My Fierce Boss

My Fierce Boss
Sah!


__ADS_3

Langit dan pepohonan rindang menjadi saksi kisah perjalanan cinta kedua manusia yang saat ini tengah dilanda bahagia dan haru. Ditambah hembusan angin sejuk dan cuaca cerah seakan mendukung acara pagi itu.


Tampak seorang pria paruh baya tengah menggenggam tangan pria muda di hadapannya. Kemeja putih yang dilapisi jas hitam ditambah sebuah kopiah hitam yang menutup bagian atas kepala sampai ke dahi, mereka semua menjadi saksi acara sakral itu.


"Saudara Fairel Atharizz, saya mewakilkan kepada Anda untuk menikahkan anak perempuan saya Denada Ayudia Utami dengan Saudara Fairel Atharizz bin Henri Mahesa dengan mahar sepuluh gram emas dan uang tunai sebesar sepuluh juta rupiah dibayar tunai."


"Saya terima nikah dan kawinnya Denada Ayudia Utami binti Prawira Wirawan dengan mas kawin tersebut dibayar tunai." dengan satu tarikan nafas, Fairel berhasil mengucapkan qabul dengan sangat lantang tanpa ada sedikit keraguan di hatinya. Mulai saat ini, detik, ini, menit ini, jam ini, dan bahkan hari ini, Fairel sudah berubah status menjadi seorang suami. Seorang suami dari wanita bernama Dena.


"Bagaimana para saksi?" tanya penghulu yang menyaksikan.


"SAHHHH!!" seru pada undangan yang menghadiri.


"Alhamdulillah."


Seorang wanita yang tampil cantik dengan kebaya yang ia kenakan tengah menundukkan kepalanya sambil mengadahkan telapak tangan ke atas saat penghulu membacakan do'a. Kedua matanya sudah bergelinang membuat pandangan buram. Andai ia berkedip, maka, air matanya tidak bisa ditahan untuk terjatuh.


"Sekarang kalian sudah sah menjadi sepasang suami-istri. Semoga pernikahan kalian diberikan keberkahan oleh Allah."


"Aamiin!"


Bukan, bukan pasangan pengantin itu yang menjadi, melainkan para tamu undangan yang tampak antusias menghadiri acar sakral itu.


"Sekarang saatnya kalian menandatangani buku nikah dan selanjutnya memasang cincin di jari pasangan."


Fairel sejak tadi memperhatikan Dena yang seakan berusaha untuk tidak melihatnya. Senyum pria itu tidak pernah surut. Fairel pun memilih mengalah dan membiarkan Dena untuk menguasai suasana.


Keduanya langsung membubuhkan tanda tangan di atas kertas buku nikah yang menjadi bukti bahwa mereka adalah pasangan yang halal yang diridhoi oleh sang Pencipta.


Selanjutnya, seperti yang diarahkan tadi, keduanya mengambil cincin dari kotaknya lalu bersiap untuk memasangkan cincin itu.


Keduanya masih terdiam, terpaku akan suasana yang masih sunyi sampai saat ini, bahkan tidak ada suara berbisik-bisik yang biasanya terdengar di telinga pasangan pengantin pada umumnya. Kemudian Fairel mengangkat wajahnya dan menatap Dena tengah menundukkan kepalanya. Sangat manis hingga Fairel ingin sekali menguyel wanita itu. Perlahan Fairel mengadahkan telapak tangannya di hadapan Dena, meminta wanita itu agar menyambut ukuran tangannya.


Dena menurut, ia meletakkan tangannya di telapak tangan Fairel. Pria itu tidak langsung memasangkan cincinnya, melainkan mengelus lembut terlebih dahulu. Baru sedetik kemudian ia mengarahkan tangan kanannya untuk memasangkan cincin nikah di hari manis Dena.


Bergetar, itulah yang Dena rasakan saat cincin berwarna gold itu perlahan melingkari jari manisnya. Kemudian, tanpa disuruh Dena juga memasangkan cincin itu di jari Fairel. Kini keduanya sudah memakai cincin nikah.


Saat itu juga terdengar interupsi dari penghulu yang meminta mereka untuk melakukan ritual pengantin pada umumnya. Sang pengantin wanita mencium punggung tangan suaminya dan sang pengantin pria mencium kening istrinya.

__ADS_1


Kini, serangkaian proses sudah dilalui secara bertahap. Setelah berjam-jam akhirnya proses akad nikah sudah terlaksana tanpa hambatan sedikitpun. Acara langsung ditutup dan dilanjut besok dan lusa untuk resepsinya. Begitulah adat setempat yang harus dibudayakan.


.


.


.


Pernikahan sangat membawa perubahan yang besar. Salah satu contohnya adalah tinggal bersama, dan salah satunya adalah menempuh hidup baru dengan status yang berbeda.


Seperti contoh saat ini. Pasangan pengantin baru itu dibantu oleh teman-temannya untuk melepaskan aksesoris yang melekat di tubuh mereka. Ralat, lebih tepatnya Dena lah yang dibantu karena Fairel mengenakan pakaian simpel. Toh hanya stelan seperti pergi ke kantor. Tinggal buka kancing baju dan buka gesper saja sudah terlepas semua. Beda dengan Dena yang banyak macamnya.


