
Tidak terasa jam pulang sudah tiba. Para karyawan berbondong-bondong meninggalkan pekerjaan mereka karena jam kerja sudah selesai. Kini hanya tersisa beberapa karyawan saja yang tampak lembur atau memang mereka mengerjakan pekerjaannya sampai selesai.
Fairel menatap jam di layar ponselnya yang tampak menunjukkan pukul 17.15. Bukankah jam kerja habis pukul lima sore, dan sekarang sudah 15 menit tidak ada tanda-tanda Dena keluar dari ruangannya.
Fairel mengemasi barang-barangnya bersiap-siap untuk pulang. Kakinya melangkah menuju pintu ruangan Dena yang tertutup rapat.
Baru akan mengangkat tangannya untuk mengetuk pintu itu, namun, pintunya sudah terbuka terlebih dahulu membuat tangan Fairel mematung di udara.
"Kamu mau mukul kepala saya?" pertanyaan itu keluar dari mulut Dena. Sebenarnya ia terkejut melihat Fairel yang entah sejak kapan berada di depan ruangannya. Belum lagi tangan pria itu seolah-olah ingin memukul kepalanya.
Fairel langsung tersadar dan dengan cepat ia menurunkan tangannya.
Keduanya mematung di ambang pintu, sama-sama berhadapan tanpa adanya komunikasi sama sekali.
"Minggir!" Dena berkata dengan sedikit ketus. Bukannya apa, ia hanya sedang membangun benteng besar agar nanti ia tidak terledor lagi dalam urusan perasaan.
Fairel menggeser tubuhnya sedikit ke samping. Ingat ya! Hanya sedikit!
Dena merotasikan kedua bola matanya. "Kenapa masih di sini!?"
Pria itu kembali bergeser, sama seperti pergerakannya tadi. Hanya sedikit.
"Ck!"
Dughh!
Fairel terkejut saat Dena mendorong tubuhnya. Wanita itu langsung menyelonong saja.
"Salah siapa, punya badan segede gaban. Udah tau orang mau lewat, malah bengong di depan pintu." omel Dena yang sudah melangkah jauh. Namun, suaranya malah terdengar oleh Fairel. Pria itu menggelengkan kepalanya sambil menahan senyum.
"Na, Na. Lo gak pernah berubah. Suka ngomel gak jelas." kata Fairel pelan sebelum akhirnya ia melangkah pergi menyusul Dena.
Fairel berlari ketika melihat pintu lift yang dinaiki Dena hampir tertutup. Ia menahan pintu lift itu mengunakan kakinya. Nafasnya terdengar tidak beraturan. Fairel memposisikan dirinya di belakang wanita itu.
"Mau pulang?" tanya Fairel.
Dena menggeser sedikit tubuhnya ke samping lalu menoleh ke arah pria itu.
"Mau pulang?" ulang Fairel dengan pertanyaan yang sama.
"Kamu bicara sama siapa?" tanya Dena dengan kedua alis terangkat ke atas.
Fairel menghela nafas pelan. "Memangnya siapa lagi yang ada di sini? Enggak ada." ujar Fairel.
"Gak usah sok akrab. Kita cuma atasan dan bawahan." ketus Dena membuat Fairel tersenyum miring.
"Enggak usah diperjelas, semua orang juga udah tau. Tapi, status itu cuma berlaku saat jam kerja aja. Sedangkan sekarang..." Fairel melirik jam di pergelangan tangannya. "Sekarang udah lewat."
"Berarti gak berlaku." lanjut pria itu lagi.
Dena menatap Fairel tajam. Seolah-olah tidak mau kalah. "Itu berlaku. Kamu lupa? Selain bekerja sebagai sekretaris, kamu juga bekerja sebagai asisten pribadi saya." balas Dena.
Fairel tersenyum tidak tahan untuk menggoda Dena lebih jauh. Entah kenapa saat Dena memasang wajah masam atau galaknya, itu semua malah terkesan menggemaskan di mata Fairel. Entah apa yang terjadi dengan wanita itu sehingga membuatnya bermuka masam setiap kali berhadapan dnehan Fairel.
"Ya, itu memang benar."
__ADS_1
"Ya." Dena mengangguk-anggukkan kepalanya.
"Asisten pribadi?" kata Fairel.
"Iya."
"Tugas asisten pribadi itu seperti apa?" tanya Fairel.
"Melayani semua kebutuhan atasannya dan juga membuat jadwal seperti jadwal pertemuan dengan klien di luar urusan kantor." jawab Dena.
Eh!
Dena langsung tersadar. Kenapa ia menjelaskan hal yang tidak penting itu. Bergegas ia mengubah ekspresinya. "Kamu itu bodohh atau o'on?"
"Dua-duanya mungkin." jawab Fairel sebelum Dena menyelesaikan perkataannya.
"Dasar bocor!"
"Haaa?"
"Bocor."
"Siapa yang bocor?" Fairel tidak mengerti apa arti perkataan Dena.
"Bodohh, o'on, ceroboh, teledor."
Skak mat!!!
Fairel terdiam sempurna begitu mendengar apa arti sebenarnya dari kata bocor yang Dena lontarkan kepadanya.
