
1 tahun kemudian...
Suara tepukan tangan terdengar bergemuruh di depan sebuah gedung yang tampak baru saja diresmikan. Dibuktikan oleh adanya tali pita yang baru saja di potong oleh pemiliknya.
"Selamat ya atas pembukaan cabang barunya, Rel." ucap Wira kepada menantunya yang berdiri di depan pita yang sudah terputus.
"Makasih, Pa. Do'ain ya, semoga toko ke-dua ini bisa maju."
"Aamiin."
"Selamat, Rel. Terus pertahankan ya dan kembangkan lagi bisnis kamu." Cahya juga mengucapkan.
"Iya, makasih, Bun."
"Eh ya, semuanya silahkan masuk dan nikmati jamuannya." Fairel mempersilahkan orang-orang yang tampak hadir di sana untuk masuk ke dalam.
"Ayo, ayo, semuanya. Jangan sungkan. Hari pertama pembukaan gratis." semua orang termasuk pelanggan dari toko Fairel sebelumnya langsung bersorak ria dan masuk beramai-ramai.
Kini tinggallah Fairel dan sang istri yang berdiri di dekat pintu masuk.
"Gimana? Udah cukup kan segini?" tanya Dena membuat pria itu memutar tubuhnya sehingga menghadap istrinya.
Fairel tersenyum. Ia mengambil tangan istrinya untuk ia genggam. "Nambah waktunya lagi boleh gak?" tanya pria itu.
"Berapa lama lagi? Kita udah lama nyembunyiin ini." ujar Dena.
Fairel menarik nafasnya dalam. Ia mengelus pelan punggung tangan sang istri untuk menenangkannya. "Maaf ya. Sedikit lagi, aku butuh sedikit waktu lagi sebelum semua orang lain tau termasuk karyawan kantor."
Dena yang tidak ingin membuat sedih atau membebani pikiran Fairel pun hanya mengangguk pasrah dari pada mereka harus berdebat tentang hal kecil.
"Sekali lagi maaf. Aku cuma mau membuktikan kalau aku bisa. Aku sendiri merasa malu karena malah aku yang dinafkahi. So, that's all."
Dena menganggukkan kepalanya lesu. Akhir-akhir ini wanita itu kepikiran akan sesuatu.
"Mikirin itu lagi?" tanya Fairel ketika menangkap raut wajah murung istrinya.
"It's okay, aku juga gak ngebet banget pengen punya anak. Jangan dipikirin lagi ya? Ini baru satu tahun pernikahan kita kok, di luaran sana masih banyak orang yang menantikan keturunan dalam waktu yang lama, bahkan puluhan tahun." Fairel sangat tau apa yang ada di dalam pikiran istrinya itu. Dena selalu memikirkan tentang dirinya yang tidak kunjung hamil. Padahal pernikahan mereka sudah mencapai lebih satu tahun lamanya.
Fairel masih sangat bisa bersabar menanti. Karena dirinya pun tidak ingin terlalu memaksa atau mendesak. Karena tujuan utama Fairel saat ini ialah untuk mengembangkan bisnisnya.
"Mungkin kamu terlalu capek bekerja. Besok ambil libur dulu ya? Biar aku yang urus kantor untuk sementara waktu." seru pria itu yang ternyata masih bekerja di perusahaan milik istrinya.
"Hu'umm, iya. Ini masih lama ya?" tanya Dena menatap suasana cabang cafe milik suaminya.
"Kenapa, hm?"
"Enggak. Aku ngerasa capek aja dikit. Mau tiduran di rumah."
"Ya udah, kita pulang sekarang."
"Tapi, ini acaranya belum selesai loh."
"Gak apa-apa. Besok-besok juga aku bakalan ke sini. Kalau gitu kamu tunggu di sini ya bentar. Biar aku yang pamit ke yang lainnya.
"Aku ke mobil duluan ya?"
"Iya, hati-hati."
Keduanya berpisah sebentar. Fairel pamit ke dalam sementara Dena masuk ke dalam mobil lebih dulu. Selang beberapa menit kemudian Fairel akhirnya tiba. Pria itu langsung menyusul istrinya dan segera masuk ke dalam kursi kemudi.
