
"Aku gak salah denger kan?" ujar Dena tercengang.
"Of course." balas Fairel dengan tampang wajah menunjukkan keseriusan.
Rasanya sakit di kepala Dena telah hilang dalam sekejap. Ia bangkit dari baringnya dan duduk tegak di samping Fairel.
"Jangan becanda, Rel."
Fairel tersenyum lalu menghela nafasnya pendek. Tiba-tiba ia menarik tengkuk Dena lalu mencuri ciuman kilat di bibir wanita itu. "I'm not kidding, baby." tutur Fairel yang gaya bicaranya berubah 360 derajat.
Tubuh Dena mematung dengan bola mata membesar. Ia masih mencerna apa yang baru saja terjadi. Bahkan Dena tidak sadar kalau Fairel memanggil namanya berulang kali.
Sepertinya Fairel telah menemukan mainan barunya. Ia tersenyum menatap wajah bengong Dena. Pria itu gemas, ia kembali mendekatkan wajahmu. Fairel kembali mendaratkan bibirnya di bibir Dena dan sedikit meelumaatnya. Hingga akhirnya Dena kembali sadar sepenuhnya saat Fairel telah melepaskan tautannya.
"Apa sih!! Main nyosor aja!!" kesal Dena mencubit paha Fairel membuat pria itu sedikit meringis kesakitan.
"Aduhh!!! Kalau gak gini sih kamu gak bakalan sadar sampai jam kerja habis."
"Lagian, ngapain melamar anak orang kayak mau beli tahu bulet digoreng dadakan!" cibik wanita itu.
"Peraturan awal. Bukannya kamu harus menjawab terlebih dahulu." balas Fairel.
"Mana ada kayak gitu!"
"Ada, aku cuma bertanya. Kalau kamu setuju ya aku bakalan lebih serius dari ini."
"Jadi, tadi kamu gak serius?" Fairel memejamkan matanya menyadari kalau ada yang namanya perempuan tidak pernah salah.
Fairel langsung mengubah posisinya, duduk bersimpuh di bawah kaki Dena. Ia memegang kedua lutut wanita itu.
"Bagiku, kamu adalah hal yang paling serius. Kenapa bisa sampai aku ngomong gitu dengan mudahnya? Ya karena aku sadar, kita sudah terpisah lama. Dulu, aku kira di antara kita hanyalah cinta monyet. Makanya waktu itu aku nolak kamu. Tapi, seiring dengan bertambahnya usiaku, aku jadi sadar bahwa kamu adalah cinta sejatiku. 6 tahun sudah, dan aku bahkan nggak menemukan satu pun wanita yang berhasil membuat hatiku bergetar. Hanya kamu, cuma kamu yang berhasil membuat hidupku terasa lebih berharga."
"Aku memberanikan diri walau aku tau aku hanyalah seorang pria biasa. Aku hanya mengejar apa yang seharusnya menjadi bagian terpenting dalam hidupku. Aku gak mau kita pacaran karena aku lebih butuh kita saling mengenal dan memahami satu sama lain. Tapi, alangkah baiknya kita bisa lebih memahami karakter masing-masing di hubungan yang lebih dari sekedar itu."
Fairel menggenggam tangan Dena. Membawanya untuk ia kecup. "Aku memang gak punya apa-apa selain ini." Fairel membawa tangan Dena menyentuh dadanya. "Aku gak memaksa kamu untuk menjawab iya karena mungkin saja aku bukan kriteria pria idamanmu. Tapi, aku akan berusaha untuk menjadi apa saja."
Dena menatap Fairel haru. Seorang pria biasa yang berani mengutarakan isi hatinya dan bahkan tidak menutupi satu kebohongan pun. Dena suka kesederhanaan. Di saat pria di luar sana memberikan harta tahtanya, berbeda dengan Fairel yang hanya menunjukkan keseriusan hatinya.
Bola matanya tampak berkaca-kaca. Tidak dipungkiri bahwa saat ini hati Dena bergetar kuat. Fairel berhasil mengguncang perasaannya.
"Aku punya syarat." kata Dena.
__ADS_1
Fairel menatap wajah Dena dengan tatapan penasaran.
"Aku percaya bahwa kamu serius. Tapi, aku punya syarat yang harus kamu penuhi." Dena menghentikan ucapannya.
"Aku butuh waktu. 2 tahun lagi, tepatnya di usiaku yang ke-26 tahun. Apa kamu siap menunggu dan memenuhi syaratnya?"
Fairel menganggukkan kepalanya tanpa ragu. 2 tahun? Itu bukanlah waktu yang singkat. Tapi, bagi Fairel itu semua tidak masalah.
"Apa syaratnya?" tanya Fairel.
Dena terdiam dengan pandangan menatap atap ruangannya.
"Beli seluruh saham perusahaanku. Selama 2 tahun ini, aku memberikanmu waktu. Kalau kamu berhasil, aku siap untuk berhenti bekerja dan menetap di rumah."
Fairel terdiam. Syarat yang Dena berikan bukanlah hal yang mudah. Fairel butuh modal yang tidak kecil.
"Apa syaratnya berat?" tanya Dena.
