My Crazy Household

My Crazy Household
Episode 29


__ADS_3

Janji hanya tinggal janji. Sudah seminggu lebih, Eliot belum juga membelikan Selena ponsel seusai yang dikatakan. Tak ada hiburan bagi wanita itu, dia hanya duduk sambil menonton setiap harinya untuk menghilangkan bosan yang terus menghantui.


"Aku bisa berlumut kalau terus menonton tv saja," celetuk Selena. Seperti biasanya, dia mengambil selimut berbulu kemudian dibalutnya ke badan. Dia meletakkan cemilan dan minum kaleng di meja sebagai amunisi saat menonton nanti. Jarinya mulai menekan tombol power pada remote.


Baru saja merebahkan tubuh di sofa panjang itu, tiba-tiba telepon rumah berdering mengusik ketenangannya. Dia mengabaikan panggilan tersebut, tak satu pun dihiraukan wanita itu. Selena terlampau malas untuk menggerakkan kaki mengangkat panggilan telepon tersebut.


"Sialan, tidak bisakah aku tenang!" Dia menampakkan telapak dengan kasar. Kakinya terhentak kuat saat mulai melangkah. "Kenapa?!" Suaranya langsung meninggi.


"Cucu durhaka, pelankan suaramu! Tidak bersopan!" balas Tuan Tomy, kakeknya Selena. Dia pria tua yang cerewet.


"Hehe, maaf, Kakek. Tumben menelepon," sindirnya dengan tawa cengengesan.


"Teman lamamu datang ke sini. Nomormu tidak aktif, makanya Kakek tanyakan pada Eliot, katanya handphone mu sedang rusak. Dia menyarankan Kakek untuk menghubungi mu dari telepon rumah," jelas Pria tua itu secara rinci.


"Teman lama? Temanku banyak tidak mungkin semua ku ingat," balasnya kesal. "Siapa namanya?"


"Halah, dia tetangga kita dulu saat di luar negeri. Kau tidak ingat, anak laki-laki tampan yang berkulit gelap itu," terang Tuan Tomy.


Selena langsung mengingat sosok yang disampaikan oleh kakeknya. Dia terbelalak tidak menyangka, pasalnya mereka sudah lama tidak bertemu. "Aku ke sana sekarang!" Selena mengakhiri berbincangan dengan Tuan Tomy, lalu bergegas ke rumah kakeknya setelah siap mempercantik penampilan. Dia tidak akan membiarkan teman lamanya itu mengejek dirinya.


Tiga puluh menit berlalu, akhirnya dia tiba juga di kediaman Keluarga Alaric. Tidak perlu sapa-menyapa, Selena langsung berjalan memeluk teman lamanya itu.


"Bram!" Dia meraung keras tanpa mengeluarkan air mata seraya mempererat dekapan mereka. Sudah lama sekali, tentu saja Selena merindukan teman lamanya ini.

__ADS_1


Bram Deo, tentangga sekaligus teman sekolah Selena saat tinggal di Brazil dulu. Mereka sangat dekat, hanya saja setelah pulang ke tanah air, Selena berhenti berkomunikasi dengannya karena alasan sibuk mengurus bisnis keluarga.


"Sialan, kemana kau selama ini?!" Selena menampar pundak teman lamanya itu secara kuat. Bram sampai menutup mata menahan tamparan tangan wanita ini.


"Wah, tenagamu masih kuat seperti dulu. Tapi tolong hentikan, sakit sekali," rengis Bram sekaligus mengelus pundak bekas tamparan Selena. "Aku sangat merindukanmu. Maaf selama ini tidak pernah memberikan kabar," ucapnya menyesal. "Akun sosial media mu tidak ada yang aktif, sebab itu aku berinisiatif mendatangi rumahmu. Ternyata kau sudah pindah dari sini."


Setelah berbincang-bincang menghilangkan rindu anatara Selena dan Bram. Tiba-tiba pria tampan bertubuh gagah itu menunjukkan sebuah kotak padanya. "Kenapa hanya satu? Kikir sekali kau," hina Selena tidak senang. Dia menaikkan bibirnya sebelah, kemudian mendelik tajam wajah temannya itu. "Harusnya bawa yang banyak!" gerutunya tidak puas.


"Aku tidak tahu ingin membawa apa untukmu," jawabnya sambil menggaruk tengkuknya.


Selena membuka kotak berpita itu, dilihatnya sepasang sendal berbulu yang sangat menggemaskan. "Lucu!" Selena mendekatkan ke arah pipinya kemudian digeseknya berkali-kali. Dia sangat menyukai sendal coklat lembut yang diberikan padanya. "Lain kali bawa sepuluh seperti ini," pintanya tidak tanggung-tanggung. Semua orang juga tahu harga sendal itu sangat mahal, bahkan hanya ada lima belas di dunia.


