
Tampaknya pagi ini Dena sedang badmood. Pagi-pagi sekali ia sudah berangkat ke kantor, membuat orang tuanya merasa keheranan karena tidak biasanya putri sulung mereka berangkat pagi sekali.
Mungkin penyebabnya adalah semalam. Dena sangat kesal karena pesan chatnya tidak dibalas ataupun dilihat. Centang dua biru atau abu-abu pun tidak terlihat. Dan ketika ditelfon, nomor tujuan malah tidak aktif. Dena berjanji pagi ini sedatangnya ke kantor, ia akan memberikan hukuman kepada sekretarisnya. Bayangkan saja, semalam Dena harus keluar malam-malam untuk mendatangi kantornya demi sebuah dokumen yang kata papanya itu sangatlah penting.
Saat sudah sampai di kantornya, Dena mendapat tatapan heran dari semua karyawan yang sudah hadir. Mereka yang tidak mau terkena imbasnya pun memilih diam. Tiba di ruangannya, wanita itu menghempaskan tubuhnya ke atas kursi kerjanya.
Dena mengambil telfon kantornya untuk menghubungi staff OB.
"Buatkan saya coklat panas dan antar ke ruangan saya segera."
Tanpa menunggu jawaban dari seberang sana, Dena terlebih dahulu mematikannya.
Selang beberapa menit kemudian terdengar ketukan pintu dari luar.
"Masuk!"
"Ini, Bu Boss."
"Simpan di meja saja."
"Baik, ada lagi?"
"Tidak ada. Silahkan kamu keluar."
"Baik, Bu Boss. Saya permisi."
Dena melirik cangkir yang tampak mengepul itu. Ia mengambilnya dan menyeruputnya tanpa tau bahwa minumannya panas. Alhasil, Dena menyemburkan kembali minumannya.
"Puftttt!!! Panas. Wleeekkk..." wanita itu bahkan membuka mulutnya dan mengeluarkan sedikit ujung lidahnya yang terasa terbakar.
Dena langsung berlari menuju dispenser air dan menuangkan air putih di gelas yang tersedia. Tanpa menunggu lama ia menegak air putih itu sampai habis tidak tersisa. Namun, rasa panas itu masih terasa di lidahnya.
"Arghhhh... siall banget dah!" Dena tampak berpikir, ia mengedarkan pandangan ke penjuru sudut ruangan lalu netranya tidak sengaja melihat kotak P3K di dalam lemari.
Dena lekas menghampirinya untuk mencari obat semprot. Namun, yang ada malah obat salep dan berbagai obat luar lainnya. Dena mendengus kesal. Ia kembali ke kursinya dan duduk lesu. Wanita itu memejamkan matanya meresapi sakit di lidahnya.
Tiba-tiba saja pintu dibuka. Dena pikir itu adalah staff OB yang mengantarkan obat untuknya karena sebelumnya Dena sempat memberitahu melalui pesan chat.
"Simpan di meja aja obatnya." ucap Dena tanpa membuka matanya dan melihat siapakah orang yang masuk.
"Obat apa?"
Dena yang terkejut langsung duduk tegak lalu melihat ke depan. Seketika wajahnya berubah datar. Mengingat kejadian semalam membuat moodnya semakin buruk. Tanpa menjawab pertanyaan dari pria di hadapannya itu, Dena langsung memutarkan kursinya menghadap ke belakang.
"Obat apa?" pertanyaan itu kembali diajukan.
"Bukan apa-apa." jawab Dena cuek.
"Aku serius! Obat apa?!"
"Obat sianida." jawab Dena ngawur. Membuat pria di belakangnya menatapnya gemas sekaligus geram.
Fairel, yang masuk ke dalam ruangan Dena adalah Fairel. Ia baru sana datang dan tidak sengaja mendengar keributan kecil di dalam ruangan Dena. Karena takut ada orang asing atau penjahat jadinya ia langsung masuk tanpa mengetuk pintu. Namun, Fairel cukup dibuat terkejut dengan kehadiran Dena sepagi ini.
__ADS_1
Karena pertanyaannya tidak dijawab, Fairel berjalan mendekati Dena. Tanpa diduga ia memutar paksa kursi kebesaran yang diduduki wanita itu menghadapnya.
"Jangan keterlaluan ya! Saya ini atasan kamu!" ujar Dena menaikkan volume suaranya.
Fairel tidak menggubris perkataan Dena. Tatapan matanya berubah tajam dan itu membuat Dena gugup.
"Aku tanya sekali lagi. Obat apa? Siapa yang sakit?" tanya Fairel baik-baik. Sejujurnya ia merasa khawatir.
Dena memalingkan wajahnya ke samping tanpa mau menatap pria itu. Melihat itu, Fairel berinisiatif bertindak lebih. Ia menarik kursi Dena semakin dekat. Fairel menundukkan kepalanya membuat jarak di antara mereka hanya tersisa beberapa centi saja. Jujur, Dena tidak kuat dengan posisinya sekarang. Belum lagi tatapan Fairel bak elang yang ingin memangsa tangkapannya.