Saat Fairel memakaikan sabuk pengaman, ia sempat menoleh ke arah istrinya. "Kamu mau kemana dulu Sayang?" tanya Fairel menawarkan.
"Enggak usah, By. Langsung pulang aja, gak tau kenapa aku ngantuk banget." wanita itu bersender di sandaran kursi sembari memejamkan kedua matanya.
Melihat itu, Fairel berinisiatif untuk mengusap lembut kepala istrinya. "Ya udah, kita langsung pulang aja. Tapi, makan siang dulu ya soalnya tadi kamu belum makan."
Dena yang sudah mengantuk pun hanya bisa mengangguk pelan. Fairel tersenyum melihat istrinya yang sudah tertidur, padahal baru berapa menit mereka berada di dalam mobil. Sebegitu ngantuknya kah wanita itu sampai tidak bisa menahan matanya untuk terbuka.
Setelah memastikan istrinya tertidur lelap dan dalam posisi nyaman, Fairel segera menjalankan mobilnya menuju apartemen mereka.
.
.
.
Sayup-sayup Dena mencium aroma masakan lezat yang menggugah seleranya. Bahkan, tiba-tiba perutnya merasa lapar. Saat wanita itu membuka matanya, ia melihat suasana kamarnya.
Perlahan Dena bangkit dan menurunkan kakinya dari atas kasur. Setelah mengembalikan sedikit tenaganya, wanita itu lekas beranjak keluar dan melangkah menuju dapur. Di sana, di dapur Dena melihat sosok laki-laki yang menjadi pasangan hidupnya tengah berkutat dengan alat-alat dapur. Sepertinya pria itu tidak menyadari kedatangan istrinya.
Greppp
Secara tiba-tiba Dena langsung menubrukkan tubuhnya ke punggung belakang suaminya. Fairel sedikit terkejut, namun, ia segera menguasak keterkejutannya itu saat tau bahwa yang memeluknya adalah istrinya. Ya memang siapa lagi kalau bukan istrinya. Mereka hanya tinggal berdua di dalam ruangan itu.
"Udah bangun, hem?" tanya Fairel tanpa menghentikan aktivitasnya.
"Hmmm..."
Dena hanya berdehem singkat.
"Nanti malam aku ada meeting dengan klien. Kamu mau ikut?" tanya Fairel memberikan penawaran.
Dirasakannya gerakan kepala di punggungnya saat Dena menggelengkan kepalanya. "Aku di rumah aja. Emang ketemuannya dimana?"
__ADS_1
"Emmmm... mungkin di hotel."
"Ish! Serius aku tuh." bibir Dena mengerucut ke depan.
Fairel langsung tertawa pelan menyadari istrinya kesal.
"Becanda, Sayang. Nanti ketemuannya di puncak gunung, trus banyak cewek cantik di sana." sekali lagi Fairel memancing kekesalan istrinya itu.
"Boleh aja sih kalau kamu mau tidur di luar." perlahan Dena melepaskan pelukannya membuat Fairel merasa kosong. Setelah memastikan masakannya telah matang, Fairel langsung mematikan kompornya dan hendak mencuci tangan di wastafel.
Sementara Dena tampak merajuk, ia berpindah tempat. Wanita itu duduk di kursi meja makan dengan wajah ditekuk sempurna.
Sepanjang aktivitasnya, Fairel menahan tawanya. Baginya sudah menjadi kebiasaan menggoda istrinya hingga merajuk. Mudah saja bagi Fairel untuk membujuknya.
Setelah mencuci bersih tangannya, pria itu menghampiri istrinya. "Ngambek ya neng?" goda Fairel yang dibalas langsung oleh istrinya dengan memutar bola matanya jengah.
"Sini abang bujuk." ucap Fairel menepuk-nepuk pelan atas meja. Fairel berdiri tepat di samping istrinya yang merajuk itu.
"Ayo!" seru pria itu yang tidak mendapat tanggapan dari istrinya.
Fairel yang melihatnya gemas, ia langsung mengangkat tubuh mungil istrinya dan meletakkannya di pinggiran meja. Sementara tangannya langsung mengukung kedua sisi tubuh Dena sambil membungkukkan sedikit tubuhnya.