"Iya." Pria penurut ini hanya mengangguk tersenyum bodoh mengaminkan yang dikatakan oleh wanita itu. Meski tahu mustahil menemukan sendal limited edition yang sukar didapat.


Selena menoleh sebentar, ditemukannya tumpukan kotak berpita lainnya di sebelah Bram. Dengan bingung dia bertanya," Yang itu untuk siapa?"


Selena berlari membuka kotak-kotak itu dengan gerak grasah-grusuh. Tak ada kelembutan sama sekali, tampak jelas bahwa dia cemburu pada kakeknya sendiri. "Kenapa dia dapat lebih banyak dariku? Kurang ajar, kakek tua itu punya uang, kenapa malah belikan dia sebanyak ini? Seharusnya aku yang mendapat semua ini!" Selena benar-benar gusar. Dia kesal karena mendapat perlakuan tidak adil dari temannya itu. Bukannya membuat Selena senang, Bram malah mengukir rasa cemburu di hati wanita itu.


Tuk!


Tongkat kakeknya lagi-lagi mendarat di kepala Selena. Tidak ada peringatan, Tuan Tomy sudah berdiri di belakangnya. "Kau berisik sekali!" repet Tuan Tomy kesal.


Akhirnya ketiganya saling bersenda gurau mengikis kerinduan selama ini.

__ADS_1


Tidak berapa lama, cucu dan tetangga lamanya itu kemudian pergi entah kemana, menikmati saat-saat sebelum gelap memisahkan mereka.


Tidak sadar senja mulai menjingga, tampaknya sebentar lagi malam akan menyapa. Selena dan Bram menghabiskan waktu seraya menatap matahari yang mulai tenggelam di sebuah tempat di pinggiran kota. Mereka berdiri di sebuah jembatan melengkung dimana dibawahnya tergenang air tenang yang mengalir pelan. Saat ini musim sedang hangat, daun-daun berguguran dan berserak di tanah kering yang harum. "Cantik sekali," puji Bram. Matanya diam-diam melirik wajah Selena. Dia tersenyum menikmati posena teman lamanya itu. Dia terpikat.


"Kenapa kau menatapku? Apa ada yang salah?" Selena dengan panik membenahi rambutnya dan menyetuh pipinya, takut jika ada sesuatu yang menganggu di sana.


"Tidak, ada sedikit noda di bibirmu." Bram mengusap bibir wanita itu dengan lembut, geraknya begitu intens. Dia menyentuh lama, hingga Selena menangkap sinyal berbeda.


Wanita itu mundur menjauhkan wajahnya dari Bram. Jantungnya berdegup kencang, suasana berubah canggung. "Ekhem," dehamnya berpura-pura batuk. "Sepertinya sebentar lagi akan malam, ba-bagaimana kalau kita pulang," katanya gugup. Dia langsung mengalihkan pembicaraan agar tidak terjadi atmosfer yang menegangkan.


...***...


Sesampainya Selena di kediaman Keluarga Alaric malam sudah tiba. Tidak bisa dihindarkan, bukannya langsung mengantarkan Selena, Bram malah membawa wanita itu mengelilingi semua daerah tanpa menyisakan satu tempat terpencil pun. "Aku akan menghubungimu jika sudah punya handphone ," katanya melambaikan tangan.


Jam sudah menunjuk pukul sebelas malam. Selena hanya bisa gigit jari memikirkan alasan kepada suaminya. "Aku menginap di sini saja, biar dia tidak curiga." Rencananya sudah terpahat sempurna di dalam kepala.


Namun baru saja masuk kediaman tersebut, suaminya duduk dengan salah satu kaki menopang kaki lainnya. Wajahnya begitu mengerikan, mata elangnya menjegil menyambut kedatangan Selena. Dengan akurat, bidikan matanya berhasil membuat istrinya bergidik ngeri.


Langkah Selena maju mundur. Dia ragu untuk mendekati suaminya, dan juga takut untuk berbalik arah keluar dari rumah kakeknya itu.


"Masih tahu jalan pulang ternyata," sindirnya. Dia berdiri sambil menghela napas beratnya. "Bagaimana hari ini? Apa kau senang?" tanya Eliot.


Selena gemetar tidak tahu harus berkata apa pada Eliot. Muka beku suaminya membuat bulu kuduknya meremang. "I-Iya, bagaimana dengan harimu?" tanya Selena sekedar formalitas. Dia beringsut mundur menjauhi Eliot, dia sangat takut. Raut Eliot bagai harimau hendak menerkam mangsa.

__ADS_1



🖤 Selagi menunggu update cerita ini, kalian bisa membaca novel rekomendasi di atas. Kisah menarik yang dapat menemani waktu luang, terima kasih🖤


__ADS_2