"Ekhem..." Fairel berdehem di depan pintu kamar menyadarkan wanita-wanita yang asik bergosip.


"Udah nyusul aja, Pak. Gak sabaran banget deh, malam masih lama kali." sahut Risty seakan mengejek pria itu.


Sedangkan Dena saat ini wajahnya sudah memerah padam. Aksesoris di tubuhnya sudah terlepas, dan sekarang ia hanya mengenakan manset putih berlengan panjang dan juga celana legging hitam panjang sebagai dalaamaannya tadi saat mengenakan baju kebaya yang umumnya transparan di bagian atasnya.


"Gue capek, pengen istirahat." jawab Fairel beralasan. Ia sama sekali tidak melihat teman-temannya, pandangannya hanya terpaku pada satu tujuan. Siapa lagi kalau istrinya tercinta. Eh istri? Kalimat itu terdengar menggelikan untuk status baru mereka.


"Nanti aja, Rel. Ini make up nya belum dibersihin." ujar Dewi sambil menunjuk wajah Dena yang masih memakai make up, ya walaupun tipis karena wanita itu tidak nyaman dengan riasan yang tebal. Beruntungnya para sahabatnya itu bisa diandalkan, mulai dari menghiasi tangannya dengan hena, dan bahkan make up dan segala macamnya.


"Sepuluh menit. Kasih waktu sepuluh menit." balas Dewi.


"Nah iya, kalau udah selesai, terserah deh ini sahabat gue mau diapain. Mau diajak gelut di kasur juga gak apa-apa." papar Risty tanpa dosa.


"Astaga! Malu-malauin bapak bupati aja!" batin Dena meringis.


"Oke." ucap Fairel seadanya. Lalu, ia kembali menutup pintu dan berniat untuk bergabung bersama bapak-bapak yang asik mengobrol di teras depan bersama papa mertuanya.


Selepas Fairel pergi, kedua sahabat Dena terdengar kasak-kusuk, sementara Dewi hanya menyimak saja karena ia tidak menyukai yang namanya gosip. Ia lebih suka mendengarkan gosipan para sahabatnya saja. Apakah itu sama juga dengan menggosip?


"Hati-hati lo, Na." ujar Risty menakut-nakuti. Ya sedari dulu dirinya yang paling jahil diantara sahabatnya.


"Iya, gak yakin gue nanti malam lo bakal selamat." sahut Anna.


"Kalian pikir gue mau dihukum pidana apa!" kata Dena jengkel.

__ADS_1


"Hukuman dari suami lo." langsung saja Dena mengidikkan kedua bahunya ke atas karena ia sedikit geli mendengar kata suami.


"Kenapa dah?" tanya Anna.


Dena menggelengkan kepalanya. "Enggak. Gue masih gak yakin aja kalau hari ini gue udah nikah. Sumpah deh, rasanya kayak nyes gitu."


"Nanti juga terbiasa." sahut Dewi mulai nimbrung.


"Iya tuh, lo perlu beradaptasi. Apalagi nanti pasti kalian tinggal bareng. Oh ya, berapa lama kalian di sini?" tanya Risty.


Dena terdiam sejenak. "Belum tau, mungkin nunggu sampai keadaan sekitar udah kembali normal. Gue juga punya ide sih."


"Apa tuh?" seru Anna kepo.


"Di tempat ini kan ada ga kayak wisata gitu." Risty dan Anna langsung mengangguk.


"Gue mau deh bikin kayak penginapan atau villa gitu. Ya siapa tau nanti ada yang mau liburan, tapi, harus izin dulu ya sama warga setempat."


"Boleh juga sih ide lo itu. Menarik. Tapi, menurut gue kayaknya bakalan sulit deh. Pasti nanti ada warga yang gak terima dengan beberapa alasan. Itu menurut gue sih, nanti gue bantu deh sama yang lain kalau lo mau minta izin atau kompromi sama warga sekitar."


"Seandainya lo dikasih izin, lo mau bangun penginapan di daerah mana?" tanya Dewi.


"Mungkin dekat perkebunan teh gitu, atau gak jauh dari gunung. Secara kan gunung itu gak aktif, jadi mungkin masih aman kalau gak hujan deres." jawab Dena.


"Selesai." Dena langsung melihat pantulan dirinya di cermin. Wajahnya sudah bersih dari make up.


"Masalah ini bisa lo omongin bareng keluarga lo. Eh, kayaknya kami keluar dulu. Masih ada waktu nih dikit. Ada yang pengen lo mau gak?"


Dena menggelengkan. "Enggak ada sih, semuanya udah beres."


"Oke deh, kalau gitu kami pamit dulu ya. Besok pagi ke sini lagi buat bantu."


"Iya, makasih ya semuanya." Dena tersenyum.


Dewi, Risty, dan Anna pun membalas senyum lalu langsung keluar dari kamar sambil melambaikan kecil tangan mereka ke arah Dena sebelum pintu itu kembali tertutup.


.

__ADS_1


.


maap ges, aku suka ngetik kemalaman ๐Ÿ˜…


__ADS_2