"Istri siapa sih ini yang suka ngambek? Makin cantik loh." puji Fairel.
Dena malah memalingkan wajahnya ke samping.
"Gak takut abang ganteng ini diembat cewek lain? Nanti meetingnya itu ada cewek loh. Kalau masih ngambek sih, gak tau deh nanti pulangnya selamat atau malah diculik cewek lain." pancing Fairel yang sudah tau bagaimana cara membujuk istrinya itu.
Benar saja, saat mendengar itu Dena langsung melilitkan kedua tangannya di leher suaminya dan memeluk tubuhnya.
"Enak aja mau ngambil milik orang sembarangan." cibik wanita itu posesif. Bahkan dirinya mengeratkan pelukannya. Tidak perduli dengan posisi mereka saat ini berpelukan dengan dirinya berada di pinggiran meja makan.
"Beneran?" ujar Fairel memastikan.
Dena langsung melepaskan pelukannya serta lilitan tangannya di leher pria itu. Lalu, tangannya berpindah memegang kedua sisi rahang suaminya. Dena menatap bola mata hitam nan tajam itu dan menguncinya.
"Kamu cuma milik aku. Gak ada yang boleh ambil sembarangan. Biarpun udah izin sama aku, tetap aja enggak aku kasih izin." perkataan Dena terdengar sangat posesif. Membuat Fairel merasa berbunga-bunga hatinya.
"Jadi, boleh dong nanti meeting bareng cewek?"
"Boleh, asal jaga mata, jaga hati, jaga semuanya. Semua yang ada di kamu itu cuma milik aku!" tekan Dena.
"Oh ya?" Dena menganggukkan kepalanya.
"Kalau gitu tunjukin dong kalau aku ini milik kamu." Fairel memandang istrinya dengan kerlingan mata.
Tanpa menunggu lebih lama lagi, Fairel sudah merasakan bibirnya dikecup. Hanya kecupan singkat yang membuatnya tersenyum tipis.
"Banyak." balas Dena.
"Tunjukin dong kalau banyak." tantang pria itu.
"Oke!" dengan tidak merasa keberatan sama sekali Dena langsung menyetujui.
Tanpa babibu Dena langsung menyerang suaminya. Wanita itu mencium bibir suaminya dan sedikit memainkannya. Lalu, tiba-tiba saja ia melepaskannya membuat kening Fairel mengerut.
"Kok berhenti?" tanya Fairel heran.
Dena menarik ujung sudut bibirnya ke atas, membentuk sebuah lengkungan kecil. "Tapi, jangan salahin aku kalau nanti tubuh kamu penuh stempel dariku."
Fairel tersenyum tipis. "Gak masalah. Aku gak keberatan sama sekali. Oh ya, jangan lupa banyak-banyak ya. Biar semua orang tau kalau aku sudah ada yang punya."
"No problem." balas Dena enteng kemudian kembali melabuhkan ciumannya. Kali ini, wanita itu tampak mendominasi. Sementara Fairel memutuskan untuk pasrah saja untuk memberikan keluasan untuk istrinya.
"Sayang." panggil Fairel dengan suara serahnya saat ciuman istrinya turun ke lehernya dan membuat banyak tanda cinta di sana. Sesuai perkataannya tadi, Dena tidak segan membuat tanda yang sangat banyak di leher suaminya.
"Mmmmm."
"Sshhhh... k kita gak makan dulu?" tanya Fairel mendesis karena mendapat perlakuan yang bisa membuatnya merem melek di atas ranjang.
Dena menjauhkan wajahnya, ia menatap wajah suaminya yang sudah memerah karena menahan kobaran gai*rah. Terlihat jelas dari sorot matanya serta respon tubuhnya.
"Aku mau makanan pembuka dulu. Boleh?" tanya Dena terlihat seperti polos.
Fairel memejamkan matanya sejenak untuk menguasai dirinya. Lalu, tanpa protes sedikitpun pria itu menyetujuinya.
"Silahkan."
Mendengar itu membuat Dena bersirak ria dalam hatinya. Tiba-tiba ia mendorong tubuh Fairel lalu dirinya turun dari atas meja. Dena memegang dada bidang suaminya menggunakan kedua telapak tangannya lalu dengan gerakan pelan didorongnya pria itu hingga akhirnya terduduk ke kursi meja makan.
