
Fairel terbangun dari tidurnya karena merasa kedinginan akibat selimut yang dipakainya hilang entah kemana. Ia menatap jam dinding di kamarnya yang menunjukkan pukul 3 dini hari. Saat pria itu menoleh ke samping, ternyata seluruh bagian selimut melilit tubuh mungil istrinya sehingga dirinya tidak kebagian sedikitpun.
Terpaksa pria itu harus bangun, padahal matanya masih berat. Pria itu melengos ke samping. Lalu dengan gerakan perlahan ia turun dari kasur. Fairel berjalan menuju pintu dan membukanya secara perlahan. Sangat pelan hingga tidak menimbulkan suara derit pintu.
Hujan rupanya masih betah mengguyur sebagian wilayah desa. Maklum saja, sekarang sudah masuk ke musim penghujan. Mungkin tidak lama lagi air akan pasang dan menimbulkan banjir. Belum lagi hujan yang terus menerus menyebabkan kerusakan di bidang pertanian.
Fairel pergi ke dapur untuk membuat segelas kopi hangat. Hitung-hitung untuk menghangatkan tubuhnya. Padahal jelas kehangatan itu ada di depan mata, kenapa Fairel susah-susah mencari jalan lain?
Saat membuka toples yang berisi kopi, ternyata isinya sudah habis. Fairel menelusuri tempat-tempat lain untuk mencari apakah ada barang tersebut. Namun, satu pun stok tidak ia temui. Pria itu mendengus kesal.
Akhirnya Fairel memutuskan untuk kembali ke kamar saja dari pada melamun sendirian di luar. Begitu tiba di dalam kamar, pria itu berhenti tepat di ujung kasur. Ia menatap istrinya yang sedang tertidur lelap. Wanita itu terlihat sangat nyenyak, apalagi selimut tebal membungkus tubuhnya. Ditambah lagi dengan cahaya lampu yang menyinari karena mereka tertidur tidak mematikan lampu.
Fairel menaruh kedua tangannya di pinggangnya sambil menatap sang istri yang tertidur lelap. Tiba-tiba pria itu tersenyum menyeringai. Entah apa yang ada di dalam pikirannya saat ini.
Fairel akan balas dendam karena istrinya itu sudah mengabaikannya tadi malam. Wanita itu dengan teganya meninggalkannya saat dirinya butuh teman bicara.
Tanpa belas kasihan, Fairel langsung menarik selimut yang melilit tubuh Dena. Sedikit sulit karena selimut itu melilit erat. Setelah berusaha akhirnya selimutnya terlepas dan Fairel langsung melontarkannya sembarang ke lantai.
Dena dengan kesadarannya sedikit jelas terusik. Terkejut saat membuka matanya dan melihat Fairel perlahan mendekat. Apalagi ia tidak menemukan selimutnya. Wanita itu menoleh ke samping dan menemukan selimutnya teronggok di atas lantai. Tanpa pikir panjang, Dena segera beranjak untuk mengambil selimutnya yang ia pikir terjatuh. Padahal itu adalah ulah suaminya.
Namun, baru akan menggerakkan kakinya, tiba-tiba saja pria itu menubruk tubuhnya. Dena langsung memekik sempurna. Seketika rasa kantuknya menghilang.
"Ngapain!?"
Bughh
Wanita itu meninju lengan sebelah lengan Fairel yang mengukung dirinya.
Fairel tidak marah. Malahan ia memasang senyum misterius yang membuat Dena bergidik ngeri. Wanita itu menoleh ke samping dan menemukan tempat tidur yang ditempati Fairel telah kosong. Jadi, tidak mungkin kan pria di hadapannya saat ini adalah jelmaan hantu yang menyerupai suaminya?
"K- kamu A-rel kan?" tanya Dena terbata yang langsung disambut dengan kekehan pelan oleh Fairel.
"Kalau bukan gimana?" tantang Fairel.
Dena memejamkan matanya erat sambil merapalkan surah-surah pendek.
"Bismillahirrahmanirrahim. Qul aโuuzu birabbin naas. Malikin naas. Ilaahin naas. Min sharril waswaasil khannaas. Alladzii yuwaswisu fii suduurin naas. Minal jinnati wannaas. Aamiin."
Dena kembali membuka matanya. Matanya kembali terbelalak karena sosok di atasnya saat ini tidak kunjung menghilang.
