
"Ke-Kenapa kau bisa sampai di sini? Bukannya sedang lembur?" tanya Selena terbata-bata. Dia panik tidak tahu harus meyakinkan Eliot. "Kenapa menatapku begitu?"
Eliot tetap mendelik tajam, tak berhenti menurunkan pandangan dari wajah istrinya. Setelah menyibak jarak diantara mereka, Eliot mengendus badan Selena, memastikan tidak ada bau pria menempel. "Cih, entah hukuman apa yang pantas kau terima," decak Eliot. Tercium wangi pria yang amat pekat dari pakaian Selena. Dia ingin marah, hanya saja harus tertahan karena sekarang mereka berada di kediaman Keluarga Amaril. Dia segan mengamuki wanita yang diduga selingkuh ini di hadapan Tuan Tomy.
"Kita pulang!" ajaknya bernada tegas. Tidak ditemukan senyum dari wajah kaku pria itu. Mengerikan, sungguh mengerikan.
Selena menahan langkah suaminya. Dia menarik tangan Eliot dan mencoba memelas iba. Selena menggeleng-gelengkan kepalanya seraya menampilkan mata berbinar. Dia menyatukan kedua telapak tangan sambil mengedipkan mata secara cepat. "Menginap di sini saja, hanya untuk malam ini."
Eliot memalingkan wajah, tidak sudi menyetujui permintaan Selena. Amukannya terkendala jika berada di rumah kakek Selena, untuk itu sebisa mungkin harus segera kembali ke rumah mereka.
Sayangnya, Tuan Tomy yang baru saja datang tiba-tiba mendukung permohonan cucunya. Dia merasa senang jika keduanya bermalam di sini. Terlebih mengingat jam terlalu larut. "Kakek suruh pelayan rapikan kamar kalian dulu," cerocos Tuan Tomy tanpa mendengarkan penolakan Eliot.
Jika sudah berhadapan dengan kakek tua itu, Eliot tak dapat membantah. Dia terdiam seribu bahasa dalam hatinya. Ingin sekali menolak, namun lidahnya seolah keluh. "Bersyukur lah karena malam ini kau masih selamat, tunggu saja besok ... kau akan ku ikat dengan rantai agar tidak bisa keluar dari rumah," gerutu Eliot kesal. Suaranya pelan membisik ke telinga Selena, berusaha agar Tuan Tomy tidak mendengarkan repetan dari mulutnya.
Beberapa menit kemudian, pasangan suami-isteri itu pun masuk ke dalam kamar yang baru selesai dibereskan oleh pelayan. "Tunggu dulu!" Selena mendorong Eliot sebelum masuk ke dalam kamarnya. "Jangan masuk sebelum ku perbolehkan!" perintahnya. Dia harus menyembunyikan beberapa barang yang bersemayam di kamarnya. Selena tidak akan membiarkan pria itu melihat koleksi memalukan yang bisa membuat orang lain merasa jijik.
"Berisik! Eliot menyerobot masuk dan tak mengindahkan perkataan Selena.
Nada ketus itu tiba-tiba padam setelah melihat dinding kamar Selena dipenuhi potret gambar dan lukisan yang terbingkai. Terdapat foto serta lukisan wajah Eliot di sana, mulai dari kecil hingga dewasa. "Bukankah ini aku?" tanyanya memperjelas. Dia mendekat mencoba fokus kepada pajangan pajangan yang tergantung.
__ADS_1
"Aku lupa tentang foto-foto ini," decak Selena menyalahkan diri. Dia membenturkan keningnya berulang kali ke pintu yang tertutup. Sungguh dia merasa sial karena suaminya mengetahui perbuatan kejinya selama ini.
Setiap tahun, Selena akan kembali ke tanah air ketika liburan musim panas. Kesempatan tersebut digunakannya untuk menguntit kegiatan Eliot, lalu mengabadikannya. Banyak potret amatir Eliot yang terpajang di tembok, saat Eliot sedang makan, minun, berolahraga, bahkan saat berganti baju pun terpampang di sana.
"Kau stalker atau paparazi? Lihatlah, bahkan foto saat aku bayi pun ada di sini." Eliot geleng kepala karena salut menyanjung kegigihan istrinya dalam rangka mengikuti jejak hidupnya.
