
Selena menarik napas panjang lalu dihembuskannya luas sebelum melangkah memasuki mansion sebesar istana kerajaan itu. Dia getir dan takut jika sampai Eliot berada di sana. Meski pria itu jarang berada di mansion, tetapi hati Selena tetap resah. Sungguh dia tidak ingin bertemu dengan pria tak berperasaan itu karena masih dendam mengingat kata-kata tak bermoral kemarin.
"Aku bersumpah akan mengurung diri seumur hidup di kamar jika sampai bertemu dengannya di sini," ucapnya dengan telapak tangan terkepal; bukti kegigihannya dalam berniat.
Sesampainya Selena di mansion, seperti biasa sambutan hangat dan juga keramahtamahan keluarga Alaric tidak dapat diragukan lagi. Dia sampai merasa segan mengingat betapa berlebihan penyambutan kedatangan dirinya. Terlebih Dernia, mulutnya terus saja memuji dan menyanjung Selena.
"Kenapa Eliot tidak ikut?" tanya Dernia dengan mata berbinar-binar. Dia tersenyum manis sekaligus jemarinya yang putih mulai mencicipi pancake yang dibawa oleh Selena. "Sebelum itu, bagaimana hubungan kalian sekarang? Apa Eliot masih sering menengkari mu?" lanjutnya lagi mengganti topik pembahasan.
Begitulah Dernia terhadap Selena, bagai menyimpan segudang tanya untuk menantunya tersebut. Selena sampai pusing harus menjawab pertanyaan yang mana terlebih dahulu.
Untungnya saja telepon dari sepupunya berhasil menyelamatkan dia dari Dernia. Hingga Selena memiliki alasan tepat untuk mengakhiri obrolan tak berujung itu. Selena langsung pulang dari mansion tanpa ragu, telinganya bisa saja berdarah jika tetap berbincang dengan mertuanya itu. "Hanya mengantarkan pancake dan helm tapi dia menahanku selama dua jam. Mertua yang mengerikan," decak Selena sambil meregangkan otot-otot yang kaku karena terlalu lama duduk saat mengobrol dengan Dernia.
Di sisi lain, Eliot terus melihat jam berganti memeriksa ponselnya. Dia sedang menunggu panggilan dari wanita itu sejak tadi, sudah seharian berlalu namun istrinya senyap, tidak pernah muncul menganggu.
"Kau menunggu telepon Selena?" tanya Dion saat sadar dengan tingkah sahabatnya.
Eliot menurunkan ponselnya, dia mengambil gelas wine kemudian meneguknya habis. "Dia tidak seperti biasanya," ungkap Eliot. "Mungkin dia sudah menyerah mencari perhatian dariku. Setelah pertengkaran kami, dia tidak menghubungiku sama sekali," tambah Eliot menjelaskan. "Tampaknya dia sudah muak mengganggu ku," tambahnya lagi.
Dion tersenyum. "Bukankah itu bagus? Kau terbebas sekarang," kata Dion. Walau dia sebenernya tahu bahwa Eliot merasa kehilangan saat Selena tidak mengganggu lagi.
Sesuai dugaan Dion, kala ini Eliot merasa resah entah apa penyebabnya. Dia merasa hampa, sampai bermain kartu pun dia tak berselera. Eliot tidak pernah merasakan hari yang membosankan daripada saat ini, perasaan tidak bergairah sama sekali. Bahkan alkohol dan poker tidak bisa menghiburnya. Dia kemudian memutuskan pulang untuk menenangkan pikirannya yang kacau.
~Mansion Keluarga Alaric~
"Selena tadi datang kemari," sulak Dernia ketika melihat anaknya pulang. Momen jarang ini lantas dipergunakan Dernia untuk bercerita dengan putranya itu, sebisa mungkin menarik perhatian Eliot. "Mau Mama buatkan teh?" tanya Dernia peduli.
__ADS_1
"Tidak perlu, aku ingin tidur," jawabnya lalu menaiki anak tangga menuju kamar.
"Mama antarkan susu kalau begitu," balasnya. Dia tidak berani bertanya pada Eliot alasannya kembali ke mansion.
Meski merasa lelah, matanya sulit terpejam. Kelopaknya masih saja terbelalak segar meski sudah dipaksa untuk tertidur.
"Mama masuk!"
Dernia melihat resah terlukis di wajah Eliot. Selepas nampan itu diletakkan di atas meja, Dernia pun duduk di sisi Eliot. Dia perlahan mencoba mendekati anaknya. Walau tahu anaknya itu tidak akan berkata sepatah kata pun mengenai perasaannya pada ibu sendiri.