"Jawab!" tekan Fairel.
"Gak ada yang sakit." jawab Dena masih menutupinya.
Fairel tersenyum miring.
"Oke." pria itu menegakkan tubuhnya. "Bilangin ke yang sakit, jangan lupa minum obat sianidanya biar cepet sembuh."
Selepas itu Fairel langsung pergi, meninggalkan Dena yang kini bersungut-sungut kesal dalam hatinya.
"Minum tuh sianida! Kerjaannya bikin orang jantungan aja." cibir Dena memasang wajah cemberut.
"Sshhttt... aduhh!!! Perih ternyata." ringisnya saat lidahnya tidak sengaja tersentuh rongga mulutnya.
"Mana sih OB-nya. Nganterin obat kok kayak bikin obat." Dena berbicara jadi terdengar aneh karena ia mengelakkan luka di lidahnya akibat minuman coklat panas.
.
.
Sementara di luar, Fairel tampak membawa beberapa berkas di tangannya. Ia berjalan menuju tempat fotocopy kantor yang kebetulan berada di lantai bawah.
"Eh! Pak Fairel. Lagi ngopy ya, Pak?" sapa Lala terlihat membawa beberapa kertas yang mungkin akan di fotocopy juga.
Fairel hanya menganggukkan kepalanya saja sembari memberikan senyum tipis.
"Bu Boss mana, Pak??" tanya Lala lagi.
"Ada di atas."
Lala hanya menganggukkan kepalanya saja.
"Kamu mau ngopy juga?" Fairel menatap kertas-kertas yang dipegang Lala.
"Hehe, iya. Duluan aja, Pak. Kebetulan saya juga mau ke bagian HDR. Kalau gitu saya pamit ya, Pak."
"Oke."
"Fighting, Pak."
"Iya." pria itu hanya mampu geleng-geleng kepala melihat tingkah rekan kerjanya.
Sambil menunggu copyannya keluar, Fairel memandangi sekitarnya. Banyak karyawan lainnya yang berlalu lalang. Sebagian bahkan ada sempat menggosip. Biasa, itu kerjaan karyawan perempuan.
__ADS_1
"Tumben banget Bu Boss dateng ke kantor pagi-pagi. Udah gitu ya, kayaknya keliatan badmood. Biasanya pas sampai kantor tuh senyumnya merekah, bagaikan bunga matahari."
"Iya tuh. Gue juga heran. Tadinya mau nyapa, tapi gak jadi karena liat mukanya kayak bete banget."
"Positif thinking aja, gaess. Mungkin Bu Boss banyak pikiran. Makanya gak mood."
"Iya, tapi, ada yang aneh loh. Tadi pagi kata Noel si Bu Boss tuh minta dibuatin coklat panas. Biasanya kan kalau udah minta coklat panas tuh berarti banyak pikiran gitu."
Disaat para wanita itu menggosip, tiba-tiba pria muda berseragam OB lewat sambil membawa kresek hitam di tangannya.
"Ehhh ehhh ehhhhh!!! Noel, sini sini!" teriak mereka bersaman memanggil Noel, karyawan yang bekerja sebagai Office Boy.
"Apaan?" tanya Noel berbalik dan menghampiri mereka.
"Lo bawa apa?"
"Ini?" Noel mengangkat kresek hitam di tangannya.
Mereka menganggukkan serempak.
"Obat."
"Haahhh??? Obat???" pekik mereka mengundang perhatian.
"Syutttt!! Kerja kerja, jangan gosip terus." tegur mbak mbak resepsionis.
"Bentar, Mbak. Ini ada gosip hangat." sahut Riska si buang kerok gosip kantor.
"Sehangat apa tuh?"
"Sehangat coklat panas Bu Boss."
"Oke, lanjut." mereka yang melihatnya langsung cekikikan geli.
"Nah... itu obat apa? Buat siapa?" cerocos Sely.
"Gak tau buat apaan. Tadi Bu Boss cuma minta dibeliin ini."
Riska, Sely, dan dua orang temannya saling pandang. "Emang itu obat apaan?" bisik Riska mendekati Noel.
Noel yang sudah terkontaminasi tingkah rekan kerjanya langsung bertindak sama. Dia juga mendekat, menundukkan sedikit kepalanya seperti bak pemain sepak bola yang sedang berdiskusi dengan timnya saat di lapangan.
"Ini rahasia ya. Ini obat, bukan obat luar."
"Hahhhh????"
"Bye bye, itu udah gue kasih tau. Gue mau ke atas dulu ngasih ini, takut Bu Boss kelamaan nunggu." Noel melambaikan tangannya ke arah mereka.
"Noeelllllll!!!!"
"Bwahahahahahahaa..."
Fairel mendengar itu semua. Beruntungnya pekerjaannya sudah selesai. Fairel mengumpulkan kertas-kertas itu menjadi satu lalu langsung beranjak pergi untuk menyusul OB tadi.
__ADS_1