"Aku mengambil foto itu dari album milik keluarga mu," jelasnya menceritakan sembari diam-diam menyelipkan senyum. Dia bahagia bila mengingat kembali masa lalu. Namun samar-samar sebuah kesedihan muncul dari balik mata sendunya. Hanya foto itu yang tersisa dari sekian banyak lembaran foto yang dia ambil dari album. Semuanya tertinggal saat kecelakaan maut kala dulu.
"Sini!" ajak Eliot. Dia menunjuk sebuah gambar buram di ujung bingkai. "Kenapa wajahnya tidak asing?" Dengan muka cengo, Eliot menerawang goresan-goresan tinta di atas potret seseorang.
"Aku mencoret foto Shania dengan tanduk karena membencinya. Dia sangat cantik saat itu, aku iri padanya," kata Selena.
"Jangan! Dia Bram, sahabatku." Sigap Selena menyelamatkan foto kenangan itu dari tangan kasar suaminya.
"Oh, jadi dia orang yang sudah membawamu jalan-jalan." Eliot mulai mencari kesalahan, niatnya untuk memperkeruh keadaan agar bisa mengamuki istrinya dengan puas. "Cih, pantas saja betah berlama-lama di luar sana, ternyata dia pria yang tampan." Ini hanyalah cara picik Eliot untuk mendapatkan pengakuan dari Selena. Dia bersengaja merendah diri agar Selena memuji ketampanannya.
"Dia memang sangat tampan, sayangnya sampai sekarang masih hidup sendiri. Pacar pun dia tidak punya," tambah Selena. Wanita ini tidak peka sama sekali. "Aku akui dia tampan, kadang-kadang jantungku juga berdebar saat di dekatnya," celetuknya.
Bagai dibakar api yang menyala, kepala Eliot terasa panas. Bidikan matanya berubah runcing. Dia mengangkat tubuh Selena ke atas ranjang, lalu diletakkan dengan kasar, seperti dihempaskan, hanya saja tidak terlalu kuat. Dia merangkak naik ke atas tubuh ringkih Selena. Dia menindih sehingga Selena terhimpit tidak dapat bergerak.
__ADS_1
"Tarik kata-kata mu barusan!" suruh Eliot menindas. Kemarahannya terlihat jelas, bahkan Selena sampai bungkam tidak tahu kalau hati suaminya begitu tersinggung dengan ocehan tak berdasar itu.
"Aku hanya bercanda, jangan terlalu serius," jawab Selena. Dia belum juga sadar tentang gusarnya Eliot. Matanya masih sanggup menatap Eliot tanpa merasa bersalah.
"Kau tidak dengar? Tarik kata-kata mu!" Suaranya terdengar membentak, walau tidak keras. Sebisa mungkin Eliot mengecilkan suaranya agar Tuan Tomy dan seluruh manusia di rumah itu tidak mendengar pertengkaran mereka.
Selena menangis pelan. Dia memekik ketakutan. "Maafkan aku! Tidak seharusnya aku pergi tanpa mengabari mu, tidak seharusnya aku pergi dengan pria lain. Tapi dia sahabatku, kau tidak perlu cemburu," sulaknya. "Dan lagi ... mengenai pujian untuk Bram ... aku menarik kata-kata ku," tambahnya meminta ampun. Dia menguncupkan bibirnya hingga terlihat mungil. "Maafkan aku," katanya sekali lagi.
"Ck, jangan pernah berniat berpaling dariku." Eliot melepas cekamannya, lalu membentangkan tubuhnya untuk menghilangkan suntuk di kepala. Dia memejamkan mata.
Tampak bahwa Eliot lebih pendiam daripada hari biasanya. Sepertinya Eliot memiliki banyak masalah. Tidak ada yang tahu pasti penyebabnya, dia tidak bercerita kepada siapapun tentang masalahnya yang sedang dia hadapi.
"Pijatkan kepalaku kalau masih ingin ku maafkan!" suruhnya.
Seketika air mata Selena mengering. Dia menggelesot duduk di sebelah suaminya. Diangkatnya kepala Eliot ke atas pangkuan dan segera dipijatnya. "Apa kau ada masalah?" tanya Selena khawatir.
🖤 Selagi menunggu update cerita ini, kalian bisa membaca novel rekomendasi di atas. Kisah menarik yang dapat menemani waktu luang, terima kasih🖤
__ADS_1