My Fierce Boss

My Fierce Boss
Jatuh cinta


__ADS_3

Dena mengantarkan Fairel sampai ke depan pintu rumahnya. Ingat! Sampai depan pintu, bukan sampai ke depan gerbang.


Fairel melirik Dena yang langsung pura-pura mengalihkan pandangannya ke arah lain. Fairel tersenyum tipis.


"Aku pulang ya?" kata Fairel.


"Pulang ya tinggal pulang aja! " ketus Dena.


"Huummm... yaudah kalau gitu. Selamat istirahat."


Baru sana akan membalikkan badannya, namun, Dena malah mencegatnya. "Eh tunggu!" wanita itu menarik ujung pakaiannya.


"Kenapa?" tanya Fairel bingung.


"G- gak jadi." Fairel dibuat menghela nafas panjang oleh wanita itu. Entah apa mau Dena intinya Fairel tidak mengerti dengan sifatnya yang sekarang. Susah ditebak dan berbelit-belit.


"Beneran gak ada yang mau disampaikan?" tanya Fairel.


"Hu'um." Dena menganggukkan kepalanya.


"Jadi, mau pakai aku kamu atau lo gue?"


"Haaa???" kepala Dena mendadak ngeblank.


"Aku kamu atau lo gue?" ulang Fairel.


"Apa?" beo Dena pura-pura tidak mengerti.


"Masih mau pakai kode-kodean lagi? Masih mau dengan suasana yang canggung? Masih mau pura-pura baru kenal?" pertanyaan beruntun Fairel ajukan. Cuaca malam yang sunyi membuat suasana semakin mendukung.


"Gue sebenernya udah capek. Ditambah respon lo kayak gini." sambung pria itu lagi.


"Lo nyalahin gue?" tanya Dena sedikit tidak terima.


Fairel menarik nafasnya dalam sambil menundukkan kepalanya sejenak. Kemudian ia melihat ke kanan kiri untuk mengecek situasi. Tanpa diduga tiba-tiba Fairel menarik tangan Dena membawanya pergi dari depan pintu utama.


"Apaan sih! Lepas gak!" Dena memberontak. Namun, Fairel terus menarik tangannya membuat pergelangan Dena terasa perih.


"Sakit. Lepasin!"


Fairel tidak memperdulikan rintihan Dena. Ia tetap menarik tangan wanita itu menuju area samping rumah Dena. Setelah tiba di tempat tujuannya baru Fairel melepaskan cekalan tangannya.


"Maaf." sesal Fairel berusaha meraih tangan Dena. Namun, wanita itu justru menepisnya kasar.

__ADS_1


"Lo kasar." nada bicara Dena terdengar bergetar menahan tangisnya. Perlahan ia mundur ke belakang, saat itu juga Fairel melangkah maju. Begitu seterusnya hingga tubuh Dena mentok ke dinding rumahnya.


Keduanya hanya terdiam dengan pikiran kacau. Dena bersiap-siap untuk melarikan diri dari hadapan pria itu. Namun, Fairel justru menaruh tangannya di sisi kanan Dena. Melihat ada peluang kabur dari sisi kirinya, Dena langsung bergerak ke samping. Namun, lagi-lagi Fairel menghadangnya, menaruh tangan kanannya di sisi kiri Dena sehingga akses keluar Dena tertutup oleh pria itu.


"Mau lo apa sih!!" ketus wanita itu perlahan mencoba mendongakkan kepalanya menatap wajah Fairel terutama bola mata hitam itu.


"Lo pengen tau apa mau gue?" tanya Fairel balik.


"Bukan urusan gue!"


"Lo tau apa tujuan gue bawa lo ke tempat ini?"


Saat itu juga Dena memalingkan wajahnya ke samping. Fairel langsung menangkup pipi Dena menggunakan satu tangannya dan mengarahkan wanita itu agar menatap wajahnya. "Tatap mata gue."


Meskipun wajahnya menghadap Fairel, namun, bola mata Dena justru mengarah ke arah lain.


"Begini respon lo setelah pergi 6 tahun lamanya? Gak ada sedikitpun niatan lo untuk melihat gue? Dan bahkan lo pura-pura gak kenal. Apa kita seasing ini sekarang?"


"Jawab gue!" tekan Fairel lalu mendekatkan wajahnya.


"Lo gak mau jawab? Oke, biar gue yang bikin lo sendiri menjawab pertanyaan itu." final Fairel merasa gemas dengan wanita di hadapannya saat ini.


Dena masih tetap melirik ke arah lain. Tanpa ia sadari kini Fairel semakin mendekatinya. Mengikis jarak yang mungkin sebelumnya membentang komunikasi mereka.


Cup


Lama mereka dalam posisi itu sebelum akhirnya Fairel menjauhkan wajahnya. Sementara itu, Dena mematung sempurna, otaknya sedang mencerna apa baru saja terjadi.


"Lo mau jawab atau enggak? Kalau enggak, gue bakal lakuin hal yang sama." ujar Fairel membuyarkan lamunan Dena.