Tanpa aba-aba atau suruhan, Dena langsung berjongkok tepat di bawah kaki suaminya yang terbuka lebar.
"Wow, so sexy." lirih Fairel pelan saat tangannya istrinya bergerak perlahan menuju gespernya. Lalu, tidak lama kemudian terdengar suara resleting dibuka.
"Urghhhh... jangan dimasukkan ke mulut ya, Sayang." ujar Fairel memperingatkan. Ya walaupun tanpa diberi peringatan wanita itu sudah sangat tau. Karena mereka bermain bersih. Bukannya tidak mau, tapi, keduanya masih berpikir mungkin banyak hal yang kurang baik untuk kesehatan.
Dena yang mendengar itu hanya tersenyum manis. Di bawah sana, ia dapat melihat jelas wajah turn on sang suami. Dena tersenyum puas melihatnya. Sementara itu, tangannya yang bekerja.
"Sshhhhh..." Fairel hanya mampu mendesis merasakan setiap sentuhan yang diberikan istrinya. Rasanya kepalanya sudah nyut-nyutan baik di atas maupun bawah.
Dena yang merasa kalau suaminya akan sampai pun langsung menggerakkan tangannya cepat hingga akhirnya keluarlah suara indah dari Fairel yang sedari tadi ia tahan.
"Aaarrrghhhhhhhh..."
__ADS_1
Sejenak keduanya terdiam saat Fairel tengah mengatur ritme pernapasannya.
"Hahhhhh... haaaahhhhhhh..."
"Udah?" tanya Dena setelah 5 menit berlalu.
Mendengar itu Fairel langsung membuka kedua matanya yang sempat terpejam. Lalu, secara tiba-tiba ia menarik istrinya hingga wanita itu terjatuh di atas pangkuannya. Fairel juga mengarahkan istrinya untuk duduk saling berhadapan dengannya.
"Masih belum?" tanya Dena merasakan di bawahnya terasa masih mengeras sejak tadi.
Fairel tidak menjawab, ia menatap istrinya intens. Dapat Dena rasakan tangan yang terasa sedikit kasar itu merambat ke pahanya. Ingatkan Dena saat ini karena dirinya memakai rok yang mengembang yang ternyata membawa keberuntungan tersendiri bagi suaminya.
Kepala Fairel mulai mendekat dan hidungnya mengendus leher sang istri. Merasakan itu tawa Dena tidak dapat ia tahan. Alhasil ia tertawa geli saat Fairel mengendus lehernya hingga ke belakang telinganya.
"Mau dimana? Di sini atau...??" tanya Fairel serak.
Dena terus tertawa, namun, tidak terlalu kencang. Wajahnya mendekati telinga Fairel dan berbisik. "Di sini aja." bisik Dena pelan.
"Kamu yang minta." tanpa babibu Fairel langsung menyerang bibir istrinya dan mengajaknya untuk berperang.
Lalu, tangannya menyelinap masuk ke balik rok yang dikenakan istrinya. Tidak susah bagi Fairel untuk menanggalkan celana leging pendek berwarna hitam itu dan ********** yang ternyata berwarna yang sama.
"Sshhhh aahhhh Sayangghhh aakuu hh gak tahannhh..." Fairel terdengar frustasi sambil menatap istrinya memelas.
"Emm??" Dena memandang suaminya dengan senyuman smirk di bibirnya. Lalu, dengan sengaja Dena menggerakkan tubuhnya sehingga membuat milik mereka di bawah sana bergesekan tanpa adanya satu pun penghalang lagi.
"Aaakkhhhhh yangggghhhh sshhh..." rengek Fairel menggeram tertahan merasakan sensasi yang luar biasa di bawah sana.
Dena menaruh kedua lengannya di bahu atas suaminya. Wanita itu tersenyum nakal karena melihat suaminya seakan tersiksa sendiri. Bahkan wanita itu tidak berhenti dan semakin gencar membuat suaminya kelabakan.
"Gimana? Udahan apa lanjut?" tanya Dena menginterupsi.
"Udahhhh..." jawab Fairel ngos-ngosan.
