa menjerit lah, kau adalah santapan terlezat yang pernah kurasakan," katanya penuh sensasi. Dia tersenyum memandangi sendu kelopak mata Selena.
Butiran keringat perlahan mengalir membasahi lekuk tubuhnya. Dia menginginkan hembusan dari deras napas Eliot. Terlalu menyengat, dia sampai harus menekan kepala Eliot dengan lembut agar desiran yang terus menggelitik di dadanya berangsur surut bersama bisikan malam.
...****************...
Langit begitu mendung, sayap burung tidak mengepak sebab benci menyapa rintik bening yang terus menderas. Dingin tidak menusuk, namun entah mengapa Selena membutuhkan rendaman api yang hangat.
Dia membuka matanya pelan, menelan embun pagi yang hampir mencair. Tak sengaja hidungnya mengendus bau asing. Begitu dekat, hingga jantungnya tersentak.
"Eliot!" Matanya terbelalak besar. Degup hebat tidak bisa dihentikan.
Rambut hitamnya bergerak bersama hembusan angin. Bulu matanya terlihat membayang, dia pulas bersama mimpinya. "Kami melakukanya?" tanyanya terkejut. Selena menepis selimut tebal yang menutupi tubuhnya. "Ternyata benar." Langsung tangannya bergegas menutup kembali.
__ADS_1
Tangannya bergerak ragu membelai iras sendu pria itu. Dijelajahinya pelan, sampai di penghujung dagu Eliot, jemarinya berhenti menelusuri. Kelopak mata suaminya terbuka pelan. Bola mata hitam itu tepat menangkap perbuatannya. "Kau berniat merayuku lagi?" tanya Eliot dengan suara serak. Dia masih mengantuk karena cuaca seakan mendongeng agar raganya tetap terlelap.
"Tidak ... aku hanya ingin menatapmu lebih lama. Jantungku berdebar saat bersamamu, aku jatuh cinta ... mungkin," sahut Selena. Dia merasakan sepi sekaligus perih saat memandangi garis bibir suaminya. Entah mengapa hatinya terus mengungkung kasih untuk Eliot, pria yang sama sekali tidak menginginkan keberadaannya.
Eliot memejamkan matanya, tangan besarnya merayap memeluk Selena. Diendusnya wangi surai hitam wanita itu, lalu dikecupnya. "Yang lebih dulu jatuh cinta, dialah yang kalah," kata Eliot sambil tersenyum.
Selena sadar, seharusnya dia lah yang menjerat pria itu ke dalam hidupnya, membuat Eliot bertekuk lutut mencintainya, namun dia salah, ternyata malah dia yang menjerit mengemis cinta pria itu. "Aku tahu ... sejak awal aku sudah kalah dalam permainan ini. Tapi aku tidak akan kalah sendirian, cepat atau lambat kau akan menyusul kekalahanku," jawab Selena. Kemudian di balasnya pula dekapan suaminya, menyembunyikan wajahnya tepat di dada hangat suaminya.
Beberapa jam kemudian berlalu, sebuah ketukan merusak sensasi kemesraan kedua pasangan itu. Eliot terusik. Dengan enggan, kakinya mulai menapak di atas lantai. Langkahnya sempoyongan ketika menggapai pucuk pintu selepas menutupi ketelanjangannya dengan handuk yang semalam dia kenakan.
"Selamat pagi, Tuan Muda Alaric," sapa Dion, sahabat yang kini berniat mengusili.
Tatapan Eliot pahit menyambut Dion. Dia mentap sahabatnya itu lama, mengungkapkan ketidaksenangan karena sudah mengganggu tidurnya. "Menyebalkan sekali." Eliot menutup pintu tersebut, jengkel melihat senyuman Dion.
"Bocah sialan, kau menipuku. Kembalikan cek yang kuberikan!" Eliot sudah bergetar tak sabar ingin mencabik-cabik mulut sahabatnya yang licin.
"Mari kita lihat, seperti apa tampang istri lugu mu itu." Dia menyodorkan kepala mengintip Selena dari balik badan bidang Eliot.
Tak!
Eliot menangkap muka sahabatnya itu, lalu disorongnya menjauh. Dia tak membiarkan mata kotor Dion melihat Selena yang tengah lesu di atas ranjang. "Menyingkirkan atau kasino ini hangus ku bakar!" ancam Eliot. Di balik pelipisnya tampak urat kepala mengerut. Dia sepertinya benar-benar kesal.
__ADS_1
"Wah! Tuan Muda Alaric ini tampaknya marah. Kau berusaha menghalang-halangi, yah? Jangan bilang kau sudah jatuh cinta pada Selena?" Dion melempar lirikan penuh curiga. Dia menyeringai lebar. "Baiklah, kau bisa lanjutkan kemesraan kalian. Hahaha, jangan lupa mandi dan berikan dia minuman ini. Selamat tinggal," pamitnya.
Kepergiannya bahkan masih sempat meninggalkan jengkel di benak Eliot. Bagaimana tidak? Dibalik senyum liciknya, tersirat sebuah maksud yang melukai harga diri Eliot.
"Matanya terus mengejekku," umpat Eliot dengan dahi berkerut.
Saat dia berbalik, Eliot tidak mendapati Selena di atas ranjang. Diselidiknya setiap sudut, namun tak menemukan wanita itu, bahkan pakaian yang berserak di atas lantai bersih seketika bersama hilangnya gadis itu.
"Apa dia sudah pakai baju? Ck, padahal aku masih ingin memeluknya," decak Eliot gusar. Dia menggedor-gedor pintu kamar mandi, menghancurkan fokus Selena saat masih membungkus tubuhnya.
"Ku potong tanganmu kalau tidak berhenti merecoki!" ancam Selena.
"Mengerikan, dia mengerikan," kata Eliot terkejut. Spontan tangannya berhenti mengusik. Dia berdiri di sisi kiri pintu kamar mandi, menyender di dinding yang dingin. "Masih lama tidak?" tanya Eliot berteriak.
"Hmm!" balasnya singkat.
Saat dia termenung, tiba-tiba matanya berhenti menatap ranjang. Dilihatnya bercak darah lumayan banyak di atas sana. Dia bergerak mendekat. "Ternyata dia masih bersegel, pantas saja desahannya sangat mengerikan semalam. Untung saja dia tidak pingsan menahan pesonaku di ranjang," celetuk Eliot sembarang. Dibukanya seprai yang melapisi kasur agar Selena tidak melihat bekas darah itu.
Akhirnya Selena keluar dari dalam sana. Dia terlihat tenang, meski hatinya gerecok menari-nari ketika ditatap oleh suaminya. "Ke-Kenapa kau membuka sarung kasurnya?" tanya Selena heran.
"Aku biasa melakukannya setelah tidur dengan wanita," jawabnya membual. Dari mimiknya jelas bahwa dia sedang mengarang.
__ADS_1
Selena mengangguk ragu, meski tidak percaya dia berusaha yakin dengan alasan tidak logis itu. Seketika suasana menjadi canggung. Selena tidak bisa berlagak tenang setelah apa yang terjadi diantara mereka. Rekaman malam itu seolah berputar di ingatannya. "Kikuk sekali," rengek Selena dalam benak.