"Lo mau dengar ini kan. Oke, gue katakan sekarang."


Fairel menganggukkan kepalanya.


Dena menarik nafasnya dalam lalu ia hembuskan pelan. Ia mendongakkan kepalanya kembali menatap wajah Fairel. "Asal lo tau. Gue malu, gue malu, Rel. Kalau waktu bisa diulang, gue lebih memilih diam dan memendamnya dari pada mengutarakannya. Memangnya ada cewek yang--" hampir saja Dena keceplosan. Namun, ia langsung menutup mulutnya rapat.


Alis Fairel terangkat sebelah, seolah mengkode Dena agar melanjutkan kembali perkataannya.


"Yang apa?" tanya Fairel.


"Lupain." Dena memalingkan wajah.


"Jawab atau--"

__ADS_1


"Mana ada cewek yang nembak cowok duluan." teriak Dena cepat sebelum Fairel mengancamnya lagi.


Setelah berkata demikian, Dena mendorong Fairel menjauh darinya lalu ia pun melarikan diri. Tapi, Fairel menarik tangannya.


"Seengaknya itu bikin gue sadar. Gak ada yang salah dengan itu semua."


Dena membalikkan tubuhnya. "Iya, yang gak salah itu lo. Sedangkan gue salah karena udah terlalu cepat menaruh perasaan. Gue yang udah tertipu dengan semua perlakuan manis lo itu. Tapi, itu dulu. Sekarang semuanya udah menghilang. Lo gak perlu khawatir dan merasa terbebani dengan itu semua."


"Jika antariksa adalah tepi bumi, mungkin di antara kita hanya sebatas mengagumi. Tapi, ini bukan tentang antariksa dan tepian bumi. Ini tentang lo, dan gue."


"Gak jelas."


"Iya, gue memang gak jelas dari dulu. Sekarang, izinkan gue memperjelas itu semua kalau gue... udah jatuh cinta sama lo."


Deg


Detak jantung Dena tiba-tiba berdetak cepat. Oksigen di sekitarnya serasa habis. Tapi, Dena tidak lagi percaya dengan kata-kata manis itu.


"Lawak lo gak lucu." balas Dena tertawa pelan.


"Gue janji bakal membuat lo seperti dulu. Kalau itu gagal, berarti gue udah sampai di titik akhir dan gue akan berhenti."


"Perumpamaannya gue sedang mengejar bintang yang berkelip di antara ribuan bintang lainnya. Lo bintangnya dan gue orang yang sedang mengejar bintang itu. Gue sadari sejak kepergian lo, hidup gue terasa ada yang hilang. Gue berusaha untuk mencari setengah hidup gue itu, tapi, gue gak bisa menemukannya. Dan sekarang, setengah dari hidup gue kembali. Gue tau ini terlambat, tapi, gue percaya kalau tidak ada kata terlambat."


"Na, izinkan pria biasa ini mengutarakan isi hatinya. Izinkan gue mengejar salah satu bintang yang bersinar terang diantara ribuan bintang lainnya. Gue tau ini sulit, tapi, gue gak mau kehilangan kesempatan untuk yang ke-dua kalinya. Gue hanya orang asing yang berani-beraninya jatuh cinta dengan seorang putri raja. Gak ada yang bisa dibanggakan dari gue."


"Maafin kesalahan yang udah gue perbuatan di masa lalu karena nggak terlalu peka. Gue cuma punya jiwa dan raga ini. Gue akan mengerahkan seluruh tenaga gue untuk membuat lo kembali tersenyum."


Fairel memejamkan matanya sejenak dan menarik nafas dalam. Seulas senyumnya terbit. "Maaf karena udah lancang. Gue tau lo gak bakal suka dengan kata-kata lebay gue ini."


Dena terdiam dengan wajah tidak berekspresi sama sekali. Ia hanya memandang lurus pria itu yang baru saja menyelesaikan penjelasannya.


Fairel melirik pergelangan tangan Dena. Tiba-tiba ia teringat saat ia menyeret Dena ke sini. Fairel meraih pergelangan tangan Dena dan memeriksanya. "Maaf, gara-gara gue lo terluka." pria itu meniup-niup pelan pergelangan tangan Dena. Ia sama sekali tidak berani untuk melihat wajah wanita itu. Mungkin saja Dena tengah memasang wajah jijiknya atau malahan tidak suka.


Fairel mengelusnya pelan. Sesaat kemudian ia mengangkat wajahnya. "Obatin dulu sebelum gue pula--"


Cup


Tubuh Fairel membeku sempurna saat ia merasakan dua buah benda kenyal yang menempel sempurna di bibirnya sehingga Fairel tidak dapat melanjutkan perkataannya. Ia hanya bisa melihat dua kelopak mata yang terpejam.


.


.

__ADS_1


.


gak tau gak liat gak baca๐Ÿ™ˆ๐Ÿ™ˆ


__ADS_2