"Apa yang sedang kau pikirkan?" tanya Dernia sambil memberikan susu kepada Eliot. Dia menyuruh putranya yang tampan untuk meneguk susu yang dibuat langsung olehnya.
"Tidak ada. Aku hanya lelah," jawabnya menyembunyikan perasaan hampanya.
"Apa kau dan Selena bertengkar?" duga Dernia. Melihat gelagat Selena tidak betah di mansion, meyakinkan Dernia bahwa sesuatu telah terjadi diantara putra dan menantunya. Entah apa pun itu, Dernia merasakan pertengkaran diantara mereka.
"Ehm ... wanita memang serumit itu, tapi Mama rasa Selena bukan wanita yang sukar dipahami. Mungkin ini karena pertama kalinya bagimu menjalin hubungan serius, wajar saja jika kau tidak terlalu peka," kata Dernia lalu mengelus rambut hitam wangi anaknya.
Eliot hanya diam tidak menanggapi, baginya Selena lah yang patut disalahkan karena sudah melebih-lebihkan hal kecil.
"Kalau begitu Mama keluar, istirahat lah. Kau terlihat kelelahan sekali," pamit Dernia.
Ketika dia sudah sampai di pucuk pintu kamar, Eliot memanggil dengan suara ragu. Terlihat anaknya takut untuk bertanya, entah karena gengsi atau malu. "Apa dia menanyakan tentang ku?" tanya Eliot dengan mata tidak menatap sang ibu.
"Tidak, dia hanya antar pancake dan helm saja."
__ADS_1
"Helm? Aku kira dia sudah membuangnya," gumam Eliot bersuara pelan.
***
Tiga hari berlalu, namun wanita itu sama sekali tidak berkabar, seolah hilang dari permukaan bumi ini. Eliot keheranan mengapa Selena tidak pernah muncul lagi setelah tragedi beberapa hari yang lalu.
Tidak bisa dipungkiri, Eliot merasa kehilangan, sudah berkali-kali dia memeriksa seraya menunggu panggilan dari tunangannya tersebut.
"Akhirnya dia tidak mengacau lagi," syukur Eliot ketika berada di jalan menuju markas baru geng motornya. Sejujurnya dia menunggu kabar dari wanita itu, namun Eliot kekeh meyakinkan diri bahwa dia tidak menginginkan kehadiran Selena.
Saat melewati mall tengah kota, Eliot tidak sengaja melihat Selena dengan tas belanjaan penuh di tangan. Wanita itu sampai sulit berjalan karena barang bawaan melebihi kapasitas tenaganya.
Sontak Eliot putar balik mengejar Selena yang baru saja berjalan memanggil taksi. Segera dia menaikkan kecepatan agar wanita itu tak sampai menaiki mobil tersebut.
Dia menekan klakson motornya lalu menyalip taksi tersebut dengan dugal. Kini dia berada tepat di depan perpijakan Selena.
"Minggir," suruh Selena dengan suara pelan. Dia tidak menghiraukan kedatangan Eliot. Dia menjauhkan pandangannya dari suaminya itu dan berjalan melewati Eliot untuk menaiki taksi tersebut.
"Ada apa dengannya?" tanya Eliot keheranan. Tidak pernah sekalipun wanita itu apatis terhadapnya, namun mengapa kali ini berbeda?
Penasaran mengenai perubahan sikap Selena, lantas Eliot pun mengikuti taksi wanita itu dari belakang. Dia berusaha menyeimbangkan kecepatan kendaraan mereka, lalu berulang kali membunyikan klakson motornya agar Selena menyadari.
"Apa dia kekasihmu?"
"Dia mantan suamiku, kami baru saja bercerai," jawab Selena bergurau. Dia tersenyum menatap Eliot dari balik kaca mobil taksi yang hitam. Jiwanya tiba-tiba tergelitik saat pria itu berusaha mengejar dirinya. Sungguh Selena sangat bahagia.
__ADS_1
"Kalian terlihat masih saling mencintai, kenapa malah bercerai?" tanya sopir itu kembali.
Seketika pipinya merona mendengar perkataan sopir tersebut. "Benarkah? Padahal dia sangat cuek padaku," balas Selena tersipu. Karena senang dengan argumentasi sopir itu, dia memberikan salah satu tas belanjanya pada sopir tersebut yang berisikan bantal lucu berwarna merah jambu. "Ini untukmu karena sudah mengatakan kalau kami saling mencintai," kata Selena saat sudah sampai di depan rumah kakeknya.