"Oke."
"Ehhh!!!" dengan cepat Fairel menahan pinggul istrinya saat wanita itu malah ingin beranjak dari pangkuannya.
"Lohh, katanya udahan?"
"Haishh!! Bukan udahan gitu."
"Lahh terus???"
"Gini loh, ayang." perlahan tapi pasti Fairel menuntun miliknya masuk perlahan dibantu dengan tangannya.
Sesaat Dena menahan nafasnya yang terasa tercekat saat Fairel sudah berhasil memenuhi dirinya dengan satu kali dorongan. Terasa sangat sesak dan penuh yang membuatnya tidak bisa membuka kedua matanya.
"Aaaakkkkhhhh Byyyy..." pekik Dena pelan sambil menarik belakang kepala suaminya ke arahnya dan langsung memeluknya.
"Gimana? Udahan apa lanjut?" tanya Fairel menuruti perkataan istrinya tadi.
"Hhhhh... apanya yang udahan apa lanjut. Emang kamu mau udahan sekarang?" tanya Dena balik.
"Jangan harap mau udahan!" sentak Fairel memeluk erat tubuh istrinya kemudian langsung bergerak tidak tentu arah.
Sangat lucu melihat mereka yang duduk di atas kursi dengan Dena yang berada di atas pangkuan suaminya. Jika dilihat sekilas, mungkin orang-orang akan mengira kalau keduanya hanya berpelukan biasa. Namun, siapa sangka bahwa di balik rok mengembang wanita itu ternyata mereka sudah menyatu sempurna.
"Aaahhhh Byyyy akuuhhh laparhhhhss..." adu Dena seakan ingin menghentikan aktivitas mereka. Namun, jelas terdengar suara perut Dena berbunyi minta diisi oleh makanan lezat.
Mendengar itu, Fairel menghentikan gerakannya sejenak dan menatap wajah istrinya yang tampak memelas. Pria itu tersenyum lalu tangannya menyeka keringat di wajah sang istri.
"Lapar, hem?" tanya Fairel menatap dalam istrinya. Tampak jelas kobaran api gai*rah yang meletup-letup di sorot mata keduanya.
"Iya." jawab Dena mengangguk.
"Hemmm, ya udah." awalnya Dena tersenyum berbinar karena sebentar lagi dirinya akan lepas dari jerat suaminya. Pikirnya. Namun, siapa sangka ternyata ia belum mendengar kelanjutan dari perkataan suaminya.
"Nanggung, selesaikan ini dulu baru kamu boleh makan!" lanjut Fairel membuat wajah Dena pasrah dibuatnya. Kembali lagi Fairel menggerakkan miliknya dengan tempo pelan. Terasa sangat dalam dan sesak bagi Dena.
"Byyy..." panggil Dena mulai tersengal.
"Hm." suaminya hanya berdehem singkat karena tengah fokus menikmatinya.
"A aku mau keluar." ucap Dena terbata. Fairel yang melihat itu segera menaikkan temponya menjadi sangat cepat. Dena langsung memeluk tubuh sang suami dengan sangat erat. Kepalanya ia benamkan di ceruk leher suaminya.
Satu menit kemudian terdengar suara jeritan dari Dena yang sudah mencapai pelepasannya. Sedangkan Fairel masih bergerak, namun, ia sedikit memelankan temponya.
"Udahh, Byy." ucap Dena menghentikan. Bukannya menurut dan menghentikan gerakannya, Fairel malah menyentak tubuh istrinya ke arahnya sehingga membuat Dena tidak bisa berkata-kata lagi.
"Kita harus berusaha lebih giat lagi, Sayang. Kamu mau punya baby kan?" mendengar itu membuat antusias Dena muncul. Ia tersenyum semangat.
"Hooh." wanita itu menganggukkan kepalanya.
"Ayo, pindah kendali. Aku capek, gantian kamu ya?"
Dengan senang hati Dena langsung mengambil alih permainan. Bahkan ia melupakan rasa laparnya yang mendera lambungnya. Mungkin saja cacing-cacing di perutnya sudah meronta-ronta, tapi, tuannya malah asik mengejar kenikmatan dunia.
.
.
.
__ADS_1