Fairel menarik nafasnya dalam, lalu menatap Dena. "Lumayan." jawabnya jujur.
"Kamu gak sanggup?" tanya Dena.
Dengan cepat Fairel menggelengkan kepalanya. "Insya Allah aku sanggup."
Fairel mengangkat tangannya dan memegang pergelangan tangan Dena. "Insya Allah aku sanggup." ucapnya lagi dengan kalimat yang sama.
"Mungkin aku butuh banyak vitamin. Apa kamu siap memberikanku vitamin selama waktu syaratnya berjalan?"
"Of course." kata Dena memberikan senyumnya.
Fairel bangkit dari duduk bersimpuh di lantai. Ia berpindah posisi duduk di samping Dena. Pria itu langsung meraih tubuh Dena untuk ia peluk. Entah kenapa Fairel jadi kepikiran dengan syarat yang Dena berikan. Bukannya tidak sanggup! Bukan! Fairel hanya bertanya dengan dirinya sendiri apakah waktu 2 tahun itu ia bisa memenuhi syarat yang Dena berikan. Mungkin inilah yang namanya ujian cinta. Sebelum sampai di titik akhir, Fairel harus berjuang. Mulai dari sekarang!
Dena mengelus-elus pelan punggung belakang Fairel begitu pria itu memeluk tubuhnya. Bukannya kejam memberikan syarat yang cukup sulit. Tapi, Dena memiliki satu alasan yang kuat. Dan mungkin alasan itu akan ia jelaskan nanti. Di waktu yang tepat.
"Pasti bisa. Kalau nggak bisa, siap-siap aja aku udah berada di tangan pria lain." ucap Dena memberikan Fairel semangat menggebu-gebu agar pria itu bangkit.
Fairel yang mendengarnya tidak melepaskan pelukannya. Malahan ia mengeratkan pelukannya hingga membuat Dena merasa sedikit sesak. Lewat pelukan itu, ia bisa melihat emosi Fairel. Emosi ingin berjuang mendapatkannya dan emosi takut kehilangan dirinya. Sungguh! Dena bisa merasakan itu semua hingga ia tidak sadar meneteskan air matanya. Dena terharu, mungkin ini masih awal. Dena hanya berdo'a semoga Fairel benar-benar bisa memenuhi syarat yang ia berikan.
"Dari dulu kamu udah menjadi milikku. Gak ada yang bisa merebutnya dariku. Aku bahkan harus menunggu selama 6 tahun dan bahkan sekarang aku harus menunggu lagi."
Fairel mengeratkan pelukannya. Ia tidak rela jika Dena menjadi milik orang lain sedangkan dirinya harus menunggu. Jika saja Fairel orang kaya, mungkin saja ia bisa langsung memenuhi syarat itu. Tapi, ia hanyalah pria biasa yang ingin mendampingi putri raja sedangkan ia berasal dari kalangan biasa.
__ADS_1
"Buktikan kalau aku memang milikmu." balas Dena pelan.
.
.
.
"Kamu serius, Sayang? Apa itu gak terlalu kejam? Papa yang mendengarnya aja sampai merinding."
"Dena udah berpikir matang, Pa. Dena punya alasan kuat kenapa Dena sampai memberikan syarat itu kepadanya."
"Oke, Papa akan mendukung semua keputusan kamu walau Papa gak tau apa alasan kamu sampai kamu bisa sekuat ini."
"Makasih, Pa."
Dena memeluk papanya. Saat ini mereka berada di ruang dapur. Dena menceritakan semua kejadian tadi siang dimulai dari Fairel yang melamar dirinya secara nonformal. Dan bahkan Dena juga memberitahu syarat yang harus Fairel penuhi untuk mendapatkan dirinya.
"Kalau butuh bantuan, bilang aja ke Papa."
"Dena cuma mau Papa pura-pura gak tau tentang ini di depan Arel. Nanti kalau dia bilang ke Papa, Papa pura-pura terkejut aja."
"Hahhhhh... punya anak gadis sukanya main drama-dramaan." Wira dibuat geleng-geleng oleh putrinya sendiri.
Cahya tiba-tiba datang sambil membawa wadah makanan karena ia baru saja selesai memasak. Sambil memasak, Cahya mendengarkan semua cerita putrinya.
"Bunda gak tau mau bilang apa. Tapi, Bunda pikir itu memang dibilang kejam." Cahya menata makanannya di atas meja makan.
"Dena punya alasan, Bun."
"Nanti kasih tau Bunda."
"Hehe, enggak deh. Cukup Dena aja yang tau." wanita itu menyengir. Jika sebelumnya ia selalu terbuka dengan Cahya, namun, kali ini Dena memilih untuk memendamnya sendiri.
"Ya udah deh, mungkin kamu juga butuh privasi. Tapi, kalau ada apa-apa, Bunda siap mendengarkan."
"Makasih, Pa. Makasih, Bun." Dena menatap satu per satu wajah orang tuanya. Senyum yang selalu mengiringi perjalanan hidupnya. Senyum yang selalu hadir di saat ia butuh sebuah ketenangan.
.
.
__ADS_1
.
happy Reading ๐ค๐คโคโค๐ฅฐ๐ฅฐ