Ting
Keasikan mengobrol mereka sampai tidak sadar kalau lift sudah terbuka. Dena langsung berjalan mendahului Fairel.
"Ditinggal lagi." batin Fairel mengutuk nasibnya.
.
.
.
"Gak bisa, Pa. Dokumennya ada di kantor, lagian ini udah malam loh."
"Ini penting, Sayang. Ini masalah perusahaan kamu loh. Papa kan udah bilang, mending kamu ambil alih aja perusahaan Papa, biar Papa yang ngurusin perusahaan cabang."
"Sama aja, itu kan dulunya perusahaan cabang milik Papa dan sekarang udah Dena yang pegang." Dena menolak apa yang dikatakan papanya. Yup, memang perusahaannya itu dulunya adalah cabang perusahaan papanya yang tidak terlalu berkembang. Tidak ingin mencari susah payah, akhirnya Dena membeli semua saham itu. Dena mengurus perusahaan itu dengan sedikit bantuan papanya karena dulu Dena masih kuliah. Dena berjuang dengan mengambil S1 dan S2 secara bersamaan.
"Oke, oke. Kita stop bicarain masalah itu yang udah selesai. Sekarang, Papa butuh banget dokumen itu karena ada data-data yang harus Papa salin."
"Besok aja deh, Pa. Dena lagi males nyetir malam-malam." tolak wanita itu.
"Kamu punya sekretaris kan? Suruh aja dia yang ambil dan antar langsung ke sini."
Dalam hati Dena hanya bisa meringis karena sang Papa begitu mendesaknya untuk mengambil dokumen yang ada di kantornya saat ini.
__ADS_1
"Dena gak nyaman, Pa. Sekarang tuh waktunya jam istirahat." ucapnya memberikan alasan.
"Kamu yang suruh atau Papa yang nelfon nih?" gertak Wira membuat Dena langsung melotot.
"Apaan ih, Pa! Dena aduin nih sama Bunda." ancam wanita itu.
"Sok atuh, silahkan."
Dena semakin melotot.
"Sekarang, atau enggak selamanya?"
"Ck! Ancam aja terus ancam. Sama anak sendiri juga." cibir Dena sambil mengotak-atik ponselnya.
"Makanya sama anak sendiri. Beda kalau sama anak orang." balas Wira tidak mau kalah dengan sang putri.
"Syutttt!! Diem." titah Dena.
Wanita itu beranjak dari duduknya sambil membawa ponsel di tangannya.
"Mau kemana? Ini belum selesai loh." tanya Wira.
"Bawel. Dena mau ke kamar, ini mau ngabarin dia."
"Ya udah, bilangin jangan lama."
Wanita itu pergi dengan menghentakkan kakinya kesal. Dari remaja dulu, baik Dena maupun sang Papa tidak sah yang namanya jika tidak berdebat. Ada saja yang menjadi perdebatan mereka. Sampai-sampai Dena heran kenapa Papanya berubah menjadi bawel sejak kelahiran adik-adiknya. Bundanya juga tidak sebawel itu, Papanya benar-benar mengalahi ibuk-ibuk arisan.
Seketika Dena menjadi gerogi saat mengetikkan beberapa pesan kepada sekretarisnya yaitu Fairel. Sampai sekarang pun keluarganya tidak tau siapa sekretaris barunya. Tamatlah riwayatnya malam ini. Mungkin saja Dena akan diinterogasi oleh keluarganya.
^^^[Pergi ke kantor dan ambil dokumen di atas meja saya. Sekarang juga!]^^^
Jari jempolnya terhenti karena ragu untuk memencet tanda kirim. Wanita itu memejamkan matanya lalu langsung memencet tanda kirim pesannya itu.
Namun, yang dichat malah centang satu. Dena sudah mulai gelisah karena papanya pasti akan menerornya jika ia tidak mengambil dokumen itu.
"Aktif dong. Gue lagi males nelfon, lo rese!" Dena menggerutu pelan sambil melihat room chatnya.
"Ayo dong bales. Apa iya jam segini udah tidur? Masa sih?" padahal jam masih menunjukkan pukul setengah delapan.
"Telfon, enggak, telfon, enggak, telfon." dijari ke lima Dena menghentikan penghitungannya. Namun, yang terpilih malah itu.
"Ish!" Dena mendengus.
Alhasil dengan terpaksa Dena harus menelfon nomor ponsel milik pria yang menurutnya menyebalkan.
Panggilan pertama tidak terjawab. Ke-dua, begitu juga selanjutnya. Malah yang mengangkat si mbak mbak operator.
Dena yang kesal langsung mengetikkan banyak pesan berderet panjang ke bawah. Dengan terpaksa ia harus keluar malam-malam hanya untuk mengambil dokumen di kantornya.
.
.
.
__ADS_1
sabar menanti ya๐คฃ๐คฃ author udah kehabisan tabungan bab jadi ngetik yg baru lagi deh. Frekuensi up kita kurangin ya. Semoga gak bosan bacanya๐ Kalau ada kata yang kurang pas atau apa gitu bilang aja ๐คฃ๐คฃ