
Dua hari kemudian...
Siang ini Dena ada meeting dengan salah satu cliennya. Ia duduk anteng di jok belakang sedangkan Fairel fokus menyetir.
Keduanya hanya terdiam dengan pikiran masing-masing. Sesekali Fairel melirik Dena dari pantulan cermin dashboard. Mengenakan pakaian khas kantoran membuat aura Dena terpancar, sangat berbeda dari biasanya.
Selang beberapa waktu akhirnya mereka tiba di tempat pertemuan. Mereka bertemu di restoran ruang privat.
Saat sudah berada di dalam, mereka disambut oleh salah satu pelayan yang memang diberi perintah.
"Silahkan." pelayan itu hanya mengantarkan mereka sampai depan pintu ruangan.
"Terima kasih." ucap Dena kepada pelayan tersebut.
Fairel membuka pintu itu lalu menahannya agar Dena mudah masuk tanpa harus membukanya lagi.
"Maaf terlambat." ucap Dena tidak enak hati dengan cliennya yang sudah tiba terlebih dahulu.
"Tidak masalah, Nona. Silahkan duduk." pria muda sebaya dengan Fairel bangkit dari duduknya untuk menyambut kedatangan Dena.
"Silahkan." pria itu menarik kursi kosong mempersilahkan Dena untuk mendudukinya.
"Tidak perlu repot, Tuan." ujar Dena.
"Tidak masalah. Saya akan memperlakukan wanita sebaik mungkin."
Dena tersenyum kaku dibuatnya.
Sementara itu, Fairel sudah memandang pria itu dengan tatapan tidak suka. Entah kenapa hatinya terasa panas melihat interaksi keduanya.
"Apa meetingnya sudah bisa kita mulai?" kata Dena.
"Ah, jangan terlalu terburu-buru, Nona. Sebaiknya kita memesan makanan terlebih dahulu."
"Baiklah." final Dena karena ia tidak nyaman jika menolak tawaran cliennya.
Pria di hadapannya langsung memencet bel sebagai bentuk sinyal. Lalu tidak lama kemudian pelayan masuk ke dalam ruangan mereka.
"Saya pesan ini, dan minumannya ini."
"Baik, Tuan. Ada lagi?"
"Nona? Anda ingin memesan apa?"
Dena masih membolak-balikan buku menunya. Sesaat, ia langsung menoleh ke samping dimana Fairel masih berdiri di belakangnya.
"Kenapa gak duduk?" ujar Dena membuat Fairel tersadar. Ia langsung menarik kursi kosong di samping Dena.
"Pilih aja." Dena menyodorkan buku menunya kepada Fairel.
"Samain aja." balas Fairel setengah berbisik.
"Mbak, ini samain ya, dua. Minumannya juga."
__ADS_1
"Baik, pesanan akan segera tiba." setelah mencatat pesanan mereka, pelayan itu pamit undur diri.
"Ekhemm..." dehem pria di hadapan Dena sambil membenarkan jasnya.
"Sebelumnya mungkin ini pertemuan pertama kita. Perkenalkan nama saya Billy. Billy Adverson."
Cliennya mengulurkan tangannya menunggu balasan dari Dena.
"Dena." ucap wanita itu membalas jabatan tangan Billy.
"Nama yang cantik, seperti orangnya." puji Billy.
"Terima kasih atas pujiannya, Tuan." ucap Dena.
"Sama-sama, Nona."
"Maaf, Tuan. Tangannya." tegur Dena berusaha melepaskan jabatan tangan Billy karena pria itu menggenggam tangannya erat tanpa ada niatan untuk melepaskan.
"Ah iya, maaf." pria itu menarik tangannya dengan tidak rela.
Dan lebih parahnya lagi Billy tidak melirik keberadaan Fairel sama sekali. Mereka bertiga duduk saling berhadapan. Ingin sekali Fairel melakban mata Billy yang seolah-olah ingin memangsa Dena di hadapannya. Namun, Fairel tidak bisa banyak berbuat karena ia sadar siapa dirinya dan statusnya.
"Dan di samping saya ini adalah sekretaris saya. Namanya Fairel." Dena memperkenalkan Fairel kepada Billy.
"Salam kenal, Tuan." sapa Fairel berusaha bersikap biasa saja.
"Hahaha... maaf maaf. Saya baru melihat kamu makanya tidak sempat menyapa."
Fairel tersenyum aneh. "Tidak apa-apa, Tuan. Mungkin tubuh saya saja yang kurang besar." ujar Fairel dengan nada sedikit menyindir.
2 jam kemudian...