"Pergi syuh syuh. Gue gak hapal surah yasin. Cuma awalnya doang yang gue tau." celetuk Dena menutupi wajahnya menggunakan telapak tangannya.
Fairel menyentuh tangan Dena dan menyingkirkannya. Merasakan sentuhan itu malah semakin membuat Dena merinding. Ia pikir itu adalah mimpi horor. Maklum saja sekarang masih turun hujan apalagi masih dini hari.
Kedua telapak tangan Dena sudah tidak menutupi wajahnya. Namun, kedua matanya masih tertutup. Fairel yang melihatnya hanya bisa melipat bibir dalamnya.
Lalu, pria itu mendekatkan wajahnya ke ceruk leher sang istrinya. Nafas hangatnya menyapu leher wanita tersebut. Fairel semakin berani. Ia mulai mengecupi singkat rahang Dena lalu kecupannya semakin turun ke bawah dan sampai di leher. Fairel terdiam, lalu secara tiba-tiba itu menghisapnya kuat.
"Aarrghhhh..." pekik Dena terkejut. Refleks ia mencengkram kuat rambut pria itu.
__ADS_1
Fairel tidak menghentikan hisapannya sampai kemudian akhirnya ia melepaskannya. Fairel menatap bekas ciumannya yang ternyata menimbulkan bekas di leher sang istri. Tanpa sadar Fairel tersenyum bangga.
Plakk
"Sakit." keluh Dena sambil memukul lengan Fairel kuat. Tapi, wanita itu terdiam sejenak. "Sakit? Berarti? Hahhhh???" Dena mendorong kasar dada bidang Fairel di atasnya. Namun, Fairel sudah mengambil ancang-ancang, oleh karena itu akibat dari dorongan Dena hanga membuatnya sedikit menjauh.
"Kamu ngapain!!?" Dena terdengar panik. Jelas ia panik karena hal itu terjadi di saat orang-orang masih tertidur pulas.
Fairel menatap Dena jahil. "Aku? Ngapain? Ya mau balas dendam lah." ungkap pria itu jujur.
"Kapan aku bikin salah sama kamu?" selidik Dena bingung.
"Semalam. Kamu ninggalin aku."
"Lahh, kan udah aku bilang kalau semalam aku tuh ngantuk banget. Jadi, besok aja."
"Beneran?" tanya Fairel antusias.
"Humm..." Dena hanya menganggukkan kepalanya.
"Janji gak ingkar?"
"Iya. Emangnya kenapa sih?"
"Hehehehe..." Fairel menyengir dengan senyuman mengembang di bibirnya.
"Terus? Kamu mau ngomong apa?" tanya Dena masih tidak mengerti.
"Enggak mau ngomong apa-apa. Tapi--" Fairel menjeda perkataannya. Ia menatap dalam bola mata istrinya lalu pandangannya turun ke bawah dan menatap bibir istrinya.
"Aku mau minta hak ku." tanpa menunggu tanggapan dari istrinya, Fairel langsung mencium bibir itu secepat kilat. Sedangkan Dena jelas terkejut karena tidak memiliki persiapan sama sekali saat pria itu menyerangnya.
"Hmmmpttt... b-bentar." ujar Dena di sela-sela ciuman Fairel. Sedangkan pria itu tidak menggubris sama sekali. Ia malah semakin memperdalam ciumannya. Bahkan, Fairel juga semakin merapatkan tubuhnya menindih tubuh istrinya.
Dena tidak bisa melakukan hal banyak kecuali harus mengikuti alur permainan suaminya. Sekarang wanita itu sudah menguasai dirinya sendiri. Ia membalas setiap lumaataann yang pria itu berikan. Bahkan tangannya sudah berpindah pada belakang leher suaminya. Jemarinya tampak meremas rambut hitam tebal itu dan sesekali menariknya yang mana hal itu malah semakin membuat Fairel menggila.
Selesai mencicipi bibir sang istri, ciuman Fairel turun ke bawah. Ia mengecupi rahang istrinya dan sesekali menyesapnya sehingga menimbulkan bekas di sana. Tidak cukup dengan satu bekas yang ia buat, Fairel justru kecanduan memberikan banyak tanda cinta di leher istrinya.