"Jadi, bagaimana, Nona? Apakah anda tertarik untuk menjalin kerja sama dengan perusahaan saya?" ucap Billy ketika sudah menyudahi penjelasannya.
Dena tampak fokus dengan poin-poin penting di dalam dokumen yang ia baca.
"Kita bisa menggabungkan dua produk menjadi satu. Perusahaan anda yang bergerak di bidang pariwisata dan perusahaan saya di bidang kuliner, mungkin itu bisa menjadi perpaduan yang sempurna. Misalnya saya bisa menambah menu makanan di daftar menu makanan di bisnis anda. Salah satu keuntungannya yaitu mungkin banyak turis yang berdatangan ke tempat penginapan anda sekaligus mencicipi produk makanan di perusahaan saya."
"Di sini tertulis, jika kerja sama berhasil. Maka pihak saya bisa mendapatkan keuntungan yang lebih besar?" kata Dena membaca ulang setiap poinnya.
"Benar sekali. Begitu juga sebaliknya, jika projek kerja samanya batal, maka, keuntungan akan dibagi sama rata."
"Bisakah anda memberi saya waktu untuk memikirkan ini semua?"
"Tidak masalah. Saya kasih waktu batas 3 hari. Jika anda sudah memutuskannya, segera kabari saya."
"Terima kasih, Tuan."
"Jangan terlalu formal, Nona. Panggil saja Billy. Kita bisa menjadi rekan kerja sekaligus teman."
Dena yang mendengarnya sontak terkekeh pelan. "Haha, anda bisa saja, Tuan."
"Billy, Nona." protes Billy.
__ADS_1
"Baiklah, Billy."
"Selesai dari sini, apakah anda ada tempat yang ingin dituju?"
"Emm... mungkin saya bisa langsung kembali ke kantor. Banyak pekerjaan yang belum selesai."
"Hahh! Sayang sekali, padahal saya ingin mengajak anda untuk pergi mencicipi menu makanan perusahaan saya."
"Mungkin lain kali bisa. Sekarang jadwal saya sedang padat." kata Dena menjelaskan.
"Baiklah kalau begitu. Oh ya, apa saya bisa meminta nomor ponsel anda? Saya memiliki pertanyaan yang ingin saya ajukan."
Dena terkejut. Ia langsung menoleh ke samping melihat Fairel sibuk dengan dunianya sendiri. Bahkan pria itu pura-pura tidak melihat dan mendengar percakapan mereka.
"Bole--"
"Anda bisa langsung menghubungi saya terkait kerja sama tanpa harus melibatkan ownernya." potong Fairel dengan cepat. Ia merogoh dompetnya di saku celananya dan mengeluarkan kartu namanya.
"Ini! Silahkan bertanya jika terkait kerja sama. Saya yang akan menjadi perantara." Fairel menyimpan kartu namanya di atas meja di hadapan Billy.
"Saya bertanya kepada Nona Dena, bukan dengan anda." sahut Billy tidak terima.
"Jawabannya sudah jelas. Itu peraturannya. Untuk apa saya bekerja jika hanya untuk bersantai-santai?"
"Kalau ini bukan tentang kerja sama, bagaimana?"
Bisa Dena rasakan ruangan di sekitarnya terasa mencekam. Ada hawa-hawa permusuhan lewat percikan-percikan kecil.
"Tapi, anda membicarakan ini saat di dalam jam kerja."
"Artinya, saya boleh membicarakan hal lain di luar jam kerja?" terlihat senyuman smirk di bibir Billy.
"Untuk apa saya mencampuri urusan pribadi orang lain? Itu hak mereka." tutur Fairel tanpa tau saat ini Dena merasa tersinggung dengan perkataannya. Namun, wanita itu lekas mengubah ekspresinya.
"Ekhemm... saya rasa cukup sampai di sini saja pertemuan hari ini. Jika ada yang ingin ditanyakan tentang kerja sama, anda silahkan menghubungi sekretaris saya. Dia yang akan menjadi perantara komunikasi kita." lerai Dena kemudian merapikan tasnya bersiap-siap untuk pergi.
"Terima kasih untuk waktunya, Tuan Billy."
"Apa ini tidak terburu-buru, Nona?"
"Tidak, Tuan. Saya harus kembali bekerja. Sampai jumpa."
Dena membungkukkan sedikit tubuhnya lalu kemudian beranjak pergi dari sana, meninggalkan Fairel yang masih membereskan dokumen mereka.
"Terima kasih atas waktunya, Tuan Billy. Saya berharap kita akan bertemu lagi. Sampai jumpa." Fairel juga berpamitan.
"Arghhhhh... sialll!!" umpat Billy menendang meja di hadapannya.
.
.
.
__ADS_1