Dena hanya bisa menggigit bibir bawahnya menahan desahaannya. Seketika Fairel menjauhkan wajahnya dan menatap wajah sang istri yang tampak berseri dengan mata terpejam. Pemandangan indah yang Fairel lihat ke sekian kalinya.
Cup
Fairel mengecup singkat bibir merah yang tampak membengkak karena ulahnya.
"Jangan ditahan. Aku suka dengernya." ucap Fairel membuat Dena memejamkan matanya malu.
"Dan juga... aku mau kamu membuka mata di saat seperti ini. Agar kamu bisa melihat dan menyimpannya di dalam memori otakmu." tutur Fairel sambil tangannya menyeka keringat di kening istrinya.
"Siap?" tanya Fairel menginterupsi.
__ADS_1
Dena langsung kelabakan karena saat itu tangan Fairel sudah menjelajahi tubuhnya. Ia menahan tangan Fairel membuat pria itu menatap bingung.
Mengerti akan hal itu, Dena langsung menjelaskan agar tidak menimbulkan kesalahpahaman. "Apa kamu gak membiarkanku mempersiapkan diri? Lihatlah aku! Aku baru aja bangun. Aku cuma mau memberikan pengalaman pertama kita yang mengesankan."
Tapi, Fairel sudah kepalang tanggung. Biar mau bagaimana pun juga istrinya bersiap perfect untuk membuat dirinya terkesan. Namun, bagi Fairel itu tidak perlu.
Fairel mengusap lembut rambut Dena di dekat telinganya dan menyelipkan anak rambutnya di sana. "Gak perlu. Aku gak butuh itu semua. Cukup siap dan menerimaku aja aku sudah sangat terkesan."
"Jadi, kamu masih mau lanjut disaat keadaanku berantakan gini?"
"Udah kepalang tanggung. Kenapa aku harus berhenti di sini? Lagian, aku udah dari semalam nunggu. Tapi, kamunya malah tidur duluan. Gak adil kan? Jadi, sekarang niatnya aku mau balas dendam sama kamu." tutur Fairel terbuka.
Dena yang mendengarnya langsung tertawa pelan.
"Jadi, yang semalam itu?" tanya Dena tertawa.
Fairel menganggukkan kepalanya.
Sekali lagi Dena tertawa. Semalam, dirinya sama sekali tidak menduga kalau akan mengarah arah sana. Pantas saja pria itu seperti orang kebelet pipis. Sebenarnya Dena masih mendengar rengekan suaminya semalam. Tapi, Dena yang sudah mengantuk pun tidak bisa ditahan lagi.
Dena menghentikan tawanya. Ia terdiam sambil menatap wajah suaminya dari bawah sana. Dena mengeratkan lilitan lengannya di leher sang suami yang berakhir membuat pria itu semakin tertarik ke arahnya. Wanita itu tersenyum lalu mendekatkan wajahnya ke telinga Fairel.
"Aku kedinginan." bisik Dena dianggap pertanda baik oleh Fairel.
"Bagian mana yang dingin, hm?" tanya Fairel tersenyum jahil.
"Di sini?" pria itu memegang pipi istrinya.
Dena menggelengkan kepalanya. "Di sini?" tanya Fairel sambil memegang bibir istrinya.
Dena kembali menarik kepala Fairel ke arahnya. Wanita itu langsung berbisik tepat di depan telinganya. "Semuanya." bisiknya sensual.
"Ah ya? Baiklah. Aku akan menghangatkannya sekarang juga." balas Fairel tersenyum puas. Tangannya mulai bergerilya melepas semua kancing baju piyama istrinya sehingga kancingnya terlepas semua lalu memperlihatkan sebuah benda yang melindungi aset berharganya.
Fairel tersenyum puas melihatnya. Lalu, tangannya menyelinap masuk ke punggung belakang sang istri dan menarik kaitan benda itu sehingga terlepas. Mata Fairel langsung menggelap, tanpa pikir panjang ia menarik benda itu dan melemparkannya ke sembarang arah.
"Sayang... aku..."
Dena memejamkan matanya sejenak untuk mengusir rasa malunya. Lalu perlahan ia membuka matanya dan menatap sang suaminya. Tangannya tergerak mengambil tangan pria itu dan mengarahkannya ke arah dadanya.
"I'm yours."
.
.
.
udh ya, cukup segini aja aku ga kuat ngetiknya ๐ญ
__ADS_1